Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

9 Buku paling Dicari Bulan Juli

Oleh: Redaksi         Diposkan: 01 Aug 2019 Dibaca: 1468 kali


Kita telah melewati bulan Juli, di mana hanya ada mendung-mendung yang bergelayut. Tak seperti Juni yang turun hujan, atau Mei yang sarat perlawanan. Jika sepintas saja kita mengetik Juli pada bilah pencarian wikipedia, maka yang muncul adalah bahwa Juli adalah bulan ketujuh dalam kelender Gregorian dan namanya diambil dari kaisar Romawi, Julius Caesar.

Meninggalkan bulan Juli, kita memasuki Agustus yang identik dengan kemerdekaan. Di mana kemerdekaan dirayakan dengan upacara bendera, baris berbaris, karnaval, dan tentu saja ketidakmerdekaan kita dalam mengingini pengetahuan. Beberapa waktu yang lalu, kami mengunggah dukungan kami untuk kawan-kawan Vespaliterasi yang “diamankan” oleh aparatus negara karena membawa buku yang mengandug “Aidit”. Nyatanya unggahan kami ditakedown oleh Instagram.

Miris ketika menyadari bahwa kemerdekaan yang menjadi status quo saat ini masih bernoda dengan larangan-larangan yang menyangkut barang cetakan. Seakan-akan tidak ada cara lain untuk memerangi hantu-hantu yang bergentayangan di Eropa, yang dihidupkan sendiri oleh yang memeranginya. 

Tapi bukan berarti bahwa kita harus menginsyafi kemerdekaan ini dengan ketertundukan. Bahwa kemerdekaan tak hanya menyangkut sekadar status quo melainkan juga kemerdekaan secara individu. Untuk itu kita tetap perlu menyambut Agustus ini. Setidaknya merayakan dengan semangat Berdikari.

Di bulan Juli yang lalu, beberapa buku ini menjadi buku yang paling banyak dicari, dan mungkin saja ingin dimiliki.

Angsa Liar

Angsa Liar

Otama memperoleh harapan hidup yang baik saat berencana menikah dengan seorang polisi, yang ternyata sudah beristri dan kemudian membuangnya. Ibarat keluar dari mulut buaya dan masuk ke mulut harimau, Otama lepas dari si polisi untuk menjadi gundik seorang rentenir. Satu-satunya kebahagiaan yang ia miliki hanyalah fantasi tentang seorang mahasiswa tampan bernama Okada, yang sering lewat di depan rumahnya, dan tampaknya juga mengagumi Otama dari jauh.

Angsa Liar berkisah tentang seorang perempuan yang terpaksa menjadi gundik karena kondisi sosial dan ekonominya. Angsa Liar adalah salah satu karya Mori Ōgai, salah satu sastrawan dari negeri Sakura yang diterjemahkan oleh Ribeka Ota. Meski berlatar Tokyo 1880 tampaknya masih relevan sebagai bahan reflektif mengenai pergundikan. Dengan gaya bertutur yang menawan Angsa Liar menjadi buku yang layak dibaca dan dikoleksi untuk memperkaya sastra Jepang di Indonesia.

Membunuh Hantu-hantu Patriarki

Keberadaan perempuan di ruang publik tidak serta merta menjadikannya objek, yang dengan segelintir pujian bisa kamu dapatkan. Perempuan berada di ruang publik untuk menjalani kehidupan dengan aman dan nyaman.

Membunuh Hantu-hantu Patriarki adalah bunga rampai mengenai apa-apa saja yang dialami oleh perempuan. Hampir seperti diaryMembunuh Hantu-hantu Patriarki adalah sekumpulan tulisan Dea Safira, dengan gaya bahasa yang populer. Bahwa buku ini adalah salah satu suluh yang menyuarakan agar perempuan angkat bicara tentang ketidakadilan gender yang dialami menahun.

Forgiving the Unforgivable

Forgiving the Unforgivable

Seandainya kita tidak memiliki rasa marah, benci, atau demam kepada orang yang telah melanggar kita, mungkin kita tidak akan pernah mengenal bagaimana cara memaafkan. Seandainya memaafkan itu sama mudahnya dengan mengumbar janji-janji politik, mungkin kita akan lebih ringan melakukan kesalahan.
 

Pelacur Itu Datang Terlambat

Pelacur Itu Datang Terlambat New Edition

Soesilo Toer mengatakan bahwa D. Purnama adalah seorang guru, sarjana, atau sufi baginya. Bahwa dalam setiap cerita yang ada dalam buku ini, Pelacur Itu Datang Terlambat, dituliskan secara empiris, sehingga pembaca tak perlu banyak berpikir dalam menikmatinya. Penulisannya yang gamblang dan tanpa memerlukan perenungan menjadikan cerita yang ada di dalamnya menjadi memiliki kekuatan.

 

Manusia mencari dirinya

Manusia Mencari Dirinya

Matthew Arnold mengungkapkan: “Dalam segala aktivitas kehidupan ini kita akan selalu terlempar kembali kepada usaha pencarian identitas diri, pada saat kita menyadari bahwa masyarakat kita yang sedang berada dalam pergolakan mencari standar-standar dan nilai-nilai kehidupan tidak mampu memberikan gambaran yang jelas kepada kita tentang siapa diri kita sebenarnya dan apa yang harus kita lakukan.” Lalu timbullah sesuatu yang menyedihkan: manusia mulai dihantui oleh perasaan tidak tenteram. Perasaan inilah yang memberikan insentif baru bagi kita untuk bertanya: “Mungkinkah ada sumber-sumber bimbingan dan kekuatan penting yang tanpa sadar telah kita abaikan?” Dalam bab-bab buku ini kita tidak hanya akan melihat wawasan baru dalam dunia ilmu jiwa yang tersembunyi dalam suatu tingkat pribadi, tetapi kita juga akan melihat kebijaksanaan orang-orang yang hidup pada berbagai masa. Dalam bidang-bidang ilmu seperti kesusastraan, filosofi, dan etika kita dapat melihat bahwa orang-orang yang bijaksana telah berusaha secara optimal untuk mengubah masa ketidakamanan dan krisis-krisis pribadi menjadi sesuatu yang konstruktif.

Tujuan penulisan buku ini adalah menemukan suatu cara yang memungkinkan kita bertahan dalam masa-masa pelik dan menemukan pusat-pusat kekuatan dalam diri kita sendiri semaksimal mungkin, serta menemukan cara untuk mencapai nilai-nilai dan sasaran-sasaran kehidupan yang dapat menjadi pedoman hidup kita bila suatu saat perasaan ketidakamanan itu menyerang kita.

Sekolah Apa ini?

Sekolah Apa Ini?

Kita tak perlu lagi menanyakan perihal apakah sekolah perlu ini dan itu, tidak. Kita hanya perlu memulai memikirkan kembali dan menjadikan sekolah adalah tempat yang ideal untuk belajar. Bahwa sekolah sampai saat ini hanyalah sebuah penjara yang mengungkung para siswa untuk duduk diam termangu menonton para guru di depannya. Tapi tidak dengan SALAM. Bahwa SALAM adalah salah satu contoh sekolah yang mengedepankan mengenai arti sekolah yang ideal.

Bila Anda setuju dengan apa yang telah diungkapkan dalam buku ini, kami lebih bahagia justru ketika kami mendengar Anda melakukan, mempraktikan di lingkungan terkecil Anda. Lebih lanjut kami mengajak Anda untuk membuat, membangun SALAM-SALAM lain menurut versi Anda yang sesuai dengan konteks di lingkungan Anda. “Jika Anda bukan bagian dari penyelesaian, Anda merupakan bagian dari persoalan.”

Membiacarakan Feminisme

Membicarakan Feminisme
Apakah feminisme selalu tentang perempuan? Pada awal kemunculannya, ya, feminisme digunakan sebagai nama untuk sebuah gerakan sosial yang mengusung hak-hak perempuan. Awalnya, gerakan sosial ini bermula di New York pada 1848, diinisiasi oleh Elizabeth Cady Stanton dan kawannya, Susan B. Anthony di Seneca Falls. Ini adalah konferensi perempuan pertama yang menggunakan kata Feminisme dan membahas tentang pentingnya perempuan mendapat hak pendidikan seperti lelaki. Pemikiran tentang hak-hak pendidikan perempuan mendapat pengaruh dari munculnya pemikiran abad pencerahan tentang individu, negara, dan hak asasi warga negara.
 
Pada abad yang sama, Indonesia masih berupa wilayah kerajaan dan kesultanan dan kesadaran tentang sebuah bangsa belum terbentuk. Barulah beberapa dekade setelah konferensi di Seneca Falls, ide sebuah bangsa yang bebas dari penjajahan hadir dalam benak para pendiri bangsa Indonesia. Adalah pemikiran dari feminis RA. Kartini melalui kumpulan surat-suratnya, Habis Gelap Terbitlah Terang adalah jalan bagi imajinasi kemerdekaan tersebut. Buku tersebut adalah hasil kurasi dari surat-menyurat Kartini dengan Stella Zeehandelaar, seorang feminis sosialis dari Belanda.

Sekolah dibubarkan saja!

Sekolah Dibubarkan Saja [Edisi Baru]
 
Institusi sekolah dengan sengaja memisahkan diri dari realitas yang dihadapi murid-murid. Ia terang-terangan memisahkan diri dari lingkungan sekitar, dari peristiwa dan permasalahan yang ada di dekat sekolah, dan membangun tembok-tembok tinggi menjulang dengan pelajaran-pelajaran mendasar yang diberikan berdiri tegak sendirian dengan begitu sombong, tak peduli dengan realitas yang ada dan dihadapi murid-murid. Murid-murid menjadi terasing, juga sengaja diasingkan dari tanah tumpah darah mereka.

Ilusi Media Sosial

Ilusi Media Sosial
Sesuatu yang sepenuhnya baru sedang terjadi di dunia. Hanya dalam lima atau sepuluh tahun terakhir, hampir setiap orang mulai membawa sebuah gawai kecil yang disebut ponsel cerdas (smartphone) sepanjang waktu. Secara algoritmis, kita dipantau dan diukur secara konstan, dan menerima umpan balik yang telah direkayasa sedemikian hingga kita pun nyaris kehilangan harta karun paling berharga: otonomi dan kebebasan. 
 
Kita dihipnotis sedikit demi sedikit oleh teknisi yang tidak dapat kita lihat, untuk tujuan yang tidak kita ketahui. Kini, kita semua tak lebih dari hewan-hewan lab yang menyedihkan.
  •  


0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: