Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Bouquet, Nymphea Aquaris, dan Puisi Lainnya

Oleh: Eko Ragil A.         Diposkan: 06 Jul 2019 Dibaca: 426 kali


 

 

Bouquet

: Alfatahul Jannah

 

Salam hangat bagi mata berkilatmu.

Sudahkah tanganmu penuh corak Inai

dan senyum itu menemukan jalan pulangnya?

 

Aku yakin kau telah benar,

dalam hal mencari rumah bernama suami

di bawah langit nasib dengan puluhan musim.

 

Karena pada kata-kataku, telah terselip mawar dan Magnolia

yang dapat kalian terbangkan bersama angin

melintasi tubuh Tuhan di langit

Tentu saja, menuju surga yang lama kalian cari.

 

Jangan takut pada kalutnya maut,

sebab matahari telah membagi cahayanya sebagai permata di langit.

Tempat kalian bebas sembunyi dan berkeluh kesah

pada sejarah yang diikat darah.

 

baca juga: Akrobatik Kata-kata dan Puisi Lainnya

 

Mengalun dan terbanglah, hati yang sebulat gelembung

lintasi langit dengan kelopak bunga

berikut puisi yang ditelan cahaya.

Karena satu tempat, di balik kegelapan

seseorang melihat kalian dengan bahagia

: Tangan yang melubangi masa depan.

 

2019

 

  •  

 

Nymphea Aquaris

 

Sepanjang senja, baik Donggala dan Tanjung Karang,

kita kayuh sepeda waktu

yang ringkih membangunkan burung camar.

 

“Ada yang bersuara,” katamu,

lantas turun dari sepeda

dengan wajah yang masih saja tak terbaca.

 

Kau mendongak,

mendekap bulan dengan ukuran tangan,

lalu kau tangkup air laut

mendengar cerita gelombang, garis pasir, kapal-kapal patah

tentang suara sepasang kekasih yang tenggelam

menjadi karang dan arus pasang.

 

Kau menyukai laut,

tirai cermin yang kadang mendamparkan kisah sedih.

Seperti album, laut tak ubah dinding kosong bagi memori waktu

tentang huru-hara

tentang rumah pecah

tentang lenguh takbir

tentang apa dan kenapa suara itu sekarang kau dengar.

 

baca juga: Ibu, Pengembara, dan Puisi Lainnya

 

Muson melolong,

meneriakkan kabar buruk

mengemis doa yang jauh.

“Kesedihan adalah doa yang tak pernah sampai, bukan?”

Lalu kau cium air laut di tanganmu

sebagai sesaji kecil pada mereka yang rindu keluarganya

: mengembalikan laut pada perjalanan tanpa ujung.

 

Sepanjang senja,

baik Donggala dan Tanjung Karang

pasang akan datang lagi, dan kau kembali pada sepeda waktu

mengayuhnya sepanjang garis pantai

berharap laut yang kau kirim menjadi lumba-lumba kecil

dari selembar perjalanan yang lain.

 

2018

 

  •  

 

Ingsun Manekung

 

Tidurlah bersama Ayam doaku,

sebab ini kematian paling agama.

 

Tanpa air mata,

bahkan suara,

kau jahit kepala ayam dalam pelukan benang,

kuncup bambu, dan laut santan sutera

sebagai penjamu kehilangan.

 

“Kami tak ubah Ubo rampe bagi Tuhan, bukan?” katamu,

Lalu tingkap,

berharap tinggal atau tenggelam

menjadi sesaji bagi mulut sejarah.

 

baca juga: Di Lidah Para Politisi dan Pendusta: Puisi-puisi Norrahman Alif

 

Di antara harum serai dan jahe,

doa kita mengempuk.

Bersama waktu berikut asap kayu bakar

yang pecah diterbangkan angin musim hujan.

 

Telah kutepuk lesung pahalaku, nduk.

Mekarkan langit

Temui ilahi

bawa ikhlasku yang sebanyak pagi

Amin

 

Begitu pula racaumu, yang entah kapan datangnya

kau nyanyikan,

mengemis garis matahari sebagai teman bicara

hingga doa empuk itu kau angkat

selepas tahlil memenuhi surau

menyambut pengantar yang kelak tiba.

 

“Nanti, tidurlah bersama ayam doaku,

sebab ini kematian paling agama”

 

Lalu menangis.

 

2018

 

*Ingsung Manekung diambil dari kepanjangan nama Ingkung, makanan Tradisional Jawa yang berbahan dasar ayam. Ingsung berarti “Aku” dan Manekung berarti “Memanjatkan Doa kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh.”

  •  

 

 

Tal di Lagos

 

Tiang itu tua usia, Tal.

Seperti tak pernah menyapa angin dunia luar,

namun ribuan detak

ribuan langkah

telah memekarkan bunga waktu

mengubahnya taman, mengarah pada kelahiran perlahan.

 

Konon, selalu kau baca kata tua dari tanah-tanah Gunung Sahilan

dan ia tak ubah lagu menyenangkan selama kau susuri jalan tanah.

Iya, bagimu yang hobi menimbang sekarang dan masa depan,

Datang berikut kepulangan.

 

Maka di Lagos, menangislah.

Dengar lagu kesunyian

Rintihan masa lalu telah bergelombang

-Memecah-

supaya jadi tunjuk ajar akan sejarah.

Galilah bara yang kehilangan hitamnya

Agar kau belajar sedalam emas kau dulang

pasti berakhir sejarah pula.

 

 

Tal, Lagos taman bermainmu, bukan?

Selain rimbang baling tempatmu berdoa

atau Kampar kiri dimana kau kerap memanggil senja hari.

Aroma bara berikut doa sering menyeru cakrawala

seperti mengemis sebuah pengharapan.

 

Di Lagos

Batubara pernah menyimpan emas

Pecahan batu menjadi selimut para romusha

Doa-doa menyusupi bebatuan

 

Lalu bermekaran.

 

2018

 

  •  

 

Cetus

 

kau tiba bersama gelombang,

sebagai mempelaiku atas mimpi buruk.

 

Ethiopia dan tanjungnya yang dikepung pasang

masih mengingatkanku pada nafasmu yang bau garam

pada geliatmu yang mengundang desir buih

di kedalaman nakal tubuhku.

 

Setelah kau siap menyantap mayat yang menggelepar

lalu kau cumbu aku dalam kejauhan pasang

angin laut membawa jauh harum kita

yang berbaur luka masa lalu.

Namun masih bisa kucium wangi darah yang bersisa di taringmu

yang menjelma kelopak bunga.

 

Akulah Andromeda yang kau cinta, bukan?

Bukan sebab kelancangan ibu,

atau murka pemilik laut.

Maka datanglah, datanglah menuju rindu maha palung ini.

Sergap lagi tubuh ini hingga buih kembali menyusup,

bersama arus, menembus kewarasan diriku

hingga gua dalam diri ini penuh dengan pasang

: ombak dan ombak.

 

Lalu kau tiba,

tapi sekarang sebagai cerita.

Aku masih menagih rindu

akan pernikahan mimpi buruk kita

yang telah purna dibawa angin pasang

dan kedatanganmu hanyalah gugus karang

tegang dan tenggelam.

 

2017

 

  •  
Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.


0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: