Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Bertuhan tanpa Agama Berumah di Buku

Bertutur Sang Gatholoco

Rating : ( 1 reviews ) Write Review
Era Ari Astanto
Stock: Tersedia

Kategori : Novel dan Sastra

Novel ini dikembangkan dengan alur serta adegan yang disusun ulang dengan tetap berpatokan pada Serat Gatholotjo berbahasa Jawa yang ditelah disalin dengan huruf latin Oleh R. Tanoyo. Penceritaan diambil dari sudut pandang Kusen, murid Gatholoco yang sebenarnya tidak tercatat namanya dalam Serat Gatholoco. Tokoh Kusen, Ngali, dan Jalil dimunculkan dengan mengambil celah perjalanan dalam mencari Catholoco. Tokoh-tokoh inilah yang saya manfaatkan untuk menyampaikan tafsir-tafsir ajaran Gatholoco, simbol-simbol yang ada dalam serat, dan teka-tek yang digunakan Catholoco yang tidak diuraikan penulis Sera Gatholoco.

Saya mencoba menulis dan menyampaikan sesuatu yang selama ini menjadi kontroversi dari konten Gatholoco dengan bahasa sederhana dan menafsirkannya segamblang mungkin. Kalaupun ada beberapa yang terkesan tidak gamblang, itu semata-mata untuk membuat pembaca penasaran sampai novel berakhir. __Era Ari Astanto


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Novel dan Sastra
ISBN : 9786026651761
Ketebalan : 252 hlm | Bookpaper
Dimensi : 14x20 cm | Softcover
Bahasa : Indonesia
Stock: Tersedia
Penerbit: Basa Basi
Penulis: Era Ari Astanto
Berat : 200 gram
Product Tags:

Terakhir dilihat


Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by