#Readlist 5 Buku Panduan Menjadi Seorang Eksistensialis
23 Nov 2023

MENURUT para eksistensialis garis keras seperti Jean-Paul Sartre, apa pun yang seseorang lakukan, apa pun itu, maka mereka memilih berdasarkan keinginannya sendiri, dan karenanya, mereka bertanggung jawab atas hal itu. Atas alasan itu jugalah kamu memilih untuk mengambil dan membuka buku ini. Kamu bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan, meski barangkali hal itu kamu lakukan dengan kepala kosong. 


Barangkali nilai utama dari memiliki pengetahuan eksistensialisme sebagai teori filsafat adalah, kamu setidaknya memahami mengapa hidup sesuai dengan pandangan eksistensialis adalah hal yang masuk akal; mengapa hal itu lebih jujur, lebih terhormat, dan bahkan merupakan jalan hidup yang bernilai moral lebih dibandingkan jalan hidup lainnya.


Jadilah eksistensialis sejati, jadilah autentik, dapatkan kebebasanmu, taklukkan hari-harimu. Carpe diem kalau kata orang-orang terpandang Romawi zaman dahulu. Berikut 5 buku yang bisa kamu baca untuk mengetahui apa itu dan bagaimana menjadi seorang eksistensialis.


1. Bagaimana Menjadi Seorang Eksistensialis karya Gary Cox


“Bagaimana sebaiknya aku hidup?” Jika kamu tertarik menjadi seorang eksistensialis, maka pada faktanya pertanyaan itu adalah pertanyaan paling tua dan penting dalam filsafat, “Bagaimana sebaiknya aku hidup?” kamu benar-benar tertarik menjawabnya. Tak seperti agama, eksistensialis tak mengatakan jangan lakukan ini, jangan lakukan itu, jangan makan ini, jangan makan itu. Ia bertujuan memberitahumu tentang sebenarnya dirimu ketika para ilmuwan, pendakwah, orang tua, dan guru merundungmu dengan omong kosong. Ia bertujuan menunjukkan bahwa kamu sejatinya adalah makhluk yang bebas secara fundamental agar kamu dapat mulai hidup sebagaimana mestinya; agar kamu dapat menegaskan kebebasan individualmu, dirimu “sebenarnya,” alih-alih hidup yang seolah kamu adalah robot yang diprogram oleh orang lain, standar sosial, dogma agama, moralitas, rasa bersalah, dan segala bentuk represi tak berkesudahan lainnya. 


2. Filsafat Eksistensialisme karya A. Setyo Wibowo


Orang itu pendek, dengan mata strabismus (juling) dan menghisap cangklong. Siapa sangka, dia adalah filsuf besar abad 20, yang merambah di berbagai bidang: sosial, humanisme, drama, sastra hingga seni. Gemeretak giginya masih sering terdengar hingga kini, mengeluarkan nada protes pada manusia yang tak juga sadar akan kebebasan dirinya.


Jean-Paul Sartre bukan sembarang tokoh. Dia menghentakkan dunia yang seolah berduyun-duyun tanpa sadar diri menuju kekuatan-kekuatan otoriter pada masa Perang Dunia. "Apakah kaliah tahu, bahwa kalian punya kebebasan yang mutlak; dan bahwa kalianlah yang menentukan diri otentik kalian?" Pandangannya begitu tajam dan utuh terhadap manusia. Begitu utuh, hingga orang begitu gentar, karena dia menyatakan diri menolak Tuhan. Dalam pandangannya, Sartre selalu menekankan otentisitas dan individualisme manusia, tanpa syarat apa pun. Dalam buku Existensialisme is a Humanisme, Sartre menyatakan: Man is nothing else but what he makes of himself. This is the first principle of existensialism." Gagasan-gagasan eksistensialisnya begitu populer dan menjadi tren tersendiri pada tahun 50-an di kalangan anak muda (Perancis). Pada saat meninggalnya, puluhan ribu orang mengantar jenazahnya.


3. Apa Itu Eksistensialisme karya Simone De Bauvoir


Eksistensialisme bukanlah teori probabilitas yang menjamin kemenangan kita dalam permainan hidup, bukan juga resep yang mampu menghapuskan kesebalan terkait eksistensi. Begitu pula eksistensialisme bukan merupakan seni interpretasi mimpi, pemanggilan arwah, atau penyelenggaraan sesi Seancé.


“Apa itu Eksistensialisme?” dimulai dengan kejengkelan Beauvoir atas pertanyaan yang selalu dilontarkan padanya itu, baik di Prancis maupun di Amerika, permintaan untuk menjelaskan eksistensialisme dengan sederhana. Ini bukan pekerjaan mudah, kata Beauvoir, “tak semudah merangkum Hegel atau Kant dalam tiga kalimat.” Karena eksistensialisme bukan semata formula pasti untuk hidup atau tren atau gerakan politik; eksistensialisme, katanya, pertama-tama dan utamanya, adalah filsafat. Dan seperti filsafat lainnya, seseorang tak dapat memahaminya atau menghargai kebaruannya kecuali seseorang mempelajari akar historisnya. Hal terbaik yang dapat ia lakukan dalam artikel pendek ini adalah untuk meluruskan beberapa kesalahpahaman. 


4. Being and Nothingness karya Jean-Paul Sartre


Monumental philosophical work that delves deep into existentialist phenomenology. The book meticulously explores the nature of consciousness, existence, and the intricate interplay between being and nothingness. Sartre's intricate analysis examines the concept of "being-in-itself" and "being-for-itself," delving into the inherent tension between the objective world and human subjectivity. He investigates how individuals construct their sense of self through acts of choice and perception, and how these acts shape the way they interact with the world. Through intricate philosophical arguments and intricate examples, Sartre unravels the complexities of human freedom, responsibility, and the anxiety that arises from the recognition of one's own radical freedom. "Being and Nothingness" challenges readers to engage with the intricacies of existence, human consciousness, and the fundamental questions surrounding the nature of reality and the self in a world devoid of inherent meaning.


5. Eksistensialisme adalah Humanisme karya Jean-Paul Sartre


"Tidak ada doktrin yang lebih optimis [daripada eksistensialisme], karena ia menyatakan bahwa takdir manusia terletak di dalam dirinya sendiri."


Banyak orang yang akan terkejut oleh apa yang harus saya katakan di sini tentang humanisme. Kita akan berusaha menemukan dalam pengertian apa kita memahaminya. Walau bagaimana pun, mari kita memulai dengan mengatakan bahwa apa yang kami maksudkan sebagai “eksistensialisme” adalah sebuah doktrin yang memungkinkan berjalannya kehidupan manusia dan juga menegaskan bahwa setiap kebenaran dan setiap tindakan menyiratkan satu lingkungan dan subjektivitas manusia.


 :