Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Analisis keSiqahan Perawi Hadis Anarchist Never Surrender

Alimin menulis Analysis untuk menjawab pertanyaan Tan Malaka dalam Thesis. Menurut Alimin, sebagian besar dari tulisan Tan itu tidak aktual lagi untuk menjadi bahan atau material guna membikin orientasi keadaan batu.

Alimin menilai Tan sebagai orang yang menenggelamkan diri dalam pujian. Tan yang membersihkan diri dan menyalahkan gerakan PKI pada 1926 itu tidak salah karena ia tidak berbuat apa-apa. Orang yang tidak berbuat apa-apa tentu tidak mungkin membuat kesalahan. Itulah sebabnya PKI Tidak melakukam royeer-an karena Tan bukan lagi karena dia mendirikan Partai Republik Indonesia(PARI).

Alimin juga mengaku tidak pernah menuduh Tan sebagai Trotskys. Yang memeberikan julukan itu adalah sebuah surat kabar berbahasa Inggris yang dibaca Alimin dan Muso di Tanah Melayu.

Alih-alih Tan mrnyebut dirinya sebagai orang yang "bermandat" dari Komunis Internasional dan memepwrsialkan Putusan Prambanan, Alimin meminta dia memberikan penjelasan tentang twori revolusi. Dengan demikian dapat diketahui salah dan benarnya Revoluai 1926 itu. Faktanya, Revoluai 1926 mendorong munculnya revolusi-revolusi di tanah-tanah jajahan di Lautan Pasifik, seperti di Indo-China (1927) dan Burma (1926-1927). Kalaupun perkara 1926 itu masih sering digugat orang, maka Alimin, juga Muso menyatakan bertanggung jawab atas segalanya.

Selamat Membaca dan Merdekalah...


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

Info Pengiriman:  Pesanan masuk tgl 21 - 27 Mei 2020 akan dikirim tgl 27 Mei 2020

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Sosial dan Politik
ISBN : Adhe
Ketebalan : 100 hlm | Bookpaper
Dimensi : 12x18 cm | Softcover
Bahasa : Indonesia
Stock: Tersedia
Penerbit: Octopus
Penulis: Alimin Prawirodirdjo
Berat : 200 gram
Product Tags:

Terakhir dilihat


Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by