Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Being an Amazingly Creative Person Belajar Bijak ala Orang Jawa

Belajar BerTeologi

Description
Seharusnya orang belajar teologi, karena dia memang mau dan suka mempelajarinya. Alasannya, karena dengan teologi itu orang ingin mencerahkan, mempertahankan, dan memperdalam imannya.
Stock: Tersedia

#TetapKirimBacaan lihat promo di bawah:


Kategori : Agama dan Filsafat

Sering ia bilang: "orang yang berteologi harus berani mencangkul lebih dalam" ...untuk sampai ke humus teologi. Apakah kira-kira humus teologi itu? Pertama-tama adalah  motivasi dirisendiri. Seharusnya orang belajar teologi, karena dia memang mau dan suka mempelajarinya. Alasannya, karena dengan teologi itu orang ingin mencerahkan, mempertahankan, dan memperdalam imannya.  
—Sindhunata
 
"Kalau Allah datang, apa yang dirasakan?" Seorang bercerita dengan sedih dan sambil  menangis. la terharu karena Allah mau menghibur. Tapi romo Kieser langsung bangun dan berkata: "Allah tidak pernah datang untuk menghibur melainkan la datang untuk menjadi sesama. la menjadi sesama dalam diri Yesus yang juga menderita lahir sampai wafat. Allah  menjadi sesama sampai saat yang paling pahit dalam pengalaman manusia kita."
—Surat dari Wirogunan


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

Info Pengiriman:  Pesanan masuk tgl 21 - 27 Mei 2020 akan dikirim tgl 27 Mei 2020

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---
Kategori : Agama dan Filsafat
ISBN : 9789791088138
Ketebalan : xiv + 370 hlm | HVS
Dimensi : 16 x 22 cm | Softcover
Bahasa : Indonesia, 2008
Stock: Tersedia
Penerbit: Penerbit USD
Berat : 400 gram
Product Tags:

Terakhir dilihat


Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by