Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Bagaimana Pengarang Jepang Meratapi Perang ?

Oleh: Muhammad Aswar         Diposkan: 19 Oct 2018 Dibaca: 1118 kali


Konsistensi yang luar biasa dalam jagat kepengarangan Jepang memunculkan deretan karya dan nama yang tidak hanya indah, tetapi berpengaruh bagi dunia. Mungkin bisa kita mulai dari pengarang modern seperti Eiji Yoshikawa yang berhasil mengaktualisasi kehidupan samurai dalam dua novelnya, Musashi dan Taiko; lantas Haruki Murakami yang dalam beberapa tahun belakangan selalu masuk sebagai nominator peraih Nobel Sastra.

Terlebih dalam sastra genre anak. Ribuan, bahkan mungkin jutaan judul komik Jepang dapat kita temui di laman-laman internet. Dahulu hingga sekarang mereka memiliki penulis-penulis bagi komik-komik dunia, Captain Tsubasa, Naruto, bahkan One Piece yang telah ditulis sepanjang dua dasawarsa. Bagaimana mereka mereproduksi peninggalan-peninggalan kebudayaan, menggabungkan dengan inovasi-inovasi dalam bidang sains dan teknologi.

Pantas saja jika Eiko Kadono, seorang penulis perempuan Jepang, memenangi Hans Christian Andersen Awards 2018 kategori penulis buku anak-anak. Penghargaan tersebut diberikan oleh The International Board on Book for Young People (IBBY) dalam acara Bologna International Children’s Book Fair 2018. Selain kategori penulis, kategori lainnya adalah penghargaan ilustrator buku anak yang diberikan kepada Igor Oleynikov, ilustrator Rusia yang sering menggarap ilustrasi cerita-cerita dari penulis besar Rusia seperti Pushkin, Gogol dan Tortsky.

baca juga: Revolusi Telah Mati (?)

Penghargaan HCMMA adalah penghargaan yang setara Nobel Sastra bagi buku anak-anak. Penghargaan ini diberikan setiap dua tahun sekali bagi para penulis dan ilustrator buku anak. Eiko Kadono sendiri merupakan penulis Jepang ketiga yang meraih HCMMA setelah Michio Mado dan Nahoko Uehashi. Sementara ilustrator Jepang yang pernah meraihnya adalah Suekichi Akaba dan Mitsumasa Anno.

Sebagaimana rilis para juri dalam menilai karya-karya Eiko Kadono, bahwa karya Eiko “Memiliki pesona, romantisme dan semangat yang besar, dipadukan dengan humor-humor khas Bangsa Timur yang menggelitik, atau tentang petualangan seorang penyihir 13 tahun bernama Kiki, serta novelnya yang mengisahkan seorang gadis pada Perang Dunia II yang harus melewati jalan berliku menuju sekolah. Buku-buku Kadono memberikan kejutan di mana-mana.”

Kadono telah melakukan lawatan ke seluruh dunia. Namun apa yang ditulisnya selalu kembali pada karakter perempuan Jepang yang tak terduga. Dalam sejarahnya, perempuan Jepang haruslah bisa mengatasi gangguan-gangguan dari lingkungannya, menghidupi rumah sendiri, dan menyelesaikan masalah sendiri. Semua itu disebabkan karena para lelaki yang kebanyakan menjadi prajurit dan samurai, lebih sering berada di luar rumah.

baca juga: Terjebak di Labirin (Sejarah) Sebuah Kota

Dua novel “masterpiece” Kadono telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kiki’s Delivery Sevice (Majo no Takkyubin) diterjemahkan oleh Gramedia Pustaka Utama dengan judul Titipan Kilat Penyihir, yang diilustrasikan oleh Akiko Hayashi. Novel lainnya, Three Little Ghosts juga diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Karena mendapatkan banyak sambutan dari publik, Kiki’s Delivery Service juga telah diadaptasi menjadi film layar lebar, baik dalam bentuk animasi oleh Hayao Miyazaki, maupun live action oleh Takashi Shimizu. Rumah Produksi Ghibli selaku pembuat film animasi garapan Hayao Miyazaki, di awal tahun 2018 melakukan tour dan nontong bersama untuk film Kiki.

Eiko Kadono lahir di Tokyo pada 1 Januari 1938. Di usia sepuluh tahun ia dievakuasi ke Jepang barat untuk menghindari dampak Perang Dunia II yang sedang berkecamuk. Setelahnya, ia melanjutkan kuliah di Nikon Fukushi University, lalu mengambil jurusan Sastra Inggris di Waseda University. Setelah lulus pada 1960 di usia 25 tahun, ia pindah ke Brazil dan menetap di sana selama dua tahun. Dalam lawatannya itu, Kadono sempat menuliskan kisahnya berjudul Brazil and My Friend Luizinho (Ruijinyo shonen, Burajiru o Tazunete) yang mengisahkan tentang seorang lelaki Brazil yang sangat mahir dalam tarian samba.

Kadono terbilang terlambat dalam menulis. Setelah menuliskan catatan tentang Brazil, baru pada usia 35 tahun ia mulai menulis novel untuk anak-anak. Sesuai pengakuannya dalam sebuah konfrensi pers, yang ditranskrip oleh Japan Forward, “Saya sejatinya adalah pembaca, bukan penulis. Saya sangat terlambat menyadari bahwa saya suka menulis. Setelah itu, saya memutuskan untuk mengisi sisa-sisa umur saya dengan menulis, meski tulisan itu ditolah oleh penerbit.”

baca juga: Merekam Tuhan dalam Pemikiran Filsuf-Filsuf Yunani

Kadono telah menerbitkan 200 karya, termasuk buku bergambar, cerita-cerita remaja, dan sekumpulan tulisan non-fiksi. "Masterpiece" Kadono adalah novel berjudul Kiki’s Delivery Service.  Pertama kali diterbitkan pada 1985, Kiki menceritakan tentang seorang gadis penyihir berusia 13 tahun yang berkeliling dengan sapu ajaibnya bersama seekor kucing hitam, Jiji. Petualangannya berkisar tentang bagaimana ia bertemu dengan manusia, mengelilingi dunia, demi meningkatkan kemampuan sihirnya. Kiki telah terjual sebanyak 1,7 juta kopi di Jepang, dan telah diterjemahkan ke dalam sembilan bahasa, termasuk Indonesia.

Kiki dan Imajinasi Gadis Jepang pada Perang Dunia II

Tidak seperti penulis-penulis lainnya dari Jepang yang menggarap tema Perang Dunia II yang dampaknya serius dan muram. Kadono mengambil posisi yang lain pada dunia anak-anak.

“Pertanyaan yang sering kudapat dari orang adalah apa tema utama dari tulisanmu, atau tema-tema tulisanmu haruslah seperti ini dan itu. Aku tak menulis dengan tema apa pun, meski di usiaku yang menginjak 83 tahun, aku telah melewati berbagai tema dalam kehidupan.

baca juga: Skandinavia dan Krisis Keyakinan

Jepang, ketika aku berusia 10 tahun, adalah negara yang hanya memiliki satu tema di mana-mana: Perang. Tak ada ruang untuk mengembangkan imajinasi, bahkan bagi kami yang masih berumur belia. Setelah perang, kata-kata yang sukar di dalam buku banyak yang dihapus, jika tidak diberikan tanda merah, dan dianggap tidak untuk dipahami. Seluruh kerumitan itu menggangguku, sehingga kuputuskan untuk menulis apa saja, tanpa membelenggunya di dalam tema tertentu, sebagaimana perang telah memberikan tema sentral bagiku di masa kecil.”

Beberapa komikus Jepang berdiri bersama Kadono. Mereka, meski berlatar Perang Dunia, menggarap karya-karya yang ceria dan penuh humor. Seperti misalnya Si Jenius Bakabon karya Fujio Akatsuka yang pernah ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta Indonesia sekitar tahun 1990-an.

Perang tidak mesti dibicarakan dengan gurat wajah yang serius, begitu juga kehidupan. Sebab imbasnya bukan hanya pada politik dan negara, tetapi yang terutama adalah generasi muda yang kehilangan imajinasi dan masa-masa kecil yang bahagia. Olehnya, pantaslah Eiko Kadono berjasa besar dalam hal ini. Semoga tumbuh Kadono-Kadono lain di tengah ributnya masalah politik nasional dan global bagi negara kita, untuk menertawakan dan menyelamatkan generasi yang butuh kesegaran.

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: