Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

9 Buku Terlaris di Bulan Agustus

Oleh: Redaksi         Diposkan: 31 Aug 2020 Dibaca: 817 kali


Kemerdekaan adalah suatu kondisi yang melegakan sebab ia juga berarti kebebasan—dan Agustus selalu identik dengan hal itu. Ironisnya, masih kita temukan usaha-usaha sekelompok orang yang bertindak berlawanan dengan makna kemerdekaan sampai hari ini. Pelanggaran atas kebebasan berpendapat dan berekspresi adalah salah satunya.

 

Bebas tak semata lepas dari belenggu penjajahan secara fisik, sebab hari-hari ini penjajah tak terlihat justru lebih berbahaya. Ia berwujud ketidaktahuan yang sengaja dirawat dan berpotensi melahirkan pembodohan jika dikandung dalam waktu lama. 

 

Sembilan buku ini adalah yang paling banyak dicari di bulan Agustus, yang menjadi teman dalam proses perlawanan sekaligus perjalanan panjang menuju kebebasan. 

 

Feminis untuk Semua Orang

Dalam buku yang menarik, ringan, dan provoaktif ini, Bell Hooks memperkenalkan teori feminisme populer yang berakar pada akal sehat dan kebijaksanaan pengalaman. Visi feminis yang ia miliki adalah suatu masyarakat yang saling berkomitmen pada kesetaraan, saling menghormati, dan keadilan.

Hooks menerapkan analisis-analisis kritisnya untuk masalah-masalah yang paling kontroversial dan menantang yang dihadapi oleh feminis kontemporer, termasuk hak reproduksi, kekerasan, ras, kelas, dan pekerjaan. Dengan wawasan dan kejujurannya yang blak-blakkan, Hooks menyerukan feminisme yang terbebas dari penghalang yang memecah belah, namun kaya akan perdebatan yang ketat. Dengan bahasa yang mudah, membuka-mata, dan optimis, Hooks mendorong kita untuk menuntut alternatif dari budaya patriarki, rasis, homofobik, dan membayangkan masa depan yang sama sekali berbeda.

Hooks berbicara kepada mereka yang mencari kebebasan sejati, meminta pembaca untuk melihat feminisme dari sudut pandang baru, untuk melihat bahwa feminisme menyentuh semua lini kehidupan. Mengajak semua orang untuk berpartisipasi penuh dalam gerakan feminis dan mendapatkan manfaat penuh darinya, Hooks menunjukkan bahwa feminisme—jauh dari konsep yang ketinggalan zaman dan terbatas pada elit intelektual—memang untuk semua orang.

 

Dunia yang Dilipat

Ketergesaan, kemendesakan, dan kemangkusan merupakan alasan-alasan mendasar yang memicu sekaligus memacu terjadinya pemadatan, pemampatan, pemipihan, dan pelipatan di dalam horison kebudayaan manusia. Pelipatan terhadap ruang, waktu, tanda, dan budaya—aspek-aspek yang menjadi bahasan utama buku ini—justru mendorong pelampauan dan pelangkahan atas batas-batas kebudayaan yang tak selalu bisa dilampaui dan dilangkahi.

Akibatnya, pelipatan, sebagai anteseden dari pelampauan dan pelangkahan, dengan sendirinya jatuh pada pemaksaan, penekanan, pemipihan, dan peringkihan, sehingga melahirkan tatanan yang ramping tetapi sekaligus rumpang; mangkus tetapi sekaligus kaos; cepat tetapi sekaligus galat. Itulah tatanan yang hendak digambarkan di dalam buku ini—suatu tatanan paradoksikal dalam dunia yang dilipat.

 

Rusak Saja Buku Ini

Membaca buku ini Anda akan diberikan dua pilihan: 1.Kubur buku ini di halaman rumah Anda, dan pasang pengingat untuk 2 tahun yang akan datang untuk menggalinya lagi. 2.Bungkus buku ini dan paketkan untuk diri Anda sendiri.

 

Sains dan Agama

Meskipun agama dan sains saling bertentangan, tapi ada hubungan timbal balik dan saling ketergantungan yang kuat di antara keduanya. Meskipun memang agama yang menentukan tujuan-tujuan fundamental bagi manusia, tapi bagaimanapun, agama telah belajar dari sains, dalam arti luas, tentang sarana-sarana yang berkontribusi pada pencapaian tujuan-tujuan mendasar yang telah ditetapkan, sementara itu sains hanya dapat diciptakan oleh mereka yang sepenuhnya diilhami oleh aspirasi terhadap kebenaran dan pemahaman. Sumber perasaan ini, bagaimanapun, memancar dari ranah agama. Selain itu, ada kepercayaan pada kemungkinan bahwa tatanan yang valid bagi dunia eksistensi ini adalah rasional, yakni dapat dipahami dengan nalar. Saya tak dapat membayangkan seorang ilmuwan sejati tanpa iman yang mendalam semacam itu. Situasi ini dapat diungkapkan oleh sebuah gambaran: sains tanpa agama lumpuh, agama tanpa sains buta.

 

Tak Masalah Jadi Orang Payah

Anda membanding-bandingkan diri Anda dengan impian yang tak nyata, di semua bidang. Anda ingin tubuh Anda seperti tubuh model yang cantik. Anda ingin mencapai tujuan tertentu, secara pribadi dan profesional. Anda ingin menjelajahi dunia dan belajar bahasa, dan belajar alat musik, dan menjadi koki yang luar biasa, dan memiliki kehidupan sosial yang luar biasa, serta memiliki pasangan dan anakanak yang sempurna, dan prestasi luar biasa, dan menjadi orang yang terbaik di planet ini. Tentu saja, itu adalah cita-cita yang sepenuhnya realistis, bukan?

Dan ketika kita memiliki cita-cita ini, kita membandingbandingkan diri kita dengan impian-impian kita, dan kita selalu menilai buruk diri kita. Maka, jalan menuju kepuasan ialah berhenti membandingbandingkan diri kita dengan impian-impian ini. Berhentilah menilai diri sendiri. Lepaskan impian-impian itu. Dan lambat laun belajarlah memercayai diri sendiri.

 

Seharusnya Memang Tidak Begitu

Seiring berjalannya waktu kita akan bertemu dengan banyak situasi yang tidak menyenangkan yang memang seharusnya begitu. Kondisi itu tidak bisa diubah. Kita memiliki dua pilihan: apakah kita akan menerimanya sebagai hal yang tidak terelakkan dan menyesuaikan diri dengannya atau kita menghancurkan hidup kita dengan pemberontakan yang mungkin akan berakhir dengan gangguan mental, misalnya merasa cemas atau tidak puas yang berlebihan.

Apakah Anda cemas? Jika Anda menggeleng keras, saya tidak yakin. Secara lahir memang tidak tampak, namun dalam hati Anda pasti ada rasa cemas. Seringkali kita dihinggapi kecemasan, cemas dengan pekerjaan, cemas dengan perkuliahan perasaan cemas apakah besok bisnis berjalan lancar. Cemas itu manusiawi namun cemas berlebihan justru akan menghambat kesuksesan. Tentu saja akibatnya adalah kegagalan. Buku ini hadir untuk Anda yang sedang cemas dan tidak pernah puas dengan segala apa yang terjadi di dunia ini.

 

Pangeran dari Timur

Raden Saleh masih terlalu muda ketika dipisahkan dari keluarganya di Terbaya, Semarang, menjelang berakhirnya Perang Jawa. Kegeniusan dan tangan dinginnya dalam mengayunkan kuas tercium oleh para pejabat kolonial sehingga dia dikirim ribuan mil jauhnya menuju Belanda, sebuah negeri yang selama ini hanya didengarnya lewat cerita para kaum terpelajar Jawa. Terbukti dia mampu melukis bukan hanya sejarah dirinya yang gemerlap, melainkan juga wajah dan peristiwa zaman Romantis di Eropa.

Bertahun hidup di tanah seberang, sang Pangeran justru merasa asing di tanah kelahirannya. Namun, tetap saja panggilan darah sebagai bangsa Jawa tidak dapat disembunyikannya di atas kanvas. Ditambah kegetiran yang menghiasi masa tua, karya dan hidup Raden Saleh berhasil menciptakan perdebatan sengit di kalangan kaum pemaham seni di masa pergerakan menuju kemerdekaan Indonesia, satu abad berikutnya.

Syamsudin, seorang arsitek awal abad ke-20, menguasai pengetahuan seni yang berkembang pada masanya. Dia berhasil menularkan minatnya terhadap lukisan Raden Saleh kepada Ratna Juwita, gadis pujaannya. Di sisi yang berbeda, Syafei, dengan gairah pemberontaknya, menempuh jalan keras menuju cita-cita sebagai bangsa merdeka. Mereka melengkapi sejarah berdirinya sebuah negeri, dengan hasrat, ambisi, dan gelora masing-masing. Dan, di tengah kekalutan panjang sosial politik sebuah bangsa yang sedang memperjuangkan nasibnya, kisah cinta selalu memberikan nyala api: hangat dan berbahaya.

 

Teman Duduk

Kita ada di zaman mahalnya harga sebuah telinga. Mendengar dengan empati jadi pekerjaan sulit. Sekadar menjadi pendengar, akan diingat dengan cara yang berbeda. Ketika dunia tidak pernah mau berganti bicara, sibuk bersuara, pada akhirnya tidak ada yang merasa cukup dimengerti.

Semakin beranjak dewasa, beberapa segi kehidupan justru terasa menyempit. Entah memang sempit atau sekadar rasa merasa sebab tak banyak lagi teman untuk berbagi cerita suka dan duka. Hidup seolah menuntut kita untuk bergerak cepat hingga mengabaikan relasi emosional bahkan membuatnya tampak bagai ajang kompetisi.

Kegelisahan inilah yang dihadirkan melalui tokoh Aku pada karya prosa yang ada di tangan Anda saat ini. Mulai dari dinamika kehidupan bersama hingga berbagai sudut pandang dalam melihat dinamika tersebut. Paparannya diangkat dari fenomena nyata keseharian sehingga—barangkali—mudah pula dihayati sebagai pengalaman personal.

 

Ilusi Media Sosial

Sesuatu yang sepenuhnya baru sedang terjadi di dunia. Hanya dalam lima atau sepuluh tahun terakhir, hampir setiap orang mulai membawa sebuah gawai kecil yang disebut ponsel cerdas (smartphone) sepanjang waktu. Secara algoritmis, kita dipantau dan diukur secara konstan, dan menerima umpan balik yang telah direkayasa sedemikian hingga kita pun nyaris kehilangan harta karun paling berharga: otonomi dan kebebasan. 

Kita dihipnotis sedikit demi sedikit oleh teknisi yang tidak dapat kita lihat, untuk tujuan yang tidak kita ketahui. Kini, kita semua tak lebih dari hewan-hewan lab yang menyedihkan.

Lantas apa yang mesti kita lakukan sekarang? Buku ini menyediakan pandangan provokatif buat Anda!



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: