Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

100 Tahun Sair Rempah-Rempah Titik Membara

Oleh: Bandung M         Diposkan: 23 Feb 2019 Dibaca: 1358 kali


Sejarah puisi jarang bermula dari buku-buku berisi puisi-puisi gubahan para pujangga pernah dicap “kiri” atau di luar pengakuan estetika Balai Poestaka dan Poedjangga Baroe. Ingatan baku mengenai puisi sering mengacu ke Muhammad Yamin dan Roestam Effendi di masa 1920-an. Pada masa 1930-an, nama-nama teringat bertambah: Amir Hamzah, Sanoesi Pane, Sutan Takdir Alisjahbana, dan JE Tatengkeng. Ketokohan mereka di arus perkembangan puisi dibuktikan dengan publikasi di majalah dan penerbitan buku.

Nama jarang pengakuan di semaian puisi ingin berlagak modern di Indonesia adalah Mas Marco Kartodikromo. Ia cenderung diingat sebagai jurnalis dan penulis novel berjudul Student Hidjo ketimbang penggubah puisi. Ia turut membentuk dan mengalami “zaman bergerak” di tanah jajahan, terutama di Jawa (Takashi Shiraishi, 1997). Ia menebar kata melawan melalui artikel, novel, dan puisi. Di novel, ia melawan tanpa lupa memberi “buaian mesum” bagi pembaca. Asmaranisme bergelimang di prosa, paling tampak di novel berjudul Mata Gelap. Suguhan artikel-artikel sering galak, terang, dan memukul pihak-pihak dimusuhi: kaum feodal, kaum kolonial, kaum majikan, dan kaum penjilat. Di puisi, Marco Kartodikromo itu pemarah dan pemberi seruan-seruan revolusioner.

Kita ingin memperingati seratus tahun penerbitan buku kecil, tipis, dan murah. Buku itu terbit serial di akhir 1918 dan awal 1919 berjudul Sair Rempah-Rempah.  Buku diterbitkan oleh NV Sinar Djawa, Semarang. Sekian puisi terbit dahulu di Sinar Hindia dengan menanggung masalah-masalah politis. Puisi berjudul “Badjak Laoet” semula dimuat di Sinar Hindia, 23 Desember 1918. Puisi berakhir dengan bait diperkarakan aparat kolonial. Bait disangka menghina pemerintah kolonial dan menimbulkan onar di tanah jajahan: Maka hal ini haroes dipikir,/ Akan goenanja merobah takdir,/ Soepaja kita bisa mengoesir/ Manoesia bangsa....! Penulisan titik-titik itu diperiksa oleh Assisten Resident Politie Semarang. Di mata penguasa dan aparat mencipta tertib-kolonial, titik-titik itu diperkirakan menempatkan kaum Eropa (Belanda) mau disingkirkan dari Hindia Belanda. 

baca juga: Dialog Marx dengan Antropologi

Dulu, tanda baca saja sudah dipandang secara politik. Marco Kartodikromo memang memberi hak ke pembaca mengisi titik-titik, tak harus “orang Belanda” atau “orang Eropa”. Urusan estetika dan pemberian ruang bagi resepsi pembaca dipahami secara mencemaskan oleh aparat pemerintah kolonial. Mereka tampak ketakutan pada titik-titik. Kesengajaan agar pembaca mengisi sendiri kirip jenis soal dengan jawaban uraian. Titik-titik itu dicurigai menghasut bumiputra tapi gagal mengantarkan (lagi) Marco Kartodikromo menghuni penjara. Ia tak pernah jera dibui, tetap saja melawan dengan puisi.

Jawaban resmi diberikan Marco Kartodikromo (1919) berkaitan pencurigaan titik-titik di akhir puisi: “... tidak tentoe orang-orang Belanda jang ditoedjoe, tetapi orang-orang asing jang berniat djahat datang di Hindia, seperti orang-orang Hindoe, Arab, Portugal, Belanda, Tjina, Inggris dll jang tabeatnja djahat.” Penggubah puisi itu mencipta permainan menggemparkan salah dimengerti oleh penguasa terlalu takut pada gubahan sastra di jalur “batjaan liar.” Marco Kartodikromo berpikiran modern tapi menganut estetika lama diwariskan para leluhur “sjair”. Pembaca waras pasti sanggup mengisi titik-titik secara benar asal mengeri rima sama di akhir larik. Larik pertama: dipikir. Larik kedua: takdir. Larik ketiga: mengoesir. Di larik keempat, Marco Kartodikromo memberi isian paling mungkin menganut hukum “sjair”, bukan mata curiga kolonial: fakir

Penerbitan Sair Rempah-Rempah masih jarang jadi minat para pengamat sejarah atau kritikus sastra. Buku terbaru Henri Chambert-Loir berjudul Sastra dan Sejarah Indonesia: Tiga Belas Karangan (2018) memuat ulasan ketokohan dan buku-buku garapan Marco Kartodikromo. Sair Rempah-Rempah tersingkir dari studi atau amatan untuk menguak sejarah (sastra) Indonesia di “zaman bergerak”. Buku itu semakin lama telantar, tak mendapat tatapan keseriusan para sarjana sastra untuk ditempatkan dalam arus sejarah perpuisian di Indonesia bersinggungan politik melawan kolonialisme.

baca juga: Mesin Produksi Manusia Itu Bernama Sekolah

Nasib buku persembahan Marco Kartodikromo tak untung dibandingkan buku drama-puisi Bebasari gubahan Roestam Effendi. Tokoh bergerak di “jalan kiri” itu sudah memberi pula gubahan puisi berjudul Pertjikan Permenoengan mendapat tempat atau halaman di buku sejarah sastra Indonesia. Di sepucuk surat untuk Ajip Rosidi, 18 Maret 1962, Roestam Effendi dalam usia tua memberi jawaban mengacu ingatan risiko penerbitan Bebasari pada masa 1920-an: “Saja menulis dizaman reaksi jang maha ganas... Dalam suasana jang demikianlah itulah saja menabahkan hati menulis Bebasari, dan terpaksa begitu berhati-hati menjulam kata-kata, supaja Bebasari dapat diterbitkan. Namun begitu, sesudah Bebasari terbit, Pemerintah Belanda masih membeslah dan melarang buku itu, dan mentjegah pertundjukkan tonil Bebasari itu dua kali, jang akan dilantjarkan oleh murid-murid sekolah MULO di Padang dan kemudian oleh para mahasiswa kedokteran di Djakarta.” Bebasari dituduh membarakan ajakan bebas atau merdeka, mengganggu tertib politik kolonial. Buku itu “terlarang” setelah perlawanan PKI pada pemerintah kolonial, 1926-1927.

Marco Kartodikromo mendahului keberanian memberi puisi-puisi melawan kolonial dan memberi keinsafan ke kaum terjajah agar “bangun”, “bergerak”, dan “menolak patuh”. Di buku-buku mengenai sejarah dan babak-babak perpuisian melawan kolonialisme, nama Marco Kartodikromo sering absen. Sair Rempah-Rempah pun tak menjadi kutipan. Deretan nama paling sering diajarkan mengenai puisi dan nasionalisme, bermula dari M Yamin bergerak terus sampai ke Chairil Anwar. Penggubah puisi bernama Marco Kartodikromo pernah mencemaskan pihak kolonial sulit mendapat tempat di sejarah puisi.   

Di puisi berjudul “Kemardika’an”, Marco Kartodikromo memberi propaganda: Orang mentjari kemardika’an/ Ta’dapat pangkat dan kekajaan/ Tapi sering mendapat hoekoeman/ Dan achirnja djoega kematian// Jang tidak berani melaloei/ Hal itoe jang amat menakoeti/ Soedah tentoe ta’bisa terdjadi/ Kemardika’annja jang ditjari. Dua bait gamblang berseru ke orang-orang mau mencapai “kemardika’an” saat Hindia Belanda bergolak dengan pendirian pelbagai perkumpulan sejak awal abad XX: Boedi Oetomo, Indische Partij, Sarekat Islam, Moehammadijah, Jong Java, dan lain-lain.  Para tokoh pergerakan terus melaju tak gentar dipenjara, mengalami pembuangan, dan kematian. Marco Kartodikromo mengalami hukuman demi hukuman dengan keberakhiran di tempat jauh (Papua), jauh dari titik mula (Jawa) menjadikan Indonesia bergerak.

baca juga: Ibu, Pengembara, dan Puisi Lainnya

Sumpah melawan kolonial ada di puisi-puisi dimuat dalam Sair Rempah-Rempah. Marco Kartodikromo cenderung menginginkan puisi-puisi memberi bara tak pernah padam ketimbang sibuk mengurusi estetika. Ia tampak belum tergoda meniru paham-paham sastra bersumber dari Belanda atau Eropa seperti terasa dalam gubahan puisi M Yamin dan Roestam Effendi, berlanjut ke Poedjangga Baroe. Puisi dipengaruhi bentuk sastra lama dengan penggunaan bahasa “Melajoe” jarang “bersopan” dan “berindah”, disampaikan pesan-pesan sejarah, politik, dan identitas.

Kesadaran bahasa itu membelok dari kecenderungan para penulis ingin menganut tata bahasa bentukan Ophuisjen dan pembakuan bertaraf tinggi. Agung Dwi Hartanto (2008) memberi penilaian: “Marco Kartodikromo menggunakan bahasa Melayu untuk menolong, membela, dan menyerang. Ia tak menggadaikan bahasanya demi mendapat kedudukan.” Cara berbahasa itu masih belum dipilih para pembuat kamus atau peneliti ingin menulis sejarah bahasa Indonesai sejak awal abad XX.

Pilihan penggubahan puisi-puisi dimuat di Sair Rempah-Rempah dengan bahasa “terang” dan melawan itu mungkin dijadikan dalih bagi kalangan sarjana dan kritikus sastra enggan menempatkan Marco Kartodikromo di sejarah perpuisian Indonesia. Ia terlalu lama dilupakan saat Indonesia abad XXI menjadi negeri “terlalu” puisi. Begitu.

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: