Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Advocatus Diaboli

Oleh: Robi Mardiansyah         Diposkan: 01 Nov 2018 Dibaca: 2464 kali


Di dunia yang marah dan tak sederhana lagi, bicara parrhesia berarti bicara ketidakmungkinan.

Parrhesia adalah kompendium dunia yang murung. Dunia yang tak memperkenankan seseorang “berbicara bebas”, sebagaimana arti literal dari kata ini. Inilah kesan pertama yang saya tangkap dari “Parrhesia: Berani Berkata Jujur” karya Foucault yang diterjemahkan Haryanto Cahyadi dan diterbitkan oleh Marjin Kiri pada Mei 2018 lalu.

Tapi kesan punya kecenderungan untuk meringkas, memotong substansi atas nama selera. Ia dikenal jitu dalam proses interpretasi, namun acap serampangan bila digunakan untuk kebutuhan memahami (substansi). Dalam kasus Parrhesia karya Foucault ini, misal, membahas konsep parrhesia tanpa melihat relasi antara konteks dan sifat kekuasaan – tema besar yang digarap Foucault di sepanjang karir intelektualnya – adalah sebuah kealpaan.

baca juga: Sejarah Umat Manusia

Foucault memang menetapkan tipologi, apa sebab parrhesiastes rentan terjerembab dalam jebak-jebak kekuasaan. Itu pula yang membuat saya bertanya-tanya: sesulit itukah berpikir lurus, bicara jujur? Bahkan di dunia yang dibangun dan diawali dengan pekik revolusi yang mantap, perubahan dan berbicara bebas dalam kehidupan bernegara didorong rapi, dan sejarah dilipat secara serempak. Mendadak demokrasi.

Perihal kebebasan dan demokrasi. Dalam Paradox Democracy, Mouffe telah memperingatkan kita bahwa kebebasan adalah janji yang tak mungkin ditepati demokrasi. Sejarah reformasi dicatat, sistem kekuasaan berganti, tapi yang berkuasa itu-itu juga. Orang-orang baru bermunculan – yang sebagian adalah mereka yang turut memperjuangkan perubahan – tapi wajah politik kita tetap sama: demagogi subtil, politik identitas, segala ihwal yang mengisyaratkan politik rendah, tetap jadi referensi utama dalam praktik kekuasaan.

Berhasilkah kita – otonomi, desentralisasi kekuasaan? Boleh jadi. Terutama jika kebebasan dan demokrasi merujuk pada arti siapa-siapa yang berkuasa jamak korupsi, siapa-siapa yang berkuasa lumrah melempar hoaks dan caci maki.

baca juga: Parrhesia versus Afasia

Mouffe sendiri merujuk pada demokrasi-liberal. Demokrasi yang hendak mengaburkan arti kemenangan (politik) dan sifat serakah dibalik nama kebebasan. Dalam pandangan Mouffe, tak ada arti lain bagi demokrasi jenis ini, ia membunuh subjek politik yang tak berada di pusat kekuasaan. Ia menempatkan kebenaran demokrasi sebagai satu-satunya kebenaran politik. Ia merawat kesenjangan, menjaga mereka yang sebelumnya memiliki ‘kapital’ dan senantiasa dekat dengan kekuasaan untuk tetap berada pada posisinya. Pada gilirannya tak ada beda antara demokrasi dengan aristokrasi; ia menciptakan sekaligus menghancurkan oposisi di balik dalih kepentingan bersama.

Marxisme, tradisi pemikiran dan kerangka analisis dalam teori sosial dan politik yang eksis sejak dasawarsa awal abad 20, berdiri di atas keyakinan bahwa kekuasaan selalu menyimpan cacat. Orang-orang seperti Gramsci dan Althusser tahu persis betapa ‘otoritas’ selalu berada lebih ke depan ketimbang sistem politik yang dianut oleh suatu negara. Tak peduli betapa luhurnya demokrasi. Tak peduli betapa mulianya sang subjek politik.

Itulah sebabnya, saya katakan, karya Parrhesia Foucault merupakan kompendium dunia yang murung. Saya tidak pernah bisa membayangkan kalau seandainya Wiji Thukul masih hidup, kini. Masih Peluru-kah ia? Masihkah ia “seorang penyair yang gigih”, yang punya lidah serupa pedang, kata-kata yang melulu lembing bagi kekuasaan? Siapa yang tahu? Pada titik inilah Parrhesia karya Foucault sepenuhnya punya arti – ia membuat kita berharap. Tak henti-henti.

baca juga: Merespons Jeritan Bumi

Barangkali akan selalu ada parrhesiastes, subjek yang diimajinasikan Foucault di dalam Parrhesia, yang oleh Wiji Thukul disebut-sebut sebagai “Aku yang memang selalu kabar buruk buat penguasa… Aku yang memang masih utuh.” Jika ia berujar, kata-katanya melulu pertentangan. Jika ia bersikap, perbuatannya melulu bahaya – seolah-olah parrhesiastes adalah bahaya itu sendiri. Ia merupakan subjek politik yang tanpa konformitas, tanpa ideologi. Kendati bukan tanpa peran.

Wiji Thukul telah membuktikan kepada kita: memaklumkan kebebasan tak pernah luput dari bahaya, mengamalkan kejujuran adalah jalan kepedihan. Dalam Parrhesia, kejujuran itu tipikal agaknya. Dari seluruh referensi yang dimunculkan Foucault saat memaparkan karakteristik parrhesiastes, semua tokoh adalah sosok udik. Moralitas dengan demikian, seperti hukum alam, mengkualifikasi sendiri apa yang tak diperkenankannya – mesti ada yang gugur untuk sesuatu yang hendak dicapai. Kita semua tahu Wiji Thukul hilang.

Pada bagian akhir dari buku ini, Foucault mencantumkan apa yang khas dari temuannya, bagaimana persisnya parrhesia diletakkan dalam setiap diskursus mengenai kekuasaan. “Saya tidak bertujuan membahas masalah kebenaran, melainkan masalah pengungkap kebenaran, atau pengungkapan kebenaran sebagai sebuah aktivitas..., sebuah peran.” Foucault seperti hendak beranjak dari pertanyaan ontologis tentang kekuasaan, dan pertautannya dengan sifat diskursif dari kebenaran, menggeser persoalan yang sebelumnya buntu oleh pertanyaan soal what is menjadi how to. Foucault memandang, persoalannya bukan lagi mana dan apa itu kebenaran, melainkan bagaimana setiap orang bisa mendapatkan akses ke kebenaran. Ringkas kata: siapa saja yang ingin mendapatkan kebenaran, maka, berbantahlah!

baca juga: Antara Politik dan Moralitas

Ritus Kongregasi Romawi abad 16 setidaknya pernah berupaya mendisiplinkan perbantahan semacam itu. Untuk menentukan gelar Santo kepada seseorang, Paus Sixtus V memasukkan fungsi perbantahan di dalam asas “Kanonisasi”. Di bawah hukum yuridis yang dikeluarkan “Otoritas Suci”, perbantahan ditetapkan menjadi peran. Asumsinya, lewat perbantahan, kesucian seseorang tampil secara alamiah sebagai kelangkaan, tak tergugat, berbeda dengan iman kebanyakan. Kebenaran-iman terpampang bersamaan dengan kesucian – mungkin karena kebenaran (juga iman) dapat mereduksi segala bentuk pertanyaan. Kebenaran-iman tampil di muka, dan kesucian jadi punya derajat.

Umat Kristiani kemudian mengenal peran itu dengan sebutan Advocatus Diaboli atau Devils’ Advocate. Otentisitas iman disangsikan, kesucian dituding, oleh kehadiran dan peran ‘setan’ yang sebenarnya juga ambigu: ia tak cuma melemahkan tapi juga meneguhkan (iman). Namun apa jadinya bila peran sebagai pembeda itu didisiplinkan? Arti iman dan kesucian jadi rawan, kebenaran lebih mudah tergelincir ke dalam “yang-politis”.

Di tahun 1982, peran Advocatus Diaboli dalam Kanonisasi dihapuskan oleh Paus Yohanes Paulus II. Setelahnya, Vatikan panen orang suci; selama periode kepausan Yohanes Paulus II tercatat 480 orang diberikan gelar Santo, terbanyak dalam sejarah Gereja Katolik. Di tengah-tengah kebenaran yang berkemungkinan punya arti lain – sebagai yang ada di seberang, ekstrem, membawa serta bahaya-bahaya – kekuasaan nyatanya selalu bisa dikarang seiring dengan otoritas yang juga turut berganti.

baca juga: Genosida Sebagai Buah dari Modernitas

“Ontologi historis kita hari ini,” demikian Foucault dengan agak sesungut mengomentari rasionalisme Pencerahan yang menjadi basis formatif dunia modern itu, membuat kita tak lagi percaya terhadap apa saja “yang memaklumatkan diri global dan radikal.” Parrhesia, dalam pengertian ini, sudah selalu satu arti: tanda tanya kepada kekuasaan.

Membaca Parrhesia tak ayal seperti mencecap sejumput getir dan pedihnya mengalami kebenaran.

  •  

Judul: Parrhesia: Berani Berkata Benar

Penulis: Michel Foucault

Penerjemah: Haryanto Cahyadi

Penerbit: Marjin Kiri

Tebal: x+209 halaman



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: