Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Antara Politik dan Moralitas

Oleh: Hermawan         Diposkan: 31 Oct 2018 Dibaca: 1338 kali


Kami ingin mengganti politik dengan moralitas

Albert Camus; Combat, 1944

Setelah bertahun-tahun tanah Perancis diinvasi NAZI, tak cuma Perancis yang kita kenal sebagai laksminya Eropa, jagat Mediterania masih bergetar oleh dentuman bom, lesing senapan mesin, dan beriba-iba keluh orang-orang yang bertarung nasib demi sesuatu yang tanpanya hidup tak pernah punya arti: kebebasan.

Di Perancis kala itu, kolonialisme adalah sebuah arogansi. Ia memilah manusia dengan kategori etnis, memenggal kesadaran demi kejayaan – atas nama perikemanusiaan hierarki jadi sesuatu yang absolut. “Negara membunuh lebih dari jumlah bintang yang dapat dihitung dalam bidang astronomi”, waktu-waktu di mana nasionalisme perang seketika berganti dengan ‘kolonialisme saudara’. Perang memang membangkitkan perasaan senasib, persaudaraan, persatuan, tapi tak pernah menjauhkan orang-orang dari kematian.

Pada awal tahun 1955, manakala semua muslim harus berjalan “membungkuk dan menunggu pantatnya untuk ditendang” oleh militer Perancis atau orang Perancis yang tinggal di Aljazair, Camus menulis Surat Kepada Militan Aljazair yang tertuju kepada Aziz Kessous, “kita dikutuk untuk hidup bersama”. Di tahun yang sama, King mencatat, 1.273 pemberontak tewas dalam perang melawan negara, 73 orang Perancis-Aljazair dan 52 orang Arab-Aljazair terbunuh di jalanan, di toko-toko, di bar, di rumah sakit, tempat-tempat yang membuat seorang pembunuh dapat jelas melihat wajah korbannya. Itu semua terjadi di Aljazair.

baca juga: Bagaimana Pengarang Jepang Meratapi Perang?

Perang saudara, pengasingan, kekerasan, dan segala bentuk “kegilaan pada darah”, adalah tema-tema yang diangkat Camus dalam L ‘Exil et Le royaume (ada dua versi terjemahan dalam edisi bahasa Inggris yang dapat kita temukan dengan judul yang sama dan penerbit yang sama: Exile and The Kingdom, Vintage Books: pertama, terjemahan Justin O’Brien (1957), kedua dan yang paling baru diterjemahkan oleh Carol Cosman (2006); edisi bahasa Indonesia, Pengasingan dan Kerajaan, Octopus). Tidak seperti Le Mythe de Sisyphe dan L’Homme révolté yang membuat pembaca cenderung larut dalam “keasyikan-keasyikan abstrak,” L ‘Exil et Le royaume adalah tulisan Camus yang, mengutip Thody, “mengeksplorasi situasi realistis dalam pengertiannya yang paling konvensional.” Artinya, meski pembacaan dengan pendekatan abstrak tetap dimungkinkan, L ‘Exil et Le royaume pada dasarnya tak bisa dipahami lepas dari sejarah dan konteks permasalahan yang berkembang di Aljazair pada saat karya tersebut dituliskan.

Dari keenam esai yang ada di dalamnya, bagi saya, yang paling menarik adalah L’Hôte. Beberapa kalangan percaya bahwa L’Hôte memiliki makna ambigu ketika harus diterjemahkan dalam bahasa Inggris. King dan Thody, misal, berpendapat bahwa L’Hôte bisa berarti ‘the gost’ (tuan rumah) atau ‘the guest’  (tamu). Keduanya mempertanyakan apakah Daru yang dimaksudkan Camus sebagai Tuan Rumah atau justru Orang Arab itu. Jika kita artikan sebagai Tamu, siapakah Tamu yang dimaksudkan Camus, Orang Arab ataukah Daru? Dalam tulisan itu Camus sendiri menuliskan bahwa Daru bertugas mengantarkan Orang Arab menuju Tinguit; Daru menyambut Orang Arab itu seperti halnya seorang Tamu yang harus diberikan makan dan minum, disiapkan tempat tidurnya…. Namun jika kita kontekskan dengan permasalahan pada masa itu, selisih antara kelompok orang-orang Arab dengan orang-orang Aljazair-Eropa yang saling menuding sebagai yang ‘bukan pribumi’, Daru, tentu saja, adalah seorang Aljazair-Eropa yang berkulit putih. Daru dianggap berada di sisi orang-orang Eropa karena tidak terlibat pemberontakan yang dilakukan orang-orang Arab. Dan persis di situlah kita dapat mengatakan bahwa ia adalah Tamu di tanah Aljazair.

Ambiguitas itu pula yang kerap dilekatkan pada diri Camus. Daru, sebagaimana Camus yang dihujat oleh banyak kelompok-kelompok militansi yang eksis pada masa itu, adalah orang yang tidak ada di mana-mana. Di mata orang Perancis ia adalah orang Aljazair; di mata orang Aljazair ia adalah orang Perancis. Keputusan Camus yang tidak menjelaskan siapa Tamu dan siapa Tuan Rumah, kemudian memberi judul L’Hôte pada cerita itu, kata Derrida, “itulah kejeniusannya”. Beberapa waktu sebelum L ‘Exil et Le royaume diterbitkan, dalam sebuah wawancara Camus berucap, “tidak semua orang Aljazair-Eropa adalah binatang fasis atau penjahat kolonialis.”

baca juga: Historiografi Konser dalam Kontestasi Genre Musik di Indonesia

Pada tahun 2014 rilis sebuah film berjudul Loin des Homes (Far from Men) dalam ajang Venice Internasional Film Festival. David Oelhoffen, sutradara dalam film ini, terinspirasi oleh L’Hôte dalam L ‘Exil et Le royaume karya Albert Camus. Yang harus dipertimbangkan: sinematografi model apa pun, lebih-lebih yang berangkat dari teks, yang banyak menonjolkan detail tak perlu, acapkali luput ditangkap oleh medium visual. Loin des Homes tak sepenuhnya gagal, tentu. Namun menontonnya tanpa membaca teks aslinya juga merupakan sebuah kealpaan.

Akhirulkalam, selamat menonton dan membaca!

  •  

Judul Buku: Pengasingan dan Kerajaan

Penulis: Albert Camus

Penerjemah: Anton Kurnia

Penerbit: Octopus

Tebal: xvi+224 halaman



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: