Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

10 Buku Paling Dicari di Bulan Mei

Oleh: Redaksi Be         Diposkan: 01 Jun 2019 Dibaca: 1556 kali


Lebaran segera datang, beberapa dari kita memilih rumah untuk pulang. Ada yang bertemu keluarga, ada yang bertemu dengan teman, dan tak jarang memilih untuk melakukan perjalanan. Pulang tak selalu identik dengan rumah, sama halnya dengan teman. Teman tak selalu dan selamanya adalah manusia. Beberapa dari kita bisa saja seperti Tsubasa yang menganggap bola adalah teman, ada pula, yang merupa teman, menemani dalam sepi, menjadi sandaran kita tatkala dalam perjalanan, buku.

Guna menemani kita di saat lebaran, ada beberapa buku yang bisa kita jadikan teman, dan jawaban dari pertanyaan yang datang kepada kita.

  1. Manusia Mencari Dirinya

Salah satu anugerah besar yang kita miliki dalam abad kecemasan ini adalah potensi untuk mengenal diri sendiri. Matthew Arnold mengungkapkan: “Dalam segala aktivitas kehidupan ini kita akan selalu terlempar kembali kepada usaha pencarian identitas diri, pada saat kita menyadari bahwa masyarakat kita yang sedang berada dalam pergolakan mencari standar-standar dan nilai-nilai kehidupan tidak mampu memberikan gambaran yang jelas kepada kita tentang siapa diri kita sebenarnya dan apa yang harus kita lakukan.” Lalu timbullah sesuatu yang menyedihkan: manusia mulai dihantui oleh perasaan tidak tenteram. Perasaan inilah yang memberikan insentif baru bagi kita untuk bertanya: “Mungkinkah ada sumber-sumber bimbingan dan kekuatan penting yang tanpa sadar telah kita abaikan?” Dalam bab-bab buku ini kita tidak hanya akan melihat wawasan baru dalam dunia ilmu jiwa yang tersembunyi dalam suatu tingkat pribadi, tetapi kita juga akan melihat kebijaksanaan orang-orang yang hidup pada berbagai masa. Dalam bidang-bidang ilmu seperti kesusastraan, filosofi, dan etika kita dapat melihat bahwa orang-orang yang bijaksana telah berusaha secara optimal untuk mengubah masa ketidakamanan dan krisis-krisis pribadi menjadi sesuatu yang konstruktif.
 


Tujuan penulisan buku ini adalah menemukan suatu cara yang memungkinkan kita bertahan dalam masa-masa pelik dan menemukan pusat-pusat kekuatan dalam diri kita sendiri semaksimal mungkin, serta menemukan cara untuk mencapai nilai-nilai dan sasaran-sasaran kehidupan yang dapat menjadi pedoman hidup kita bila suatu saat perasaan ketidakamanan itu menyerang kita.

  1. Membunuh Hantu-Hantu Patriarki

Keberadaan perempuan di ruang publik tidak serta merta menjadikannya objek, yang dengan segelintir pujian bisa kamu dapatkan. Perempuan berada di ruang publik untuk menjalani kehidupan dengan aman dan nyaman.
 


Ini adalah buku yang berisi bunga rampai esai-esai Dea Safira. Lebih intim lagi, buku ini semacam diary yang sangat dekat dengan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh perempuan sekarang ini. Dea, menuliskan permasalahan yang ia alami, lihat, dan rasakan sebagai pengaaman pribadi untuk dibagikan kepada perempuan lain. Bunga rampai ini adalah suluh, yang ingin menyulut perempuan-perempuan lain untuk bicara dan bercerita tentang dirinya.

  1. Djawa Hidden Stories Menguak Tabir Misteri di Pulau Jawa

Buku Djawa Hidden Stories menceritakan sedikit mengenai kejadian-kejadian masa lalu yang terjadi di Pulau Jawa, mengenai Gunung padang, Gubernur Raffles serta kejadian-kejadian sejarah dan misteri yang terjadi di era saat ini.

Buku ini hampir 90% menggunakan metode retrocognition. Retrocognition sendiri adalah sebuah “giving” dari Tuhan yang diberikan kepada beberapa orang di dunia untuk melihat kejadian masa lalu.
 


Meskipun buku ini tidak bisa dipertanggungjawabkan secara keilmuan namun paling tidak sedikit banyak dapat memberikan gambaran peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi dan menjadi sebuah misteri hingga saat ini.

  1. Sejarah Nusantara yang Disembunyikan

Jika menilik foto gadis-gadis Bali tempo dulu yang bertelanjang dada di masa prakemerdekaan, kita mungkin akan berpikir, Mungkinkah Ken Dedes sang Ratu Singhasari dari kerajaan bercorak Hindu juga bertelanjang dada, bahkan di hadapan rakyatnya?

Apakah pemberontakan yang dicanangkan Pangeran Diponegoro hingga memicu Perang Jawa merupakan dalih untuk memahkotai diri lepas dari takhta Mataram?
 


Apakah benar letusan Tambora pernah menyapu peradaban bercorak kesultanan Islam hingga tak berbekas?

Apakah benar akar pemikiran Bung Karno adalah ajaran teosofi Tarekat Mason yang dia peroleh dari ayahnya?

“Sejarah Nusantara Yang Disembunyikan” merupakan buku berisi fragmen sejarah yang telah berhasil ditemukan, entah itu karena disembunyikan atau tersembunyi (belum ada penelitian yang mengungkap). Buku ini terbagi menjadi empat periode, yaitu masa Hindu-Buddha, masa Islam, masa Kolonial, dan masa Pasca-Kemerdekaan.

Tak ada kebenaran yang hakiki. Kebenaran hakiki hanya ada di langit. Begitu pula kebenaran sejarah. Sebab, pada dasarnya, sejarah merupakan diskontinu, seperti kata Foucault.

  1. Apa Itu Anarkisme Komunis?

SAYA ingin bercerita padamu tentang Anarkisme. Saya ingin memberi tahu kamu apa itu Anarkisme, karena menurut saya baik bagimu untuk mengeta- huinya. Juga karena begitu sedikit yang diketahui tentang hal itu, dan yang diketahui biasanya adalah kabar angin dan kebanyakan salah.
 


Saya ingin memberitahu kamu tentang hal itu dengan bahasa yang biasa dan sederhana hingga tidak akan ada kesalahpahaman mengenai hal itu. Kata-kata besar dan frasa yang terdengar tinggi hanya akan membingungkan. Berpikir lurus artinya bicara dengan sederhana.

Hal ini dibutuhkan karena sudah terlalu banyak kepalsuan yang menyebar tentang Anarkisme. Bahkan kelompok intelek pun sering memiliki pemahaman yang benar-benar salah tentang hal itu. Beberapa orang bicara tentang Anarkisme tanpa mengetahui apapun tentang hal itu. Dan beberapa orang bohong tentang Anarkisme karena mereka tidak ingin kamu mengetahui yang sebenarnya tentang hal itu.

  1. Tahun-Tahun yang Menentukan Wajah Timur

Sebagaimana seluruh narasi sejarah, narasi sejarah Islam sejak abad ke-7 diwarnai kegemilangan dan tragedi. Kepemimpinan Muhammad yang mengagumkan sanggup melahirkan model masyarakat baru antara emigran Mekkah dengan pendduduk asli Madinah. Ia juga menjadi sosok paling diperhitungkan dalam peta politik Arab sejak kemenangan pertamanya di Perang Badar. Namun perebutan kekuasaan antardinasti, pembunuhan khalifah, penciptaan negara baru Pakistan oleh kolonial Inggris demi mengusir umat Muslim India ke pakistan, serta strategi Anwar Sadat dalam menangani konflik Arab-Israel turut mengisi ceruk sejarah Islam yang lain.
 


Tahun-Tahun yang Menentukan Wajah Timur berisi 30 esai sejarah sejak abad ke-7 hingga abad 20. Kelihaian Iqbal dalam mengupas berbagai fase sejarah Islam secara cermat sekaligus tajam disertai bibliografi yang kaya menjadikan esai-esainya sungguh mencerahkan. Buku ini menjernihkan pemahaman kita secara paripurna.

  1. Islam Kita Ngga ke Mana-mana Kok Disuruh Kembali

Kita sebagai umat Islam itu harus kembali. Kembali ke Islam yang kaffah. Dan dengan jalan ini kita justru bisa menyatukan persepsi. Menunjukkan pada dunia luar bahwa Islam Indonesia itu kuat karena bersatu,” kata Mas Is.
 


“Kembali ke mana, Is, maksudmu?”

“Ya kembali ke Al-Quran dan As-Sunnah dong, Gus,” jawab Mas Is lagi.

“Lah, memang kita selama ini hidup harus selalu pakai itu. Kita nggak pernah dan nggak boleh ke mana-mana memang. Lah masa nggak ke mana-mana kok disuruh kembali. Rumahku itu ya Al-Quran dan As-Sunnah. Lah ngapain aku disuruh kembali kalau aku sudah di dalam rumah? Jangan-jangan justru yang mewanti-wanti itu yang sebenarnya belum kembali?”

  1. Saya, Jawa, dan Islam

Jika boleh mengingat, pertemuan saya dengan Islam dan Jawa mungkin sejenis pertemuan dengan diri yang mengetarkan. Hingga hari ini, saya masih merasakan getaran itu.
 


Di masa itu saya benar-benar terbenam dalam penghayatan/ Saya mulai menyadari saya harus mulai mengenali diri saya sendiri (baca: man arofa..). Mengenali saya ini siapa, dari mana dan hendak ke mana. Saya menemui faktisitas diri: saya orang jawa yang beragama Islam itu harus rela menerima kemestian bahwa saya "terpaksa" lahir di sebuah dusun di Jawa, yang dengan seluruh perangkat tradisi, budaya, dan praktik keseharian yang membentuk diri, berusaha memandang dan memberi makna hidup, bahkan terhadap ajaran agamanya. Pencarian itu berujung: saya Jawa, saya Islam! Sejak itu, saya seperti baru memulai sebuah perjalanan.

  1. Ekofeminisme: Kritik Sastra Berwawasan Ekologis dan Feminis

Buku ini sangat komprehensif sebagai bahan ajar karena merupakan rangkuman hasil penelitian para penulisnya atas karya-karyasastra ‘bernafas hijau’ yang mengangkat isu ekofeminisme. Juga diperkaya dengan teks-teks yangberisi penyadaran tentang pentingnya menjaga kesimbangan ekologi. Sehingga ilmu baru–ekokritik dapat disosialisasikan secara akademis yang terus bergerak dinamis. –Naning Pranoto, MA., (Pengelola Gubug Hijau Rayakultura).
 


Buku ini akan disusun menjadi empat bagian,yang meliputi kerangka konseptual dan contoh kajian ekofeminisme. Bab pertama, berisi pendahuluan, menguraikan pentingnya generasi pembelajaran yang memiliki wawasan ekologis dan feminisme. Bab kedua, menguraikan pengertian ekofeminisme dan posisinya dalam aliran dan gerakan feminisme. Bab ketiga, menguraikan perkembangan ekofeminisme dan gerakan sastra hijau di Indonesia. Bab keempat,menguraikan beberapa contoh kajian ekofeminisme yang telah penulis lakukan.

  1. Kronik Burung Pegas

Toru Okada dan Kumiko menjalani kehidupan rumah tangga yang tenang dan bahagia selama enam tahun. Lalu kucing mereka menghilang dan sederet hal-hal ganjil menggayuti kenyataan: perempuan antah-berantah yang mengajak phone sex, gang yang tidak punya pintu masuk dan pintu keluar, peramal yang selalu mengenakan topi vinil merah, rumah mewah tak berpenghuni an sumur kering, penatu misterius yang hobi mendengarkan musik, serta suara burung pegas dari halaman tetangga.
 


Di tengah perjalanan Toru mencari kucing ia bertemu hal-hal dan orang-orang yang kian aneh serta terseret ke dalam petualangan menghadapi kekuatan gelap yang sedang menggeliat.

Diterjemahkan langsung dari bahasa Jepang, Kronik Burung Pegas memuat sekitar 25.000 kata yang dipadatkan dalam edisi Inggris. Novel ini memenangkan Hadiah Sastra Yomiuri yang bergengsi dan penghargaan itu diserahkan oleh Kenzaburo Oe, pengkritik Haruki Murakami yang paling tajam.


Tags

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: