#Bookish Sesat Pikir (logical fallacies) yang Sering Kita Alami
15 Agu 2024


Sesat pikir, atau logical fallacies, sering kali muncul dalam kehidupan sehari-hari dan dapat mempengaruhi cara kita membuat keputusan dan berinteraksi dengan orang lain. Berikut adalah beberapa contoh sesat pikir yang umum terjadi dalam kehidupan sehari-hari:


Ad Hominem: Menyerang pribadi orang yang berargumen daripada argumennya sendiri.

  • Contoh: "Jangan dengarkan saran kesehatan dari dia, dia kan bukan dokter!"


Strawman: Mempermisalkan argumen lawan secara berlebihan atau salah, lalu menyerang argumen yang lemah tersebut.

  • Contoh: "Kamu tidak suka makan sayur? Jadi kamu mau semua orang makan daging saja dan merusak lingkungan?"


Slippery Slope: Mengasumsikan bahwa satu tindakan kecil akan memulai serangkaian peristiwa yang tidak dapat dihentikan.

  • Contoh: "Jika kita melegalkan pernikahan sesama jenis, selanjutnya orang akan minta menikahi hewan peliharaan mereka."


False Dilemma: Menyajikan dua pilihan seolah-olah mereka adalah satu-satunya pilihan yang ada, padahal masih ada alternatif lain.

  • Contoh: "Kamu harus memilih antara karier atau keluarga."


Hasty Generalization: Membuat kesimpulan umum berdasarkan sampel yang terlalu kecil atau tidak representatif.

  • Contoh: "Saya pernah ditipu satu kali oleh orang dari negara X, jadi semua orang dari negara X pasti penipu."


Bandwagon: Menganggap sesuatu benar atau baik karena banyak orang melakukannya.

  • Contoh: "Semua orang di sini merokok, jadi pasti tidak masalah jika saya juga merokok."


Post Hoc Ergo Propter Hoc: Menganggap bahwa karena satu peristiwa terjadi setelah peristiwa lain, peristiwa pertama pasti menyebabkan yang kedua.

  • Contoh: "Setelah memakai kalung keberuntungan ini, nilai ujian saya naik. Kalung ini pasti membawa keberuntungan."


Appeal to Authority: Menganggap sesuatu benar karena seseorang yang dianggap otoritatif mengatakan demikian, meskipun bidangnya tidak relevan.

  • Contoh: "Dokter terkenal ini mengatakan bahwa produk diet ini efektif, jadi pasti benar."




Red Herring: Mengalihkan perhatian dari isu yang sebenarnya dengan membawa topik lain yang tidak relevan.

  • Contoh: "Kita tidak perlu memperbaiki kerusakan lingkungan karena masih ada banyak masalah kemiskinan yang harus diselesaikan."


Circular Reasoning: Argumen di mana kesimpulannya sudah ada dalam premisnya.

  • Contoh: "Dia jujur karena dia tidak pernah berbohong."


False Cause (Causal Fallacy): Menganggap hubungan sebab-akibat tanpa bukti yang cukup.

  • Contoh: "Sejak membeli kucing hitam, saya selalu sial. Kucing hitam pasti membawa sial."


Appeal to Emotion: Menggunakan emosi sebagai dasar argumen alih-alih logika atau bukti.

  • Contoh: "Kita harus mempekerjakan dia karena dia sangat sedih dan benar-benar butuh pekerjaan ini."


Begging the Question (Petitio Principii): Argumen di mana kesimpulan digunakan sebagai premis.

  • Contoh: "Mengapa buku ini bagus? Karena ini adalah buku yang sangat bagus."


False Equivalence: Menyamakan dua hal yang sebenarnya tidak setara dalam hal relevansi atau tingkat keparahan.

  • Contoh: "Mencuri apel di pasar sama buruknya dengan merampok bank."


No True Scotsman: Mengubah definisi suatu kelompok untuk mengecualikan contoh yang tidak mendukung argumen.

  • Contoh: "Tidak ada vegetarian sejati yang makan ikan."


Anecdotal Evidence: Menggunakan contoh pribadi atau cerita untuk mendukung argumen alih-alih data yang representatif.

  • Contoh: "Nenek saya merokok setiap hari dan hidup hingga usia 90 tahun, jadi merokok tidak berbahaya."


Appeal to Tradition: Menganggap sesuatu benar atau lebih baik karena itu sudah lama dilakukan.

  • Contoh: "Kita harus terus melakukan upacara ini karena sudah dilakukan sejak zaman nenek moyang kita."


Tu Quoque (You Too): Menyalahkan lawan dengan tuduhan serupa untuk mengalihkan perhatian dari argumen yang disampaikan.

  • Contoh: "Kamu juga pernah bohong, jadi jangan mengkritik saya karena berbohong."


Middle Ground: Menganggap kebenaran terletak di antara dua posisi ekstrem, padahal tidak selalu demikian.

  • Contoh: "Beberapa orang percaya bumi datar, beberapa percaya bumi bulat. Kebenaran pasti ada di tengah-tengahnya."


Loaded Question: Mengajukan pertanyaan yang mengandung asumsi yang tidak terbukti.

  • Contoh: "Kapan kamu berhenti memukul istrimu?" (Ini mengasumsikan bahwa orang tersebut pernah melakukannya).


Menyadari sesat pikir ini dapat membantu kita dalam berargumen secara lebih logis dan menghindari jebakan berpikir yang menyesatkan. Ini juga membantu kita lebih kritis terhadap argumen yang disampaikan oleh orang lain.


 :