Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Agama Sipil Robert N. Bellah

Wishlist
Stock: Tersedia
Terjual : 4
Jumlah:

#TalkLessReadMore lihat promo di bawah:

Pembelian : Diskon 20% Off all item tanpa syarat. Kode kupon: talkless
Pembelian : Diskon 25% Off all item tanpa syarat. Kode kupon: readmore
Pengiriman: Kirim ke seluruh pulau Jawa Flat Rp.5000


Klaim agama terhadap kebenaran dirinya yang bersifat universal telah menutup pintu bagi terciptanya dialog, pertemuan, dan saling pengertian di antara berbagai pemeluk agama. Padahal, klaim ini telah mengingkari hakikat agama itu sendiri, sebab agama tidak bisa dilepaskan dari sejarah, kondisi sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan.

Karena itu, pemahaman terhadap agama perlu direkonstruksi kembali untuk memperoleh pemahaman yang utuh dalam usaha menghindari penyalahgunaan otoritas agama untuk kepentingan manusia itu sendiri. Tentu saja, pendekatan yang digunakan secara ideal harus mengacu pada berbagai disiplin. .

Di garis persimpangan ini, gagasan Robert N. Bellah mengenai “agama sipil” bisa digunakan untuk memperkaya pemahaman keagamaan sebagai ikhtiar untuk mengelak dari pengertian agama yang sempit, picik, dan tendensius.


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Berat: gram

Kategori : Agama dan Filsafat
ISBN : 9786020708263
Ketebalan : 136 hlm | Bookpaper
Dimensi : 13 x 19 cm | Softcover
Bahasa : Indonesia, 2020
Stock: Tersedia
Penerbit: Cantrik Pustaka
Penulis: Ahmad Sahidah, Ph.D
Berat : 300 gram
Product Tags:

Terakhir dilihat

Bayar dan Kirim

Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by