Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

1001 Malam Cerita Lisan dan Nama Baru tanpa Selamatan

Oleh: Cep Subhan KM         Diposkan: 11 Jul 2019 Dibaca: 849 kali


Jika pengantar sebuah buku dimaksudkan untuk mendongkrak popularitas buku itu sebagaimana seringkali kita temukan kenyataannya pada beberapa buku yang tak perlu disebutkan judulnya, maka Kisah 1001 Malam bukan sebuah buku yang membutuhkan pengantar. Ia sudah populer, ia sudah dikenal lintas generasi bukan sebagai satu karya musiman yang akrab dengan sebuah generasi saja semacam novel-novel picisan.

Terjemahan Kisah 1001 Malam, sepilihan ataupun lengkap, serancu apapun istilah yang disebutkan lebih belakang ini ketika disematkan padanya, sudah ada dalam berbagai bahasa, sejak dulu. Fokus di ranah lokal, beberapa pilihan ceritanya dalam bahasa Sunda misalnya bisa ditemukan dalam 5 jilid buku tipis Lalakon Saepulmuluk (6 cerita), Palika Jeung Jin (9 cerita), Istri Pelit (2 cerita), Anis Aljalis, dan Buah Koldi (6 cerita). Dalam pengantar buku-buku tersebut Ajip Rosidi mengatakan bahwa kemungkinan penyaduran dilakukan tidak dari bahasa Arab melainkan dari bahasa Belanda.

Sementara dalam bahasa Indonesia kita juga sudah memiliki banyak terjemahannya. Edisi yang bisa dikatakan lengkap misalnya adalah edisi yang diterbitkan Mizan dan edisi yang diterbitkan Qisthi Press, sementara banyak juga edisi “sepilihan kisah” yang diterbitkan satu dua penerbit lainnya dengan ketebalan beragam tetapi biasanya kurang dari 400 halaman, di antaranya misal The Arabian Nights: Kisah-kisah Fantastis 1001 Malam (Katta, 2011) dan One Thousand and One Arabian Nights: Kisah 1001 Malam (Elex Media Komputindo, 2008), ataupun satu buku lain dari penerbit yang sama: Fairy Tales from the Arabian Nights (2018).

Kini, sejak Agustus 2018, kita memiliki satu terjemahan baru dari penerbit Diva Press. Tak main-main, saat risalah ini ditulis (9 Juli 2019) edisinya sudah mencapai jilid ke-5 dan konon direncanakan terbit sampai jilid ke-8. Jika dibandingkan dengan dua edisi terjemahan paling lengkap yang sudah ada, edisi Mizan (4 jilid, secara berurutan: 1993, 1994, 1997, 1997) dan edisi Qisthi Press (4 jilid, 2007) maka edisi Diva Press adalah edisi yang lebih tebal, dan jika ketebalan dipandang berbanding lurus dengan nilai lengkap sebuah buku maka edisi ini dimungkinkan untuk dipandang sebagai edisi terjemahan Kisah 1001 Malam paling lengkap.

Edisi Mizan menggunakan naskah sumber bahasa Inggris Husain Haddawy, The Arabian Nights, yang merupakan terjemahan dari edisi bahasa Arab yang dihimpun oleh Muhsin Mahdi untuk dua jilid pertama, memuat malam ke-1 sampai ke-271. Dua jilid selanjutnya menggunakan sumber bahasa Inggris Husain Haddawy, The Arabian Nights II: Sindbad and Other Popular Stories, yang merupakan terjemahan dari edisi Bulaq I, masing-masing jilid memuat dua orphan stories: Petualangan Sinbad dan Aladdin, dan Petualangan Ali Baba dan Qamaruzzaman. Dua jilid pertama diterbitkan kembali dalam satu jilid pada tahun 2016 oleh penerbit Qanita dengan judul Arabian Nights: Kisah 1001 Malam.  

Edisi Muhsin Mahdi merupakan edisi yang dikatakan sebagai “paling otentik” karena penyusunannya dilakukan dengan menggunakan penelitian filologis dan berdasarkan pada manuskrip-manuskrip Kisah 1001 Malam berbahasa Arab tertua dari pertengahan Abad ke-15 yang dijadikan naskah sumber terjemahan Prancis Galland. Karena itulah edisi ini tidak memuat orphan stories, yakni kisah-kisah yang naskah sumber berbahasa Arab pra-terjemahan Prancis Galland tak ditemukan. Berdasarkan alasan yang sama, Husain Haddawy dalam terjemahan empat orphan stories yang paling populer dari Kisah 1001 Malam yang kemudian diterjemahkan Mizan ini menggunakan naskah sumber edisi Bulaq I yang didasarkan pada manuskrip yang lebih belakangan itu, yakni abad ke-18.

Sementara itu edisi Diva Press menggunakan naskah sumber berbahasa sama dengan naskah sumber edisi Qisthi Press, yakni naskah berbahasa Arab. Meskipun demikian, jika dilihat dari narasi dan komposisinya tampaknya mereka menggunakan edisi naskah sumber berbahasa Arab yang berbeda. Sayang bahwa keduanya tidak mencantumkan informasi lengkap perihal naskah sumber yang digunakan. Pada edisi Qisthi Press kita hanya menemukan informasi bahwa naskah sumbernya berjudul alfu lailah wa lailah. Sementara pada edisi Diva Press kita menemukan informasi yang sama ditambah informasi bahwa naskah sumber itu diterbitkan oleh Maktabah asy-Sya’biyyah Beirut tanpa adanya keterangan tahun terbit. Tambahan informasi lain pada edisi Diva Press ini adalah bahwa penyusun naskah sumber tersebut adalah Abu Abdullah Muhammad al-Jihsiyari.

Informasi lengkap perihal sumber terjemahan adalah hal penting yang menjadi lebih penting dalam kasus adanya banyak edisi naskah sumber terjemahan seperti pada kasus Alfu Laylah wa Laylah. Sebagai tambahan perbandingan, baik edisi Qisthi Press maupun edisi Diva Press tidak sama pula dengan edisi bahasa Arab yang ada di rak penulis: edisi Darul Kutub al-Ilmiyyah Libanon yang diterbitkan 4 jilid pada tahun 2014. Maka kita kini punya minimal 3 edisi bahasa Arab yang berbeda untuk Kisah 1001 Malam. Pertama edisi yang dijadikan naskah sumber terjemahan edisi Qisthi Press, kedua yang dijadikan naskah sumber terjemahan edisi Diva Press (edisi Maktabah asy-Sya’biyyah), ketiga edisi Darul Kutub al-Ilmiyyah. Jelas ada banyak lagi edisi bahasa Arab Kisah 1001 Malam selain ketiga edisi ini.

Kisah 1001 Malam merupakan cerita lisan yang perjalanannya menjadi buku berutang pada proses kompilasi alih-alih pada proses penulisan sebagaimana lazimnya sebuah buku. Karena itulah apa yang dicantumkan bersanding dengan judulnya biasanya bukan nama pengarang atau penyusun melainkan nama penghimpun atau penerjemah. Pada titik itulah mencantumkan nama Al-Jihsiyari sebagai penyusun kisah ini pada edisi Diva Press menjadi sesuatu yang menarik pula untuk diperbincangkan.

*

Kisah 1001 Malam memang tak membutuhkan pengantar untuk mendongkrak popularitas, tetapi ia membutuhkan pengantar untuk hal lain yang lebih bersifat filologis: informasi naskah. Dari informasi naskah itulah kisah asal-usul penyematan Al-Jihsiyari sebagai penyusunnya pada edisi Diva Press ini dimungkinkan untuk dirunut. Buku monumental yang diterjemahkan dengan bagus dan diterbitkan berjilid-jilid tebal semacam ini jelas membutuhkan sebuah pengantar bukan sekadar yang menjelaskan seputar naskah ataupun proses terjemahannya.

Pada satu titik kita boleh menebak bahwa penyematan nama tersebut didasarkan adanya penyematan nama yang sama pada naskah sumber. Andaikata kasusnya semacam itu, tetap saja akan lebih bijaksana jika satu sikap skeptis tetap dikedepankan. Buku-buku berbahasa Arab edisi lama seringkali tidak mencantumkan kata pengantar sebagaimana juga tahun terbit atau kota terbit, tetapi buku edisi baru dari penerbit tertentu kebanyakan mencantumkan pengantar, pendek ataupun panjang, yang biasanya ditulis oleh editor ataupun penerbit edisi tersebut dan hampir pasti mencantumkan tahun dan kota terbit.

Sikap skeptis itu dibutuhkan karena kadangkala pada pencantuman nama pengarang untuk buku-buku klasik berbahasa Arab pun terjadi kekeliruan. Ada satu kasus misalnya buku “Badaiuz Zuhur” yang mengisahkan cerita para nabi dan seringkali dikaji di pesantren nama pengarang yang disematkan di kovernya biasanya adalah nama sejarawan Ibn Iyas, sementara berdasarkan telaah “filologis” maka hampir bisa dipastikan bahwa pengarangnya sebenarnya adalah Imam Jalaluddin al-Suyuthi.

Kasus lain, ada buku tafsir dua jilid yang lazim dicetak dengan judul Tafsir Ibnu Arabi sementara berdasarkan telaah “filologis” bisa diketahui bahwa pengarangnya sebenarnya adalah Kamaluddin Abd al-Razzaq al-Kashani. Adapun tafsir Ibnu Arabi sendiri diterbitkan dengan judul Rohmatun min Al-Rahman (1989) dan bukan merupakan kitab utuh yang disusun oleh Ibnu Arabi sendiri melainkan disusun dengan cara yang menyerupai bagaimana Kisah 1001 Malam dibukukan: penyusun, Mahmud Mahmud al-Ghirab, mengumpulkan berbagai interpretasi Ibnu Arabi terhadap ayat-ayat Alquran yang berpencar-pencar dalam berbagai karyanya dan kemudian dibukukan secara kronologis ayat.

Berdasarkan contoh kasus “kekeliruan” semacam itu maka semacam “telaah filologis” penting untuk dilakukan terkecuali untuk naskah-naskah berbahasa Arab yang memang sudah jelas siapa penyusun atau penghimpunnya. Dalam kebanyakan kasus, sebagaimana dalam kasus buku “Badaiuz Zuhur” di atas, hasil akhir yang didapatkan hanya bisa sampai pada “hampir pasti pengarangnya adalah”, sementara dalam sedikit kasus, seperti dalam kasus “Tafsir Ibnu Arabi” di atas, hasil akhirnya bisa sampai pada “pasti pengarangnya adalah”.

Semacam “telaah filologis” itulah yang layak dibubuhkan sebagai kata pengantar edisi terjemahan Kisah 1001 Malam, terutama ketika satu nama yang relatif belum dikenal di Indonesia dicantumkan di kover depan sebagai penyusunnya seperti pada edisi Diva Press. Dengan frasa “relatif belum dikenal” maka penulis merujuk pada akhir pengantar editor terjemahan buku ini pada halaman 7 jilid ke-1 (2018) yang mengatakan bahwa:

Sayang sekali, kami belum menemukan—meskipun sedikit—riwayat hidup sang maestro, Abu Abdullah Muhammad al-Jihsiyari, yang hasil gubahannya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara bagus oleh Bapak Muhammad Halabi dan, tentu saja, akan memperkaya khazanah sastra kita.

Pengantar sependek dua setengah halaman dari editor terjemahan seperti yang bisa ditemukan pada jilid ke-1 dan sama sekali tak ada pada jilid-jilid lain ini adalah pengantar yang sekadar, semacam drama Tragedi yang menghasilkan gelak tawa alih-alih memantik iba dan ngeri. Lagipula apa yang dikatakan oleh kutipan di atas, bisa benar dalam satu arti tapi juga bisa salah dalam arti lain. Bahwa sebuah buku yang merupakan biografi Al-Jahshiyari lengkap yang mengisahkan riwayat dari mulai kelahirannya sampai kematiannya dalam berpuluh-puluh halaman maka pernyataan tersebut bisa benar, tetapi jika yang dimaksudkan adalah bahwa sama sekali tidak ada informasi biografis tentang Al-Jahshiyari, maka pernyataan tersebut bisa salah.

Karena bahkan situs populer Wikipedia versi Arab sebagai satu sumber informasi yang populer dan sangat mudah “ditemukan” pun bisa memberikan sedikit informasi tentang “riwayat hidup” Al-Jahshiyari. Dalam berjilid-jilid terjemahan Kisah 1001 Malam edisi Diva Press kita bisa menemukan ada banyak catatan kaki dari penyunting yang jika dilihat dari adanya rujukan ke buku-buku terbitan lokal pada beberapa di antara catatan kaki itu maka tampaknya yang dimaksudkan adalah penyunting naskah sasaran dan bukan penyunting naskah sumber, meskipun istilah yang digunakan dalam kolofon buku adalah “editor” dan bukan “penyunting”. Cukup mengherankan bahwa penyunting yang bisa memberikan banyak informasi tambahan melalui catatan kaki ternyata tidak bisa menemukan informasi “meskipun sedikit” tentang riwayat Al-Jahshiyari. Jika pun ingin mendasarkan pada sumber yang lebih kredibel, maka juga ada beberapa buku yang bisa dijadikan sebagai rujukan.

Tetapi sebelum kita sampai ke sana menarik untuk membaca juga apa yang ditulis pengantar editor pada dua paragraf sebelum kutipan di atas:

Versi lain mengatakan bahwa Kisah 1001 Malam merupakan epik gubahan pengarang Muslim terkemuka, Abu Abdullah Muhammad al-Jihsiyari. Ia mengumpulkan cerita rakyat Arab, Yaman Kuno, India Kuno, Asia Kecil Kuno, Persia Kuno, Mesir Kuno, Suriah Kuno, dan Dinasti Abbasiyah. Kisah-kisah itu ia kumpulkan, baik dari sumber tertulis maupun oral, kemudian ia rangkai dan tuliskan dalam bahasa Arab sedemikian rupa sehingga jadilah kitab epik legendaris dan fenomenal: Alfu Layla wa Layla. Buku Kisah 1001 Malam yang sedang pembaca hadapi ini merupakan terjemahan dari kitab Alfu Layla wa Layla

Kita tak mendapatkan informasi dari mana “versi lain” tentang asal-usul Kisah 1001 Malam ini didapatkan penulis yang “belum menemukan—meskipun sedikit—riwayat hidup” Al-Jihsiyari meskipun kita bisa menduga bahwa sumbernya adalah Wikipedia versi Indonesia lema “Seribu Satu Malam” di mana sampai saat tulisan ini ditulis kita bisa menemukan pasase seperti ini:

Versi lainnya menyebutkan, Hikayat 1001 Malam sebagai kumpulan ceritera rakyat Arab. Adalah Abu Abdullah bin Abdus al-Jasyayari seorang pengarang terkemuka yang merangkai dan dan menulis kisah yang legendaris itu. Kitab Alf layla wa layla yang ditulis Al-Jasyayari ide ceritanya berasal dari Hazar Afsanah yang diterjemahkannya ke dalam bahasa Arab.

Pendapat lainnya menuturkan, dongeng 1001 Malam yang dikenal dalam bahasa Persia berjudul Hezar-o yek sab itu merupakan sebuah kumpulan cerita yang disusun selama berabad-abad oleh begitu banyak pengarang, penerjemah, dan sarjana. Cerita rakyat yang mulai lahir antara abad ke-8 M hingga 9 M itu berawal dan berakar dari cerita rakyat Arab dan Yaman Kuno, India Kuno, Asia Kecil Kuno, Persia Kuno, Mesir Kuno, Suriah Kuno, dan era kekhalifahan Islam.

Kita bisa melihat adanya kesangatmiripan baik pada konten maupun susunan kalimat kutipan pengantar dan kutipan Wikipedia itu. Pandangan umum selama ini tentang Wikipedia biasanya tidak memperlakukannya sebagai referensi kredibel melainkan hanya sebagai referensi awal yang mesti dirujuk silang ke berbagai referensi lain yang sudah disepakati kredibilitasnya. Pandangan semacam ini akan lekas kita setujui hanya dengan memperhatikan kutipan singkat Wikipedia di atas yang carut-marut: “al-Jahshiyari” ditulis “al-Jasyayari”, adanya “dan” ganda pada “dan dan menulis kisah”, penggunaan “ceritera” (tidak baku) bergantian dengan “cerita” (baku), ataupun pola kalimat yang absurd gara-gara penempatan tanda baca yang seenaknya pada “versi lainnya menyebutkan, Hikayat 1001 Malam sebagai kumpulan ceritera rakyat Arab.” Selain itu, jika dibandingkan antara Wikipedia versi Indonesia, Inggris, dan Arab pada lema “Seribu Satu Malam” maka akan kita temukan bahwa nama “al-Jasyayari” dalam Wikipedia versi Indonesia tidak dibuat sebagai lema, pada versi Inggris bahkan tidak ada sama sekali, sementara pada versi bahasa Arab merupakan lema yang bisa memberikan informasi “meskipun sedikit” tentang riwayat Al-Jahshiyari. 

Benar tidaknya penulis pengantar tersebut menggunakan rujukan Wikipedia versi Indonesia wallahualam bissawab dan tak perlu dibahas berpanjang-panjang di sini. Yang jelas dari kutipan kedua satu paragraf panjang dari penulis pengantar tersebut kita bisa mendapatkan kesan bahwa Abu Abdullah Muhammad al-Jihsiyari menyusun Alfu Layla wa Layla lengkap, dan terjemahan edisi Diva Press ini merupakan terjemahan dari “kitab epik legendaris” susunan Al-Jihsiyari itu. Benar tidaknya satu kutipan tersebut dan satu kutipan sebelumnya mari kita putuskan setelah merujuk pada beberapa referensi yang bisa kita temukan dengan mudah.

Dalam Encyclopedia of Arabic Literature (1998) susunan Julie Scott Meisami dan Paul Starkey, kita menemukan lema “Al-Jahshiyari” pada halaman 409 dengan tambahan keterangan setelah namanya bahwa dia meninggal tahun 331 H atau 942-3 M. Lema ini memuat dua paragraf, terjemahan paragraf pertamanya seperti ini:

Abu ‘Abd Allah Muhammad ibn ‘Abdus al-Jahshiyari adalah seorang pejabat istana Abbasiyah pada era kemundurannya, dan merupakan pengarang sejarah penting ke-wazir-an awal. Sepanjang perebutan kekuasaan yang tak berkesudahan pada masa kekhalifahan Al-Muqtadir, dia terhubung pada dua pesaing utama, wazir ‘Ali ibn ‘Isa dan Ibn Muqla. Meskipun lebih diasosiasikan dengan kesekretarisan daripada dengan faksi militer dalam perebutan ini, tampaknya dia bertugas dengan kapasitas kuasi-militer dalam pengiring militer pribadi yang dipertahankan oleh para wazir pada era ini. Di bawah khalifah al-Radi dia mengalami takdir yang umum bagi para sekretaris berupa penangkapan dan pembeslahan.

Dalam The Arabian Nights Encyclopedia (2004) susunan Ulrich Marzolph dan Richard van Leeuwen kita mendapatkan informasi bahwa nama lengkap Al-Jahshiyari adalah Abu ‘Abdallah Muhammad ibn ‘Abdus al-Jahshiyari (ejaan yang umum digunakan dalam teks-teks berbahasa Inggris dan digunakan juga dalam tulisan ini kecuali ketika merujuk pada edisi Diva Press yang menggunakan ejaan berbeda: Al-Jihsiyari), meninggal pada tahun 942. Dia adalah pengarang Kitab al-Wuzara’ dan satu koleksi naratif lengkap yang kini lenyap.

Kitab al Wuzara’ wa al-Kuttab (Buku tentang Para Wazir dan Sekretaris) dijelaskan oleh Encyclopedia of Arabic Literature sebagai memuat sejarah kewaziran dalam Islam dari masa Nabi sampai kekhalifahan al-Ma’mun, tetapi terutama ditujukan pada era Abbasiyah dan Barmakid. Sementara tentang koleksi naratif yang dihimpun oleh Al-Jahshiyari, Marzolph mengutip informasi dari Ibn al-Nadim (meninggal tahun 995) dalam buku karangannya, Fihrist (Katalog) bahwa dalam buku itu Al-Jahshiyari menyeleksi ribuan kisah dari cerita-cerita bangsa Arab, Persia, Yunani, dan lainnya. Masing-masing bagian cerita itu terpisah, tidak terhubung satu dengan yang lainnya. Dia mengundang para pendongeng dan dari mereka dia memperoleh dongeng-dongeng terbaik. Dia juga menyeleksi apapun yang menyenangkannya dari buku-buku yang memuat cerita-cerita dan fabel-fabel. Hasil dari kesemua itu adalah 480 malam, masing-masing malam merupakan satu cerita lengkap, terdiri dari lebih kurang 50 halaman. Sayangnya dia keburu meninggal sebelum dia menyelesaikan rencananya untuk melengkapi sampai seribu cerita. 

Dalam pengantar Tales of the Marvellous and News of the Strange (2014) yang merupakan terjemahan bahasa Inggris dari Kitab al-Hikayat al-‘Ajiba wal Akhbar al-Ghariba, Robert Irwin juga menyinggung soal Al-Jahshiyari berdasarkan kisah dari Ibn al-Nadim ini meskipun tampaknya ada kesalahan tulis saat dia menyebutkan bahwa jumlah cerita yang dihasilkan adalah 380 cerita, karena berdasarkan pengecekan langsung ke Fihrist karya Ibn al-Nadim memang angka yang disebutkan di dalamnya adalah 480. Hasil kompilasi Al-Jahshiyari inilah yang biasa dipandang sebagai versi pertama Kisah 1001 Malam.

Ibn al-Nadim konon pernah melihat sendiri sejumlah bagian Kisah 1001 Malam versi Al-Jahshiyari ini dan kisah Ibn al-Nadim tentangnya tidak berkesesuaian dengan versi Kisah 1001 Malam manapun yang sampai pada kita. Apa yang lebih mendekati hasil kompilasi Al-Jahshiyari ini justru adalah manuskrip lain yang dikenal sebagai Kitab al-Hikayat al-Ajiba wal Akhbar al-Ghariba sebagaimana dikatakan oleh Salah al-Din al-Munajjid (1910-2010). Buku ini sendiri sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari edisi bahasa Inggris dan diterbitkan oleh Alvabet dalam 3 jilid (edisi terjemah bahasa Inggris yang diterbitkan oleh Penguin hanya 1 jilid setebal 447 halaman) dengan judul Hikayat Arabia Abad Pertengahan: Cerita-cerita Menakjubkan yang Baru Ditemukan (2016).

Kitab al-Hikayat al-Ajiba wal Akhbar al-Ghariba adalah manuskrip berbahasa Arab yang ditemukan oleh Hellmut Ritter di sebuah perpustakaan di Istanbul. Penemuannya itu kemudian dia publikasikan pada tahun 1933 dalam sebuah konferensi para Orientalis. Manuskrip yang ditemukannya tidaklah lengkap. Berdasarkan informasi di dalamnya maka manuskrip itu harusnya memuat 42 kisah tetapi yang tersisa hanya 18 kisah. Diperkirakan kisah-kisah dalam manuskrip itu dikumpulkan pada abad ke-10, tetapi berdasarkan kaligrafinya manuskrip itu sendiri diperkirakan berasal dari abad ke-14. Karena judul manuskrip itu sendiri tak tersisa maka judulnya sebagaimana kita temukan dalam edisi yang dipublikasikan sekarang ini didasarkan pada pengantar yang tersisa pada manuskrip itu bahwa “buku ini memuat ‘Hikayat-hikayat Ajaib dan Berita-berita yang Tak Biasa’” (Hikayat al-Ajiba wal Akhbar al-Ghariba).

Meskipun demikian, buku ini pun tidak sepenuhnya dianggap sebagai susunan Al-Jahshiyari karena ada kisah di dalamnya yang menyinggung peristiwa-peristiwa yang secara historis terjadi setelah kematian Al-Jahshiyari. Maka buku ini lebih dipandang sebagai representasi dari sebagian hasil kompilasi Al-Jahshiyari alih-alih sebagai representasi keseluruhan karyanya, karena sebagian darinya lebih mendekati deskripsi Ibn al-Nadim tentang hasil kompilasi Al-Jahshiyari tetapi sebagian yang lain tidak. Dimungkinkan bahwa sebagian kisah lainnya merupakan tambahan dari pendongeng tak dikenal, suatu jalur penyampaian kisah yang lazim terjadi dalam kasus cerita lisan.

Dari sedikit informasi biografis seperti yang disajikan di atas, kita bisa menilai seberapa jauh informasi yang disajikan dua paragraf yang dikutip dari pengantar terjemahan edisi Diva Press di atas bisa berguna bagi kita. Selain itu kita juga lantas akan menghadapi pencantuman nama Al-Jihsiyari dalam edisi Diva Press ini dengan keraguan. Sebagai perbandingan, terjemahan Kisah 1001 Malam edisi Qisthi Press juga memberikan informasi singkat tentang Al-Jahshiyari dalam pengantar tetapi edisi ini sama sekali tidak mencantumkan nama Al-Jahsiyari sebagai penyusun naskah terjemahan tersebut.

Al-Jahshiyari, dengan demikian, memang bisa dikatakan sebagai bapak Kisah 1001 Malam, tetapi kisah yang dia kumpulkan hanya mencapai malam/cerita ke-480 sementara edisi Diva Press ini dalam jilidnya yang kelima saja sudah memuat malam ke-456-588. Andai benar bahwa edisi Diva Press ini akan total mencapai 8 jilid maka tampaknya memang edisi ini akan memuat total 1001 malam sehingga pencantuman nama Al-Jihsiyari sebagai penyusunnya semakin tampak meragukan.

Jika dibandingkan, alih-alih menyematkan nama Al-Jahshiyari pada Kisah 1001 Malam versi manapun yang ada sekarang ini, akan lebih pantas jika namanya justru disematkan pada Kitab al-Hikayat al-Ajiba wal Akhbar al-Ghariba, tentunya dengan berbagai catatan. Kalaupun tidak, maka akan lebih hati-hati jika dalam terjemahan Kisah 1001 Malam hanya mencantumkan nama penghimpun/penerjemah seperti Muhsin Mahdi, Husain Haddawy, Richard Burton, Malcolm Lyons, dan lain-lain sesuai dengan naskah sumber yang digunakan. Andaikata edisi naskah sumber berbahasa Arab yang digunakan tidak mencantumkan nama penyusun, seperti demikian halnya pada Kisah 1001 Malam edisi Darul Kutub al-Ilmiyyah, maka tidak mencantumkan nama siapapun sebagai penyusunnya adalah opsi yang juga bisa dipilih. Berdasarkan penelusuran penulis, An-Najah Libraries yang juga mengoleksi naskah yang dijadikan naskah sumber terjemahan edisi Diva Press ini mengosongkan bagian “Author” pada informasi bibliografisnya. 

Pada titik inilah penentuan naskah sumber menjadi penting dilakukan dengan mempertimbangkan segala informasi terkait naskah tersebut, karena tanpa melakukan itu maka yang dicantumkan sebagai naskah sumber pada naskah sasaran adalah informasi yang tak memberikan informasi apapun semacam bahwa “buku ini diterjemahkan dari Alfu Lailah wa Lailah”. Mengapa informasi semacam itu “tak memberikan informasi apapun” karena fakta bahwa Kisah 1001 Malam yang diterjemahkan dari bahasa Arab sumbernya adalah Alfu Lailah wa Lailah itu sama jelasnya dengan fakta bahwa presiden Indonesia 2019-2024 adalah Jokowi dan bahwa jumlah hari dalam seminggu adalah 7 biji. Informasi yang dibutuhkan dalam kasus ini adalah informasi tentang naskah Alfu Lailah wa Lailah yang mana.

Pada kasus terjemahan Kisah 1001 Malam edisi Diva Press, informasi itu diberikan: alfu lailah wa lailah yang dijadikan naskah sumber adalah edisi susunan Al-Jihsiyari. Sayangnya tak ada informasi lanjutan apapun seputar itu sementara edisi naskah yang kemudian hadir ke hadapan pembaca ternyata bertentangan pula dengan informasi yang diberikan oleh berbagai sumber lain seputar Al-Jahshiyari dan naskah prototipe Kisah 1001 Malam yang disusunnya.

Selain memiliki nilai guna, penelusuran pengarang karya-karya lama seperti Kisah 1001 Malam sebenarnya merupakan hal menarik, dan kemenarikan semacam itulah yang sebenarnya akan membuat Kisah 1001 Malam edisi Diva Press menjadi lebih sempurna andaikata kisah penelusuran semacam itu dicantumkan sebagai pengantar tambahan setelah pengantar editor, andaipun tidak disatukan dengan pengantar editor atau pengantar penerjemah. Poinnya bukan pada siapa yang menulis pengantar dan di sebelah mana ia ditempatkan pada halaman buku, melainkan pada adanya informasi itu dalam buku yang bersangkutan.

Pada akhirnya, kelengkapan informasi itu juga akan menambah nilai lebih pada edisi terjemahan ini dibandingkan dengan edisi-edisi lain. Memang bahwa edisi ini diterjemahkan dari naskah sumber berbahasa Arab sudah merupakan satu kelebihan tersendiri, tetapi hal itu juga sudah dilakukan oleh Qisthi Press dengan kualitas terjemahan yang juga bagus. Jika dibandingkan dari segi fisik, maka edisi Qisthi Press yang berjilid keras dengan tampilan eksklusif jelas memiliki kelebihan yang tidak ditemukan pada edisi Diva Press.   

Meskipun demikian, upaya penerbit Diva Press yang menerbitkan terjemahan baru Kisah 1001 Malam, dari bahasa Arab, dengan jumlah jilid yang lebih banyak, merupakan satu upaya yang sangat layak dihargai. Kita tahu tak banyak penerbit yang mau melakukan hal semacam itu berdasarkan berbagai pertimbangan termasuk pertimbangan wajar tentang perjudian finansial yang risikonya terlalu tinggi.

Kini, setelah sedikit pembahasan—atau gumaman—yang jauh dari memadai ini, kita mungkin bisa sedikit bahagia mengetahui bahwa melalui penerbit Diva Press akhirnya penyusun Kisah 1001 Malam mendapatkan nama “baru” setelah sebelumnya kita kurang bahagia

mengetahui bahwa pemberian nama itu tidak dibarengi acara selamatan berupa penjelasan yang memadai. Atau mungkin kita boleh curiga bahwa penerbit Diva Press ini adalah penerbit yang tak ingin melakukan segalanya sendirian dan tak ingin membuat para pembaca menjadi sekumpulan anak manja, ia adalah bapak yang menyodorkan kail pada anaknya ketika anaknya itu lapar alih-alih memberikan ikan matang.
 
Dengan kata lain: penerbit Diva Press menyodorkan naskah terjemahan Kisah 1001 Malam dan mencantumkan nama Al-Jihsiyari sebagai penyusunnya kepada kita, lantas giliran kita untuk mencari tahu sisanya lalu menuangkannya dalam tulisan dan membeberkannya pada dunia. Itu pulalah yang dengan segala kerendahan hati coba dilakukan oleh penulis risalah yang sangat singkat ini.
  •  
Penerjemah: Muhammad Halabi
Penerbit: Diva Press
  •  



1 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: