Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Bangsa yang Malas

Oleh: Riduan Situmorang         Diposkan: 05 Oct 2019 Dibaca: 1726 kali


Barangkali, bangsa kita adalah bangsa yang ditakdirkan untuk malas, terutama untuk menerima, memproduksi, dan mengeksplorasi informasi. Setidaknya, ini terlihat dari minat baca kita yang sangat rendah dari tahun ke tahun. Pada tahun 2016 lalu, misalnya, The World Most Literate Nations (WMLN) telah menempatkan kita pada peringkat 60 dari 61 negara. Teranyar, awal Desember lalu, PISA telah mengeluarkan hasil surveinya di mana posisi kita juga tetap terpuruk dan terburuk. Memang, pada hasil PISA itu, kita sudah mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan hasil survei sebelumnya meski belum signifikan.

Dari ranah sains, misalnya, kita meningkat menjadi 403 poin dari yang sebelumnya hanya 382 poin. Pada ranah matematika, kita terdongkrak dari 375 menjadi 386 poin. Sementara itu, pada bidang literasi, kita hanya mengalami peningkatan 1 poin menjadi 397. Artinya, literasi kita tidak berkembang dengan maksimal. Senada dengan itu, survei abangan dari PISA (siswa berumur 15 tahun), yaitu PIAAC (16-24 hingga 55-65 tahun), juga sudah lebih dahulu meneguhkan hal yang sama.

Di PIAAC, pada ranah literasi dalam setiap kategori umur, kita mendapatkan skor paling rendah, yaitu <1, di mana level skor dibuat dalam 6 level (<1 paling buruk dan level 5 paling baik). Padahal, level <1 menurut versi OECD sangat sederhana. Level <1 sebenarnya cukup sekadar mampu membaca teks singkat tentang topik yang sudah akrab untuk menemukan satu bagian informasi spesifik. Untuk menyelesaikan tugas itu, hanya pengetahuan kosa kata dasar yang diperlukan dan pembaca tidak perlu memahami struktur kalimat. Tetapi, lagi-lagi, kita belum mampu melewatinya.

baca juga: Politik Jalanan Jacques Rancière

Jasmerah

Inilah yang semakin meneguhkan bahwa indeks membaca kita yang hanya 0,001 memang benar-benar nyata. Ini juga yang semakin menandaskan bahwa kita adalah bangsa yang malas. Begitupun, “takdir malas” ini sebenarnya bukan warisan dari para leluhur. Leluhur kita bukan orang malas. Justru, leluhur kita adalah insan yang sangat produktif dan eksploratif. Seperti Candi Borobudur dan kisah heroik di mana Majapahit dan Singosari yang pernah berjaya bisa menjadi salah bukti sahih.

Saya kira, itulah mengapa Bung Karno selalu dengan berapi-api menyebutkan semboyan jasmerah (jangan melupakan sejarah). Sejarah yang tidak hanya sekadar mengetahui bagaimana bangsa kita pernah ditindas, lalu bersatu untuk menumpasnya, tetapi juga sejarah tentang kesadaran atas kegemilangan, kegigighan, terutama atas keniscayaan bangsa kita. Kesadaran itu berupa, seperti kata Bung Karno, bahwa Pancasila bukan merupakan hasil temuan, melainkan hasil galian. Artinya, Pancasila adalah warisan dari leluhur kita yang memang gemar bergiat literasi.

Sedikit bukti untuk ini, misalnya, adalah bahwa kalimat yang dicengkeram Pancasila: Bhinneka Tunggal Ika merupakan hasil karya nenek moyang yang dirangkum dalam Kitab Sutasoma bikinan Mpu Tantular. Lalu, kini, yang mendesak untuk dipertanyakan adalah, bagaimana kita sebagai generasi penerus mewarisi semangat dari para leluhur itu? Bagaimana kita pada posisi di mana pendidikan sudah diacak sedemikian rupa dan sedemikian sering, adakah kita telah berhasil setidak-tidaknya menciptakan karya sefenomenal Candi Borbudur? Adakah kita telah melahirkan karya segemilang Kitab Sutasoma? Adakah kita telah berjaya di lautan?

baca juga: Kenangan Bergambar Atas Kejahatan Orde Baru di Buru

Baiklah, barangkali, kisah itu terlalu jauh untuk dibandingkan. Karena itu, mari ambil generasi yang lebih dekat dengan kita, seperti generasi para pendiri bangsa, misalnya. Mari ditanyakan, adakah karya kita yang sudah menyerupai apa yang dibuat oleh Bung Karno, Moh. Hatta, M. Yamin, dan Tan Malaka, yang mana pada usianya yang masih belia (di bawah 30 tahun) sudah berhasil membuat karya adiluhung yang menggetarkan dunia internasional? Dan, yang lebih hebat, itu semua justru dilakukan pada masa penjajahan? Bung Karno dan Bung Hatta harus dibuang, bahkan Tan Malaka harus bergerak dari satu tempat ke tempat lain selama hidupnya?

Terus terang, saya merinding mendengar kisah-kisah gemilang tersebutkan di atas. Saya lebih-lebih merinding tentang bagaimana Amir Syarifuddin yang dalam perjalanan ketika hendak dihukum mati masih juga menyempatkan diri untuk membaca karangan William Shakespeare yang sudah menjadi klasik. Betapa tidak, ternyata ada masa-masa bahwa semangat bangsa ini untuk tetap produktif masih terpelihara meski badang terkekang, bahkan meski badan hendak digiring menuju kematian sekalipun. Lalu, bagaimana kalau ini dikomparasikan dengan generasi masa kini?

Saya harus mengatakan, meski itu sangat satiris, bahwa saya lebih-lebih merinding melihat generasi masa kini. Betapa tidak, bangsa yang besar di tengah teknologi yang semakin mudah, di tengah pendidikan yang semakin murah, justru melahirkan anak-anak bangsa yang malas. Literasi digital yang mestinya mudah justru membuat mental kita menjadi instan. Alih-alih berkarya, kita justru lebih doyan berhuru-hara. Setiap ada berita provokatif, misalnya, kita tampil paling depan untuk membagi-bagikannya ke teman-teman di media sosial tanpa menyaringnya terlebih dahulu, tanpa memikirkan dampaknya, bahkan tanpa peduli apakah berita itu hanya isu belaka.

baca juga: Orde Film

Akan Berlanjut?

Nyata sekali perbedaan itu. Jika sebelumnya, melalui pendidikan, kita melecutkan persaudaraan. Kini, melalui pendidikan dan teknologi, kita merongrong persaudaraan. Yang lebih menyedihkan, pendidikan justru membuat sekolah menjadi rumah untuk bermalas-malasan, sekolah menjadi tempat menggemukkan badan, sekolah menjadi sekadar tempat antre untuk mendapatkan ijazah. Tak perlu ada kerja keras, cukup hadir tanpa berkarya, maka siswa akan lulus dan guru akan naik golongan. Bahkan, ada kesan yang sudah kita sama-sama tahu, cukup dengan fulus, maka lulus akan mulus.

Mudah sekali membuktikan ini. Setiap ada UN, misalnya, pernahkah kita steril dari pemberitaan tentang bocornya UN? Justru, kita sering mendapati di mana guru menjadi mafia penjawab soal. Pada beberapa kasus, siswa bahkan dibuat semacam agen atau distributor penjual jawaban. Andai sekolah bukan tempat untuk bermalas-malasan, tetapi untuk belajar dan berkarya, hal ini pasti tak akan terjadi. Menariknya, pemerintah tetap malas untuk mengakui keculasan ini. Pemerintah lebih suka bersiasat dengan menghadirkan berjuta pengawas, mendatangkan polisi dan TNI, lalu belakangan membuat UN sebagai cara untuk mendapatkan indeks integritas.

Maka, keculasan itu berkecambah dan kita malas untuk menumpasnya. Nyata kini, bahwa tidak hanya siswa, guru dan dosen pun melakukan keculasan serupa. Masih segar di ingatan kita di mana dua tahun lalu, Dirjen Sumberdaya Iptek dan Dikti merilis data 10 ribu dosen mengikuti sertifikasi, tetapi sebanyak 6 ribu di antaranya tidak lulus. Tidak lulusnya juga karena dosen-dosen itu melakukan plagiarisme. Mengapa plagiarisme? Karena mereka sudah malas untuk berkarya, bahkan untuk mengotak-atik data sekalipun. Apakah hal ini akan berlanjut? Terus terang, saya jadi malas untuk menerawangnya!

  •  

  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: