Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

10 Buku Paling Dicari di Bulan April

Oleh: Redaksi         Diposkan: 01 May 2019 Dibaca: 1578 kali


Memasuki bulan Mei, kita akan disambut dengan hari buruh sedunia, kemudian setelahnya akan ada hari pendidikan. Namun, yang juga spesial di bulan Mei ini adalah bulan puasa. Bulan puasa selalu identik dengan sajian pelepas dahaga, yang relatif manis, dan menyegarkan. Untuk itu tak lupa juga, Berdikari Book menyediakan 10 buku yang paling banyak dicari di Bulan April.

Politik Kuasa Media

“Kita akhirnya menghamba sebagai negara pecinta uang. Berharap pada negara lain akan membayar kita sebagai upah demi menghancurkan dunia. Itulah pilihannya. “Noam Chomsky

Tak ada yang meragukan kehebatan media dalam menggiring opini publik bahkan massa. Meskipun kita tahu bahwa kita tak akan mampu menanam padi di layar kaca kemudian memanennya, tapi kita tahu bahwa media berhasil membuat masyarakat bangkit dan bergerak, yang awalnya benci perang menjadi haur darah berkat apa yang dihidangkan media.

Naom Chomsky, nama yang berhasil merebut perhatian masyarakat secara luas dengan kajian-kajian kontemporernya terlebih media. Bersama buku Politik Kuasa Media ini, kita akan diajaknya menyelami simpul-simpul masalah dalam mengenali bagaimana media memiliki kuasa lebih terhadap masyarakat.

 

Aristoteles Socrates Plato: Sebuah Biografi

Perjalanan panjang seorang filsuf telah memberikan dampak pada keilmuan dunia saat ini. Perubahan terhadap sudut pandang, sikap kritis, dan penemuan-penemuan teknologi yang mutakhir tidak terlepas dari mazhab para filsuf dalam mengemukakan gagasan dan pikirannya.

Socrates, Plato, dan Aristoteles sudah menyumbangkan ilmunya bagi dunia. Lalu sebenarnya apa yang bisa dipahami dari mereka? Bukankah untuk sebagian orang, belajar filsafat adalah hal yang membosankan? Dalam buku ini kita akan belajar filsafat berdasarkan biografi ketiga pesohor filsafat dunia. Buku ini akan menyederhanakan filsafat agar lebih mudah dipahami.

Hal-hal yang unik akan Anda temui di dalamnya, tidak terlalu berat dan tidak terlalu ringan. Sehingga buku ini cocok untuk dibaca para pemula. Selain menjelaskan bagaimana menggunakan filsafat dalam kehidupan sehari-hari, buku ini juga seharusnya menjadi bacaan wajib Anda.

 

Baca Buku Ini Saat Engkau Lelah

Terkadang kita terlalu sibuk mencintai ini dan itu bahkan sampai kita lupa untuk mencintai diri sendiri, dan itu sungguh melelahkan. Mengapa manusia mulai lupa bagaimana cara untuk mencintaii dirinya sendiri? Bukankah sangat melelahkan ketika kalian ditinggalkan seseorang? Jika diri kalian sendiri yang meninggalkan dirimu, betapa sunyinya?

Penelitian di Carnegei Mellon University mengatakan bahwa rasa cinta menghasilkan emosi yang positif, hal ini mendorong sistem kekebalan tubuh orang tersebut menjadi lebih sehat. Berawal dengan menerima dan menemukan perasaan cinta kita terhadap diri kita sendiri, tentunya akan membawa kita jauh lebih bersyukur dan meminimalkan risiko stress atau gangguan penyimpangan perasaan sehingga kita akan menemukan cinta dan memiliki cinta. Namun mencintai diri sendiri mempunyai ‘seni’nya tersendiri, karena pada hakikatnya mencintai diri bukanlah mengagumi diri sendiri yang berlebihan dan menimbulkan sifat Narsistik.

 

Epistemologi Kiri

Mencari kebenaran adalah esensi filsafat. Sedangkan kebebasan menjadi ruh untuk berfilsafat. Karena itu, banyak filsuf yang hanya melayang-layang saja, meneliti berbagai hal yang mungkin dan tidak pasti, serta terus mencari dalam kebebasannnya. Karena itu, pada dasarnya filsafat tidak pernah sampai pada sintesis, namun hanya akan membentuk lingkaran pengetahuan yang berpusar pada tesis dan antitesis seiring dengan berdetaknya sejarah waktu.

Terminologi kiri, dalam ruang kesadaran pemikiran kita dewasa ini , dianggap sebagai terminologi anti kemapanan, bersifat revolusioner, reaksioner, dan kadang menyeramkan. Namun esensi yang menyeruak dalam relung-relung terminologi kiri telah menggugah kesadaran kita bahwa akan selalu ada counterpart yang akan menyeimbangkan hidup kita. Wacana nihilisme, dekonstruksi, otoritarianisme dan status quo. Dari pertarungan inilah sebenarnya sintesis kesempurnaan terejawantah.

Buku ini menawarkan sebuah tematisasi pemikiran para filsuf yang dicap Kiri oleh zaman. Tematisasi ini merupakan langkah yang tepat, seiring dengan parsialitas wacana yang tidak terejawantah dalam satu ikatan rangkaian. Oleh karena itu, buku ini lebih tepatnya telah melakukan rekonstruksi terhadap parsialitas bahasan tentang berbagai epistemologi ke-Kiri-an. Sebuah usaha yang patut diapresiasi. Dus, siapkah Anda untuk mengerutkan dahi? Berkerutlah selagi masih bisa!

 

Muslimah Yang Diperdebatkan

Banyak dari teman perempuan muslimah saya sering kali mempersempit diskusi-diskusi tema "Perempuan dan Islam" hanya Pada bahasan soal jilbab dan ketaatan. Sintesis yang keluar dalam diskusi itu terbatas pada simpulan bahwa perempuan mesti taat agar tidak ditinggalkan oleh suaminya. Perempuan tampak berjuang keras sekali pada ranah-ranah itu, padahal di sisi Iain, perempuan boleh Iebih maju untuk berdiskusi perihal tingginya angka kematian ibu melahirkan dan problematika sosial Iain.

Mayoritas perempuan yang terpapar tradisi patriarkis dalam rentang waktu yang panjang masih berada pada tahap silence hingga subjectik, misalnya ketika mereka menerima kekerasan, baik dalam bentuk psikologis, fisik, maupun ekonomi. Kita masih memerlukan waktu yang panjang untuk membangun relasi berkeadilan dengan membangun kesadaran pada kedua belah pihak, yakni perempuan maupun laki-laki. Perempuan yang berani berkata “tidak” saja tidak akan cukup jika peradaban laki-laki masih melanggengkan kekerasan. Sebaliknya, laki-laki yang feminis saja tidak pernah cukup jika pihak perempuan tidak membangun benteng dan kapasitas untuk mengambil peran sebagai subjek untuk keputusankeputusan bagi dirinya sendiri, keluarga, dan masyarakat.

 

Filosofi Teras Filsafat Yunani-Romawi Kuno Untuk Mental Tangguh Masa Kini

Filosofi Teras ini memberikan cara latihan mental supaya kita memiliki syaraf titanium dan tidak gampang KO terkapar kesamber galau. - A. Setyo Wibowo

Lebih dari 2000 tahun lalu, sebuah mazhab filsafat menemukan akar masalah dan juga solusi dari banyak emosi negatif. Stoisisme, atau Filosofi Teras, adalah filsafat Yunani-Romawi kuno yang bisa membantu kita mengatasi emosi negatif dan menghasilkan mental yang tangguh dalam menghadapi naik-turun nya kehidupan.

Jauh dari kesan filsafat sebagai topik berat dan mengawang-awang, Filosofi Teras justru bersifat praktis dan relevan dengan kehidupan Generasi Milenial dan Gen-Z masa kini.

 

Taring Padi Praktik Budaya Radikal

Enam bulan setelah gerakan popular memaksa Presiden Soeharto turun dari tampuk kekuasaan pada Mei 1998, Lembaga Kebudayaan Rakyat Taring Padi mengumumkan kehadiran mereka dalam kancah politik-budaya Yogyakarta dengan berpegang pada premis bahwa "revolusi" Mei 1998 telah dikalahkan "reformasi". Sangat mirip dengan klaim LEKRA sekitar 50 tahun sebelumnya, Taring Padi berkesimpulan bahwa peralihan kekuasaan dari Soeharto kepada B.J. Habibie telah memaksakan reformasi demokratik yang berwatak borjuis sehingga surutlah usaha untuk mendorong "demokrasi sejati", suatu revolusi sosial atau demokrasi kerakyatan. Taring Padi melancarkan agitasi terhadap "wacana elit" dengan mempromosikan seni kerakyatan. Mereka juga mengorganisasi asosiasi-asosiasi kebudayaan dan kerakyatan yang berwatak progresif, "di tengah-tengah rakyat". Dalam rangka pembentukan budaya kerakyatan inilah konsep seni kerakyatan menduduki posisi sangat penting. Inilah pendekatan ideologis terhadap suatu praktik kesenian yang dipandang sebagai fase "peralihan" dalam rangka menetapkan jalan menuju budaya rakyat yang demokratik.

"Di tengah konteks dunia kesenian kontemporer Yogyakarta dan Indonesia yang sedang giras-girasnya menjadi bagian dari ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia, kehadiran Taring Padi terasa seperti kerikil dalam sepatu. Mereka dinilai sekadar melaplap hasil kebudayaan luar sehingga tidak mampu melihat pelajaran dari sejarah kebangkrutan gerakan Kiri yang hanya menyisakan dua pilihan: liberalisme atau kapitalisme." - Alex Supartono (Jaringan Kerja Budaya)

 

Senyap yang Lebih Nyaring

Setelah beberapa tahun mencoba, saya menemukan sejenis medium berkelamin ganda, pada bentuk yang kemudian berkembang: blog, sebuah ungkapan ringkas dari weblog. Di satu sisi, seperti tulisan di media cetak, ia bersifat publik. Terbuka untuk dibaca siapa saja. Di sisi lain, seperti catatan harian atau surat, bisa juga bersifat pribadi dan personal. Apalagi mengingat bentuk ini nyaris tak memiliki sekat antara ketika ditulis dan diterbitkan: tak ada otoritas media, tak ada saringan editorial.

Saya bisa memilih sendiri buku yang saya baca dan menulis sesuatu dengan cara yang saya inginkan. Di sini saya bisa menebarkan remah-remah roti Hansel dan Gretel untuk melacak jejak-jejak bacaan saya, juga pikiran, agar mudah kembali ke sana, sekaligus memungkinkan untuk dibaca siapa pun. Siapa tahu dalam perjalanan ini saya tersesat dalam labirin bacaan tak berujung, dan kita dipertemukan di suatu tempat, untuk memulai perbincangan yang lain.

Dunia sastra kita akan dipenuhi penulis-penulis yang bertabiat ugal-ugalan seperti sopir angkutan umum di Jakarta. Dan mereka akan bangga dengan ini. Bangga telah menjadi penulis berpihak, tak peduli caranya menulis menyedihkan. Mungkin seperti kata Lenin (saya kutip semena-mena): "Penyakit kiri kekanak-kanakan." Bangga telah menjejali novel dengan pesan-pesan moral, tapi lupa bagaimana menulis yang benar (belum lagi sampai tahap mengasyikan).  Tapi ah, kenapa saya harus jengkel? Saya bukan guru yang harus mendidik orang bagaimana bersikap, sebagaimana tak perlu mendidik para penulis dan kaum intelektual. Mereka sudah cukup pintar untuk melihat kebodohan-kebodohan di dalam diri sendiri. Barangkali problem utamanya bukan ini, tapi kebutuhan saya untuk mengunjungi psikiater. Untuk meredakan ketegangan-ketagangan estetik, kejengkelankejengkelan yang tak perlu. Beberapa miligram obat pengendali mood mungkin baik buat saya, sehingga tak terlalu terganggu oleh apa pun yang terjadi di dunia kesusastraan.

Seperti kata Roberto Bolafio, kita para penulis (yang baik, dan saya harap saya bisa menjadi bagiannya, bahkan meskipun saya penulis yang buruk, saya akan mengikuti sarannya), tak memerlukan siapa pun untuk bernyanyi bertepuk tangan atas karya-karya kita. Kenapa? Karena kita sudah dan akan melakukannya sendiri. Kita akan bernyanyi dan bertepuk tangan untuk karyakarya kita sendiri. Dan saya mesti mengingatkan diri sendiri, satu-satunya ukuran yang perlu diperhatikan adalah ukuranukuran yang telah ditancapkan oleh diri sendiri. Jika ingin menulis karya bermoral, tulislah. Jika ingin menulis karya tak bemoral, tulislah. Yang akan membuat saya membaca novel itil, pertama-tama bagaimana ia dituliskan. Menarik atau tidak? Mengasyikan atau tidak? Kalau sekadar ingin bilang "para bayi butuh minum ASI hingga 6 bulan” cukup tuliskan dalam satu baris kalimat, tak perlu satu novel.

 

Widji Thukul Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa

Pada 26 Agustus 1963 lahirlah anak laki-laki sederhana yang tumbuh bersama dengan jiwa seninya hingga besar dan menjadi salah satu orang yang mampu menggetarkan kepemimpinan Orde Baru. Dia adalah Widji Widodo atau lebih populer dengan nama Widji Thukul, bernyanyi penyair sekaligus mengaktifkan yang mampu menggerakkan hati para pendemonstran hanya dengan umpan-umpan puisinya. Empat umpan terakhir dari salah satu prinsipnya “Hanya ada satu kata: Lawan!” Memiliki nilai sugesti untuk para pendengarnya.

Setelah dituduh terlibat dalam kerusuhan 27 Juli 1996 (Kudatuli), Widji Thukul pamit bersembunyi untuk berbicara (Sipon) karena menurutnya semua sudah ngawur. Dia memang berpindah-pindah tempat sebelum menghilang dan tidak diketahui dikembalikan hingga kini. Meninggalkan orang yang menjadi korban penculikan. Sipon dan Sahabat Widji Thukul masih yakin bahwa pencipta puisi “Peringatan” itu masih hidup. “Dia hilang tetapi ada, ada tapi hilang, tapi ada nada dalam jiwa”.

 

Melihat Diri Sendiri

Kehebatan manusia adalah mampu melihat “semut” yang berada di antara deburan ombak samudra. Namun, hal lain yang sering membuat manusia terjungkal dalam kehidupannya ialah ketidaksanggupan melihat “gajah” di pelupuk matanya sendiri. melihat diri sendiri memang sesuatu yang tak mengenakkan, tetapi itu harus dilakukan oleh setiap insan demi menemukan ketenangan dan kebeningan batin serta bisa memancarkan kerahmatan ke smeua makhluk Tuhan.

Dalam buku ini, Gus Mus mengajak kita menggembala ego, memenepkan (mengendapkan) keakuan supaya kita bisa menjadi menusia sejati. Banyak renungan kehidupan yang diwedar oleh sang Kiai dalam buku ini; mulai masalah kebangsaan, keagamaan, politik, hingga diri pribadi. Semuanya itu hanya berpangkal pada satu tujuan, yakni agar kita tidak menjadi manusia yang linglung.

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: