Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

10 Buku Paling Dicari di Pembuka Tahun

Oleh: Redaksi         Diposkan: 01 Feb 2019 Dibaca: 1479 kali


2019 dibuka dengan hal yang memilukan. Razia buku menjadi pembahasan sedap nan erotis atas upaya aparat dalam menangkal komunisme. Buku-buku yang mengandung kata: kiri, merah, Aidit, PKI, Palu Arit, dan sejenisnya akan disasar oleh tentara. Dalam sebuah acara televisi, mereka semua yang terlibat mewakili pelaku dan korban dari razia buku didatangkan, duduk di meja yang sama dan saling beradu pendapat.

Kekhawatiran aparat, tampaknya terlalu berlebihan. Rendahnya minat baca masyarakat, ditambah dengan kadaluarsanya komunisme sebagai ideologi negara, sudah menjadi jawaban atas kelakuan berlebihan mereka.

Kejahatan intelektual yang menjadi pertanyaan besar adalah pada bagaimana razia buku pada akhirnya akan mengkerdilkan pengetahuan masyarakat. Pengkerdilan pengetahuan tidak hanya terbatas pada sulitnya akses terhadap buku, tapi juga karena kekhawatiran aparat dalam memberi sikap pada setiap buku yang diterbitkan.

Ada 10 buku yang tak mengandung unsur-unsur yang akan dijadikan praduga atas ketakutan aparat terhadap hantu-hantu komunisme.

 

1. Tuhan dan Hal Hal Yang Tak Selesai

Bahasa, juga bahasa yang dipilih Tuhan, dibentuk oleh bolong dan keinginan.

Tiap bahasa di atas bumi berakar seperti pohon jati dan melangit seperti bintang beralih. Gambaran verbal tentang Tuhan, juga kutipan Sabda-Nya, mau tak mau berangkat dari dunia kata-kata yang terikat, meskipun bergerak untuk menyambut yang tak tepermanai.

2. Nasihat Nasihat Keseharian Gus Dur Gus Mus dan Cak Nun

Orang yang masih terganggu dengan hinaan dan pujian manusia, berarti ia masih hamba amatiran. – Gus Dur

Itu hanya satu dari banyak sekali butiran hikmah dan nasihat dari sosok Gus Dur yang dapat kita genggam erat di masa kini. Selain dari Gus Dur, buku ini juga menguntaikan banyak quote dan nasihat dari tokoh besar kita lainnya, Gus Mus dan Cak Nun.

Dengan dilengkapi uraian yang singkat, padat, dan praktis, plus penyajian buku yang artistik, buku ini niscaya akan nyaman sekali dibaca oleh siapa pun yang berkeinginan kuat untuk mengembangkan diri dalam kehidupan sehari-hari.

3. Omong Kosong yang Menyenangkan

“Entah karena pengaruh alkohol atau tidak, sebelum mereka memutuskan untuk tidur, Lani mengeluarkan sesuatu dari lemari: kaleng sarden yang bertulis “Sardines in TomatoSauce”, tempat ia menyimpan abu Penny Lane. Saat Lani membuang abu Penny Lane ke dalam lubang toilet, Sal melihat perempuan itu hampir menangis.”

Dalam novelet ini Robby menunjukkan ketelatenannya menggarap cerita. Ia meyakinkan pembaca bahwa pertemuan tidak terduga (dan sebentar) seperti gerakan bandul nasib, berayun antara keberuntungan atau kesialan. Yang terpenting, sejauh Robby menggunakan piranti intertekstual dari khazanah film, lagu, dan bacaan sebagai strategi penceritaan, ia dengan penuh kesadaran tetap mencecah narasi geobudaya kepengarangannya: nama-nama arkais, mitos pengusir jin, ulayat dalam perspektif adat dan pemerintah, serta orang muda yang memilih tinggal di kampung…. — Esha Tegar Putra, Sastrawan

4. Mengapa Aku Begitu Pandai

Serial Buku Kecil Ide Besar menghadirkan gagasan-gagasan besar yang mengguncang atau unik dan autentik dari para penulis terbaik dunia. Pikiran-pikiran mereka bergema panjang, dan menginspirasi generasi demi generasi di pelbagai masa. Kami sajikan dalam format buku kecil yang ciamik, yang mudah dibawa ke mana-mana, dan bisa dibaca dalam dua atau tiga kali duduk di stasiun atau di bandara atau di mana pun.

Dalam buku tipis ini kita akan menemukan Nietzsche yang bertanya dan menjawab sendiri pertanyaannya dalam narasi-narasi sastrawi, dilanjutkan dengan aforisme-aforisme yang menjadi ciri khasnya: deret proposisi padat yang berpotensi menimbulkan pertanyaan panjang dalam imajinasi pembaca, proposisi-proposisi yang mengutip Milan Kundera, merupakan salah satu dari enam karya yang lahir pada masa kematangan Nietzsche.

5. Waktu Untuk Tidak Menikah

Sebentar lagi Nursri menikah. Orang tuanya di kampung sibuk menyiapkan pesta yang meriah. Doa-doa baik teriring untuknya.

Yang jadi permasalahan hanya satu: Nursri mendadak merasa harus pergi dari kamar pengantin dan kembali ke Timalayah, kota industri yang mernagari nasib baik-buruknya selama ini.

Nursri bukan satu-satunya. Di belahan bumi lain, ada yang tersungkur patah hati ditinggal kekasih. Ada yang kehilangan banyak hal dalam waktu yang berdekatan. Ada yang memilih hidup sendirian bersama dua kucing liar. Ada yang tiba-tiba ingin menghubungi mantan kekasihnya. Ada yang mencintai diam-diam dan berakhir ditolak mentah-mentah. Ada yang tak siap berpisah, sekali pun sudah menabung kesiapan itu jauh-jauh hari. Ada yang selalu mencintai tapi tak pernah bisa menerima. Ada yang kehilangan setelah memiliki rasa sekejap saja. Ada yang perlu mengembalikan luka lama, karena tak lagi merasa hidup baik-baik saja. Ada yang berpura-pura mencintai. Ada yang menikah, lalu ingin berpisah.

Kadang-kadang, memang selalu ada waktu untuk tidak berkasih. Untuk tidak bercinta, untuk tidak menikah. Lagi pula, kisah Cinta yang melulu indah itu kata siapa?

6. Chomsky On Anarchism

Catatan tentang gagasan anarkis dan perjuangan-perjuangan yang menginspirasi, yang menginginkan pembebasan dirinya dari penindasan dan dominasi harus dirayakan dan dijaga. Bukan sebagai pikiran dan konsepsi beku dalam sebuah cetak biru, tetapi sebagai dasar pemahaman realitas sosial dan usaha terus-menerus untuk mengubahnya.

Dengan memadukan beberapa ceramah dan wawancara—ada yang diterbitkan di sini untuk pertama kali—serta materi yang lebih familiar, terjalin suatu penguatan dan elaborasi mengenai pemahaman Chomsky soal apa itu anarkisme dan apa yang bisa dilakukannya. Meski begitu, tak bisa dimungkiri bahwa akan ada beberapa pengulangan di bagian tertentu, seperti tema-tema spesifik dan pemikir-pemikir yang akan dibahas Chomsky. Usaha untuk menyampaikan pesan yang melulu itu-itu saja memang repetitif! Namun demikian, dengan kembali membahas suatu gagasan yang cukup sulit, kejelasan dan detail-detail tertentu bisa dihadirkan.

7. The Art of Negotiaton

Negosiasi tidaklah untuk mencari pemenang dan pecundang; dalam setiap negosiasi terdapat kesempatan untuk menggunakan kemampuan sosial, komunikasi efektif dan kreatif untuk membawa  kedua belah pihak ke arah hasil yang positif bagi kepentingan bersama.

Kenapa kita melakukan negosiasi? Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat dikaitkan dengan tujuan daripada melakukan negosiasi, yaitu untuk menghasilkan win-win solution (solusi menang-menang). Memang, untuk meraih hal tersebut terkadang tidaklah mudah. Namun, semua itu dapat terselesaikan dengan adanya pemahaman akan negosiasi yang benar dan baik di antara keduanya. Yang artinya keduanya mendapatkan apa yang diharapkan masing-masing. Dan tidak ada pihak yang merasa dirugikan, karena keduanya mengharapkan keuntunganlah yang didapat.

Buku ini menyajikan kiat-kiat praktis yang dapat diterapkan siapa saja yang ingin menjadi negosiator yang andal.

8. Kreativitas dan Keberanian

Kita hidup di suatu masa ketika sebuah era sedang sekarat, sementara era baru yang dinantikan tak kunjung muncul. Kita tidak dapat mengelak bahwa kita sedang menghadapi perubahan-perubahan radikal dalam perilaku seksual, bentuk perkawinan, struktur keluarga, pendidikan, agama, teknologi, dan hampir semua aspek lainnya dalam kehidupan modern kita. Dan, di balik itu semua adalah ancaman bom atom yang me┼čki mulai menyusut namun tidak pernah sepenuhnya lenyap. Untuk tetap memiliki kepekaan pada era yang tidak menentu ini, kita benar-benar membutuhkan keberanian.

Proses-proses kreatif harus digali tidak hanya sebagai produk dari penyakit mental, namun sebagai perwujudan dari kesehatan emosional di level tertinggi; atau, sebagai gambaran dari cara orang normal dalam mengaktualisasikan diri mereka. Kreativitas harus juga dipandang dalam kerangka kerja ilmuwan atau seniman, pemikir dan juga ahli estetika; dan orang tidak perlu menghilangkan luasnya makna kreativitas seperti yang tercermin dalam diri tokohtokoh teknologi modern dan juga hubungan seorang ibu normal dengan anaknya, Kreativitas, seperti yang sudah dengan benar disebutkan oleh Webster, pada hakikatnya adalah proses penciptaan atau menjadikan sesuatu menjadi ada.

9. Questioning Everything; Kreativitas di Dunia yang Tidak Baik Baik Saja

Peradaban mundur, sejarah kelam terulang. Barangkali itu klaim bombastis. Satu yang niscaya, saat ini kita hidup di dunia yang tidak baik-baik saja. Kita mengerami nyawa di dunia tempat menemukan keresahan ialah kegaliban, dan menemukan kebenaran tak semudah di soal pilihan ganda PPKN. Hal-hal buruk adalah kenyataan, sementara hal-hal baik adalah harapan. Dan di dunia semacam itu, sebagian optimis dalam ketidaktahuan. Meringkuk dalam laku fatalis, abai, dan konsumtif. Larut.

Sebagian lagi pesimis dalam ciut dan keragu-raguan. Larut. Jika memang sedemikian suramnya, mengapa dunia tetap bertahan? Tak bergegas hancur berkeping-keping dan kembali ke rantai makanan sederhana ala zaman dinosaurus? Mungkin Tuhan Yang Mahatahu memang masih menunggu, atau bisa jadi karena masih ada serpihan nyala yang berbinar di berbagai ufuk semesta. Kami percaya keduanya, walau lebih condong ke premis kedua. Kami berupaya mengabadikan serpihan-serpihan itu. Binar dari insan-insan yang terus menjaga kreativitas tetap berumur panjang. Mereka ialah para seniman, baik musisi, penulis, sutradara, atau perupa yang tak kenal lelah menafkahi dunia yang kian membosankan.

Dengan tajuk Questioning Everything: Kreativitas di Dunia yang Tidak Baik-Baik Saja, ada optimisme yang coba kami utarakan dari pesimisme yang seyogianya pun patut disadari. Selalu ada yang salah, namun senantiasa ada asa dan cara. Boleh jadi begitulah kreativitas bekerja.

10. Filsuf Filsuf Besar Tentang Manusia

Ada dua pertanyaan pokok yang akan kita hadapi selama kita membaca serangkaian pemikiran filsuf-filsuf besar tentang manusia ini. Pertama, apakah hidup kita saat ini masih bermakna? Dan, kedua, jika masih bermakna, makna yang bagaimana? Dua pertanyaan itu timbul dari kegelisahan eksistensial masa kini ketika kita dikejar-kejar oleh bayangbayang hari esok.

Pertanyaan itulah yang kemudian menjadi bahan refleksi intensif dua puluh filsuf dari Plato sampai Teilhard de Chardin. Buku ini dapat menjadi cermin bagi kita untuk lebih memahami persoalan-persoalan kehidupan yang kita hadapi. Bertolak dari sejarah filsafat Barat tentang manusia dengan orientasi kritis-rasional—sekaligus membedakan diri dari orientasi ilmiah-positif dan orientasi teologis—pengarang berhasil menunjukkan persoalan-persoalan etis. Singkatnya, isi buku ini berwajah tiga: sebuah ringkasan sejarah filsafat Barat, dengan fokus utama pada refleksi filsafat manusia, yang diperkaya dengan dimensi etis.

Buku yang ditulis secara populer tetapi tanpa meninggalkan kedalaman uraian ini terutama dipersembahkan untuk seluruh komunitas intelektual dan mereka yang tidak mendapat pendidikan khusus di bidang filsafat.

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: