Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

9 Buku Terlaris Di Bulan November

Oleh: Redaksi         Diposkan: 01 Dec 2019 Dibaca: 921 kali


Awal bulan biasanya menjadi pratanda hadirnya kebahagiaan, meski tak selalu. Ada yang mendapatkan apresiasi atas kerja kerasnya, ada mereka yang mendapatkan kesempatan emas dalam studi ataupun prestasi dalam karyanya. Semua ini tak luput dari apa yang selama ini membentuknya, lingkungan, pertemanan, hingga bacaan. Kemampuan kita dipupuk perlahan bersama waktu, dan tumbuh bersama ruang yang kita tempati. Manusia sampai hari ini, masih menjadi bagian penting dari perkembangan kosmos, yang makin lama mendekati mati. Segala yang berlebih nyatanya tak selalu baik, maka berlaku secukupnya adalah jalan menuju hidup yang tentram.

Desember tak selalu akan berbuah bahagia, malah lebih sering, elegi mengiringmu kepada hidup yang nyatanya tak selalu baik. Kehidupan memang tak selalu baik, tapi Berdikari Book percaya bahwa apa yang kita lakukan hari ini tak akan berujung sia-sia. Kami percaya bahwa proses membaca adalah saat di mana ada yang tumbuh dalam diri kita dan menjumpai jawab ataupun hasil yang meski tak selalu tepat, tapi lebih bermakna dalam pencariannya. Dan, buku adalah teman yang mempertemukan kita dalam prosesnya. Bulan berganti dan buku-buku ini menempati tempat di mana ia paling banyak dicari dan dibaca.

9 Buku Terlaris Di Bulan November: 

Seni Berdebat: 38 Jurus Memenangkan Argumen

Seni Berdebat: 38 Jurus Memenangkan Argumen, merupakan sebuah risalah klasik yang ditulis Arthur Schopenhauer. Di dalam karya ini, filsuf Jerman tersebut memeriksa secara total tiga puluh delapan metode untuk menundukkan argumen lawan dalam debat. Dia mengawali esainya dengan pendapat bahwa para filsuf telah memusatkan perhatian mengenai kaidah-kaidah logika, tetapi tidak menggeluti sisi kelam dari dialektika, dari kontroversi.

Mengingat tujuan logika secara sederhana disebut sebagai metode untuk memperoleh kebenaran, dialektika, kata Schopenhauer, “sebaliknya, hendak menguji hubungan antara dua individu yang, karena adalah makhluk rasional, hendaknya berpikir dalam kebersamaan, tapi ketika mereka berhenti bersepakat seperti dua jam yang tetap berputar bersamaan secara tak putus-putus, menciptakan sebuah perdebatan atau kontestasi intelektual. Dengan kata lain, jika logika identik dengan upaya mencari kebenaran maka dialektika fokus pada keterampilan memenangkan debat; Sama seperti duel ksatria lebih penting daripada siapa yang salah dan yang benar.

 

Anarkisme Apa yang Sesungguhnya Diperjuangkan

Anarkisme berkata kepada manusia, hancurkan belenggu mentalmu, hingga kamu berpikir dan menilai bagi dirimu sendiri, dengan demikian barulah kamu akan menyingkirkan kekuasaan kegelapan, rintangan terbesar terhadap segala kemajuan.

Sebagai orator anarkisme, agitator bagi kebebasan berbicara, pelopor dalam masalah kontrol kelahiran, kritikus bagi Bolshevik dan seorang pembela Revolusi Spanyol, Goldman disebut sebagai satu dari perempuan yang dianggap paling berbahaya pada masanya. Bahkan setelah kematiannya, reputasinya tidak dilupakan orang. — Peter Marshall

 

Jungs Map of The Soul: an Introduction

Bagi Jung, mempelajari jiwa manusia adalah tonggak sejarah yang amat penting, karena, sebagaimana yang pernah ia katakan, seluruh dunia bergantung kepada sebuah utas, dan utas tersebut adalah psike manusia. Penting bagi kita untuk mengenalinya lebih dalam.

Pertanyaan utamanya, tentu saja: Mungkinkah jiwa manusia kita ketahui, kita selami kedalamannya, kita petakan wilayah-wilayahnya? Barangkali, adalah sisa-sisa kemulukan ilmiah abad ke-19 yang membuat para pelopor psikologi kedalaman seperti Jung, Freud, dan Adler merasa sanggup melakukannya, dan mengira dapat menemukan batas-batas psike manusia yang tak tergambarkan dan begitu sulit dipahami. Meskipun demikian, mereka tetap bertolak menuju Mare Ignotum, dan Jung menjadi Christopher Colombus bagi dunia kejiwaan. Abad ke-20 merupakan abad bagi segala terobosan ilmiah dan keajaiban teknologi; sekaligus abad introspeksi mendalam dan penggalian terhadap subjektivitas kita yang manusiawi, yang menghasilkan suatu bidang ilmu yang kini kita kenal sebagai psikologi kedalaman.

 

Mereka yang Tidak Berbahagia

Hubungan antara manusia dan manusia lain yang baru saja kenal malah jadi kian memusingkan. Kepala mereka dijejali dengan prasangka-prasangka yang tak perlu dan gengsi mereka kelewat tinggi. Ketidakpastian adalah kata yang tepat buat menggambarkan interaksi di antara mereka.

 

Seni Berbahagia

Di Athena, pada Abad Ketiga Sebelum Masehi, kesadaran dalam berkehidupan mencapai titik tertinggi. Benak para penduduknya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan: Bagaimana cara kerja alam semesta? Apa yang nyata? Bagaimana bisa manusia ada di tengah kosmos? Kehidupan yang baik itu apa? Apa itu kehidupan yang berbahagia? Apakah kedua hal itu – “baik” dan “bahagia” – saling berselaras atau bertentangan? Apa peran para dewa dalam semua ini?

Di meja Taman Epikuros, kaum wanita dan pria mendengarkan Sang Master dengan saksama. Mereka semua sepakat bahwa Epikuros adalah guru terbaik yang pernah ada. Dia telah memikirkan filsafatnya masak-masak, fokus pada diskusinya dengan sesama. Dia menyambut pertanyaan para muridnya, sabar dengan kesalahpahaman mereka, dan menolerir pandangan yang berbeda. Terlepas dari fisiknya yang jelas tampak lemah, kebahagiaannya menjalani hidup tercermin dan menular. Orang lain merasa bersukacita hanya karena berada di dekatnya. Singkatnya, Epikuros memiliki segala hal yang pada zaman sekarang kita pertimbangkan sebagai karakter seorang guru motivator diri yang berkarisma.

Untuk sesaat, manusia Abad Ke-21 mungkin menolak adanya seorang pria yang menganggap dirinya guru, dan mengajari murid-muridnya, termasuk kita, tentang cara untuk menjalani hidup. Namun, saya berpegang pada satu alasan bahwa Epikuros mungkin saja memang benar. —Daniel Kleinn

 

Kultus Underground: Ensiklopedia Subkultur Kaum Muda

Siapakah Rude Boys? Apa kisah di balik Death Metal? Apa yang disebut dengan Squatting? Dari mana Skateboarding menjadi fenomena anak muda? Kenapa muncul sekte spiritual yang menyebut dirinya New Age?

Melalui ratusan entri dan kutipan langsung, buku ini mengekplorasi kegilaan, keriuhan, dan tren budaya kaum muda yang muncul sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Entri-entri tentang musik, arsitektur, dan desain dikombinasikan dengan entri-entri tentang filsafat, politik, dan budaya pop, dengan jangkauan yang luas itulah pembaca dapat melacak asal usul dan perkembangan tren dari breakdance hingga feminisme, dari punk sampai postmodernisme.

 

The Invetion Of Yesterday: Sejarah 500 Tahun Budaya, Konflik dan Hubungan Manusia

Dari bahasa ke budaya ke benturan budaya: kisah tentang bagaimana manusia menciptakan sejarah, dari Zaman Batu hingga Zaman Virtual

Menjelajah melintasi ribuan tahun, merangkai pengalaman dan pandangan hidup terkait budaya yang punah dan masih ada, The Invention of Yesterday menunjukkan bahwa mesin sejarah bukan hanya tentang hal-hal heroik (pertempuran dimenangkan), geografis (petani berkembang), atau antropogenik (manusia mengubah planet ini). Sejarah juga tentang narasi.

Ribuan tahun lalu, kita masih sekelompok kecil pemburu-pengumpul otonom yang tak terhitung jumlahnya dan tersebar di hutan belantara. Kita mulai menciptakan cerita, untuk mengorganisasi demi kelangsungan hidup, untuk menemukan tujuan dan makna, untuk menjelaskan yang tak terduga.

Pada akhirnya, ini menjadi dasar bagi imperium, peradaban, dan budaya. Ketika berbagai narasi mulai bertabrakan dan tumpang tindih, pertemuan itu menghasilkan segalanya. Mulai dari kesalahpahaman, kekacauan, dan perang, hingga perkembangan budaya, kebangkitan agama, dan terobosan intelektual.

Melalui kisah-kisah luar biasa yang dipenuhi wawasan, Tamim Ansary menguraikan bagaimana kemampuan unik manusia dalam menciptakan dan mengomunikasikan ide-ide abstrak memengaruhi sejarah dunia. Dengan melakukan hal itu, ia juga menjelaskan masa kini yang semakin terjalin: kisah-kisah yang membentuk kita, alasan kita masih saling bertarung, dan masa depan yang mungkin kita ciptakan.

 

Mengobati Jiwa yang Terluka

Jiwa yang terluka sering menjadi bagian dalam perjalanan hidup manusia. Guncangan kehidupan kemudian memantik emosi dan membuat down kondisi mental. Kenyataan memperlihatkan di mana manusia bisa dengan mudah dihinggapi kondisi yang bisa merusak alur kehidupan. Penyelesaian masalah-masalah semacam itu perlu ditangani secara spesifik. Dalam naskah Psikologi Penyembuhan ini, akan dipaparkan secara gamblang bagian-bagian yang membuat jiwa terluka dan terguncang. Tentang penyebabnya, proses emosional hingga bagaimana menyelesaikan dan move-on dari terpaan masa lalu yang mencekam.

Nasihat-nasihat praktis mengenai cara-cara terbebas dari kondisi mental dan emosional kurang stabil dijabarkan lewat kalimat-kalimat yang mudah dimengerti. Berusaha memberikan jalan keluar atas pikiran-pikiran negatif, sikap mental depresif, cara berjuang melawan perasaan benci, cemburu, hingga menghindari jebakan-jebakan kesehatan di dalam kehidupan sehari-hari, seperti stress dan kecemasan.

Buku ini bisa menjadi inspirasi untuk kembali meraih kebahagiaan yang sejati, yang sebenarnya ada pada diri kita sendiri.

 

Mempunyai atau Mengada?: To Have or To Be

Buku ini merupakan karya orisinal Erich Fromm, yang mengembangkan penelitiannya dalam bidang psikoanalisis radikal-humanis, dan berfokus pada analisis persoalan egoisme dan altruisme sebagai dua orientasi karakter dasar manusia. Dengan kajiannya yang amat mendalam terhadap modus eksistensi “mempunyai” dan “mengada”, Fromm hendak menunjukkan kepada kita tentang krisis akut yang diderita oleh masyarakat kontemporer, baik yang kita sadari ataupun tidak, serta potensi solusinya yang mungkin dilakukan.

Dua ideologi besar, komunisme dan kapitalisme, dikritik habis oleh Fromm secara jernih dan tak terduga. Sebaliknya, ia menawarkan suatu gambaran masyarakat baru yang “tak dikenal” oleh “otak kontemporer” kita, sebuah sistem sosial yang mampu melahirkan—sekaligus dilahirkan—oleh individu-individu baru dengan cara pandang baru terhadap realitas, agama, kebudayaan, dan biosfer tempat kita hidup. Ia menamai sistem masyarakat barunya itu sebagai Kota Mengada, sebuah sintesis dari visi masyarakat Abad Pertengahan, Kota Tuhan, dan visi masyarakat modern, Kota Duniawi.

"Semakin kau kurang dan semakin kau kurang mengekspresikan hidupmu—semakin kau memiliki dan semakin besar kau memiliki, hidupmu teralienasi." —Karl Marx

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: