Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Alangkah Tololnya

Oleh: Roby Mardiansyah         Diposkan: 13 Apr 2019 Dibaca: 1345 kali


“Tak pelak ilmu pengetahuan itu termangu masygul.” Ia datang membawa janji-janji kepastian. Dengan sejumlah piranti, dunia diramu lewat cara yang efektif. Asumsinya: kenyataan gamblang, dan penjelasan mengenainya bisa gampang – membentuk dunia yang berdaya guna, dan kehidupan seolah jadi punya tujuan. Ia sewenang-wenang, oleh karena sifatnya yang definitif. Ia hadir dengan ambisi hendak merengkuh segala, melampaui apa-apa yang tidak mungkin. Ia seperti sesuatu yang hidup dalam bayang-bayang Medusa, salah satu tokoh tertua dalam mitologi Yunani yang kerap disimbolkan sebagai “daya pikat akan kengerian” itu, bahwa setiap yang bertatap dengannya akan menjadi ‘batu’, menjadi konsep, meminjam salah satu tesis pokok Rudolf Carnap dalam The Unity of Science, menjadi proposisi dan “kalimat-kalimat protokol”.

Uraian semacam itu memang tak datang dari Weber. Setelah bertahun-tahun melakukan pelbagai riset, mendalami pokok dan ihwal kemanusiaan dengan “metode komparatif” yang pada masanya sangat revolusioner dan berhasil meletakkan paradigma baru dalam tradisi sosiologi, menghasilkan The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism yang membuat intelektual seantero Eropa gempar, bicara ‘ilmu’ bagi Weber masih terasa mubazir. Dalam sebuah kuliahnya di Munich di tahun 1917, ia mengutip Tolstoy, “Ilmu pengetahuan itu pada gilirannya tak berarti apa-apa, sebab ia tak menjawab satu-satunya pertanyaan penting bagi kita semua: ‘Apa yang harus kita lakukan? Bagaimana seharusnya kita hidup?’”

Kita dapat menduga bahwa kesadaran Weber waktu itu adalah kesadaran seorang kakek tua yang insyaf. Sebuah kesadaran yang acap datang terlambat setelah beribu-ribu tantangan terlewat, pencapaian-pencapaian masa muda tak berseri-seri lagi, dan bayang kematian seperti ketuk pintu seorang tamu tak diundang yang menanti dipersilakan masuk.

baca juga: Indonesia Bertanda Seru

Kenyataannya, kematian selalu sederhana dan tak muluk-muluk. Ia lebih sering datang bukan sebagai seorang tamu; ia mungkin lebih mirip maling yang bisa datang mendadak, tanpa permisi dan ketuk pintu, dengan etos kerja yang berangasan, menerobos apa saja yang ada di depan. Weber tua mati 3 tahun setelah kuliahnya di Munich. Ia didiagnosa mengidap paru-paru basah kronis. Karyanya yang menggemparkan itu kemudian menimbulkan polemik. Ada kelompok yang menuduhnya tidak taat data. Ada juga yang membela penemuannya (berdasar data, tentu). Namun, ada satu hal yang membuat orang-orang dengan pandang tak serasi itu bersepakat: The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism adalah sebuah karya yang lahir akibat “beban rasionalisasi” yang membuncah.

Pada tahun 1998, di Montreal, Asosiasi Sosiologi Internasional memasukkan The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism dalam daftar 10 buku paling berpengaruh di bidang Sosiologi di sepanjang Abad 20 (buku ini mendapat peringkat ke-4). Pada setiap kuliah yang ia berikan di akhir-akhir masa hidupnya, Weber nyaris bernubuat, dengan perenungan yang tampak seperti ahli nujum namun kelak malah membuatnya terus dikenang dan tak habis-habis dibaca ulang oleh seluruh ilmuwan di ilmu sosial: inilah saat-saat di mana yang-mistis raib – dan “pesona dunia” tak mungkin lagi.

Sebab ilmu pengetahuan memang berkembang dengan suatu mekanisme yang aneh. Realitas yang kompleks dipahami lewat suatu formulasi, lewat coding dan rumus-rumus, sampai di satu titik, penjelasan mengenainya dipulangkan ke wilayah abstraksi. Takhayul-takhayul tersingkir, berganti dengan pemahaman-pemahaman yang sebetulnya juga menunggu giliran untuk jadi takhayul (baru). Mungkin itu sebab sulit kita temukan kini ahli-ahli dengan kapasitas pengetahuan yang lengkap seperti ilmuwan-ilmuwan zaman bahela. Thomas Kuhn sampai-sampai tergelitik untuk berpendapat, dalam The Structure of Scientific Revolutions, pada gilirannya ilmu pengetahuan itu tak pernah bisa lepas dari belenggu takhayul akibat sifat retoris yang dibawanya. Ia menciptakan beban “kepercayaan” yang sebelumnya coba ditampik dengan asas-asas keilmiahan, namun menguat di dalam “teknik argumentasi persuasif” para ilmuwan.

baca juga: Menjadi Anak-anak Membaca Sastra Anak

Dengan kata lain, semakin berkembang percabangan suatu bidang ilmu, semakin bingung kita dibuatnya. “Spesialisasi,” kata seorang Marxis ternama, adalah urat nadi kapitalisme mutakhir. Ruang produksi kian panjang, kerja kian terbagi-bagi, di tengah ketimpangan (kelas) yang juga kian ekstrem. Eksploitasi marak; relasi interpersonal menjadi sesuatu yang ringkih akibat tumbuh di tengah-tengah lumpur kapital, akibat kerja yang terbagi-bagi, menimbulkan segregasi dan konflik yang marak. Dalam ilmu pengetahuan, spesialisasi itu juga bekerja: menciptakan ahli-ahli berpengetahuan khusus. Betapa sering kita dibuat macam orang tolol oleh hasil diagnosa seorang dokter? Betapa banyak kita dapati analisis tumpul dan tak relevan seorang ilmuwan politik yang mendaku menggunakan pendekatan ekonomi-politik, namun hanya bisa melongo melihat kurva transaksi dalam sebuah sistem perbankan atau fluktuasi kurs forex? Atau, ilmuwan sosial yang bicara Industry 4.0Big Data Analytics? Ah!

Berabad-abad sebelum orang gandrung pada data dan menempatkan data sebagai basis pembuktian, jauh sebelum para ilmuwan sempat menjadi “pengepul statistik murahan” sebagaimana yang dituduhkan Peter L. Berger, ilmu pengetahuan itu memang lahir dari semangat untuk menyederhanakan. Pengalaman inderawi diasumsikan sebagai satu-satunya sumber data (bahkan dinumerasikan!). Data diasumsikan sinonim fakta. Fakta diasumsikan sama dengan kenyataan. Kenyataan diasumsikan sebagai kebenaran. Mudah. Bersamaan dengan itu, debat-debat di wilayah epistemologi terus berlangsung, metodologi terus dikembangkan. Konferensi-konferensi bertajuk “Ilmu Pengetahuan” diadakan guna mencari formula asasi dalam meramu “realitas objektif”. Sense-datum, kata Ernst Mach, adalah dasar bagi setiap penjelasan tentang realitas. Juga kebenaran.

William Rowan Hamilton, ahli matematika dan fisika abad 19, melihat modus penyederhanaan itu bahkan sudah muncul di Abad Pertengahan dalam pemikiran William dari Ockham. Dengan Pisau Ockham(atau yang lebih dikenal dengan Ockham’s Razor), Hamilton berhasil merevolusi permodelan aljabar yang sebelumnya sudah dirintis sejak Al-Khwarizmi hingga Euler. Analogi pisau yang diistilahkan dan dipinjamkan Hamilton dari Ockham menjadi penting di sini; ia berperan sebagai alat untuk merapikan, memotong apa-apa yang tidak perlu, membentuk yang sebelumnya acak-acakkan dan tidak jelas. Dengan prinsip kesederhanaan Ockham’s Razor, aljabar yang sebelumnya berorientasi  pada model “persamaan” dan sifat aksiomatik bilangan rill, ditransmutasikan oleh Hamilton untuk mendapatkan model perhitungan titik-titik imajiner yang ada pada sebuah bidang. Hasilnya? Hamilton menemukan “quaternions” dalam formulasi i2 = j2 = k2 = ijk = −1 yang menjadi model hitung untuk bidang 4 dimensi dan digunakan dalam dunia grafis hingga hari ini.

baca juga: Menyudahi Pendidikan Penyebar Rasa Benci

Entia non sunt multiplicanda praeter necessitatem (‘maujud tidak boleh dilipatgandakan di luar keperluannya’), kata Ockham. Setiap ihwal tidak perlu dirumit-rumitkan, tidak pula dihubung-hubungkan dengan variabel kompleks yang ada di luarnya. Dalam pokok bahasan epistemologi, Ockham’s Razor banyak digunakan untuk menjelaskan logika mendasar yang bekerja di dalam ilmu pengetahuan. Orang kemudian menyebutnya dengan “reduksionisme metodis”.

Syahdan. Ilmu pengetahuan itu memang hendak membuka apa-apa yang belum jelas, kabur, entah oleh kabut takhayul atau nilai atau kepercayaan yang bertebaran di dalam masyarakat. Buku “Ilmu dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan tentang Hakikat Ilmu” yang dieditori dan diterjemahkan oleh Jujun S. Suriasumantri ini, misal, adalah upaya untuk memperkenalkan bagaimana ilmu pengetahuan itu bekerja – lewat rasio; oleh sejumlah lex parsimoniae (asas ringkas) tentang cara mendedah realitas. Buku ini bukan satu-satunya upaya Jujun dalam memperkenalkan ilmu pengetahuan ke muka khalayak Indonesia; Jujun terlibat secara aktif dalam KIPNAS (Konferensi Ilmu Pengetahuan Nasional) pada masa kepemimpinan Soeharto. Bukunya yang berjudul “Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer” sempat menjadi buku wajib dalam kurikulum universitas, yang oleh pengajar yang berhenti belajar masih digunakan sebagai silabus sampai sekarang. Tapi, di zaman Soeharto, adakah yang lebih populer ketimbang Soeharto? Tak heran kalau dalam Kata Pengantar panjangnya di buku Ilmu dalam Perspektif, tatkala menyebut karya-karya yang lahir dari para pembesar Indonesia yang dalam pandangannya sudah banyak menyoal ilmu pengetahuan, tak kita temukan “Madilog” karya Tan Malaka, tak ada “Islam dan Revolusi” karya Hamka, tak ada Abdul Rivai dkk., tak ada…. Betul-betul ringkas.

Yang perlu dicatat, setiap upaya untuk memberangus yang-mistis, sakral dan irasional itu tak selalu berhasil. Ia akan berakhir pada dua kemungkinan: yang-mistis dan irasional menghilang, atau malah eksis.

baca juga: Mengobati Lumbung Kebosanan Hidup

Yang menarik adalah melihat bagaimana prinsip-prinsip ilmu pengetahuan itu direspon dalam suatu komunitas masyarakat yang belum sepenuhnya rasional dan tak akrab dengan cara berpikir ringkas melalui data dan basis pembuktian.

Ockham hidup di London abad 14, sebuah lanskap zaman yang memeram “moralitas gilda Abad Pertengahan.” Konon, orang Eropa zaman itu dikelompokkan dalam guild (kata asal ‘gilda’), yang berarti kelompok (kerja) sejenis. Ada gilda petani, pedagang, tukang bangunan, sampai pendeta – semua orang kebagian fungsi dan peran. Tidak menjadi bagian dalam kelompok berarti tidak dapat kerja dan peran dalam masyarakat. Tapi, begitu masuk dalam gilda, orang harus tunduk dengan aturan, tanpa terkecuali tunduk untuk tak boleh maju. Seorang anggota gilda bahkan tak boleh memilih mekanisme kerja dengan cara baru yang tak sesuai pakem.

Kreatifitas dan inovasi, haram hukumnya. Memanfaatkan kebaharuan pengetahuan dan kemajuan teknis dalam kerja, adalah khianat. Semua orang harus berjalan dalam derap dan gerak sesuai. Segala hal diupayakan berlangsung dalam (dan demi) harmoni. Dalam masyarakat seperti ini, orang cenderung takut pada kebaharuan dan kritik.

baca juga: Omong Kosong Memang Menyenangkan

Hampir di sepanjang usianya, Ockham hidup dalam pelarian. Pikirannya dianggap berpotensi mengacaukan stabilitas, karena usul agar urusan negara dan agama sebaiknya dipisahkan dianggap terlalu menggampangkan soal. Ockham diburu, dan belakangan kita tahu, pikirannya langgeng dan tak masuk dalam catatan hitam Otoritas Gereja. Politiskah? Kita seharusnya tak boleh buru-buru menjawab. Sebab, sesuatu yang lahir dari sikap menggampangkan seringnya tak berakhir dengan ihwal yang bijaksana.

Kekuasaan memang selalu bekerja; dan sejarah tak mungkin dihapus. Yang tampak jelas adalah bagaimana yang-baharu dan berlainan dibuat tunduk – oleh rasa takut dan prasangka, ihwal yang lahir justru dari hal-hal emotif belaka, bukan kebingungan akan pemisahan antara fakta dan data, bukan ketidaktahuan, bukan rasionalitas. Di sini dapat kita lihat ilmu pengetahuan yang tegak dan menuntut konsistensi logika itu tetap tak bisa menjauh dari sifat-sifat primordial manusia.

Di Indonesia, terutama, yang ketika ada satu pokok perbincangan serius yang menyulut debat, orang mudah untuk bersikap intimidatif: Mana data?. Tapi, apabila ada yang menulis dan berbicara dalam koridor sains, segera ia dicap rumit dan njlimet. Apabila ada sastrawan yang karyanya sedang naik daun, segera ia disebut-sebut maniak popularitas…, karena ia cakep atau kaya atau ada main dengan si anu. Apabila ada pejabat yang bersih dan berkomitmen kepada masyarakat, segera ia dilabeli hipokrit.

baca juga: Kehilangan Kosa Kata, Kekasih

Ilmu pengetahuan, sebagai ikhtiar untuk merengkuh segala yang-baharu, hampir selalu bikin orang latah. Tapi, perlukah peradaban bergerak seperti kesadaran Weber tua yang insyaf? Menurut Jujun, barangkali memang tidak perlu. “Mengerti berarti memaafkan segalanya” (Tout comprendrec'est tout pardoner), Jujun mencantumkan pepatah Perancis dalam Kata Pengantar panjangnya untuk buku ini. Alangkah tololnya.

  •  

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: