Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Bob Dylan Chronicles Boedi Oetomo; Awal Bangkitnya Kesadaran Bangsa

Bocah Lelaki yang Menulis Puisi

Yukio Mishima
Stock: Out of Stock

Kategori : Novel dan Sastra

KISAH-KISAH yang direka Mishima dalam antologi terjemahan ini merupakan kisah-kisah mereka yang terjebak di tengah-tengah, apapun yang mengapit mereka. Kisah yang pertama, Bocah Laki-laki Yang Menulis Puisi adalah kisah tentang anak laki-laki yang tergoda hidup dalam dunia rekaannya sendiri, mengabaikan dunia nyata lengkap dengan pengalaman cinta. Kisah ini sebenarnya nampak berjalin dengan kisah keempat, Rokok, dimulai dari kemiripan karakter, sampai dengan bahwa kedua tokoh sama-sama bergabung dalam Klub Sastra. Tidakkah kedua cerita itu sebenarnya merupakan dua cerita dengan satu tema?

 

Sindiran terhadap dunia "orang dewasa" juga bisa ditemukan pada cerpen yang disajikan dengan plot yang paling menarik dalam antologi ini: Mutiara. Kejeniusan Mishima tampak ketika dia menggarap detail kisah para anggota Paguyuban Rahasiakan-Umur-Kita berkaitan dengan mutiara. Kisah Yang nampak sepele tapi terasa lancar mengalir dan kemudian diberikan penutup yang tak terduga. Cerpen ini merupakan salah satu cerpen terdahsyat Mishima yang kira-kira senada dengan The Necklace-nya Guy de Maupassant.


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Novel dan Sastra
Nurul Hanafi 261 hlm/Book Paper
Penerjemah : Nurul Hanafi
Ketebalan : 261 hlm/Book Paper
Dimensi : 12x18 cm/Soft Cover
Bahasa : Indonesia
Stock: Out of Stock
Penerbit: EA Books
Penulis: Yukio Mishima
Berat : 400 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by