Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Agama Saya Adalah Jurnalisme

Wishlist
Stock: 6
Jumlah:

SEJAK INDONESIA MENGGANTI HINDIA BELANDA, media makin terpusat ke Jawa. Rezim Soekarno menutup semua media yang dianggap berpihak Belanda. Nama baru diciptakan: pers perjuangan. Soeharto menciptakan istilah baru: pers pembangunan. Wujudnya berupa konglomerat media.

Kini batas jurnalisme tumpang tindih dengan propaganda, hiburan, iklan, dan seni. Bias para wartawan, entah dengan negara, kebangsaan, agama maupun etnik, jadi biasa. Antologi ini mengumpulkan bermacam diskusi soal jurnalisme sejak jatuhnya Soeharto pada 1998.

Andreas Harsono pernah meliput untuk The Jakarta Post, The Nation (Bangkok), The Star (Kuala Lumpur) dan Pantau (Jakarta). Dia menerima Nieman Fellowship on Journalism dari Universitas Harvard.


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Gratis ongkir dengan belanja minimum Rp. 169.000  l  Jauh Dekat Ongkir Rp.5.000 khusus Pulau Jawa

Berat: gram

Kategori : Sosial dan Politik
Penyunting : Fahri Salam
Ketebalan : 268 hlm l Bookpaper
Dimensi : 14x20 cm l Softcover
Bahasa : Indonesia, 2019
Stock: 6
Penerbit: Kanisius
Penulis: Andreas Harsono
Berat : 300 gram
Product Tags:

Terakhir dilihat

BAYAR DAN KIRIM


Gambar terkait   Gambar terkait   Hasil gambar untuk logo prima png   Hasil gambar untuk logo alto png

Gambar terkait TIKI Gambar terkait

Find us

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Membaca adalah melawan!

Trusted Site Seal
Alternatif Online Bookstore | Alternatif Mencari Buku | Berdikari Book