Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Andy Warhol - The King Of Pop Art Angel and Demons

Anekdot Moskow

Koesala Soebagyo Toer
Stock: Tersedia

Kategori : Novel Indonesia

Catatan ini saya buat sebagai pelengkap catatan saya dalam buku KAMPUS KABELNAYA karena saya anggap hal-hal ini pun perlu saya kemukakan kepada pembaca. Hal-hal ini merupakan pengalaman konkrit, yang apabila tidak dicatat akan hanya hilang dimakan waktu.

Dengan sendirinya timbul pertanyaan: empat puluh tahun jangka waktu yang tidak pendek, apakah hal-hal yang dialami itu tidak sudah dimakan waktu? Memang benar detail-detail bisa jadi hilang dimakan waktu. Namun hal-hal pokok tidak ada. Ia ibarat tonggak-tonggak kilometer yang sepanjang zaman menyatakan: ini lo peristiwa itu. 

Selain itu, masih ada dukungan bahan tertulis. Dan, dukungan ingatan dari teman-teman yang masih hidup pun memperkukuh argumentasi tersebut. Perlu disinggung dalam kaitan ini bahwa diantara 31 orang mahasiswa lulusan pertama tahun 1965 masih ada lima orang yang masih hidup waktu catatan ini saya buat. 


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Novel Indonesia
Ketebalan : 98 hlm | Bookpaper
Dimensi : 14x20 cm | Softcover
Bahasa : Indonesia
Stock: Tersedia
Penerbit: Pataba Press
Penulis: Koesala Soebagyo Toer
Berat : 200 gram
Product Tags:

Terakhir dilihat


Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by