Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Bertuhan tanpa Agama

Wishlist
Stock: Out of Stock
Jumlah:

Buku ini merupakan karya paling provokativ yang dihasilkan Russel tentang sains, filsafat dan agama, sejak awal hingga akhir masa hidupnya. Russel mendekati agama sebagai seorang filosof, sejarahwan, kritikus sosial dan individu. Buku ini menghadirkan sekumpulan tulisan komprehensif Russel, serta penolakannya yang keras terhadap akar-akar fundamentalisme, irasionalisme dan
dogmatisme dalam beragama.

Russel adalah figur pemikir-bebas dan filosof yang kontroversial. Karya-karyanya terkenal luas dalam berbagai bidang: dari filsafat, bahasa, politik, sains hingga agama. Meski dikenal dengan pandangannya yang keras dan kritis terhadap agama, namun sosiaolog Max Webber justru menyeutnya sebagai “laki-laki kalem yang religius”. Ribuan pembacanya bahkan menganggap Russel sebagai guru spiritual yang sederajat dengan tokoh-tokoh mistik seperti Tagore, Albert Schweitzer, dan guru spriritual lain di jaman kita.

Selamat Membaca dan Merdekalah...


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Berat: gram

Kategori : Agama dan Filsafat
ISBN : 9789793723587
Ketebalan : 320 hlm | HVS
Dimensi : 14x21 cm l Softcover
Bahasa : Indonesia
Stock: Out of Stock
Penerbit: Resist Book
Penulis: Bertrand Russell
Berat : 400 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa

Terakhir dilihat

Bayar dan Kirim

Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by