Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Anjelo

Oleh: Yuditeha         Diposkan: 20 Apr 2019 Dibaca: 791 kali


aku adalah sebuah keadaan yang sesungguhnya keberadaanku bisa teramat jauh dari hidup kalian, tapi juga bisa teramat dekat dengan hidup kalian, bahkan beberapa di antara kalian ada yang suka tinggal di dalamku....

Sebelum bercerita aku akan memperkenalkan diri dulu. Aku adalah sebuah keadaan dimana keberadaanku bisa teramat jauh, tapi juga bisa teramat dekat dengan hidup kalian, bahkan beberapa dari kalian ada yang suka tinggal di dalamku. Dan jika di antara kalian sekarang sedang berada jauh dariku, bukan sebuah jaminan akan terus begitu, karena sesungguhnya penawaranku akan selalu merajuk pada kalian. Bila dilihat atas dasar nilai hidup lumrah, salah satu ciri khasku adalah segala bentuk kebejatan, kejahatan, dan kebrengsekkan ada di dalamku, bahkan harga diri acapkali tak lagi dibicarakan. Begitulah diriku. Karenanya, aku ingin meyakinkan kepada kalian, untuk tidak salah memilih nilai hidup yang mana yang akan kalian jadikan kaca mata untuk melihat cerita ini. Tentu saja hal itu bertujuan agar kalian bisa memahami segala sesuatu secara proporsional, terlebih jika kalian mendapati peristiwa yang menurut kalian jauh dari kenormalan, sehingga dari pijakan pilihan sudut pandang yang kalian pilih itu, juga akan menemui dua pengertian. Kalian akan mendapati cerita tidak masuk akal, atau kalian akan memaklumi segala keadaannya. Kini, akan kumulai ceritaku dalam potongan-potongan kisah.

 

Sumarti

Sumarti telah lima tahun menjadi lonte, paras sedikit tirus nan cantik rupawan. Sekilas mirip dengan artis-artis Korea yang kabarnya akrab dengan budaya operasi wajah. Tubuh Sumarti padat dengan payudara menyembul sebagian dari kutang mini, serasi dengan bentuk tubuhnya. Lekuk di pinggangnya menyerupai lekukan pada badan gitar gembung. Bokongnya medit laksana buah blewah yang telah dikupas halus dengan alat tercanggih. Dengan bodi  sesemok itu, kabarnya Sumarti dapat membuat lawan mainnya di ranjang kelejotan minta ampun. Bahkan hanya melihat dari cara Sumarti berjalan, telah mampu membangkitkan birahi lelaki yang paling alim sekali pun. Hal itulah yang menjadi salah satu dia sangat terkenal di antara para hidung belang. Meski hanya menjadi lonte kelas teri di Gang Koboi, tetapi popularitasnya selalu menduduki tangga teratas bagi para petualang nafsu.

Sumarti tinggal di sebuah kos pinggiran kota Metropolit. Selama ini, setiap menuju ke Gang Koboi, tempat mangkalnya, dan kembali ke kos usai bekerja selalu memakai jasa tukang ojek. Sumarti tidak pernah merasa risih ketika jati diri lontenya diketahui banyak orang, termasuk oleh tukang ojek yang selama ini mengantarnya. Salah satu bukti dia tidak pernah peduli dengan pandangan orang, Sumarti tidak berlangganan pada satu tukang ojek saja. Meski sesekali mendapat tukang ojek yang sama, tetapi dari awal dia tidak pernah berencana begitu, dan yang sering terjadi baik berangkat ke Gang Koboi maupun kembali ke tempat kosnya dengan memakai tukang ojek yang berlainan. Karena hal itulah, tidak mengherankan ketika Sumarti lantas cepat dikenal di antara para tukang ojek. Sudah tidak menjadi rahasia lagi bagi mereka bahwa Sumarti adalah salah satu lonte di Gang Koboi. Bahkan beberapa kali Sumarti juga melakukan transaksi dengan tukang ojek yang mengantarnya.

baca juga: Kehilangan Kosa Kata, Kekasih

Baginya, siapa pun bisa menikmati tubuhnya, asal bisa membayar dirinya. Menjual tubuh kepada siapa saja tanpa pandang bulu dan tanpa merasa malu sudah menjadi semacam semboyan. Sumarti juga termasuk tipe orang tak kenal kompromi dengan keisengan, bahkan sekadar godaan saja, dia tak pernah ambil pusing. Untuk menunjukkan keseriusan dalam hal itu, Sumarti punya belati yang selalu dibawa ke mana pun pergi. Sumarti menganggap dirinya sebagai lonte profesional, yang tidak lagi mengikutkan suara hati untuk pertimbangan di setiap tindakannya. Mungkin saja, saking suara hatinya tak pernah dipakai, hingga dia lebih sering mirip seperti sosok perempuan yang tak punya hati. Bahkan mungkin dia memang sudah lupa apa itu suara hati dan cara penggunaannya. Karena kelarisannya, Sumarti menjadi lonte yang paling sering berlaku jor-joran. Bisa jadi karena keadaan itulah yang menyebabkan Sumarti merasa dirinya selalu di atas angin dan akhirnya cenderung menjelma sosok perempuan yang temperamen dan berlidah tajam. Dalam bicaranya seringkali tidak memperhatikan bagaimana perasaan orang lain. Jarang sekali dia mempertimbangkan lebih dulu, apakah bicara dan sikapnya akan menyakiti orang lain atau tidak.

Bukti betapa Sumarti sering bersikap seenaknya, di antaranya yang hampir setiap hari terjadi pada saat pulang dari ngobyek, sebelum masuk ke kosnya, dia selalu membeli jamu dari penjual jamu yang ngetem di depan kosnya. Perihal jamu, Sumarti memang tidak pernah menyepelekan, karena baginya jamu itu telah dianggap sebagai sesuatu yang bisa membuat kebugaran tubuhnya tetap terjaga. Hanya saja dalam Sumarti bersikap kepada penjual jamu tersebut tidak pernah ramah, bahkan dia sering minta dilayani terlebih dulu meski di sana ada beberapa pembeli yang sebelumnya sudah antri, seakan-akan dia ingin dianggap ratu dari segala ratu, yang selalu ingin diistimewakan. Meski baik penjual jamu dan para pengantri merasa tidak senang dengan perilakunya, tetapi mereka tidak bisa berbuat banyak, karena jika sampai di antara mereka ada yang protes, Sumarti bisa langsung bersikap kasar, dan akan semakin bersikap tidak menghormati kemanusiaan mereka. Biasanya dengan terpaksa penjual jamu itu langsung melayani Sumarti. Usai Sumarti menandaskan jamunya, dan pergi dari situ, orang-orang baru mulai menggunjingkannya.

 

Waginah

Waginah lonte juga, tetapi dia belum lama menggeluti dunia perlontean. Bisa dibilang Sumarti dan Waginah berteman. Tentu saja selain karena mereka sama-sama lonte, tempat tinggal mereka dan tempat mangkal mereka pun sama. Bahkan kamar Sumarti dan Waginah di rumah kos tersebut bersebelahan. Meski begitu tampaknya mereka belum akrab, atau memang tidak bisa dekat. Hal itu mungkin dikarenakan selain Waginah lonte pendatang baru, rupanya karakter Waginah berbeda dengan karakter Sumarti. Waginah masih sering mengikutkan peran suara hati dalam setiap tindakannya. Dia masih punya rasa tepa selira. Tetapi karakter yang seperti itu, apakah memang watak dasar Waginah dari semula begitu, atau hanya perasaan Waginah sebagai lonte pendatang baru di lokasi itu. Selain perbedaan tersebut, masih ada beberapa perbedaan antara Waginah dengan Sumarti, dan yang paling menonjol untuk urusan perlontean, wajah Waginah sangat standar, bahkan hidung Waginah cenderung pesek, dengan bodi tubuh yang relatif pendek. Payudaranya kecil, bahkan jika dilihat dalam keadaan telanjang pun, tonjolan payudaranya tetap tidak begitu kelihatan. Jikapun tampak hal itu sepertinya hanya berfungsi sebagai sebuah tanda belaka bahwa di sana adalah tempatnya payudara berada. Bokongnya tepos, bahkan hampir di seluruh tubuhnya tidak mempunyai lekukan yang seksi. Menurut ukuran umum, tentu saja keadaan itu jauh dari keindahan yang dipunyai Sumarti.

baca juga: Ziarah Maaf

Namun begitu, kata orang-orang, keindahan Waginah justru pada saat dia sedang berpakaian lengkap. Aura kewanitaannya justru muncul di saat dirinya tampil anggun dengan pakaian utuh. Dari beberapa lelaki yang suka mencari kenikmatan seksualnya, ada beberapa yang justru keranjingan mencari model-model perempuan dengan bodi seperti milik Waginah tersebut.

Salah satu bukti bahwa Waginah masih memperhatikan suara hatinya, dia tidak serta merta menunjukkan dirinya sebagai lonte di mana pun berada. Dia akan tampil sebagai lonte hanya pada saat dirinya sedang bekerja, dan dia akan berusaha menjaga sikapnya jika pada saat dirinya tidak sedang melonte. Cara yang dipilih Waginah saat berangkat ke Gang Koboi dan pulang usai bekerja adalah satu bukti lagi kalau dirinya masih berusaha menjaga jati diri perlonteannya. Waginah selalu memosisikan penjemputan dirinya di daerah yang aman dari prasangka perlontean. Pemilihan cara-cara yang dipakai Waginah itu sesungguhnya bukan karena alasan dia ingin mengingkari dirinya. Hal itu dilakukan Waginah semata karena dia ingin menjaga perasaan, baik perasaan orang lain yang sedang berinteraksi dengannya maupun dengan perasaannya sendiri. Tetapi jasa tukang ojek yang mengantarkan Waginah ternyata sama dengan cara Sumarti, yaitu tidak hanya kepada satu orang saja.

 

Beno

Waktu Beno masih bersama keluarganya, bapaknya adalah maling kelas teri yang akhirnya mati dimassa saat ketahuan sedang melakukan pencurian di sebuah pasar. Tidak lama dari peristiwa itu, ibunya tiba-tiba stres dan akhirnya mati ngenes. Sejak itu tinggallah Beno seorang diri, dan memutuskan pergi dari rumah yang ternyata bukan pemilik orang tuanya. Beno turun ke jalan dan mulai menggelandang dari kota ke kota. Untuk mempertahankan hidupnya, dia ngemis. Sampai pada suatu ketika dia menemukan sebuah perempatan di Kota Metropolit yang dia rasa ideal untuk ngemis. Seiring jalannya waktu, Beno tampil sebagai penguasa di perempatan itu. Pada saat Beno dewasa, di hatinya mulai ada perasaan malu saat dirinya ngemis. Dia mulai memikirkan cara lain untuk menghidupinya. Beberapa jenis pekerjaan pernah dia coba, di antaranya tukang parkir, tukang bangunan, ngamen, kenek, dan pekerjaan kelas rendah lainnya. Tetapi setelah melewati berbagai percobaan tersebut dia merasa tidak segera menemukan kenyamanan, sampai akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke perempatan itu dan menjalani lagi sebagai pengemis. Meski dia hanya mengemis, tetapi perjalanan hidup Beno sebenarnya cukup mencengangkan. Beno sepertinya memang tidak mewarisi apa yang menjadi kesukaan bapaknya, bahkan Beno merasa belum pernah sekalipun mengambil benda milik orang lain. hanya saja Beno tampaknya termasuk orang yang berdarah dingin. Dia bisa melakukan apapun yang oleh orang lain tak pernah terpikirkan. Terlebih jika di dalam dirinya merasa telah dipermainkan. Orangnya pendiam tetapi sekali kecewa, kemarahannya sering tak terkendali. Mungkin karena hal itulah orang-orang lantas lebih memilih untuk tidak punya urusan dengannya

baca juga: Ibu, Pengembara, dan Puisi Lainnya

 

Beno dan Sumarti

Pertama kali Sumarti bertemu dengan Beno ketika motor ojek yang Sumarti tumpangi mengalami kecelakaan di perempatan di mana Beno menjadi penguasanya. Pada saat orang-orang menolong tukang ojek dan motornya, Beno memilih memperhatikan Sumarti yang waktu itu tampak syok. Atas perawatan Beno, waktu itu Sumarti akhirnya bisa kembali pulih dari trauma. Karena pertolongan tersebut, sebuah tawaran meluncur dari bibir Sumarti yang seksi itu kepada Beno.

“Kau mau jadi tukang antar jemputku? Kau akan kubayar untuk itu.”

“Aku tak punya motor, kau sudah lihat sendiri keadaanku,” sahut Beno. Lantas Sumarti memperhatikan keadaan Beno cukup lama, sebelum akhirnya bicara. “Tinggallah sekalian kau di kosku dan kubelikan kau motor.”

Sejak saat itu Beno bertugas mengantar dan menjemput Sumarti, yang oleh orang di sekitaranku sering dipanggil dengan : Anjelo, yang artinya antar jemput lonte. Entah hal itu dan selanjutnya merupakan kemujuran atau kesialan bagi Beno, karena kepadanya, Sumarti akhirnya juga mengatakan bahwa selain mendapat bayaran sebagai Anjelo, Sumarti juga memberi bonus kepadanya - Beno boleh menikmati tubuhnya kapan pun tanpa perlu membayar.

Sudah kubilang bahwa dalam Sumarti melakukan segalanya tanpa peran suara hati. Dia menggunakan jasa Beno yang kesehariannya tinggal sekamar bersamanya pun juga tidak pernah menggunakan hatinya. Beno mengantar dan menjemputnya, lalu Sumarti  membayarnya. Bahkan ketika di antara mereka ada yang ingin kawin pun langsung melakukannya begitu saja tanpa pertimbangan apa-apa. Tetapi tampaknya tidak demikian dengan Beno. Diketahui kemudian rupanya dalam Beno melakukan segalanya, peran hatinya masih cukup dominan, termasuk di dalamnya perihal hubungan badan dengan Sumarti. Meski begitu Beno merasa tidak bisa berbuat banyak, segala ketentuan mengenai tugas dan hubungannya dengan Sumarti telah ditetapkan di awal. Karenanya Beno menjadi sering merasa bahwa harga dirinya terkoyak. Sebagai lelaki yang masih punya keinginan untuk dihargai sebagaimana mestinya tak pernah mendapat tanggapan yang sepadan dari Sumarti.

baca juga: Lorong

 

Beno dan Waginah

Perjumpaan pertama Beno dengan Waginah terjadi di sebuah malam yang teramat dingin. Waktu itu Beno keluar dari kamar Sumarti dalam keadaan setengah telanjang. Waginah melihat hal itu dan sedikit terkejut. Yang disikapkan Beno dan Waginah saat mereka bertemu itu tampak sama-sama canggung dan terkesan lugu, justru membuat mereka mudah akrab dan akhirnya bisa beberapa kali ngopi bersama. Dalam setiap pertemuan dan perbincangan yang mereka lakukan, tak membutuhkan waktu lama kedua hati mereka saling terpaut, hingga di sebuah malam yang cerah, Beno memutuskan bahwa selain dirinya tetap menjadi Anjelo bagi Sumarti, juga menjadi Anjelo bagi Waginah. Tetapi andai Beno disuruh memilih dia lebih suka jika bisa menjadi Anjelo bagi Waginah saja, terlebih jika bisa  tinggal sekamar bersamanya. Meski semua keinginannya itu tidak lantas kesampaian, tetapi di sebuah malam yang juga teramat dingin, Beno dan Waginah bergumul mesra di kamarnya. Dan peristiwa itu terjadi tepat di saat Beno harus menjemput Sumarti. Bahkan ketika Waginah mengingatkan hal itu, Beno tampak seperti tenang-tenang saja. Sementara waktu itu Sumarti memutuskan untuk pulang dengan menggunakan jasa tukang ojek, dan pada saat Sumarti sampai di kos, tentulah kalian bisa menduganya, bukan? Sampai di depan kosnya, dia langsung mampir membeli jamu, dulu. Ya kalian benar, begitu turun dari ojek dan membayarnya, dia memang langsung mampir membeli jamu. Jamu bagi dia telah dianggap suplemen bagi tubuhnya. Hanya sayangnya, lagak Sumarti selalu membuat penjual jamu itu jengkel. Menurut penjual jamu itu, sikapnya selalu menyebalkan. Setelah menandaskan jamunya dalam beberapa teguk, barulah dia masuk ke kosnya. Tetapi kalian perlu tahu, sesungguhnya yang kutanyakan bukan hal itu.

 

Sumarti, Beno dan Waginah

Yang ingin kuceritakan bahwa malam itu Sumarti menjadi tahu pergumulan Beno dan Waginah. Ya, sesampainya dia di depan pintu kamarnya, dengan jelas sekali, dia mendengar ada suara lenguhan dan rintihan mesra dari dalam kamar Waginah. Mendengar hal itu, Sumarti memusatkan indra pendengarannya. Serasa sebuah radar, Sumarti mulai mengidentifikasi suara tersebut, hingga akhirnya dia merasa yakin menyimpulkan bahwa suara tersebut adalah suara Beno dan suara Waginah. Terlebih dia sudah hapal kebiasaan Beno, yang selalu mengumbar lenguhan di saat sedang melakukan penetrasi. Entah apa yang ada di pikiran Sumarti, sikapnya kali itu tidak seperti biasanya yang selalu tidak mau ambil pusing. Dia tidak jadi masuk ke kamarnya tapi langsung beranjak menuju kamar Waginah yang kebetulan pintunya tidak terkunci, bahkan pintu itu dalam keadaan sedikit terbuka.

baca juga: Di Lidah Para Politisi dan Pendusta: Puisi-puisi Norrahman Alif

Perlahan Sumarti mendorong daun pintu itu. Begitu terbuka, Sumarti melihat Beno dan Waginah dalam keadaan telanjang bulat sedang bergulat mesra di atas ranjang. Mungkin karena saking asyiknya, mereka tidak menyadari kedatangan Sumarti. Keringat yang ada di tubuh Beno dan Waginah menandai bahwa permainan itu sedang berada di puncak-puncaknya. Melihat pemandangan itu, mata Sumarti mendadak memerah. Perlahan dan pasti, tangannya meraih belati yang ada di tasnya. Sumarti berjalan mendekat ke arah dua tubuh bugil itu. Begitu dia sudah dekat dengan bibir ranjang, dan siap-siap menghujamkan belatinya tiba-tiba tubuhnya roboh dan jatuh tersungkur. Beno dan Waginah terkejut dengan suara itu. Spontan mereka melongok ke lantai, mendapati Sumarti tergeletak di sana, dan tangannya sedang menggenggam sebuah belati. Waginah terkejut melihat itu dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah Beno.

“Tenang, Sayang. Semuanya aman. Dia kalah selangkah denganku. Aku sudah titip racun untuk dicampur ke jamu yang dia minum. Jamu yang kupilih itu akan cepat beraksi jika adrenalin peminum dalam keadaan tinggi.”

Meski kisah ini bisa jadi belum berakhir, tetapi sengaja aku cukupkan sampai di sini, dan semoga kalian bisa mengerti makna dari apa yang kukatakan di awal bahwa aku adalah sebuah keadaan yang sesungguhnya keberadaanku bisa teramat jauh dari hidup kalian, tapi juga bisa teramat dekat dengan hidup kalian, bahkan beberapa di antara kalian ada yang suka tinggal di dalamku. Dan jika di antara kalian sekarang sedang berada jauh dariku, hal itu bukan sebuah jaminan akan terus begitu, karena sesungguhnya penawaranku akan selalu merajuk pada kalian.***

  •  

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: