Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Anarkisme: Narasi Sepanjang Zaman atau Sepanjang Jalan?

Oleh: Robi Mardiansyah         Diposkan: 12 Oct 2018 Dibaca: 2177 kali


Kesenyapan… yang dijunjung tinggi oleh semua orang adalah bencana terbesar yang dapat terjadi bagi seorang manusia Bakunin

Seperti halnya setiap paham, anarkisme juga sebuah tradisi. Ihwal yang, dalam terminologi Giddens, “terkait dengan ingatan, terutama dengan apa yang diistilahkan Maurice Halbwachs ‘ingatan kolektif’; melibatkan ritual, terkait dengan apa yang saya sebut gagasan formulaik tentang kebenaran, mempunyai ‘para penjaga’, dan – tidak seperti adat – memiliki daya ikat dengan kandungan moral dan emosional sekaligus”.

Maka, tak heran jika Clifford Harper dalam pengantarnya soal buku ini, perihal anarki, ialah “soal orang-orang biasa, seperti saya dan kamu”. Bahwa anarkisme itu juga sedang berlangsung di sekitar kita, di suatu tempat yang lebih dekat dari yang dapat (atau mungkin pernah) kita bayangkan. Atau, persisnya, seraya mengikuti komentar Muriel Spark soal buku ini, “sebuah sejarah dari detak jantung manusia.”
 

Tercatat, kira-kira pada pertengahan abad ke-11, dan langit Eropa belum sebenderang Renaissance, anarkisme itu juga hadir dalam aneka bentuk dan gerak. Kala itu orang-orang di Eropa, tepatnya “para budak dan petani”, serentak ingin lepas dari belenggu feodalisme. Sejak saat itu pemberontakan terjadi di mana-mana: tahun 1200 di Paris, dipimpin William Aurifex, dengan mengenakan “topi runcing merah” – yang kemudian jadi simbol perlawanan atas kelaliman pihak Ditio atau penguasa istana dan gereja pada awal-awal Renaissance – mereka hendak mengundang para pastur terlibat dalam debat publik dengan maksud ingin menunjukkan kekeliruan ajaran-ajaran gereja yang dianggap melancarkan keserakahan pihak penguasa; pertengahan abad 13, di Spanyol, Italia, Bavaria dan kota-kota kecil di sekitarnya, sekelompok orang menggugat pihak penguasa dan gereja, mereka ingin mendobrak belenggu-belenggu dogmatis agama dengan menyerang ‘Tuhan’ dalam suatu semboyan terkenal: Tuhan adalah sosok yang merdeka dan menciptakan segala sesuatu untuk dinikmati bersama; dst.

baca juga: Kisah Wilde dan Sembilan Kisah Lain

Dengan kata lain, anarkisme ialah suatu kehendak untuk bebas di tengah semakin beragamnya struktur-struktur yang mengekang. Kita dapat menyebutnya pemerintah, kapitalisme, struktur sosial-budaya dan politik – bahkan Tuhan. Sejarah anarkisme adalah sejarah bagaimana upaya-upaya manusia selaku yang-partikular duduk setara dengan Tuhan selaku yang-Universal, yang-Transenden, yang tak kelihatan tapi punya andil kemudi bagi setiap sikap diam dan tunduk ketika melihat ketidakadilan terjadi di hadapan kita demi tercapainya keharmonisan. Juga keajegan sistem.

Maka, anarkisme pula bukan saja sikap berontak sejadi-jadinya atas suatu sistem, melainkan juga sebuah keutamaan pada ‘yang-baharu’. Ia merupakan komitmen pada perubahan, yang oleh Bakunin disebut-sebut sebagai “keinginan untuk melakukan destruksi [yang tak lain] merupakan sebuah keinginan yang kreatif”.

Atau, mari kita bayangkan, katakanlah anarkisme adalah suatu paham yang menolak pelbagai model aturan-aturan yang berujung pada cacatnya kebebasan, bersifat menindas. Terutama sekali pemerintah: “penjajah yang paling besar” kalau bukan – seperti yang dilukiskan Berkman – “kriminal paling buruk” di mana “nafasnya adalah racun”. Tapi ini bukan berarti tanpa soal.

baca juga: Kuasa Politik Media: Pertarungan Para Ahli dan Kawanan Pandir

Jika pemerintah berhasil dihancurkan, negara bubar, apakah itu cukup untuk membuat “surga ada di Bumi” sebagaimana mimpi-mimpi kaum Free Spirit yang konon sudah menjadi sukma peradaban sejak abad 11? Apa betul anarkisme adalah sebuah ikhtiar yang hendak mewujudkan sebuah dunia yang riuh akan “lelucon yang lantang” sebagaimana yang diimpikan kaum Ranters dan Diggers pada abad 17 di Inggris? Apakah persoalannya semudah menciptakan masyarakat “egalitarian dan desentralis”, dan “kebahagiaan moral” adalah segala-segalanya sebagaimana yang diimajinasikan William Godwin (orang pertama yang memberikan prinsip-prinsip mendasar pada Anarkisme)? Bagaimana anarkisme mendorong tercapainya suatu masyarakat “Komunis-Anarkis” tatkala “keberagaman begitu luas” masyarakat semakin beradab, individualitas juga semakin berkembang, dan beragam hasrat pun akan lahir” sebagaimana yang dibayangkan Kropotkin? Saya tak tahu pasti jawabnya.

Yang saya tahu: setelah revolusi, setelah pemerintah usai, pelbagai varian nilai-nilai itu juga bisa muncul darimana saja. Dari agama. Dari budaya. Dari sistem terkecil yang kerap kita anggap sepele, yaitu keluarga.

Tapi, sekurang-kurangnya bagi saya, di situlah barangkali anarkisme menampakkan keluhurannya. Ia yang tak lain adalah  suatu jalan jalan hidup, suatu komitmen untuk selalu mencari arti dan bentuk perikehidupan menjadi lebih adil dan sejahtera. Bersama dan dalam khidmat Tuhan, atau tanpa Tuhan.

  •  

Penulis: Clifford Harper
Penerbit: Daun Malam
Tebal: +256 hal.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: