Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

9 Buku Paling Dicari Bulan September

Oleh: Redaksi         Diposkan: 01 Oct 2019 Dibaca: 1032 kali


Gerakan rakyat hari ini tak bisa dianggap sebagai gerakan remeh. Bahkan, generasi Z yang dianggap apolitis, ternyata tumbuh dan dekat dengan bacaan, sehingga memiliki kesadaran politik dan kebebasan yang mempengaruhi mereka turun ke jalan meminta revisi kembali Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RUU KUHP) yang dinilai akan banyak merugikan warga negara. Kami sangat menyayangkan perlakuan aparat negara, yang malah mengancam demokrasi dengan kekerasan serta tindakan represif kepada para peserta aksi. Kini daftar panjang kejahatan HAM makin panjang, dan salah satu cara untuk menyelesaikannya adalah dengan menuntut pemerintah segera menyelesaikannya.

Media mainstream telah menjadi corong bagi penguasa, sedangkan rakyat hari ini mendapatkan informasi yang lebih mendidik dari media sosial, jaringan pertemanan atau bahkan buku-buku. Hal yang patut disayangkan pula ialah tindakan pemerintah yang malah memilih untuk menghambat jalur pengetahuan dengan membiarkan oknum-oknum yang menyita buku-buku yang bisa saja belum dibaca dan sudah dinilai sebagai barang berbahaya. Ini sungguh patut disayangkan.

Pada buku-buku alternatif semacam itu kami berpihak, pada wacana-wacana alternatif yang demikian kami sama berjuang. Kami tumbuh dengan bacaan alternatif yang meyakinkan kami bahwa masih ada penindasan pada rakyat, masih ada pengebirian ide dalam berpikir. Tapi kami senantiasa percaya, bahwa buku tak pernah haram untuk dibaca, karena ide harus dibalas dengan ide, begitupun karya harus dibalas dengan karya, bukan dibalas dengan pembungkaman juga kekerasan.

Bulan September memang telah berakhir, dan ada beberapa buku yang kami rekomendasikan karena menjadi yang paling banyak dicari di bulan lalu. Diantaranya adalah:

Buku Harian Keluarga Kiri

Bagaimana rasanya dituduh sebagai orang kiri? Bagaimana rasanya menjadi bagian dari keluarga yang dicap sebagai orang kiri? Perbincangan perihal PKI tak pernah berakhir. Seperti roda yang berputar, tiap tahun isu PKI terus diangkat, digiring, dan digoreng di tengah masyarakat. Lantas, bagaimana dengan orang-orang yang memiliki dampak buruk akibat masa lalu kelam sejarah negara ini?

Apologia Socrates

Apologia Socrates berisi catatan pidato yang dibuat Socrates di persidangan ketika dia dituduh tidak mengakui dewa-dewa yang diakui negara, menciptakan dewa-dewa baru, dan merusak para pemuda Athena. Namun, ucapan Socrates sama sekali berbeda dengan "permintaan maaf" dalam pemahaman kita saat ini. Nama dialog berasal dari bahasa Yunani yang berarti pertahanan, atau pidato yang dibuat sebagai pembelaan. Dengan demikian, dalam Apologia, Socrates berusaha untuk membela diri dan perilakunya—tentu saja tidak meminta maaf untuk itu.

Buku ini dilengkapi dengan sebuah interpretasi kontroversial dan segar atas Apologia Socrates. Dengan memainkan perhatian intim yang tak biasa terhadap apa yang Socrates tunjukkan atas makna dan hakikat dari ironinya, David Leibowitz sampai pada kesimpulan eksentrik tentang ajaran Socrates atas kebajikan, politik, dan dewa-dewa; keterkenalannya yang beralih dari filsafat alam menuju filsafat politik; dan tujuan atas “orasi pembelaannya” yang kurang ajar. Leibowitz menunjukkan bahwa Socrates bukan sekadar figur unik dan pusparagam dari masa lalu, melainkan juga penunjuk menuju hidup yang baik—kehidupan bijaksana—yang sangat relevan untuk masa sekarang sebagaimana saat di Athena kuno.

Berdasar pada pemahaman segarnya atas dialog-dialog Socrates secara umum, dan cerita Orakel Delphi secara khusus, Leibowitz berusaha untuk menunjukkan bahwa Apologia adalah kunci untuk menuju korpus Platonik, mengindikasikan betapa banyaknya tema yang berbeda dan kesimpulan yang tampak saling bertentangan dari dialog-dialog lainnya yang justru saling bertautan.

Kehilangan Kehilangan yang Baik

“Sajak-sajak Susyillona lahir dari hati yang jujur. Hati yang mengakui sifatnya yang kontradiktif di hadapan cinta dan rindu. Rontradiksi antara melepas dan merasa masih memiliki, antara merelakan dan mengangeninya tiada henti. Sekeping hati bahkan lebih ambigu dari seribu puisi” kata penyair Joko Pinurbo

Puisi bisa dimaknai dengan berbagai cara. Salah satunya adalah menghidmatinya saat hati sedang begitu terluka. Beginilah yang sepertinya sedang dilakukan puisi-puisi Susyillona. Membacanya seperti membawa kita ke masa lalu, seringkali bisa membuka luka lama atau bahkan bisa membuat pembacanya merasakan Iuka yang sebelumnya belum pernah dirasakan. Sungguh, karya yang tidak bisa dilewatkan begjtu saja. —Tia Setiawati, penulis

Sarjana Zaman Now

Mengapa banyak sarjana yang tidak berdaya? Mereka hanya menganggur, hidup ditopang orang tua, dan tidak mempunyai karya nyata atau kontribusi riil. Apakah ilmu yang mereka pelajari di kampus dulu masih relevan untuk menjawab persoalan yang mereka hadapi sekarang? Apakah mereka dulu benar-benar belajar atau hanya sekadar hadir di kelas memenuhi kuota kehadiran dan menghabiskan jatah SKS? Yuk, kita periksa bersama di dalam buku ini!

Buku Sarjana Zaman Now dapat menjadi panduan bagi siapa pun yang tidak ingin kehilangan arah dalam kehidupan yang serba pintar ini. Sebab, banyak membahas tentang ajaran kehidupan. Tidak hanya untuk meraih sukses secara finansial, tapi bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama

Psikoanalisis dan Agama

“Bagi seorang yang religius, baik dia adalah seorang “pemeluk agama” ataupun bukan, kehidupan adalah sebuah masalah; fakta bahwa dirinya dilahirkan pasti memunculkan satu pertanyaan yang harus dijawab manusia. Maka, tugas yang paling penting dalam kehidupannya adalah menemukan sebuah jawaban untuk pertanyaan ini; bukan jawaban dalam pemikiran saja, melainkan sebuah jawaban dalam keutuhan dia, dalam cara dia menjalani kehidupan.”

Mungkin tak ada yang bisa lebih bagus mengemukakan spirit humanisme tipe ini daripada kalimat Abbé Pire: “Apa yang menjadi masalah bukanlah perbedaan antara para pemeluk agama dengan para kafir, melainkan antara mereka yang peduli dengan mereka yang tidak peduli.”

Zarathustra

Zarathustra adalah satu pengembaraan spiritual menjelajahi dunia modern. Oleh karena itu, buku ini memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi bagi kita dalam memberi penilaian atas seorang pemikir orisinal yang cemerlang, yang pengaruhnya sangat besar terhadap para penulis abad kedua puluh, seperti Franz Kafka, W.B. Yeats, Andre Gide, Bernard Shaw, Jean-Paul Sartre, Albert Camus, dan Iqbal.

Diterjemahkan oleh H. B. Jassin dan diantarkan oleh Goenawan Mohammad. Selain termasuk dalam buku klasik yang paling sering dicari, buku ini pula yang paling banyak ditemukan dalam terjemahannya dalam Bahasa Indonesia.

Dedication of Life Bung Karno

Sampai sekarang masih saja ada orang-orang yang tidak bisa berpikir secara bebas apa yang baik bagi Rakyat Indonesia dan apa keinginan Rakyat Indonesia, melainkan apriori telah benci dan menentang segala apa saja yang mereka sangka adalah kiri dan adalah "Komunis".

Persoalan-persoalan Pokok Revolusi Indonesia harus dipahami oleh tiap warganegara Indonesia sejak ia di bangku sekolah dan apalagi sesudah dewasa. Harus diadakan pendidikan secara luas, di sekolah-sekolah maupun di luar sekolah, tentang Persoalan-persoalan Pokok Revolusi Indonesia.

Indonesia, inilah panduan untuk menemukan dedikasi hidup, Dedication of Life, dari Bung Karno.

Alegori 420

Banyak stigma buruk mengenai ganja sebagai tanaman candu yang berbahaya. Namun begitu muncul pertanyaan tentnang apa yang membuatnya berbahaya, belum tentu ada yang bisa menjawabnya. Buku Alegori 420 ini mencoba menjelaskan sejarah kemunculan ganja dan sejarah penggunaanya di berbagai negara.

Mengenalkan seluk-beluk tanaman ganja, baik manfaat maupun dampak buruknya. Selain itu hikayat ganja dalam budaya populer juga tersaji di buku ini.

“Ilegalitas ganja sangatlah hina, sebuah halangan atas pemanfaatan obat yang dapat membantu memproduksi ketenangan dan wawasan, kepekaan dan persahabatan yang sangat dibutuhkan bagi dunia yang semakin gila dan berbahaya ini.” —Carl Sagan

“Sangat membingungkan ketika melihat marijuana dihubungkan dengan narkotika...obat-obatan dan hal-hal busuk itu. la ribuan kali lebih baik daripada whiskeyia adalah seorang asistenseorang sahabat.”—Louis Armstrong

“Ketika kau mengisap ganja, ia mengenalkanmu pada dirimu.” —Bob Marley

Filsafat Sudah Tamat

Tiga esai Heidegger dalam buku kecil ini membuka ruang dialog yang cukup luas menuju berpikir setelah filsafat berakhir bila berpikir masih menjadi pokok. Manusia menginginkan terlalu banyak ketika berpikir sehingga terlalu sedikit yang benar-benar bisa dilakukannya. Filsafat bukan sekadar berpikir. Bahkan, sekadar berpikir bukanlah berpikir. Dengan begitu, tidak berlebihan bila Heidegger bertamsil bahwa hal yang paling menyentak pikiran ternyata adalah kita tak kunjung berpikir terlepas bagaimana filsafat tamat dalam mistik keseharian, berpikir mesti serius untuk dipelajari.

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: