

Saat ini, setiap orang adalah buruh yang mengeksploitasi diri sendiri dalam perusahaannya sendiri. Orang-orang sekarang menjadi tuan dan budak dalam satu. Bahkan perjuangan kelas telah berubah menjadi perjuangan batin melawan diri sendiri.
Dalam buku "The Burnout Society," Byung-Chul Han menawarkan analisis tajam tentang masyarakat modern yang terobsesi dengan kinerja dan produktivitas. Han mengajukan argumen bahwa kita hidup dalam masyarakat pencapaian, di mana tekanan untuk terus berprestasi menyebabkan kelelahan yang kronis. Ia menggambarkan bagaimana tuntutan ini tidak hanya memengaruhi pekerjaan kita, tetapi juga kehidupan pribadi dan kesehatan mental kita. Menurut Han, kelelahan ini bukanlah hasil dari kekurangan energi, tetapi dari surplus energi yang diarahkan pada tujuan-tujuan yang tak pernah berakhir.
Han menjelaskan bahwa masyarakat saat ini telah bergeser dari model disiplin Foucault ke model pencapaian. Jika sebelumnya individu diatur oleh kekuasaan yang represif, kini mereka terjebak dalam mekanisme autoeksploitasi. Han berpendapat, "Setiap orang sekarang adalah pengusaha dari dirinya sendiri." Hal ini berarti bahwa individu secara terus-menerus merasa harus meningkatkan dirinya, menciptakan tekanan internal yang tak ada habisnya.
Salah satu aspek menarik dari buku ini adalah bagaimana Han menghubungkan fenomena burnout dengan berbagai aspek kehidupan modern, termasuk teknologi dan media sosial. Ia berargumen bahwa teknologi, meskipun menawarkan kemudahan dan efisiensi, juga memperburuk situasi dengan mendorong kita untuk selalu terhubung dan tersedia. Han menyatakan, "Smartphone adalah alat kontrol yang paling efisien, menjadikan kita relawan yang selalu siap bekerja."
Han juga menyoroti perubahan dalam cara kita memandang waktu dan pekerjaan. Ia berpendapat bahwa waktu kini diperlakukan sebagai komoditas yang harus dimanfaatkan seefisien mungkin, tanpa memberikan ruang untuk istirahat dan refleksi. "Kita tidak lagi tahu bagaimana untuk tidak melakukan apa-apa," tulis Han. Ini menciptakan lingkungan di mana individu merasa bersalah jika tidak produktif, yang pada akhirnya memperparah kondisi kelelahan.
Buku ini juga mengeksplorasi bagaimana kelelahan berdampak pada kesehatan mental. Han mencatat peningkatan gangguan seperti depresi, ADHD, dan burnout sebagai gejala dari tekanan yang berlebihan. Ia mengkritik pandangan bahwa solusi untuk masalah ini adalah dengan peningkatan manajemen diri dan produktivitas yang lebih tinggi. Sebaliknya, Han menyarankan perlunya pergeseran budaya yang lebih mendalam, di mana masyarakat menghargai istirahat dan batasan diri.
Secara keseluruhan, "The Burnout Society" adalah kritik mendalam terhadap budaya kerja keras yang ekstrem dan dampaknya terhadap individu. Han tidak hanya menggambarkan masalahnya dengan jelas, tetapi juga mengajak pembaca untuk merenungkan kembali nilai-nilai yang mendasari kehidupan modern. Buku ini menjadi panggilan untuk perubahan, menyarankan bahwa untuk mengatasi kelelahan yang meluas, kita perlu memikirkan kembali cara kita bekerja dan hidup. "Hanya dengan begitu kita bisa menemukan kembali kebahagiaan dan ketenangan dalam hidup," tulis Han.

