Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

10 Buku Terlaris di Desember 2018

Oleh: Redaksi         Diposkan: 31 Dec 2018 Dibaca: 1397 kali


Buku-buku ini menjadi buku paling dicari di penghujung tahun 2018 ini, buku-buku yang siap mengisi rak buku dan pemikiran kita dalam proses berpikir. Bukan hanya sekadar suplemen, buku-buku kadang menjadi sumber inspirasi dalam berkarya.

Filsuf-filsuf Besar Tentang Manusia

 

Ada dua pertanyaan pokok yang akan kita hadapi selama kita membaca serangkaian pemikiran filsuf-filsuf besar tentang manusia ini. Pertama, apakah hidup kita saat ini masih bermakna? Dan, kedua, jika masih bermakna, makna yang bagaimana? Dua pertanyaan itu timbul dari kegelisahan eksistensial masa kini ketika kita dikejar-kejar oleh bayangbayang hari esok.

Pertanyaan itulah yang kemudian menjadi bahan refleksi intensif dua puluh filsuf dari Plato sampai Teilhard de Chardin. Buku ini dapat menjadi cermin bagi kita untuk lebih memahami persoalan-persoalan kehidupan yang kita hadapi. Bertolak dari sejarah filsafat Barat tentang manusia dengan orientasi kritis-rasional—sekaligus membedakan diri dari orientasi ilmiah-positif dan orientasi teologis—pengarang berhasil menunjukkan persoalan-persoalan etis. Singkatnya, isi buku ini berwajah tiga: sebuah ringkasan sejarah filsafat Barat, dengan fokus utama pada refleksi filsafat manusia, yang diperkaya dengan dimensi etis.

Buku yang ditulis secara populer tetapi tanpa meninggalkan kedalaman uraian ini terutama dipersembahkan untuk seluruh komunitas intelektual dan mereka yang tidak mendapat pendidikan khusus di bidang filsafat.

21 LESSONS: 21 Adab untuk Abad ke 21

Di dunia yang dibanjiri oleh informasi yang tidak relevan, kejelasan adalah kekuatan. Secara teori, siapa pun dapat bergabung dengan perdebatan tentang masa depan kemanusiaan, tetapi sangat sulit untuk mempertahankan visi yang jelas. Seringkali, kita bahkan tidak memperhatikan bahwa perdebatan sedang berlangsung, atau apa persoalan utamanya. Miliaran dari kita hampir tidak mampu untuk melakukan penyelidikan, karena kita memiliki banyak hal mendesak untuk dilakukan: kita harus pergi bekerja, merawat anak-anak, atau merawat orang tua yang lanjut usia.

Sayangnya, sejarah tidak memberikan diskon. Jika masa depan umat manusia ditentukan dalam ketiadaan Anda, karena Anda terlalu sibuk memberi makan dan pakaian anak-anak Anda –maka Anda dan mereka tidak akan dibebaskan dari konsekuensinya. Ini sangat tidak adil; tapi siapa bilang sejarah itu adil? 21 LESSONS adalah sebuah eksplorasi tentang apa artinya menjadi manusia di zaman kebingungan ini. Di dunia yang dibanjiri oleh informasi yang tidak relevan, kejelasan adalah kekuatan.

Malas Tapi Sukses

Malas Tapi Sukses sangat berbeda dari buku-buku yang pernah Anda baca atau lihat selama ini. Di sini Anda akan belajar menjalani suatu jenis kemalasan yang menjurus pada kinerja tanpa susah payah—kemampuan mencapai apa saja tanpa melakukan apa-apa.

Buku yang tak bisa ditampik ini menyodorkan cara pandang baru. Ia membuktikan kekeliruan pendapat yang selama ini lumrah diterima bahwa kesuksesan hanya lahir dari kerja keras Bahkan, buku ini dengan mendalam dan meyakinkan serta penuh humor berpendapat yang sebaliknya—bahwa berbuat sedikit itulah sebenarnya yang menghasilkan lebih banyak.

Madilog

Pena merayap di atas kertas dekat Cililitan, di bawah sayapnya pesawat Jepang yang setiap hari mendengungkan kecerobohannya di atas pondok saya. Madilog ikut lari bersembunyi ke Bayah Banten, ikut pergi mengantarkan romusha ke Jawa tengah dan ikut menggeleng-geleng kepala memperhatikan proklamasi Republik Indonesia. Di belakang sekali ikut pula ditangkap di Surabaya bersama pengarangnya, berhubung dengan gara-gara Tan Malaka palsu………………bahkan hampir saja Madilog hilang.

Questioning Everything: Kreativitas di Dunia yang Tidak Baik Baik Saja

Baru 3 tahun sesudah lahirnya itu, Madilog sekarang memperkenalkan dirinya kepada mereka yang sudi menerimanya. Mereka yang sudah mendapat minimum latihan otak, berhati lapang dan seksama serta akhirnya berkemauan keras buat memahamkannya.

Peradaban mundur, sejarah kelam terulang. Barangkali itu klaim bombastis. Satu yang niscaya, saat ini kita hidup di dunia yang tidak baik-baik saja. Kita mengerami nyawa di dunia tempat menemukan keresahan ialah kegaliban, dan menemukan kebenaran tak semudah di soal pilihan ganda PPKN. Hal-hal buruk adalah kenyataan, sementara hal-hal baik adalah harapan. Dan di dunia semacam itu, sebagian optimis dalam ketidaktahuan. Meringkuk dalam laku fatalis, abai, dan konsumtif. Larut.

Sebagian lagi pesimis dalam ciut dan keragu-raguan. Larut. Jika memang sedemikian suramnya, mengapa dunia tetap bertahan? Tak bergegas hancur berkeping-keping dan kembali ke rantai makanan sederhana ala zaman dinosaurus? Mungkin Tuhan Yang Mahatahu memang masih menunggu, atau bisa jadi karena masih ada serpihan nyala yang berbinar di berbagai ufuk semesta. Kami percaya keduanya, walau lebih condong ke premis kedua. Kami berupaya mengabadikan serpihan-serpihan itu. Binar dari insan-insan yang terus menjaga kreativitas tetap berumur panjang. Mereka ialah para seniman, baik musisi, penulis, sutradara, atau perupa yang tak kenal lelah menafkahi dunia yang kian membosankan.

Dengan tajuk Questioning Everything: Kreativitas di Dunia yang Tidak Baik-Baik Saja, ada optimisme yang coba kami utarakan dari pesimisme yang seyogianya pun patut disadari. Selalu ada yang salah, namun senantiasa ada asa dan cara. Boleh jadi begitulah kreativitas bekerja.

The World As I See It: Dunia Sebagaimana Saya Pahami

Buku ini adalah bunga rampai yang ditulis oleh Albert Einstein dengan tujuan yang jelas, yaitu memberikan gambaran tentang seorang anak manusia. Pada perkembangan terakhir, Einstein kerap dicitrakan bedolak belakang dengan cita-citanya. Dia sering digambarkan penuh dengan hasrat politis dan sejarah kontemporer.

Sebagai akibatnya, Einstein mengalami nasib sebagaimana yang dialami orang-orang besar dalam sejarah: karakter dan pendapatnya  ditampilkan di dunia dalam wujud yang jelas-jelas terdistorsi.

Tujuan riil buku ini adalah mencegah nasib semacam ini. Hal ini sejalan dengan harapan yang kerap disampaikan oleh teman-teman Einstein maupun khalayak luas. Buku ini berisi kaya dengan waktu yang berbeda-beda - artikel di International Science tahun 1922, sambutan pada Principles of Scientific Research dari tahun 1923, - dan dari berbagai belahan bumi, yang dilebur menjadi satu potret kepribadian figur yang ada di balik ujaran-ujaran tersebut. Albert Einstein percaya pada kemanusiaan, pada dunia damai yang saling bantu, dan misi agung sains. Buku ini dimaksudkan sebagai sebuah pembelaan atas keyakinan ini sekaligus mengajak kita meneliti secara seksama sikap mental dan gagasan-gagasannya.

Retorika: Seni Berbicara

Socrates, Plato, dan Aristoteles memandang retorika dan puisi sebagai alat yang terlalu sering digunakan untuk memanipulasi orang lain melalui manipulasi emosi dan pengaburan fakta. Mereka mendakwa para sofis, termasuk Gorgias dan Isocrates, sebagai para pengguna manipulasi jenis ini, sedangkan para filsuf merupakan pengguna retorika yang didasarkan pada filsafat dan upaya-upaya pencerahan. Salah satu kontribusi terpenting Aristoteles dalam buku ini adalah ia mengidentifikasi retorika sebagai salah satu dari tiga elemen kunci dalam filsafat, bersanding dengan logika dan dialektika.

Aristoteles, melalui buku ini, memberikan dasar-dasar sistem retorika yang berfungsi sebagai batu pijakan bagi perkembangan teori retorika dari zaman kuno sampai zaman modern, sehingga buku ini dianggap sebagai karya tunggal yang paling penting dalam seni persuasi. Gross dan Walzer, sebagaimana Alfred North Whitehead, setuju bahwa semua filsafat Barat adalah catatan kakibagi Plato dan semua teori retorika hanyalah serangkaian tanggapan terhadap isuisu yang diangkat dalam Retorika.

Walden

John Updike seorang penulis Amerika berpendapat, Thoreau melihat kekerasan di balik tatanan yang mapan, sifat kepemilikan pribadi yang memperbudak, dan—sebuah tren yang bahkan lebih kuat sekarang daripada 40 tahun lalu—substitusi media atas “berita” sebagai realitas personal. Dalam kegelapan yang besar ini kita hanya dapat menyulut cahaya yang minim, seperti lampu di dalam kabin, dalam kesadaran kita sendiri: berkah yang menggairahkan dari Walden membuat kita merasa bahwa persaingan itu setara dan adil. Walden telah terbukti sebagai salah satu wasiat agung dalam individualisme Amerika, yang meyakinkan kita akan dunia baru, penjaminan kembali atas tradisionalitas yang runtuh, dalam nilai, kekuatan, dan keindahan diri yang tak terkekang.

Yakin Waras? Potret Ironi Hidup Manusia

Kewarasan merupakan sebuah keadaan dan sifatnya tidaklah tetap sepanjang waktu. Saya waras saat ini, besok bisa berbeda. Saya tidak waras saat ini, belum tentu besok masih tidak waras. Kesadaran dan keberanian untuk mempertanyakan kewarasan ini merupakan sebuah undangan untuk rajin masuk ke dalam batin, menyelidiki ke dalam, menemukan motif terdalam, menyadari suara hati, dan menemukan kemurnian.

Manusia yang sehat mental adalah manusia yang bahagia. Bisa sedih? Bisa. Bisa marah? Bisa. Namun, aneka variasi emosi yang hadir, bisa dimaknai dengan benar. Aneka emosi yang ada, seimbang, tidak hanya emosi negative terus menerus. Kita bisa menemukan pilihan-pilihan dan membuat keputusan dengan jernih, bukan sekadar karena "reaktif". Ketika kita dalam kondisi baik, kita cenderung akan mempersepsikan hal-hal baik. Apa yang Anda persepsikan tentang lingkungan di luar Anda, mencerminkan kondisi di dalam diri Anda.

Buku ini mengajak kita untuk lebih menghayati  ironi hidup manusia dan aneka kelekatan  yang membuat kita terkadang kehilangan   sisi kemanusiaan. Berbagai kisah nyata dan  inpiratif dalam buku ini, menggelitik hati saya untuk membagikannya kepada Anda sebagai sebuah refleksi untuk berempati dan membuka hati.

Kreativitas dan Keberanian Risalah tentang Proses Kreatif dalam Pandangan Eksistensialisme

Kita hidup di suatu masa ketika sebuah era sedang sekarat, sementara era baru yang dinantikan tak kunjung muncul. Kita tidak dapat mengelak bahwa kita sedang menghadapi perubahan-perubahan radikal dalam perilaku seksual, bentuk perkawinan, struktur keluarga, pendidikan, agama, teknologi, dan hampir semua aspek lainnya dalam kehidupan modern kita. Dan, di balik itu semua adalah ancaman bom atom yang me┼čki mulai menyusut namun tidak pernah sepenuhnya lenyap. Untuk tetap memiliki kepekaan pada era yang tidak menentu ini, kita benar-benar membutuhkan keberanian.

Proses-proses kreatif harus digali tidak hanya sebagai produk dari penyakit mental, namun sebagai perwujudan dari kesehatan emosional di level tertinggi; atau, sebagai gambaran dari cara orang normal dalam mengaktualisasikan diri mereka. Kreativitas harus juga dipandang dalam kerangka kerja ilmuwan atau seniman, pemikir dan juga ahli estetika; dan orang tidak perlu menghilangkan luasnya makna kreativitas seperti yang tercermin dalam diri tokohtokoh teknologi modern dan juga hubungan seorang ibu normal dengan anaknya, Kreativitas, seperti yang sudah dengan benar disebutkan oleh Webster, pada hakikatnya adalah proses penciptaan atau menjadikan sesuatu menjadi ada.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: