Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Aristayanu BK

Aristayanu BK atau Aye adalah mahasiswa Ilmu Sejarah di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Tergabung sebagai Serikat Peresensi Yogyakarta dan Lingkar Studi Warung Sastra (LISWAS) di Jombang. Baca tulisan Aye di sini.

 

Memperbesar Kemungkinan dengan Imajinasi
Meski novelet ini dibuka dengan kesedihan dan ditutup dengan kepasrahan akan realita juga kematian beruang kutub dalam berita karena penjaganya merasa terejek dengan pandangan si beruang kutub, setidaknya kalimat “Semua tahu bahwa seiring dengan datangnya fajar, tragedi dan kematian akan kembali” berputar dalam kepala saya untuk terus menerus memperbesar kemungkinan. Novelet ini tipis, bisa dibaca dengan sekali duduk, tapi untuk memahami pesan-pesan Baltazar sangat disarankan untuk memberi waktu untuk berefleksi.

 

Genosida Sebagai Buah dari Modernitas
Buku Genosida dan Modernitas Dalam Bayang-bayang Auchwitz ini mampu menjadi pengantar untuk memahami persoalan-persoalan pembunuhan suatu etnis, ras, dan agama tertentu. Genosida bukan hanya soal darah dan nyawa, namun juga soal penghancuran mental. Buku ini tak lepas dari kekurangan teknis seperti kesalahan pengetikan dan pemenggalan kata, tapi yang lebih disayangkan adalah tidak sama sekali membahas Indonesia di dalamnya.

 

Membebaskan Diri Bersama Para Seniman
Terlepas dari semua para tokoh itu, buku ini masih sangat relevan untuk menambah kebebasan jiwa para pembacanya. Jika membaca adalah upaya untuk memberontak kepada kebodohan, rasanya tak berlebihan jika buku ini memang diperuntukkan untuk demikian.

 

Menyimpan dan Mengunci Merah dalam Laci dan Ingatan
Membaca Kejatuhan dan Hati, mengingatkan saya kepada Leo Toltstoy. Kisah yang ia tuturkan dipenuhi dengan konflik-konflik yang berurusan dengan keluarga. Kesabaran membaca itu pun terjawab, ia menyertakan nama Toltstoy dalam ceritanya. Tampak betul jika Rukiah memang dipengaruhi oleh Toltstoy. Namun kepiawaiannya dalam mengolah cerita, tak menjebaknya sebagai Toltstoy a la Indonesia. Rukiah tetap Rukiah, perempuan yang menuturkan keresahan akan budaya dan politik di sekitarnya melalui novel yang ada ditangan saya ini.

 

Membaca untuk Menertawakan Dunia
Jika Bolívar menuju ke gubuknya kembali ke novel-novel yang membicarakan cinta hingga ia lupa dengan kebiadaban manusia, dan Sepúlveda menamatkan buku itu dengan ucapannya bahwa sastra adalah cara untuk mencapai tujuan.

 

SI JURU TULIS MATI TRAGIS
Disarankan, jangan membaca Bartleby ini sebelum tidur, ada baiknya membacanya di sore hari, tepat sebelum matahari hampir saja tenggelam, dengan minuman hangat yang menemani anda. Dan jangan berhenti bercerita tentang si Juru Tulis ini, karena begitu pentingnya penyadaran akan masalah yang kerap kali diacuhkan sesama manusia, bercerita.