
Cinta, dalam pandangan umum, sering diperlakukan sebagai sesuatu yang harus dimiliki, dikuasai, dan dijinakkan. Kita diajarkan bahwa mencintai berarti mengikat, bahwa mencintai berarti memastikan seseorang tetap berada dalam genggaman. Namun, Erich Fromm dalam The Art of Loving memutarbalikkan konsep ini. Baginya, cinta bukanlah kontrak kepemilikan, tetapi seni keberadaan yang harus dipelajari dengan penuh kesadaran.
Dalam dunia yang semakin individualistik, cinta kerap direduksi menjadi transaksi, sesuatu yang dipertukarkan dengan syarat-syarat tertentu. "Aku mencintaimu karena kamu membuatku bahagia." "Aku akan tetap mencintaimu jika kamu tetap sesuai dengan harapanku." Pola pikir ini menciptakan hubungan yang tidak sehat—bukan cinta yang mendukung pertumbuhan bersama, melainkan cinta yang berusaha menguasai. Dari sinilah kegagalan cinta berawal: dari ketakutan akan kehilangan, bukan dari keinginan untuk membersamai.
◉ Dari Egoisme ke Altruisme: Cinta sebagai Jalan Menuju Kematangan
Banyak dari kita diajarkan bahwa cinta adalah tentang menemukan seseorang yang akan "melengkapi" kita. Namun, Fromm berpendapat bahwa cinta sejati hanya mungkin terjadi ketika seseorang telah mencapai kemandirian emosional dan psikologisnya sendiri. Artinya, cinta bukanlah kebutuhan untuk mengisi kekosongan diri, melainkan tindakan memberi dari kelimpahan diri.
“Orang egois tidak akan mampu mencintai orang lain, karena mereka juga tidak mampu mencintai diri mereka sendiri.”
Seseorang yang belum matang secara emosional cenderung mendekati cinta dengan cara yang egois—mencari seseorang untuk menyelamatkannya, membahagiakannya, atau memenuhi ekspektasinya. Padahal, cinta yang sejati menuntut kita untuk melihat pasangan sebagai individu yang memiliki kebebasannya sendiri. Membersamai berarti memberi kebebasan kepada orang yang kita cintai untuk tumbuh, bukan membatasi mereka dalam belenggu kepemilikan.
◉ Cinta Sebagai Tindakan, Bukan Perasaan Sesaat
Salah satu kesalahan mendasar dalam memahami cinta adalah menganggapnya sebagai sesuatu yang hanya terjadi begitu saja. Kita terbiasa berpikir bahwa mencintai hanyalah soal perasaan, sesuatu yang datang tanpa usaha. Fromm menolak pandangan ini. Baginya, cinta adalah keterampilan, sesuatu yang harus dipelajari, dilatih, dan dikembangkan.
“Cinta adalah sebuah keputusan, sebuah penilaian, sebuah janji. Jika cinta hanya sebuah perasaan, tidak akan ada dasar untuk janji untuk saling mencintai selamanya. Sebuah perasaan datang dan pergi. Bagaimana saya bisa menilai bahwa perasaan itu akan bertahan selamanya, ketika tindakan saya tidak melibatkan penilaian dan keputusan.”
Maka, mencintai bukan sekadar merasakan sesuatu—ia adalah upaya aktif untuk memahami, menerima, dan membersamai tanpa mengikat. Dalam tindakan ini, cinta tidak lagi menjadi sekadar keinginan untuk memiliki, melainkan bentuk keberadaan yang mengizinkan kebebasan.
◉ Membersamai: Ketika Cinta Tidak Lagi Tentang Aku dan Kamu
Dunia mengajarkan kita bahwa mencintai berarti memiliki seseorang untuk diri sendiri. Tetapi, dalam cinta yang sehat, tidak ada lagi "aku" dan "kamu" sebagai dua entitas yang saling bertransaksi. Yang ada hanyalah kita—sebuah ruang di mana dua individu dapat tumbuh bersama tanpa saling menekan.
“Dalam cinta, terjadi paradoks bahwa dua makhluk menjadi satu namun tetap dua.”
1. Membersamai berarti memberi ruang untuk pertumbuhan
Ketika kita mencintai seseorang, kita sering berpikir bahwa kita harus selalu berada di dekatnya, mengawasinya, memastikan ia tidak berubah menjadi sesuatu yang kita tidak inginkan. Tetapi, cinta sejati justru memberikan ruang. Kita tidak bisa mengklaim bahwa kita mencintai seseorang jika kita tidak mengizinkannya berkembang menjadi dirinya sendiri.
2. Membersamai berarti menerima tanpa ingin mengubah
Banyak hubungan gagal karena satu pihak merasa bahwa pasangannya harus berubah agar sesuai dengan harapannya. Tetapi, cinta bukanlah proyek perbaikan. Mencintai berarti menerima seseorang dengan segala kelebihannya dan kekurangannya—bukan untuk mengubahnya, tetapi untuk mendukungnya tumbuh dengan caranya sendiri.
3. Membersamai berarti hadir tanpa mengendalikan
Cinta sejati tidak memerlukan dominasi. Kita tidak perlu memastikan seseorang tetap dalam kendali kita agar mereka tetap mencintai kita. Sebaliknya, kita hanya perlu hadir, dengan kehadiran yang penuh kesadaran, tanpa keterpaksaan atau tuntutan.
◉ Mengapa Cinta yang Menguasai Selalu Gagal?
Fromm menjelaskan bahwa banyak hubungan gagal karena orang lebih sibuk mencari cinta daripada memahami bagaimana mencintai. Mereka mengira cinta adalah sesuatu yang "ditemukan" daripada sesuatu yang "dipelajari". Mereka melihat cinta sebagai transaksi—"Aku mencintaimu jika kamu mencintaiku dengan cara yang kuinginkan"—dan bukan sebagai dedikasi tanpa syarat.
“Kebanyakan orang melihat masalah cinta terutama sebagai masalah dicintai , bukan masalah mencintai, yaitu kapasitas seseorang untuk mencintai.”
Banyak hubungan yang rapuh karena fondasinya adalah ketakutan akan kehilangan. Dari sinilah muncul rasa cemburu berlebihan, posesivitas, dan keinginan untuk menguasai. Ketika seseorang lebih takut kehilangan daripada berusaha mencintai dengan tulus, hubungan itu tidak lagi menjadi ruang untuk tumbuh, tetapi menjadi medan untuk saling menguasai.
Ketika kita menguasai, kita sebenarnya tidak mencintai. Kita hanya berusaha menghapus kemungkinan kehilangan, bukan karena kita benar-benar peduli, tetapi karena kita tidak ingin menghadapi rasa sakitnya. Padahal, cinta sejati bukanlah tentang menghindari kehilangan, tetapi tentang tetap hadir bahkan ketika kehilangan menjadi bagian dari perjalanan.
/// Cinta yang Sehat adalah Cinta yang Merdeka
“Saya ingin orang yang saya cintai tumbuh dan berkembang demi dirinya sendiri, dan dengan caranya sendiri, dan bukan untuk tujuan melayani saya.”
Dalam The Art of Loving, Fromm mengajarkan bahwa mencintai berarti membiarkan seseorang tetap menjadi dirinya sendiri, tanpa tekanan, tanpa tuntutan, tanpa ketakutan akan kehilangan.
Jika kita mencintai seseorang dengan cara ingin menguasainya, maka cinta itu bukan cinta yang sehat. Itu hanyalah ketakutan yang disamarkan. Sebaliknya, jika kita mencintai seseorang dengan cara membersamai—tanpa ingin mengubah, tanpa ingin mengendalikan—maka kita telah memahami esensi dari cinta yang sesungguhnya.
Dalam mencintai, kita tidak kehilangan diri sendiri, dan kita juga tidak meminta orang lain kehilangan dirinya. Kita hanya hadir, dalam kebersamaan yang penuh makna, di mana dua jiwa dapat tumbuh dalam ruang yang luas, tanpa batasan kepemilikan. Cinta yang sehat tidak meminta apa pun, tidak takut apa pun, dan yang paling penting, tidak mengikat apa pun.
Mencintai bukan tentang memiliki. Mencintai adalah tentang membersamai, dengan penuh kesadaran, dengan penuh kebebasan.



