Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

9 Buku Terlaris di Bulan Februari

Oleh: Redaksi         Diposkan: 29 Feb 2020 Dibaca: 1559 kali


Februari tahun ini terisi dengan dua puluh sembilan hari yang melelahkan. Lebih lelah lagi karena kewarasan begitu diuji dengan kabar-kabar tentang konyolnya pejabat negara, kekerasan di beberapa belahan dunia, dan tentu saja pernyataan-pernyataan yang tak merepresentasikan rakyat seperti yang dilakukan para pemangku kebijakan.

Tentu kita mestinya sepakat soal pentingnya menjaga kewarasan. Memang, dengan apa lagi menjaga kewarasan dengan senantiasa dari bacaan dan pengalaman? Belajar memang melelahkan, tapi jauh lebih perih ketika ditelan kebohongan bukan? Tak ayal, jika membaca adalah salah satu cara menghindari kebohongan dan senantiasa berjalan pada keyakinan akan kebenaran.

Di bulan Februari, sembilan buku ini menjadi pilihan banyak orang untuk dibaca:

Mengapa Marx Benar

Masih perlukah membaca Marx pada hari ini? Masih relevankah membaca Marx pada zaman ketika setiap detik kita temukan wajah penuh senyuman dipamerkan di media sosial, perusahaan-perusahaan menggaji karyawannya sesuai dengan standar hidup umum, dan berita-berita kelaparan menghilang dari koran pagi?

Buku ini merupakan jawaban afirmatif terhadap pertanyaan tersebut. Jika kemudian kita bertanya-tanya, bukankah Marx begini, bukankah Marx begitu, bukankah Marx mengatakan demikian, dan sederet proposisi lainnya yang mengandaikan sebuah konklusi bahwa tulisan-tulisan Marx sudah ketinggalan zaman bagi generasi masa kini, maka kita bukan hanya perlu membaca Marx melainkan juga perlu mengawalinya dengan membaca buku ini.

Karena dalam buku ini Eagleton mengumpulkan sepuluh prasangka umum tentang Marx dan mencoba mementahkannya. Formatnya sederhana: prasangka-prasangka itu ditulis sebagai pembuka setiap bab, lalu di tiap-tiap bab itu Eagleton menunjukkan bahwa prasangka tersebut tak memiliki pondasi untuk menihilkan perlunya membaca Marx pada hari ini.

 

Mitos Sisifus

Salah satu karya filsafat abad ini yang paling berpengaruh. Mitos Sisifus adalah perawian pemikiran eksistensial yang sangat penting. Dipengaruhi oleh karya-karya semacam Don Juan dan novel-novel Kafka dan Dostoevsky. Kumpulan esai ini diawali dengan sebuah perenungan atas bunuh diri, pertanyaan tentang terus menjalani hidup atau mengakhiri hidup di sebuah semesta yang kacau dan tanpa makna. Dengan kemahiran lirisisme, Albert Camus secara brilian mengusulkan sebuah cara untuk lepas dari keputusasaan, merengkuh kembali nilai eksistensi diri, dan kemungkinan hidup bermartabat dan autentik.

 

Cinta Lama

Seorang lelaki berusaha menghindari pertemuan dgn mantan kekasihnya selama 20 tahun. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di perasaannya, hingga akhirnya dia memutuskan untuk menemui mantan kekasihnya. Apakah ternyata dia masih memendam rasa cinta, atau hanya ilusi perasaan belaka?

 

Manusia yang Asyik dengan Dirinya

Friedrich Nietzsche adalah salah seorang pemikir yang paling revolusioner dalam tradisi filsafat Barat. Dalam buku kecil ini dia mengumandangkan pandangan-pandangannya yang subversive dalam serangkaian aforisma yang tajam, menggigit, kadang bijak kadang sinis, dengan menyentuh pelbagai tema yang luas mulai dari seni hingga asmara. Dia menampik dan menjungkirkan gagasan-gagasan konvensional tentang moral demi merayakan “kehendak berkuasa” individual.

 

Dunia Sophie

Tentu kita sudah tak asing dengan buku ini. Ditulis oleh Jostein Gaarder dan lama menjadi novel yang cocok untuk mempelajari filsafat dengan pertanyaan-pertanyaan lugu yang memancing kita untuk bertanya kembali, sebenarnya siapakah yang disebut filsuf itu? Buku ini kaya akan pengetahuan, kaya akan pelajaran tentang pertanyaan-pertanyaan. Buku ini, mengubah pola pikir kita tentang filsafat yang rumit, melelahkan dan penuh kerutan dahi. “Kata banyak orang, filsafat itu sulit. Siapa bilang?” kata Sindhunata. “Bacalah buku Dunia Sophie ini, dan Anda akan tahu, filsafat itu amat mudah dipahami. Makin Anda membaca buku ini, makin Anda ketagihan untuk berfilsafat. Anda tak perlu lagi mengerutkan dahi karena filsafat ternyata juga bisa dinikmati sebagai novel yang enak dibaca.” Lanjutnya.

 

Baca Buku Ini Saat Engkau Lelah

Terkadang kita terlalu sibuk mencintai ini dan itu bahkan sampai kita lupa untuk mencintai diri sendiri, dan itu sungguh melelahkan. Mengapa manusia mulai lupa bagaimana cara untuk mencintaii dirinya sendiri? Bukankah sangat melelahkan ketika kalian ditinggalkan seseorang? Jika diri kalian sendiri yang meninggalkan dirimu, betapa sunyinya?

Penelitian di Carnegei Mellon University mengatakan bahwa rasa cinta menghasilkan emosi yang positif, hal ini mendorong sistem kekebalan tubuh orang tersebut menjadi lebih sehat. Berawal dengan menerima dan menemukan perasaan cinta kita terhadap diri kita sendiri, tentunya akan membawa kita jauh lebih bersyukur dan meminimalkan risiko stress atau gangguan penyimpangan perasaan sehingga kita akan menemukan cinta dan memiliki cinta. Namun mencintai diri sendiri mempunyai ‘seni’nya tersendiri, karena pada hakikatnya mencintai diri bukanlah mengagumi diri sendiri yang berlebihan dan menimbulkan sifat Narsistic.

 

Berpikir ala Einstein dan Bertindak ala Gandhi

Di antara banyak tokoh berpengaruh yang kehadirannya mampu mengubah wajah dunia, terdapat nama Albert Einstein serta Mahatma Gandhi. Kedua sosok ini memberi pengaruh besar kepada umat manusia melalui cara masing-masing. Jika Einstein diakui dunia sebagai salah satu ilmuwan terhebat sepanjang sejarah, maka Gandhi dikenal sebagai pejuang kemerdekaan dengan metode nonkekerasan yang sangat inspiratif.

Pertanyaannya, apakah kehebatan dua tokoh tersebut terjadi secara kebetulan? Tentu saja tidak. Baik Einstein maupun Gandhi telah menempuh berbagai ujian, tantangan, serta pengalaman sepanjang hidupnya.

Buku ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk membahas perjalanan hidup Einstein dan Gandhi secara lengkap. Anda justru akan lebih banyak mempelajari pola pikir dan cara mereka dalam bertindak. Agar lebih menggugah, buku ini juga dilengkapi kutipan kata-kata inspiratif dari Einstein dan Gandhi.

Jadi, jika Anda tertarik untuk berpikir cermat serta bersikap bijak sebagaimana Einstein dan Gandhi, buku ini wajib dimiliki. Selamat mengambil pelajaran!

 

Merusak Bumi dari Meja Makan

Sudah banyak penelitian yang mewartakan bahan plastik—termasuk yang terlihat paling remeh, kantong plastik—memerlukan ratusan hingga ribuan tahun agar dapat terurai secara alami. Sialnya, rentang waktu penguraian yang lama tersebut sungguh sangat membebani keseimbangan ekologis.

Bahan plastik sering digunakan dalam keseharian kita—di pasar, di dapur, di kamar mandi, di ruang tamu, di meja makan. Namun, jarang kita sadari, justru di “meja makan” plastik paling jamak datang dan pergi. “Meja makan” mengundang hadirnya plastik (minimal kantong plastik) melalui pembelian bahan-bahan konsumsi, sekaligus menghasilkan sampah plastik yang dibuang bersama sisa-sisa makanan.

Buku ini merupakan kumpulan esai yang berupaya, secara pelan, mengetuk pintu kesadaran betapa “meja makan” dapat menyumbang peran meringkus bumi ke dalam kerusakan. Buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang segar, ringan, dan jenaka. Persoalan-persoalan ekologis, wabilkhusus ihwal sampah plastik yang paling sering berputar dari dan untuk “meja makan”, didedah dengan narasi reflektif tanpa bernada menggurui.

 

Pemikiran Modern dari Machiavelli sampai Nietzsche

Gagasan-gagasan para filsuf modern, kerap tidak nyaman di telinga para penjaga status quo: kedengaran ‘subversif’ bagi rezim politis, ‘bidaah’ bagi ortodoksi agama dan ‘sinting’ bagi mediocrity. Namun merekalah yang membuka jalan bagi kebebasan berpikir. Tanpa mereka kiranya orang tak pernah berani secara rasiona mendekati misteri manusia, masyarakat, dunia, dan tuhan seperti yang kini berkembang dalam berbagai ilmu modern.

Sains, teknik, ekonomi kapitalistis, negara hukum dan demokrasi modern berpangkal dari sebuah pemahaman filosofis yang lalu menjadi elemen modernitas kita, yakni: subjektivitas (rasionalitas), idea kemajuan (the idea of progress) dan kritik. Para filsuf modern mengembangkan ketiga elemen kesadaran modern itu dalam berbagai ajaran, mulai dari humanisme Renaisans, rasionalisme, empirisme, kritisisme, idealisme, materialisme, romantisme dan positivisme



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: