Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Apa Yang Harus Dilakukan Mahasiswa Setelah Melihat Penindasan

Oleh: Bayu Diktiarsa         Diposkan: 25 Apr 2019 Dibaca: 2865 kali


Pertanyaan tentang mahasiswa harus apa setelah 20 tahun reformasi selalu menggema di setiap diskusi tentang masalah Indonesia. Terbaru, selepas rangkaian pemutaran film Sexy Killers karya Watchdoc Documentary Maker tentang bisnis tambang yang menghubungkan kedua pasangan calon presiden pada Pemilihan Presiden 2019 menimbulkan pertanyaan pada benak mahasiswa. Pertanyaan tentang solusi di setiap akhir sesi, dapat ditebak “apa yang harus kita lakukan sebagai mahasiswa?

Sebenarnya, jawaban mengenai pertanyaan klasik tersebut telah dibahas tuntas pada dwilogi buku Eko Prasetyo, Bangkitlah Gerakan Mahasiswa dan Bergeraklah Mahasiswa. Buku Bangkitlah Gerakan Mahasiswa telah terbit sejak tahun 2015 silam. Mendengar pertanyaan di atas, menarik untuk membaca ulang kedua buku tersebut. Buku yang kemudian menjadi referensi utama gerakan mahasiswa selepas reformasi tersebut memuat kisah penindasan yang terjadi di Indonesia dan gelora semangat mahasiswa yang tertidur dewasa ini. Sesuai dengan sindiran dalam judul, maka ajakan bangkit adalah kata yang tepat untuk memulai kisah panjang buku setebal 219 halaman itu.

 Watchdoc Image

Watchdoc Image

Siapa sebenarnya musuh mahasiswa adalah narasi awal yang ditawarkan. Bukan musuh pada orang per orang, tapi mengajak pembaca untuk berpihak kepada kaum tertindas. Sesuai yang tertuang pada kutipan pertama dari Victor Serge yang secara gamblang mengantar untuk memasuki buku ini. Eko Prasetyo ingin menyalakan kembali api semangat mahasiswa yang telah kehilangan jati diri dalam bahasa Victor Serge:

Pesan Untuk Mahasiswa; Kau ingin jadi apa? Pengacara, untuk mempertahankan hukum kaum kaya, yang secara inheren tidak adil? Dokter, untuk menjaga kesehatan kaum kaya, dan menganjurkan makanan yang sehat, udara yang baik dan waktu istirahat kepada mereka yang memanggsa kaum miskin? Arsitek, untuk membangun rumah nyaman untuk tuan tanah? Lihatlah di sekelilingmu dan periksa hati nuranimu. Apa kau mengerti bahwa tugasmu adalah sangat berbeda: untuk bersekutu dengan kaum tertindas, dan bekerja untuk menghancurkan sistem yang kejam ini?”

Bersekutu dengan kaum tertindas dan bekerja menghancurkan sistem yang kejam ini. Solusi yang secara gamblang telah tersedia bagi mahasiswa yang harus bergerak melawan penindasan.

Eko Prasetyo menggambarkan masalah sosial kepada pembacanya, dengan bahasa yang mudah dipahami untuk mengajak pembacanya untuk terlibat dalam gerakan. Eko memaparkan masalah di lingkungan pendidikan tinggi seperti uang kuliah mahal, larangan berdiskusi, represi kepada mahasiswa, masalah sumber daya mahasiswa dan orientasi pendidikan yang bermasalah. Masalah lain di luar lingkup kampus seperti isu kenaikan harga bahan bakar, kerusakan lingkungan, perampasan tanah, kekerasan seksual, pelayanan publik yang semakin mahal juga ditulis dalam tutur yang menggugat, tapi bukan dengan gaya akademik yang kaku.

baca juga: Melampaui Imajinasi Abad Ini

Buku ini berangkat dari kebijakan kampus, yang mana mahasiswa tidak diajak untuk melihat keadaan pendidikan seperti yang diajukan Paulo Freire dalam Pendidikan Kaum Tertindas. Suasana pembelajaran yang kaku, ditambah dengan absensi yang ketat menjadi akar masalah mengapa mahasiswa menjadi tidak peka dengan sekitar. Lebih buruk lagi sistem pendidikan di Indonesia, menjadikan kampus sebagai tempat untuk meraup keuntungan yang sebanyak-banyaknya.

Setelah diajak keluar kelas, Eko menjelaskan tentang contoh-contoh gerakan. Mulai dari tokoh Tan Malaka, hingga Soekarno yang dijadikan bab khusus yakni dialog imajiner Bung Karno dengan Pers Mahasiswa. Dialog ini menunjukkan pesan yang ingin disampaikan Soekarno tentang gagasan bahwa mencintai sejarah dan menggali kembali gagasan gerakan pemuda seperti awal kemerdekaan. Semua ditulis atas dasar yang sama bahwa mahasiswa harus merebut kemerdekaannya, kemerdekaan berpikir dan berpihak pada kebenaran. Ditambah dengan contoh bagaimana teladan pada sosok Hatta, Sjahrir, dan para demonstran di masa orde baru merupakan contoh bagi mahasiswa tentang pembelajaran yang baik dari guru bangsa.

Kekuatan buku ini adalah keyakinannya tentang mahasiswa sebagai agen perubahan bangsa. Pada setiap permasalahan bangsa, mahasiswa ditempatkan sebagai tokoh sentral yang kemudian membangun kembali kekuatan gerakan mahasiswa. Maka tidak heran, ajakan dan hasutan dengan nada optimisme, ditambah dengan kutipan dari berbagai tokoh menghiasi setiap bab buku ini. Mulai dari kutipan Plato tentang kesabaran para pendidik anak muda “Mereka yang mengajar anak – anak muda, senantiasa menyiapkan tempat untuk sabar dan maaf, agar tidak kaku dan tidak cepat marah”. Hingga kutipan sajak puisi dari W.S Rendra dan Wiji Thukul yang menjadi sajak penguat dan harapan bagi mahasiswa sebagai agen perubahan.

baca juga: Sebuah Rumah Bergelimang Waktu

Terakhir, buku ini tidak akan lepas dari ingatan setelah menandaskannya. Sebagai penyemangat dan jawaban bagaimana seharusnya menjadi mahasiswa adalah kekuatan agar tetap setia pada jalur perjuangan. Agar tetap berpihak melawan para penindas. Selamat menjadi pejuang. Hidup Mahasiswa!

Kami datang.

Kami datang dari seluruh penjuru

Setiap penghalang revolusi kami terjang

Kami Terjang

(Nora, Kami Datang)

  •  

Judul: Bangkitlah Gerakan Mahasiswa

Penulis: Eko Prasetyo

Penerbit: Intrans Publishing

Tebal: 219 halaman

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: