Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

9 Buku Terlaris di Bulan September

Oleh: Redaksi         Diposkan: 30 Sep 2020 Dibaca: 1006 kali


Bukan tanpa alasan bulan ke-9 ramai disebut sebagai September Hitam ketika di dalamnya ada begitu banyak kasus-kasus pelanggaran HAM—mulai dari pembunuhan Munir Said Thalib yang belum juga menemukan aktor utamanya hingga tragedi 1965 di mana negara belum juga mampu memberikan keadilan bagi para korban.

 

Gelombang protes bertajuk #MenolakLupa yang digaungkan sepanjang bulan September belum juga mampu membangunkan penguasa untuk kembali bergerak dan melakukan pengusutan. Mereka yang duduk di atas singgasana pemerintahan berkat suara rakyat seolah lupa dengan janji-janji yang dibuat sendiri.

 

Meski begitu, kami tidak akan lupa. Sembari terus mengingat dan memperjuangkan—kami melawan dengan bacaan. Sembilan buku ini adalah yang paling sering dicari selama bulan September.

 

Feminisme untuk Semua Orang

 

Dalam buku yang menarik, ringan, dan provoaktif ini, Bell Hooks memperkenalkan teori feminisme populer yang berakar pada akal sehat dan kebijaksanaan pengalaman. Visi feminis yang ia miliki adalah suatu masyarakat yang saling berkomitmen pada kesetaraan, saling menghormati, dan keadilan.
 
Hooks menerapkan analisis-analisis kritisnya untuk masalah-masalah yang paling kontroversial dan menantang yang dihadapi oleh feminis kontemporer, termasuk hak reproduksi, kekerasan, ras, kelas, dan pekerjaan. Dengan wawasan dan kejujurannya yang blak-blakkan, Hooks menyerukan feminisme yang terbebas dari penghalang yang memecah belah, namun kaya akan perdebatan yang ketat. Dengan bahasa yang mudah, membuka-mata, dan optimis, Hooks mendorong kita untuk menuntut alternatif dari budaya patriarki, rasis, homofobik, dan membayangkan masa depan yang sama sekali berbeda.
 
Hooks berbicara kepada mereka yang mencari kebebasan sejati, meminta pembaca untuk melihat feminisme dari sudut pandang baru, untuk melihat bahwa feminisme menyentuh semua lini kehidupan. Mengajak semua orang untuk berpartisipasi penuh dalam gerakan feminis dan mendapatkan manfaat penuh darinya, Hooks menunjukkan bahwa feminisme—jauh dari konsep yang ketinggalan zaman dan terbatas pada elit intelektual—memang untuk semua orang.
 

Menafsirkan Dunia

 

Buku kecil ini memuat tiga risalah penting Noam Chomsky. salah seorang pembangkang terbesar yang karya-karyanya paling meresahkan sekaligus paling banyak dikutip di dunia. Risalah pertama, Bahasa dan Kebebasan, membabar konsep-konsep fundamental yang menentukan sistem-sistem bahasa dan cara kerjanya, para filsuf yang berpengaruh dalam menetapkan pelbagai konsep "kebebasan", dan bagaimana hal-hal itu saling berkelindan. Risalah kedua, Psikologi dan ldeologi, menggambarkan kebangkrutan ilmu sosial modern yang nyaris total dan menunjukkan bahwa ilmu sosial tidak memberi gambaran yang akurat mengenai kodrat manusia. Chomsky bergerak lebih jauh dengan mengatakan bahwa saat ini "kekayaan serta kekuasaan cenderung bertambah pada orang-orang yang kejam, licik, tamak, mementingkan diri sendiri, kurang punya simpati dan belas kasih, membudak pada otoritas dan bersedia meninggalkan hal yang

prinsip demi keuntungan material." Risalah Ketiga, Persamaan: Perkembangan Bahasa, Kecerdasan Manusia dan Organisasi Sosial, membuka kaki langit wawasan kita tentang betapa demokrasi di sebuah sistem ekonomi kapitalis ternyata hanya bisa dinikmati oleh mereka yang sanggup membayar, dan demokrasi kapitalis ternyata hanyalah demokrasi untuk kaum elit!

 

Era Emas Film Indonesia

 

MEMBACA memoar dari seorang maestro bernama Garin Nugroho itu ibarat kita diajak masuk ke mesin waktu, dan menjelajahi momen-momen penting dalam film dan perfilman secara personal. Seperti Marty McFly yang diajak keliling menembus waktu oleh Emmet "Doc" Brown di film trilogi Back to the Future dan menapaktilasi situs-situs yang punya cerita pribadi di masa lalu, tapi tetap terkait langsung dengan sejarah sinema global dan nasional.

 

Ini adalah semacam otobiografi "plus plus". Sebuah catatan perjalanan hidup tapi uniknya dengan mengarungi dan menjelajahi sejarah film dan perfilman Indonesia, lengkap dengan jiva zamannya, atau se baliknya: analisa populer seputar film dan perfilman dilakukan melalui pendekatan pengalaman dan nostalgia yang personal. Pengalaman hidup pribadi yang kaya juga ingatan yang kuat dan kedekatan dengan subjek menjadi modal utama untuk melakukan berbagai pemetaan dan mencakup berbagai aspek dari perfilman.

 

Mas Garin tidak hanya melihat film sebagai teks, tapi juga konteks.

 

Suara Rakyat Suara Tuhan

 

Dunia tengah dilanda keresahan global. Di sepanjang tahun 2019, gelombang protes sosial menghantam banyak negara. Menghempas kawasan Asia, Afrika, Eropa hingga Amerika Latin. Di sana, aktivisme media sosial, unjuk rasa, pemogokan, bentrokan demonstran dan aparat hingga kerusuhan menerjang bak tsunami. Ini merupakan protes massal terbesar sejak era Kejatuhan Bangsa-Bangsa (Autumn of Nations), sejak bubarnya Uni Soviet tiga dekade lalu.

Gelombang protes sosial ini hendaknya dipandang sebagai penguatan civil society.  Gerakan “suara rakyat, suara Tuhan” bukan hanya menguat, melainkan memasuki fase baru; fase revolusi tanpa pemimpin. Revolusi ini ditulangpunggungi oleh kelas menengah bersenjatakan smartphone. Internet dan media sosial menjadi instrumen penting.

Konsekuensinya? Pemerintah mesti hati-hati. Pertanyaannya bukan lagi “jika”, tetapi “kapan” revolusi tanpa pemimpin datang menghampiri.

Ketidak Puasan kelas menengah serupa bom waktu. Bisa meledak mendadak jika repons pemerintah lambat apalagi keliru menyikapi dan mengantisipasi. -Rocky Gerung

 

Teman Duduk

 

Kita ada di zaman mahalnya harga sebuah telinga. Mendengar dengan empati jadi pekerjaan sulit. Sekadar menjadi pendengar, akan diingat dengan cara yang berbeda. Ketika dunia tidak pernah mau berganti bicara, sibuk bersuara, pada akhirnya tidak ada yang merasa cukup dimengerti.

 

Semakin beranjak dewasa, beberapa segi kehidupan justru terasa menyempit. Entah memang sempit atau sekadar rasa merasa sebab tak banyak lagi teman untuk berbagi cerita suka dan duka. Hidup seolah menuntut kita untuk bergerak cepat hingga mengabaikan relasi emosional bahkan membuatnya tampak bagai ajang kompetisi.

 

Kegelisahan inilah yang dihadirkan melalui tokoh Aku pada karya prosa yang ada di tangan Anda saat ini. Mulai dari dinamika kehidupan bersama hingga berbagai sudut pandang dalam melihat dinamika tersebut. Paparannya diangkat dari fenomena nyata keseharian sehingga—barangkali—mudah pula dihayati sebagai pengalaman personal.

 

 

Filsafat Negasi

 

Pengantar bagi “ontologi dunia”, buku ini dimaksudkan penulisnya untuk memberi jawaban awal mengapa “kita tidak bisa diam”. Di dalamnya ditemukan sejumlah penghampiran filosofis menuju “diskursus dunia”, yang memiliki kontur ontologis yang berbeda dari “diskursus keilahian” – seperti terakhir menjadi obsesi penulisnya dalam Teologi Negatif Ibn ‘Arabi. Buku ini, dengan demikian, merupakan suatu patahan sekaligus awalan bagi praksis berfilsafat dari “dunia” itu sendiri.
 
Ia memperkenalkan kembali—dan memperbarui, melalui konfrontasinya dengan fenomenologi Husserlian dan sejumlah tradisi filsafat status quo—gagasan “negasi”.
 
Suatu filsafat “sejauh memikirkan dunia, menyikapi dunia, mengubah dunia”.
 

 

The Dog Who Dared to Dream

 

Ini kisah tentang seekor anjing bernama Bulu Panjang—anjing hitam dari ras sapsali. Dia lahir berbeda dari yang lainnya. Bulunya panjang, hitam legam, dan kerap dikesampingkan oleh saudara-saudaranya. Meskipun berbeda, dia memiliki keinginan dan mimpi yang sama seperti saudara-saudaranya, seperti kebanyakan manusia. Hidup di tengah kehangatan keluarga.

 

Namun, setiap kali musim dingin, kejadian buruk datang menghampiri Bulu Panjang. Kematian saudaranya, kepergian ibu, perpisahan dengan anaknya, dan juga harus menelan pahit bahwa Tuan Pita Suara gemar sekali menjual anak-anak anjing demi menyambung hidup.

The Dog Who Dared to Dream adalah salah satu karya terbaik Hwang Sun-mi, penulis Korea pertama yang dua bukunya berturut-turut terjual lebih dari satu juta eksemplar. Fabel sederhana ini menggambarkan hubungan binatang dan tuannya, serta relasi dengan binatang-binatang lain di rumah Tuan Pita Suara. Sederhana penuh kebajikan, jenaka sekaligus mengharukan.

 

 

Seni Berdamai dengan Diri Sendiri

 

Anda harus bersahabat dengan kekurangan serta kelebihan yang ada pada diri Anda. Anda perlu berdamai dengan ketidaksempurnaan yang Anda miliki. Dalam kenyataannya setiap orang memiliki potensi yang berbeda-beda. Anda harus menemukan potensi tersebut dan mengolahnya. Anda tidak perlu menjadi orang lain untuk terlihat hebat. Anda diciptakan secara spesial oleh Tuhan.

Anda diberi anugerah dan kelebihan. Oleh karena itu Anda harus bisa memanfaatkan kelebihan itu dengan sebaik-baiknya. Anda tidak akan dapat menyelesaikan masalah dengan orang lain jika masalah di dalam pikiran dan perasaan Anda belum dituntaskan. Anda tidak dapat menguatkan orang lain kalau diri Anda rapuh. Anda tidak dapat meyakinkan orang lain apabila Anda tidak yakin dengan kemampuan diri sendiri.

Berdamai dengan diri sendiri berarti mencintai diri Anda sendiri sepenuhnya. Anda perlu berdamai dengan diri sendiri untuk mencapai kebahagiaan dan ketenangan. Dengan demikian Anda juga memiliki pikiran dan perasaan yang sejalan sehingga tidak akan ada perdebatan batin yang membuat diri Anda tertekan.

 

 

Penjara Perempuan

 

Sejarah perempuan sudah semakin dihapuskan oleh pemaknaan yang sempit atas tafsir agama. Perempuan pun menjadi obyek bagi media, kapitalisme, hiburan, dunia industri, hingga atas nama agama.

Alhasil, perempuan pun menjadi makhluk yang tak bebas di manapun ia berada. Ketidakbebasan itu pun semakin menjadikan perempuan sebagai yang “dipenjara”. Jikalau dulu, kita sudah sering mendengar kisah perempuan dengan ungkapan 3 M: macak, masak, dan manak. Istilah itu adalah penjara perempuan di ruang privat atau di kehidupan rumah tangga. Maka kini, perempuan pun semakin dipenjara tidak hanya di ruang privat, tetapi juga publik.

Persoalan perempuan memang tak bisa diselesaikan dengan mudah, kecuali dimengerti dan diurusi oleh perempuan itu sendiri. Akan tetapi pemerintah kita dan para kaum lelaki seolah mengerti akan masalah dan problematika kaum perempuan. Buku ini menyoal perempuan dari berbagai pandangan kritis.

 

 


0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: