Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

9 Buku Terlaris di Bulan November 2020

Oleh: Berdikari Promo         Diposkan: 01 Dec 2020 Dibaca: 1226 kali


"Karena di dunia ini waktu berlalu lebih lambat bagi orang-orang yang bergerak."—Einstein.

Sejatinya, waktu memang bersifat relatif—ia melambat bagi benda yang bergerak cepat dan begitupun sebaliknya. Rasanya baru kemarin kita membuka mata dan bersuka cita menyambut datangnya tahun 2020 dengan sederet harapan dan impian baru. Tiba-tiba saja, pagi ini terbangun di bulan Desember—siap meninggalkan 2020 untuk menyambut tahun 2021.

Di antara waktu yang bergerak cepat, sederet peristiwa terjadi di bulan Novembermulai dari angka positif COVID-19 yang terus melonjak, bertambahnya pejabat publik yang terseret kasus korupsi, hingga aksi teror di Kabupaten Sigi yang menghilangkan nyawa 4 orang secara paksa. 

Tidak mudah, memang, melewati tahun 2020 yang penuh goncangan. Namun bukan berarti tiada sedikit pun bahagia yang pantas dirayakan. Sembilan bacaan ini menjadi favorit Berdikari People untuk merayakan bulan Novemberentah untuk dihadiahkan pada kawan atau dijadikan teman melawan ketidaktahuan. Adakah yang sudah 'pulang' dan berjajar di rak bukumu?

The God Delusion - Globalindo Publisher 

The God Delusion menimbulkan sensasi ketika diterbitkan pada tahun 2006. Dalam beberapa minggu buku ini menjadi topik yang paling hangat diperdebatkan, dengan Dawkins sendiri dicap sebagai orang suci sekaligus pendosa karena menyajikan bantahannya yang keras dan berapi-api atas segala jenis agama.

 

Argumennya sangat topikal. Sementara Eropa menjadi semakin sekuler, kebangkitan fundamentalisme agama, baik di Timur Tengah ataupun di Amerika Tengah, secara dramatis dan berbahaya memecah-belah opini di seluruh dunia. Di Amerika, dan di tempat lain, perselisihan sengit antara 'intelligent design' dan Darwinisme secara serius merongrong dan membatasi pengajaran sains. Di banyak negara, dogma agama dari abad pertengahan masih berfungsi untuk melecehkan hak asasi manusia seperti hak-hak perempuan dan gay. Dan semua itu berasal dari keyakinan pada Tuhan yang keberadaannya tidak memiliki bukti apa pun.

 

Dawkins menyerang Tuhan dalam segala bentuknya. Dia menelanjangi argumen utama agama dan menunjukkan kehampir-mustahilan tertinggi bagi keberadaan Sosok Tertinggi. Dia menunjukkan bagaimana agama-agama memicu perang, memicu kefanatikan dan melecehkan anak-anak.

 

The God Delusion adalah polemik menarik yang diperdebatkan dengan brilian yang akan menjadi bacaan wajib bagi siapa pun yang tertarik pada tema yang paling emosional dan penting ini.

 

Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti? - Penerbit Haru

Siapa yang datang ke pemakamanku saat aku mati nanti?

 

Satu pertanyaan sederhana itu membuat Kim Sang-hyun banyak berpikir tentang hidup dan segala persoalannya.

 

Buku ini adalah catatan kecil sang penulis yang berusaha untuk hidup sedikit lebih baik, sedikit lebih bahagia, sedikit lebih sejahtera. Ditulis dengan gaya bahasa yang tenang dan jujur, Kim Sang-hyun mencoba menyampaikan kehangatan, memberikan penghiburan, dan menumbuhkan kekuatan bagi pembaca untuk menjalani hidup, meraih mimpi, juga mengatasi kekecewaan dan berbagai perkara hidup sehari-hari.

 

Telembuk Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat - Buku Mojok

Novel Kedung Darma Romansha ini bercerita tentang dunia prostitusi, panggung dangdut, pergaulan para pemabuk dan tukang kelahi. Adegan seks dan kata-kata kasar bertaburan. Namun uniknya, novel ini tidak terkesan vulgar. Saya rasa hal itu terkait dengan nada penulisan dan posisi narator. Narator berada pada posisi netral: dia tidak memberi penilaian moral apa pun, baik dalam arti menghakimi perilaku tertentu, maupun sebaliknya, yaitu merayakan atau membela perilaku yang berada di luar standar moralitas yang menjadi pegangan mayoritas orang Indonesia.
 

Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan - EA Books 

Menyelidiki diri bukan proses yang nyaman. Kita diajak untuk kembali menghadapi luka-luka yang pernah kita alami, yang kita coba sembunyikan, yang kita tutupi dengan plester agar tidak terlihat padahal plester itu sama sekali tidak menyembuhkan. Menyelidiki diri membuka kelemahan-kelemahan kita, memunculkannya ke permukaan, dan ini sangat tidak mengenakkan.Tapi percayalah, hanya penyelidikan diri yang mampu mengantarkan menuju kebebasan.

 

Buku ini adalah perpaduan teori psikologi dan feminisme dengan hasil penyelidikan diri, dari mereka yang telah mempercayakan kisah hidupnya kepada saya, dan juga dari diri saya sendiri.Ya, psikolog yang bukunya tengah kamu baca ini adalah dia yang juga pernah menjadi perempuan naif, yang pernah punya kompleks, yang pernah terkungkung dalam nilai-nilai patriarkis.

 

Selamat menyelidiki diri, selamat menemukan kekuatan yang sudah menantimu di sana. Bisa jadi itu kekuatan si penyihir, karena mungkin kamu adalah cicit-cicit penyihir yang selamat dari perburuan penyihir beberapa abad lalu. Mungkin juga kamu akan menemukan kekuatan serigala betina yang ada dalam diri setiap perempuan. Apa pun itu, bersiaplah menemukan kekuatan yang membebaskan jiwa.

 

Pendidikan Kaum Tertindas - Narasi 

Di dunia pendidikan, Paulo Freire melihat bagaimana orang kuat merendahkan masyarakat lemah melalui cara-cara halus namun menindas. Melalui buku ini, Paulo Freire mengkritik keras model pendidikan gaya bank barat yang di sebutnya sebagai alat penindasan. Sebagai gantinya ia mengajukan konsep pendidikan hadap -masalah yang di sebutnya sebagai alat pembebasan. Metodologi Paulo Freire ini terbukti telah membantu orang–orang miskin dan buta huruf yang tak terhitung jumlahnya di seluruh dunia.

Buku ini sebagai referensi generasi baru pendidik, siswa, dan pembaca umum di masa kini dan mendatang.

 

Mengapa Perempuan Bercinta Lebih Baik di Bawah Sosialisme - Jalan Baru

“Sebuah laporan blak-blakan tentang bagaimana kapitalisme merugikan perempuan—termasuk, ya, dalam kehidupan intim kita…Buku ini membuat saya ingin melakukan jauh lebih dari sekadar memberikan suara.” —Jess Bergman, Jewish Currents

“Manifesto sosialis feminis yang penuh gairah tetapi masuk akal bagi abad kedua puluh satu…Risalah Gruhodsee akan menarik bagi perempuan yang dikecewakan oleh kapitalisme tempat mereka dibesarkan.”—Publishers Weekly

Sosialisme, jika dilakukan dengan benar, mengarah pada kemandirian, kondisi kerja yang lebih baik, keseimbangan kerja/ keluarga yang lebih baik dan, ya, seks yang lebih baik.

 

Sinkronisitas - Circa

Carl Gustav Jung telah memberi kontribusi yang sangat besar terhadap bidang psikoanalisa dan dianggap sebagai prototype sang pemberontak mengingat guncangan dan besarnya dampak yang diakibatkan oleh gerakan yang dia lakukan di ranah psikologi analisis.

 

Sejak awal kariernya, Jung terpesona pada kebetulan-kebetulan yang penuh makna, terutama kesejajaran-kesejajaran mengejutkan yang tidak dapat dijelaskan secara memadai oleh rasionalitas ilmiah. Baginya, kejadian-kejadian itu tampak seperti mengandung “kualitas ilahiah”. Ia mula-mula membahas gagasan ini dengan Albert Einsten, tetapi kali pertama menggunakan istilah “sinkronisitas” dalam sebuah kuliah pada 1930 untuk merujuk pada berbagai wawasan psikologis yang memukau dan tak lazim yang diperolehnya setelah mempelajari kitab I Ching.

 

Korespondensi dan persahabatan panjang dengan fisikawan peraih Nobel, Wolfgang Pauli, merangsang lahirnya pernyataan akhir dan matang untuk pemikiran Jung tentang sinkronisitas. Bersama himpunan bahan historis dan kontemporer, yang diolah oleh semua perangkat pikiran Jung yang jenius dan bentangan pengetahuannya yang luas, buku kecil ini melukiskan dengan jeli, tenang dan sangat menggugah tentang eksperimen astrologis yang dilaksanakan oleh Jung untuk menguji teorinya. Sinkronisitas menyingkapkan secara utuh dan memukau telaah Jung ihwal fenomena psikis yang sangat luas jangkauannya.

 

Soe Hok Gie Biografi Sang Demonstran 1942 - 1969 - Garasi 

Soe Hok Gie datang dari sebuah rumah di Kebun Jeruk untuk menjadi seorang pahlawan. Jiwa "pemberontak" diwarisi dari ayahnya, seorang peranakan Cina yang memilih menjadi penulis dan jurnalis. Pada umur 17 tahun, dia sudah pandai menggugat pemerintah yang dianggapnya lalai meneuhi amanat rakyat. Keberanian jiwanya tak terbendung setelah menyandang status mahasiswa. Di sinilah Soe Hok Gie mencetak sejarah menjadi simbol penggerak perjuangan melawan ketidakadilan. bahkan, namanya menjadi simbol pergerakan kaum muda dalam menentang kekuasaan yang korup. Dialah sosok yang selalu gelisah melihat realitas kehidupan yang membuatnya menggugat keberadaan diri sendiri dan lingkungannya.

Namun, takdir yang memaksanya mati muda tidak lantas mendeskriditkan peran Soe Hok gie dalam sejarah perjuangan bangsa. Justru, hidup yang singkat membantunya menjaga konsistensi perjuangan. Takdir boleh jadi lebih mengasihaninya dibanding siapapun. Takdir tidak pernah mengizinkan Soe Hok Gie menjilat ludah sendiri dan mengangkangi perjuangan seperti yang kebanyakan dilakukan teman-teman seperjuangannya yang duduk dalam lingkaran kekuasaan. Melalui Soe Hok Gie: Biografi Sang Demonstran 1942-1969 ini, Anda tidak hanya dapat memahami sosok Soe Hok Gie beserta penikiran dan pandangan hidupnya, tetapi juga bagaimana pandangan tokoh-tokoh lain seputar dirinya.

The Feminist Papers - Penerbit Odyssee

Ketika pertama kali muncul pada tahun 1792, risalah yang ditulis oleh Mary Wollstonecraft mengemukakan serangkaian keyakinan-keyakinan radikal pada masa itu; dia berpikir bahwa semua wanita harus memiliki pendidikan formal, sehingga mampu membesarkan anak-anak mereka dengan pikiran yang lebih tajam serta mampu berdiskusi dengan suami mereka. Wollstonecraft sama sekali tidak mendukung jenis pernikahan tanpa syarat: dengan tegas dia menyatakan bahwa wanita tidak boleh dianggap hanya sebagai barang yang dijadikan bahan perbincangan dan dinikahi, tetapi sebagai manusia yang memiliki kecerdasan yang tinggi.

 

Wollstonecraft juga mencela gambaran sosial wanita yang berlaku di masyarakat; bahwa mereka memiliki sejumlah tugas tetap, sempit, dan seringkali domestik. Dia juga mengkritik bagaimana masyarakat mengharapkan perempuan untuk berperilaku, khususnya gagasan bahwa cita-cita tertinggi wanita adalah menjadi pahlawan wanita sentimental dalam novel-novel roman populer.

 

Hidup pada masa ketika hak-hak perempuan masih dalam tahap awal, Wollstonecraft mengalami perlawanan dan pencemaran nama baik karena menerbitkan buku ini, serta karya-karya lain yang mendukung pemajuan hak-hak perempuan. Meski buku ini mendapatkan sambutan positif dari komunitas intelektual yang pada waktu itu sedang memperdebatkan hak-hak perempuan, masyarakat luas justru menolaknya—meninggalkan Wollstonecraft menjadi semacam paria anumerta di kalangan sastra.

 

Pandangan-pandangan Wollstonecraft meninggalkan jejak untuk generasi-generasi pemikir feminis setelahnya. Buku ini juga tetap menjadi objek studi baik dalam wacana filsafat maupun wacana-wacana akademis lainnya hingga hari ini.

 


Tags

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: