Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Berpuisi Sampai Jauh

Oleh: Bandung M         Diposkan: 12 Feb 2019 Dibaca: 693 kali


Pada masa 1980-an, Afrizal Malna masih berada di “kutukan” Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri, dan Sapardi Djoko Damono. Penggubahan puisi ada di kecamuk estetika dan “bimbang” bahasa. Ia mulai membuat perhitungan atas biografi dan lumuran sejarah bahasa Indonesia. “Bimbang” belum terlalu mengeras atau memiliki rasa sangat pedas. Ia masih mengerti ada pembakuan bahasa Indonesia menularkan luka, tolol, marah, dan lupa di kesusastraan. Puisi-puisi digubah berbarengan kuasa bahasa Indonesia yang mendapat kepatuhan publik. Ralat cuma diajukan sekian penulis yang kadang dituduh pembangkang, perusak, atau penoda.

Bahasa sudah beban tapi Afrizal Malna mulai menyuguhkan puisi-puisi ke umat pembaca di Indonesia dengan tema-tema kota, tubuh, dan modernitas. Pada 1983, ia menulis puisi berjudul “Jalan-Jalan Berteriak”. Puisi mencengangkan dari kecenderungan lirik: O mimpi peradaban yang habiskan manusia/ leher berputar melilit tangan-kaki-kepala ke jam/ dada-dada/ mengucur semua/ di jalan-jalan raya kehidupan/ dada hidup dalam seribu matahari/ membangun manusia pecah di dada. Puisi bergelimang filsafat memarahi modernitas atau pembahasaan dari kacau selalu tercipta di hasrat-hasrat kemodernan diejawantahkan di Indonesia. Puisi penuh ketukan keras. Puisi mungkin malah sudah pukulan-pukulan dengan bahasa.

Puisi itu sudah tertinggal jauh di halaman belakang puisi Indonesia. Pada tahun-tahun berbeda, Afrizal Malna sudah memiliki tabiat bersengketa dengan bahasa. Ia sampai pada kesibukan mengurusi media, sebelum puisi-puisi cuma “kesepelean” dari kerja bahasa. Di buku puisi berjudul Museum Penghancur Dokumen dan Berlin Proposal, kita membaca puisi-puisi Afrizal Malna seperti bercerai dari masa lalu. Ia kecapekan dengan rutin atau monoton di penggarapan puisi-puisi sudah dibukukan: dari Abad yang Berlari sampai Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing.

baca juga: Papua dan Demokrasi Agonistik

Pertarungan bahasa semakin mengganas di puisi-puisi mutakhir. Ia tak bermaksud merusak sejarah bahasa Indonesia atau membuat jurang agar ada kejatuhan-kejatuhan di anutan berbahasa Indonesia abad XX dan XXI. Ia memilih sibuk mengomeli bahasa dan mengadakan ralat-ralat mencipta “sekarat”. Pada penerbitan buku berjudul buka pintu kiri, maksud itu semakin kentara. Ia tampak bosan dan menghindari huruf kapital. Ia berlari dari petunjuk-petunjuk di Pedoman EYD dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Ralat atas kekuasaan huruf kapital diselenggarakan dengan garang.

Rincian-rincian pernah dibakukan oleh pakar bahasa dan para pegawai bahasa di naungan pemerintah dalam mencipta ketentuan-ketentuan baku mulai dipukul oleh Afrizal Malna. Pengusiran huruf kapital berlanjut ke peraguan tanda baca selalu diajarkan di sekolah dan univeristas untuk membentuk umat tertib berbahasa Indonesia. Di puisi berjudul “kematian tanda baca”, kita gagal menemukan koma dan titik. Sejarah puisi di Indonesia terlalu berlimpah koma dan titik di permainan larik dan bait. Afrizal Malna justru mengabsenkannya. Enggan berurusan dengan tanda baca sudah dimulai sejak masa 1980-an.

Kita boleh terpukau membaca puisi berjudul “tukang bikin kunci palsu.” Afrizal Malna memberi lelucon pedas tapi mengisahkan perbaikan dan penciptaan bahasa. Puisi sudah malas diakhiri tanda seru seperti masa 1980-an. Ia memilih puisi berakhir tanpa tanda baca apa saja: sebuah bahasa yang tak punya alfabet/ masuk ke dalam buku tulis itu/ meracau oleh banyak kosakata baru/ yang tak dikenalnya// dan keluar kembali, seperti meniru/ suara anjing dan kunci palsu/ di depan sejarah hancurnya pintu masuk. Duh, puisi melelahkan bagi kepala berlinguistik atau mata pembaca manja tanda-tanda gamblang. Di buku tulis, peristiwa orang (pernah) menulis berlangsung di kebenaran dan kesalahan berbahasa, setelah bahasa itu pelajaran mendapatkan nilai untuk naik kelas atau lulus.

baca juga: Upaya Mencari Benih KAA

Ia mengulang pengakuan biografis. Lahir dan besar di Jakarta, ia menanggung segala salah dan penolakan pelbagai warisan. Bahasa pun dimengerti di luar keumuman hidup di kota dan sejarah (negara) Indonesia. Afrizal Malna (2002) mengaku: “Saya bicara dengan bahasa Indonesia. Bahasa yang telah kehilangan akar buadayanya dan diterima hanya sebagai alat komunikasi dan politik penyatuan di negara saya.” Pengakuan di hadapan orang asing tak berbahasa Indonesia.

Bahasa itu pernah digunakan Afrizal Malna saat bersekolah. Bahasa dituliskan di buku tulis atau dibaca di buku-buku pelajaran, sebelum mendung hitam tiba di ketekunan mengurusi sastra. Di puisi berjudul “badai kembang api sebuah alfabet”, Afrizal Malna tak cuma berhadapan dengan bahasa Indonesia. Ia pun menaruh bahasa Inggris. Puisi “kecelakaan” manusia, bahasa, dan benda-benda: badai klakson kota trivandrum dan runtuhan mantra/ setiap suku kata – angin yang langka/ bau bumbu yang megah di pasar chalai/ aksara penuh luka dimandikan di rumah mahakavi/ kumaran asan smarakam.... Babak lanjutan mengejutkan: sebuah bahasa inggris menabraknya/ semua bahasa inggris menabraknya/ seluruh bahasa inggris menabraknya.

Buku buka pintu kiri menandai Afrizal Malna berpuisi sampai jauh. Ia masih sering mengaku “bekas” tapi puisi-puisi baru itu “membatalkan” sejenak kebosanan berpuisi sebagai rutin. Pada 1983, ia menulis puisi berjudul “Penyair Anwar”, memuat seruan-seruan lama: aku mengaji, anwar-anwar/ hidup dari pasar terbuka dalam tubuh.  Puisi itu berakhir dengan larik tak meledak: aku orang sunyi berlalu dalam cerita. Kita bisa meniru dengan mengubah nama anwar menjadi afrizal. Di akhir, kita susun kata dengan ralat: afrizal orang ramai belum berlalu dalam puisi. ia masih saja berpuisi dengan lagak merepotkan pembaca masih memiliki ingatan ke puisi-puisi digubah pada masa 1980-an. Begitu. 

  •  

Judul: buka pintu kiri

Penulis: Afrizal Malna

Penerbit: Diva Press

Tebal: 118 halaman

  •  

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: