Mengguncang Fondasi Bahasa dan Kekuasaan: BookReview Babel Karya RF Kuang
27 Sep 2024


Dalam novel Babel, R.F. Kuang menghadirkan sebuah mahakarya yang melampaui batasan genre. Bukan sekadar sebuah karya fantasi sejarah, Babel adalah sebuah alegori intelektual yang memadukan keindahan bahasa dengan wacana kekuasaan, kolonialisme, dan imperialisme. Lewat halaman-halamannya, Kuang mengajak kita merenungkan hubungan mendalam antara bahasa dan kekuatan hegemonik yang mengaturnya, menggali bagaimana kata-kata, dalam bentuk yang paling purbawi, adalah alat politik yang paling mematikan.


  • Konstruksi Dunia yang Berpijak pada Tradisi Filologis


Babel berpusat pada tokoh Robin Swift, seorang yatim piatu yang dibawa dari Canton ke Inggris pada abad ke-19. Swift dipersiapkan untuk belajar di Institut Babel, sebuah pusat studi terkemuka di Universitas Oxford yang mempelajari terjemahan dan sihir yang didasarkan pada kekuatan bahasa. Oxford dalam novel ini bukan hanya institusi akademik; ia menjelma menjadi metafora dunia, di mana pengetahuan dan kekuasaan tidak bisa dipisahkan.


Sejak awal, Babel memperkenalkan konsep bahasa sebagai senjata. Bukan hanya medium komunikasi, bahasa dalam novel ini adalah alat magis yang secara harfiah dapat mengubah realitas fisik melalui terjemahan perak. Setiap kata, setiap frase yang diterjemahkan dengan benar memiliki kekuatan untuk menggerakkan dunia. Namun, Kuang dengan cerdas menunjukkan bagaimana bahasa juga bisa menjadi alat penindasan. Dalam tangan yang salah, bahasa adalah instrumen kontrol yang mampu memanipulasi kebenaran dan meneguhkan ketimpangan kekuasaan. Seperti yang disampaikan dalam novel:


"Penerjemahan berarti melakukan kekerasan terhadap yang asli, itu berarti membelokkan dan mendistorsinya untuk mata asing yang tidak diinginkan."


Kutipan ini menyiratkan ketegangan antara bahasa sebagai alat penghubung budaya dan bahasa sebagai medium dominasi. Kuang menciptakan ruang bagi pembaca untuk mempertanyakan hakikat terjemahan, bagaimana pemahaman bisa dipelintir dalam proses penyampaian, dan bagaimana sistem bahasa mencerminkan struktur kekuasaan yang tidak adil.


  • Bahasa dan Kolonialisme: Mengungkap Luka Kolonial


Dalam Babel, Kuang menyentuh luka sejarah yang masih terasa dalam dunia pascakolonial. Institut Babel, dengan pengetahuan linguistiknya yang luar biasa, melayani kepentingan Kerajaan Inggris. Melalui penguasaan bahasa asing dan terjemahannya, Inggris mempertahankan kekuasaan kolonialnya, mengeksploitasi kekayaan sumber daya alam dan tenaga kerja dari negeri-negeri jajahan. Bagi Robin, yang terjebak di antara dua dunia—Canton yang penuh kenangan dan Inggris yang dingin—bahasa menjadi alat kebingungan identitas sekaligus senjata perlawanan.


Dalam novel ini, Kuang tidak menghindar dari pertanyaan etis: apakah mungkin ada bahasa yang netral? Atau, apakah setiap kata, setiap terjemahan, secara inheren diwarnai oleh kekuatan dan kepentingan pihak-pihak yang menggunakannya? Pertanyaan ini mencuat ketika Robin semakin sadar akan peran Institut Babel dalam mendukung proyek kolonialisme. Di satu sisi, Babel adalah tempat yang memungkinkan Robin mengakses kekuatan luar biasa melalui bahasa; di sisi lain, itu adalah tempat yang merantai jiwanya dalam sistem yang mengeksploitasi asal-usulnya.


Kuang menggambarkan ini dalam kutipan yang menggugah:


"Bahasa hanyalah perbedaan. Seribu cara pandang yang berbeda, cara bergerak di dunia. Tidak; seribu dunia dalam satu. Dan penerjemahan – usaha yang diperlukan, betapapun sia-sianya, untuk bergerak di antara keduanya."


Dualitas inilah yang menjadi inti dari narasi Robin. Kuang dengan indah mengeksplorasi ambivalensi ini: bagaimana pengetahuan, meskipun memberdayakan, juga bisa menjadi belenggu, terutama ketika pengetahuan tersebut berasal dari sistem yang terinstitusionalisasi dan dijalankan oleh kepentingan kekuasaan.



  • Sihir Bahasa: Simbolisme dan Ambivalensi


Salah satu aspek paling menarik dari Babel adalah penggunaan sihir perak sebagai metafora bagi bahasa itu sendiri. Dalam novel ini, kata-kata yang diterjemahkan dengan benar memiliki kekuatan fisik yang nyata—mereka bisa menyalakan api, membangun tembok, atau menghancurkan musuh. Sihir ini, meskipun tampak seperti imajinasi fantasi, adalah refleksi dari kekuatan bahasa dalam dunia nyata. Bahasa, dalam kenyataannya, memang memiliki kekuatan besar. Sebuah pernyataan politik dapat memicu revolusi; sebuah narasi sejarah yang didistorsi bisa mengabadikan ketidakadilan.


Sama seperti terjemahan yang dilakukan Robin dan teman-temannya di Babel, setiap interpretasi bahasa dalam dunia kita adalah tindakan politis. Kuang menekankan bahwa tidak ada terjemahan yang benar-benar netral—setiap kata yang dipilih, setiap frase yang diubah, membawa bias dan interpretasi tertentu. Ketika Robin dan rekan-rekannya semakin terlibat dalam sihir perak, mereka mulai memahami bahwa kekuatan yang mereka kuasai juga bisa menjadi senjata yang menghancurkan diri mereka sendiri.


Kuang, dalam gaya tulisannya yang penuh lapisan, menawarkan kutipan ini:


"Jadi, Anda lihat, penerjemah tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga menulis ulang naskah aslinya. Di sinilah letak kesulitannya - menulis ulang tetaplah menulis, dan menulis selalu mencerminkan ideologi dan bias penulis."


Kutipan ini menggarisbawahi bagaimana terjemahan bukan hanya soal akurasi, tetapi juga soal kendali dan kekuasaan. Bahasa membentuk dunia kita, dan dalam Babel, Kuang menunjukkan bahwa kekuatan tersebut, bila disalahgunakan, bisa merusak.


  • Sebuah Refleksi atas Perlawanan dan Keadilan


Pada akhirnya, Babel adalah sebuah seruan untuk perlawanan. Bagi Robin dan rekan-rekannya, Institut Babel tidak lagi menjadi tempat belajar, melainkan medan pertempuran di mana keadilan dan kebebasan dipertaruhkan. Kuang mengajak kita merenungkan tentang peran bahasa dalam sistem ketidakadilan global, bagaimana kata-kata bisa menjadi alat pembebasan maupun penindasan.


Seperti dalam dunia kita sendiri, di mana narasi sejarah, politik, dan budaya terus diperebutkan, Kuang mengingatkan kita bahwa bahasa bukanlah sesuatu yang statis. Ia hidup, berubah, dan membentuk dunia. Dan dalam pertarungan tersebut, kita harus selalu waspada akan bagaimana kata-kata, seperti perak dalam Babel, bisa mengangkat atau menghancurkan.


"Lagipula, kita di sini untuk membuat yang tidak diketahui menjadi diketahui, untuk membuat yang lain menjadi akrab. Kita di sini untuk membuat keajaiban lewat kata-kata."


Dengan Babel, R.F. Kuang tidak hanya menyuguhkan sebuah cerita epik yang penuh intrik, tetapi juga sebuah meditasi mendalam tentang bahasa, kekuasaan, dan perlawanan—sebuah karya yang layak dibaca oleh siapa saja yang ingin memahami kompleksitas dunia modern melalui lensa sastrawi dan filosofis.


 :