Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Aneka Eksperimen Yusi yang Bikin Nagih

Oleh: Arci Arfian         Diposkan: 04 Jul 2019 Dibaca: 744 kali


Ada kisah yang ditulis cukup sederhana, tapi hebat pada penokohan. Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, adalah contoh. Ada roman yang ditulis dengan bekal penuh data, ia tak mau berlama-lama pada masalah hati yang sentimentil. Jejak Langkah karangan Pramoedya Ananta Toer, salah satunya.

Pun, ada esai yang dirangkai oleh perbendaharaan kata setinggi bintang. Kumpulan Catatan Pinggir milik Goenawan Mohamad, misal. Atau, cerita dengan model penceritaan yang tak lazim, Tegak Lurus Dengan Langit karya Iwan Simatupang. Eksperimen-eksperimen konsep atau model cerita seperti contoh karya-karya di atas terangkum dalam Rumah Kopi Singa Tertawa gubahan Yusi Avianto Pareanom.

Sebut saja Edelweiss Melayat ke Ciputat, Kabut Permata, Kabut Suami, Sengatan Gwen, Dari Dapur Bu Sewon dan Laki-Laki di Ujung jalan merupakan cerpen-cerpen yang ditulis dengan cukup sederhana, linear, tanpa ba-bi-bu. Tapi, taburan metafora yang subtil pada cerpen-cerpen itu membuat saya tak bisa tak membaca dengan sentimental. Simak saja Kabut Permata halaman 81: “Seperti mesin yang terprogram baik, kami duduk dan melahap merah kesumba langit sore. Seperti mesin yang juga terprogram sempurna, tak lama lagi senja pasti akan menyerah kepada kegelapan.

baca juga: Trauma Perang, Seruan untuk Perempuan, dan Kemalasan yang Berulang

Dan, apa arti dari metafora “Kau bisa menjadi kabut selamanya”? Dalam dua cerpen yang saling berdialektika, Kabut Permata dan Kabut Suami. Kabut Permata memberi ruang pada yang ditinggal untuk bertanya, sedangkan Kabut Suami seperti ruang untuk memberi hak jawab pada yang berangkat.

Kolom Berdikari Book

Dosa Besar No. 14, Cara-Cara Mati yang Kurang Aduhai, Sebelum Peluncuran, Ajal Anwar Sadat di Cempaka Putih, dan Hukum Murphy Membelit Orang-Orang Karangapi adalah cerpen-cerpen yang gemuk oleh data-data. Cara-Cara Mati yang Kurang Aduhai memperkenalkan dirinya seperti layaknya esai. “Maut itu rahasia. Tapi, tidak selalu begitu. Beberapa orang tahu bagaimana dan kapan kematiannya akan tiba. Seorang ninja, misalnya, sangat paham bahwa ia hanya bisa mati di tangan ninja lain jika tak ingin meninggal karena sebab-sebab alami. Jika sudah bosan bernyawa, ia tinggal cari gara-gara dengan sesamanya yang lebih lihai.” (hlm.9)

Sesuai judul, cerpen itu memuat informasi orang-orang yang mati dengan cara ‘aduhai’. Ia menarasikan Stanley Baker, Jr., terpidana mati kasus pembunuhan yang sebelum eksekusi mati meminta banyak makanan sebagai santapan terakhirnya. Lain halnya dengan kisah bedebah nomor wahid yang membunuh pacar anaknya dan merencanakan beberapa pembunuhan di sel penjara bernama Clarence Ray Allen. Ia disuntik mati setelah seminggu sebelumnya terselamatkan dari maut di sebuah rumah sakit. Tujuan pemerintah Amerika, tak lain Clarence harus mati bukan oleh sebab-sebab alami.

baca juga: Budaya Literasi Keluarga

Sebelum Peluncuran mengobral obat-obat mana saja yang dapat membuat otot trisep dan bisepmu semakin penuh. Ajal Anwar Sadat di Cempaka Putih memberitahumu fobia-fobia yang dialami oleh manusia. Anwar, si penggerak cerita punya ketakutan untuk menyeberang jembatan. Entah itu jembatan penyebrangan Senayan atau jembatan Shirotol Mustakim.

Hukum Murphy Membelit Orang-Orang Karangapi, bikin saya googling Hukum Murphy yang beradagium begini; apapun yang bisa salah, akan salah; semuanya akan memakan waktu lebih lama dari seharusnya; tidak ada yang sesederhana seperti yang terlihat.

Bikin saya geleng-geleng kepala. Tapi tak perlu risau, Yusi menerjemahkan dalil buatan Edward A. Murphy itu secara sederhana melalui narasi kemalangan orang-orang Karangapi.

Cerpen-cerpen Yusi ragam tema. Dari dongeng hingga realis kontemporer. Cerita pewayangan juga menjadi bahan eksperimen bagi pria kelahiran Semarang ini. Durna Sambat adalah kisah Durna dari sudut pandang Durna seorang. Ia ingin memberi refleksi dari sudut pandang seorang yang kalah oleh sebuah siasat. Dari Durna pula saya mengetahui jika Arjuna bukanlah satrianya-satria atau panji yang tak berdosa. “Ternyata, satrianya satria tak tahan juga melihat permaisuri pilihan. .... Sekalipun Anggraeni sudah memohon ampun, Arjuna tetap memerkosanya.” (hlm. 118)

baca juga: Memahami Freud ala Pemula

Tiga Lelaki dan Seekor Anjing yang Berlari dan Telur Rebus dan Kulit Kasim adalah dua cerpen bertema dongeng kesatria. Tapi saya tak akan membahasnya, karena kedua cerpen itu sudah menjadi cerita yang tak pendek lagi. Keduanya telah dilengkapkan Yusi dalam novelnya yang berjudul Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi.

Eksperimen Yusi terlihat ekspresif dalam Dua Kisah Pendek tentang Punakawan. Entah lupa atau sengaja, Yusi hanya memberi dua titik pada dua kisah pendek yang berisi keluhan Togog yang tak pernah dapat perhatian oleh raksasa, oleh karenanya, ia ingin pindah posisi dengan Semar. Juga, kisah Petruk yang mendapat rezeki karena hidungnya yang bangir itu.

Tiga Maria dan Satu Mariam adalah kisah yang cukup menarik menurut saya. Ada empat tokoh utama, di tujuh tempat berbeda pada empat waktu yang berbeda. Jangan harap mereka bertemu lalu menjadi satu cerita yang utuh. Tak akan terjadi. Keempat tokoh penggerak cerita itu tetap pada tempatnya, tetap pada porsi masing-masing. Akan tetapi, mereka bertemu oleh perasaan yang sama: Kerinduan.

baca juga: Kekalahan Bolaño sebagai Penyair

Yusi menarasikan empat tokoh itu sedang dilanda kerinduan yang amat dalam, amat sesak. Rindu rumah sebagai tempat tumbuh kembang; rindu suami yang hilang entah kemana; rindu indahnya masa kanak-kanak, dan rindu tulusnya pujian dan rasa syukur.

Cerpen ini juga memperlihatkan bagaimana Yusi sangat disiplin data. Ia menuliskan dengan detail tempat-tempat, jalur kereta, dan suasana di Zurich. Ia menuliskan dengan apik efek psikologis yang didera orang-orang di daerah konflik. Selain itu, ia juga berhasil menarasikan konflik batin seorang anak yang memiliki masa lalu kelam. Dan, secara subtil membawa kita merasakan bagaimana perihnya seorang tunadaksa.

Eksperimen-eksperimen Yusi berlanjut pada daerah plot. Tak perlu dibantah, Yusi menghadirkan twist ending dan plot twist hampir di setiap cerpennya. Twist ending ialah sebuah akhir yang bisa sangat berbeda dari prediksi pembaca. Akan ada efek kejut di akhir cerita. Sedangkan plot twist yakni, perubahan mendadak atau tajam dari arah plot atau cerita. Biasanya plot twist ditujukan untuk menjaga tingkat ketertarikan pembaca, dengan mengungkapkan sesuatu yang tidak pembaca sangka.

Saya tak tahu maksud dan alur cerpen Rumah Kopi Singa Tertawa. Model penceritaan pun hanya memuat dialog. Sebuah naskah drama yang melebur dengan cerpen, atau sebaliknya(?). Intinya, ia menceritakan dialektika apa saja yang hadir di tiap-tiap meja sebuah rumah kopi. Plot twist? Baca saja.

baca juga: Desain Institusi Pemilu dan Warisan Orde Baru

Oh ya, Ihwal perbendaharaan kata, saya mencatat kata-kata seperti: terentap, mega-mega, laksmi, menghidu, senewen, pelantam, dijotak(?), ganyangan, aleman, peneman, kuap, digusah, perlaya(?), ilapat(?), petingkah, dan masih banyak lagi. Beberapa tak ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Namanya juga eksperimen, pasti akan melengkapi.

Buku eksperimen ini lalu berakhir secara epik pada kalimat terakhir Hukum Murphy Membelit Orang-orang Karangapi: “Semoga di kemudian hari kau punya kesempatan mendengar lanjutan ceritaku.” (hlm.171). Semoga paman, Semoga (berkesperimen lagi)![]

  •  

Judul: Rumah Kopi Singa Tertawa

Penulis: Yusi Avianto Pareanom

Penerbit: baNANA

Tebal: 172 halaman

  •  

  • ‚Äč


0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: