Sebelum imajinasi anak tumpul, berikanlah buku-buku Djokolelono
02 Mei 2025


Di masa ketika layar belum menguasai hari-hari, dan imajinasi belum digerakkan oleh algoritma, anak-anak Indonesia pernah menjelajah dunia lewat halaman-halaman yang mengandung sihir—bukan karena isinya ajaib, tapi karena imajinasi pembacanya belum dibatasi logika orang dewasa. Di antara penulis yang memberi pintu pada keajaiban itu, Djokolelono berdiri tenang sebagai penjaga gerbangnya.


Ia bukan hanya penulis cerita anak. Ia adalah penenun kemungkinan. Lewat cerita-cerita yang melintasi waktu, menembus lukisan, hingga mengajak berdialog dengan makhluk luar angkasa, Djokolelono menghadirkan dunia yang terasa begitu mustahil, namun justru karena itulah terasa begitu dekat.


Djokolelono menulis bukan untuk mengajar anak-anak menjadi dewasa,

melainkan agar mereka tahu dunia tak selalu harus masuk akal untuk bisa dipahami.

Ia membangun jembatan dari masa silam ke masa depan, dari lukisan ke lorong waktu, dari perang ke persahabatan. Di setiap ceritanya, ia menyisipkan sesuatu yang sulit dijelaskan, tapi mudah dirasakan: bahwa dunia bisa dilihat dari sisi yang belum tentu nyata, tapi tetap bermakna. Buku-buku Djokolelono mengajarkan anak-anak cara paling manusiawi untuk bertahan: dengan membayangkan.



Dalam Terlontar ke Masa Silam, seorang anak dilemparkan dari zaman modern ke tahun 1292 karena helm waktu. Tapi yang membuat cerita ini abadi bukan sekadar petualangan sejarahnya—melainkan karena ia menyisipkan satu pelajaran penting: bahwa waktu adalah hal yang rapuh, dan masa lalu bukan sekadar latar, melainkan tempat anak-anak belajar memilih arah pulang.


Sementara itu, Pak Gangsir Juru Ramal Istana menyuguhkan satire yang jenaka dan dalam. Ketika kemalasan, tipu daya, dan kelicikan bertemu dengan dunia istana yang penuh aturan, cerita ini justru menjadi cermin tentang bagaimana kekuasaan sering kali percaya pada apa yang ingin didengarnya, bukan pada apa yang benar. Anak-anak yang membacanya mungkin tertawa, tapi di balik tawa itu, Djokolelono mengajarkan tentang bagaimana kekuasaan sering kali lebih percaya pada kebohongan yang nyaman daripada kebenaran yang tak menenangkan.



“Rahasia di Balik Lukisan" menyentuh ruang sunyi dalam batin anak: duka, kehilangan, dan bagaimana dunia visual bisa menyimpan rahasia tak terucapkan. Kita diajak masuk ke dunia yang tipis antara nyata dan tidak. Tatang mendengar suara dari lukisan, lalu diserap ke dalamnya. Cerita ini bukan sekadar misteri seni, tapi perenungan tentang duka dan kehilangan, tentang cara anak-anak memahami kematian lewat metafora yang bisa mereka peluk tanpa takut.




Getaran membawa kita lebih jauh—ke ranah fiksi ilmiah. Setelah tersengat listrik, Prim menjadi genius dan mulai membangun pesawat antigravitasi. Tapi bukan itu yang penting. Yang penting adalah bagaimana Djokolelono membuka ruang bagi anak-anak untuk percaya bahwa berpikir adalah bentuk keberanian, dan bahwa keajaiban bisa datang dari kabel, bukan hanya dari langit.


Di Hancurnya Jembatan Beru, patriotisme bukan ditunjukkan lewat senjata, tapi lewat layangan. Wagimin, seorang anak, harus memilih antara kebanggaan dan rasa bersalah, antara mainan dan obat untuk ibunya. Di tengah latar revolusi, Djokolelono mengajarkan bahwa menjadi anak-anak pun adalah peran penting dalam sejarah.


Dan Genderang Perang dari Wamena—di sinilah imajinasi dan realitas bertabrakan dengan lembut. Ketika Yun dan Adi terbawa ke hutan oleh genderang misterius, kita dibawa pada perenungan tentang akar, identitas, dan kekuatan suara dalam tubuh anak-anak yang diasuh di antara dua dunia.


Djokolelono tidak pernah menulis untuk menggurui. Ia menulis untuk memberi kemungkinan. Bahwa anak-anak tidak perlu menunggu dewasa untuk memahami dunia. Mereka hanya perlu cerita yang cukup jujur untuk membuat mereka bertanya, dan cukup ajaib untuk membuat mereka bertahan.


Karena sebelum anak-anak belajar menghitung laba, mereka perlu tahu caranya bermimpi. Dan sebelum dunia menyuruh mereka menjadi efisien, biarkan mereka tersesat sebentar di halaman-halaman yang penuh keajaiban.


Dari cerita-cerita seperti inilah, anak-anak tahu bahwa berpikir itu menyenangkan, dan dunia tidak harus selalu masuk akal untuk bisa dicintai.


 :