Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Bahaya Laten Anti-Intelektualisme

Oleh: Joko Priyono         Diposkan: 02 Nov 2019 Dibaca: 1255 kali


Pada era keterbukaan dalam ruang demokrasi maupun kebebasan berpendapat, kita seringkali menjumpai fenomena segelintir orang atau bahkan sekelompok yang sangat begitu anti pati terhadap intelektualitas. Mereka berada pada pusaran berkilah dengan pelbagai dalih—untuk kepentingan; memenangkan  pertarungan wacana di ruang publik. Padahal, sejatinya tak ada sedikitpun muatan intelektualisme pada dalih-dalih yang keluar oleh lisan dalam bentuk argumen. Degradasi terjadi dalam ruang wacana. Tak ada lagi kenyataan “tulisan dibalas dengan tulisan, wacana dibalas dengan wacana, dan teori dibalas dengan teori.”

Sialnya, di era pasca kebenaran (post truth), fenomena tersebut lazim ditemui di pelbagai platform media sosial—facebook, twitter hingga instagram. Para warganet kerapkali terjerembab pada perdebatan tak bersarang maupun debat kusir atas diskursus yang terlontarkan pada ruang media sosial. Mereka saling menyalahkan, mendiskreditkan maupun menyetigma antara satu dengan yang lain. Bahkan, tak tanggung-tanggung, sering juga kemudian menyerang pada perihal yang bersifat pribadi maupun privat. Dalam tinjauan filsafat disebut sebagai argumentum ad hominem.

Mengacu pada pandangan sejarawan berkebangsaan Amerika Serikat, Richard Hofstader, anti-intelektualisme diindikasikan dengan perendahan, purbasangka, penolakan, dan perlawanan yang terus-menerus, ajek, serta konstan terhadap dunia ide dan siapa pun yang menekuninya. Mudah mencurigai teori tersebut membawa seseorang yang anti terhadap intelektualisme pada gejala akut; memandang teori yang berkembang di dalam ruang publik maupun diskursus pengetahuan sebagai angin lalu yang tak mendapat perhatian. Ekspresinya sangat begitu beragam.

baca juga: Memerkarakan Max Havelaar

Di jagat interaksi nyata, fenomena anti-intelektualisme itu juga banyak terjadi dalam kehidupan. Sebut saja adalah peristiwa pembubaran diskusi oleh pihak aparat tanpa alasan yang jelas, perampasan buku dengan dalih membawa kepentingan ideologi tertentu, bahkan upaya represif yang terjadi pada gerakan massa yang ingin menyuarakan protes atas ketidakadilan yang terjadi. Dalam hal ini, negara sangat begitu dominan melakukan hegemoni pengetahuan dan kuasa dengan menggunakan alat berupa pihak aparat dengan pelbagai wujudnya. Efek yang dilahirkan tentu saja adalah semakin tidak terbukanya ruang-ruang dalam sistem demokrasi.

Esais, Zen RS pernah menuliskan esai dengan berjudulkan Wabah Anti-Intelektualisme (2016). Di salah satu bagian, ia memaparkan konsekuensi yang lahir atas fenomena anti-intelektualisme—budaya debat tidak tumbuh. Hal tersebut kemudian menjadikan kritik dihambat dengan pelbagai ragam caranya; mulai interogasi, diadili, ditangkap dan bahkan dipenjara. Zen juga tak menampik ketika klise seperti “kritik harus bertanggung jawab” maupun “kritik harus disertasi solusi” dilontarkan dalam ruang “anti-intelektualisme”. Pada kenyataannya, dengan dalih kritik yang tak disertai oleh solusi hanyalah dianggap sebagai teori dengan pelbagai ejekan yang terkesan meremehkan.

Pendulum ketidaksanggupan dalam memaknai apa yang menjadi hakikat dari intelektualitas itu terjadi bukan hanya di kalangan masyarakat awam, namun melainkan juga pada kalangan akademik. Dalam hal ini, kaum terpelajar tak luput mengalami terjebak dalam lingkaran (circle) tersebut. Ini nestapa, tatkala mereka yang diharapkan mengemban tanggung jawab intelektual tapi yang terjadi adalah kealpaan. Di banyak kampus yang menanungi ribuan mahasiswa terjadi kuldesak budaya anti-intelektualisme yang sangat berarti, seperti halnya; tidak suburnya diskusi maupun kajian intelektual hingga rendahnya minta membaca.

baca juga: Yang Terurai dari Tabrakan Dini Hari Tadi

Perihal tersebut pernah diutarakan oleh Andi Hakim Nasution dalam esai panjangnya yang berjudulkan Ketekunan yang Langka (Bandung Raya, 2001). Ketika itu Andi banyak mengetengahkan bagaimana kultur yang berkembang di dunia akademik terkadang tidak menekankan pada kultur kehidupan maupun cuaca akademik sebagaimana mestinya—memperdalam kajian keilmuan dengan pelbagai ragam diskusi hingga lahirnya budaya inovasi atas pergulatan intelektual yang ada. Justru, yang terjadi adalah pelbagai masalah iklim akademik yang pada akhirnya mengancam keberadaan dunia akademik itu sendiri.

Kajian demi kajian dalam mencari jalan keluar tersebut sudah barang tentu menjadi keresahaan bersama dalam dinamika dan pergeseran ilmu pengetahuan. Bila tidak demikian, kultur pengetahuan, ruang dialektika hingga narasi maupun pola berpikir dalam mewujudkan masyarakat ilmiah terancam. Kecenderungan demi kecenderungan yang lahir pada kenyataannya adalah dalam sebuah interaksi maupun komunikasi multikultural; saling curiga dan berprasangka antara satu dengan yang lain. Tak menutup kemungkinan, efek domino yang berkepanjangan tersebut juga mengancam jurang komunikasi ilmu pengetahuan.

Kabar buruknya, dalam tinjauan kebiasaan personal dari setiap orang, kerapkali naluri seseorang dalam menyimpulkan sebuah keputusan terjerembab pada perihal “kenyamanan otak”. Hal tersebut pernah diutarakan oleh Nirwan Ahmad Arsuka dalam karyanya yang berjudul Percakapan dengan Semesta (2016). Ia menuliskan—otak memang cenderung mencari kesimpulan yang menenteramkan, tak peduli jika kesimpulan itu tak berdasar, dan ampuh hanya untuk mengecoh diri dan merusak sesama. Tentu saja hal ini memperunyam keadaan yang ada dalam kultur pengetahuan yang sedang berkembang.

baca juga: Revolver Kami yang Penuh Cinta dan Cha-Cha-Cha

Di tengah-tengah heterogenitas yang ada dalam kehidupan bermasyarakat, secara konsep pengetahuan—setiap orang membawa kepentingan masing-masing. Hal tersebut meliputi pada persoalan hukum, politik, sejarah, pendidikan, sains, filsafat, lingkungan, ekonomi, pertanian dan lain sebagainya. Sebagai bagian dari masyarakat ilmiah, idealnya memang memiliki nalar dalam membangun komunikasi atas pengetahuan-pengetahuan yang digeluti. Tujuannya, tidak lain dan tidak bukan adalah membentuk peradaban yang menerima kritik, menghargai pengetahuan, mengurangi prasangka dan memaknai hakikat dari adanya teori.

Di luar itu, kita agaknya perlu memahami betul akan pemaknaan ruang publik. Ruang publik merupakan ruang terbuka tempat bergumulnya aneka penafsiran, ideologi, dan keyakinan yang berbeda-beda. Yang mana,  mereka bertemu, saling mendengarkan, saling menerima hingga saling mengoreksi dengan tujuan membuka peluang akan sebuah berbahan. Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul Ancaman terhadap Ilmu Pengetahuan (2017), Karlina Supelli menekankan akan dinamika yang terkadang terjadi pada ruang publik. Tulisnya, ruang publik rusak ketika semakin banyak identitas—agama, suku maupun ras—bertarung karena memutlakkan konstruksinya masing-masing. Begitu.

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: