Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Budaya Literasi Keluarga

Oleh: Riduan S.         Diposkan: 29 Jun 2019 Dibaca: 1866 kali


Keluarga selalu menjadi titik berangkat dan titik kumpul. Dari sana timbul mimpi bersama. Dari sana pula muncul peranti untuk meraih mimpi itu, baik software maupun hardware. Dibentuklah, misalnya, karakter tentang pentingnya kegigihan, sportivitas, dan kerja sama. Mimpi itu tak selalu disuratkan, apalagi dititahkan seperti bagaimana orang tua menitahkan bahwa anaknya harus menjadi dokter hanya karena sang orang tua pernah gagal menjadi dokter, misalnya. Mimpi itu timbul begitu alami dari rumah hanya dengan bekal perjumpaan atau perstiwa-peristiwa kecil di rumah.

Banyak tokoh pada akhirnya jadi hebat hanya karena peristiwa-peristiwa kecil di rumah. Itulah kiranya mengapa sejak silam kita selalu terkesima dengan pandangan bahwa bagaimana pun, rumah itu istana. Otomatis karena itu, kita menjadi penduduk-penduduk istana. Artinya, kita orang-orang terhormat (pada dasarnya). Hanya saja, tak semua orang melakukan hal-hal terhormat. Juga tak semua orang menghargai keterhormatan, apalagi menggunakannya sebagai bekal meraih mimpi. Ada orang yang malah rusak karena kehormatan itu. Ini persis seperti penduduk istana: ada yang lalim, ada yang bijak.

Yang lalim tentu tak timbul begitu saja. Pasti ada proses-proses kecil yang mengubahnya ke sana. Demikian juga dengan yang bijak. Artinya, sikap atau karakter itu bukan bakat bawaan, apalagi takdir. Filsuf Will Durant merumuskannya begini: we are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit. Sikap dan karakter itu dipahat secara perlahan-lahan dan tentu saja itu dimulai dari rumah. Keunggulan kita pun akhirnya terbentuk karena selalu mengalami pengulangan berkali-kali. Manakala agak melenceng, penduduk-penduduk istana datang untuk mengingatkan dan mengarahkan agar kita bergerak pada siklus yang baik.

baca jugaMemahami Freud ala Pemula

Prosesnya Sepele

Orhan Pamuk, peraih Nobel Sastra asal Turki itu, memulai pengulangan siklus yang baik dari rumah. Tidak hanya memulai, Orhan Pamuk bahkan ditemukan dan menemukan dirinya dari rumah. Semula, ia tak menyadari bahwa peristiwa-peristiwa di rumahnya akan mengantarnya pada posisi sebagai orang hebat. Ia hanya tertarik pada hal-hal yang menarik perhatiannya di rumah. Prosesnya unik. Saban harinya, misalnya, ia melihat bahwa di sekelilingnya banyak benda serupa. Hari ini, esok, lusa, selalu saja ia berjumpa dengan benda-benda itu.

Melihat itu, besar kemungkinan ia keheranan. Keheranan, misalnya, tentang mengapa ayahnya selalu mengasyiki benda itu; mengapa juga banyak orang yang mengagumi dan membolak-balik benda itu. Ia pun mulai ikut-ikutan sekadar melihat-lihat. Ia masih kanak-kanak waktu itu, belum mengenal huruf. Tapi, anak-anak adalah peniru yang tekun. Apa yang dilakukan orang tuanya, ia akan mengikuti secara alami. Dari situlah barangkali ia terpukau sehingga timbullah sebuah teka-teki di benak Orhan Pamuk: untuk apa benda ini tersusun melimpah dan selalu diasyiki banyak orang?

Teka-teki itu menancap di benaknya. Maka, secara alami, berbekal sikap orang tuanya terhadap buku, Orhan Pamuk pun menjadi pembaca yang tekun. Perhatikanlah proses itu: sangat sepele. Dan, barangkali tak ada niat ayahnya membuat anaknya jadi pembaca yang tekun, apalagi penulis yang andal. Tetapi, tak semua persoalan, apalagi hal-hal sepele patut disepelekan, apalagi dikesampingkan. Benar bahwa pada mulanya Orhan Pamuk tak peduli, lama-lama mulai heran, pelan-pelan ikut-ikutan membolak-balik, keesokan harinya malah sudah ketagihan dengan aroma buku hingga kelak jadi karib yang baik untuk buku-buku itu.

baca jugaKekalahan Bolaño sebagai Penyair

Sekali lagi, prosesnya sepele. Tetapi, begitulah: bahwa buku bukan hanya setumpukan kertas. Buku adalah tumpukan ide dan imajinasi. Itu artinya, orang yang sering menggauli buku pada saat yang sama juga ia sedang membuka pikirannya sebagai alat penyimpan ide dan imajinasi. Bahkan, dengan buku, kita bukan sembarang bergaul dengan ide, tetapi juga bergaul di antara irisan imajinasi dan kenyataan itu sendiri. Melalui buku itulah, menyitir Goenawan Mohamad, tanpa sadar pola pikir(nya) dibentuk, imajinasinya dibebasliarkan. Dengan buku, Orhan Pamuk memulai dan mengakhiri hari-harinya.

Doa Penuntun

Buku menjadi doa penuntun hari-harinya. Buku menjadi lilin untuk setiap kegelapannya. Buku menjadi gizi bagi pemikirannya. Tanpa diduga, dengan buku itu, ia menjadi orang yang matang dan tak cengeng. Ia dibentuk menjadi sosok yang gigih dan pekerja keras. Terbukti, Orhan Pamuk tak langsung putus asa hanya karena karyanya tak kunjung diterima masyarakat. "Tak suatupun yang berubah dalam hidup saya karena saya bekerja sepanjang waktu," kata Orhan Pamuk ketika ditanya soal pengaruh hadiah IMPAC terhadap diri dan karyanya.

"Saya," lanjut Orhan Pamuk, "telah menghabiskan 30 tahun dalam menulis fiksi. Selama sepuluh tahun pertama, saya khawatir tentang uang dan tak seorang pun bertanya berapa banyak uang yang saya hasilkan. Dekade kedua saya menghabiskan uang dan tak seorang pun bertanya tentang hal itu." Kalimat-kalimat di atas hanya sebagian kecil dari perwujudan kegigihan Orhan Pamuk. Apakah kegigihan itu adalah hasil didikan orang tuanya? Ya, bisa jadi. Tapi, buku di perpustakaan itulah sesungguhnya yang menjadi perpanjangan tangan ayahnya. Buku itu menjadi kata-kata yang hidup di benak Orhan Pamuk.

baca jugaDesain Institusi Pemilu dan Warisan Orde Baru

Tidak hanya Orhan Pamuk. Banyak tokoh kemudian besar karena terlihami buku. Ada Mahatma Gandhi, Stalin, Karl Marx. Mau yang masih hidup? Ada Mark Zuckerberg dengan misi satu buku dalam dua minggu, Warren Bufet dengan 5-6 jam membaca buku dan koran yang berbeda, Bill Gates dengan target 50 buku per tahun, Elon Musk dengan 10 jam harinya membaca novel. Di negara ini, kita mengenal Bung Karno, Gus Dur, dan Bung Hatta yang menjadikan buku sebagai istri pertama. Tan Malaka bahkan memilih menyelamatkan buku daripada benda-benda lainnya ketika diserang.

Bagaimana Caranya?

Teramat panjang jika kita berbicara bagaimana buku bisa mengubah seseorang. Bahkan, betapa hebatnya buku nyatanya tak hanya mengubah seseorang, tetapi juga mengubah sebuah bangsa. Ini terafirmasikan dalam penelitian David Mc.Clelland. Tersebutlah dua bangsa yang sama-sama unggul pada abad XVI: Spanyol dan Inggris. Bedanya, sejak abad ke-16, Inggris makin jaya, Spanyol cenderung melempem. Mengapa? Faktor penentunya ada pada buku. Kelihatannya, cerita anak-anak Inggris mengandung semacam virus yang membuat pembaca terjangkiti penyakit “butuh berprestasi”.

Sementara itu, muatan cerita Spanyol cenderung didominasi oleh cerita romantis, lagu-lagu melodramatis. Sekali lagi, kita bisa menjejerkan betapa hebatnya sebuah buku. Apakah alasan-alasan di atas belum cukup agar kita mulai menularkan semangat baca buku pada anak dari rumah? Kalau belum, mari kita ambil alasan medis. Situs Mindbodygreen menulis, duduklah dan baca buku selama 20 menit. Ini sama aja dengan melakukan meditasi selama 20 menit. Membaca membuat kita berpeluang besat terhindar dari kepikunan (Ken Pugh).

baca jugaMembongkar Ketidaktahuan Tentang Massa

Dalam studi Sussex University, membaca bahkan bisa mengusir stres sebanyak 68 persen. Jangan sepele, menurut riset, membaca puisi bahkan dapat mengendurkan denyut jantung, dan irama napas jadi harmoni (International Journal of Cardiology, 6/9/2002). Kiranya, sekumpulan alasan ini sudah lebih dari cukup agar kita bergegas membuat anak gemar membaca buku. Jangan biarkan anak kita menjadi pecandu game yang membuat mereka lupa waktu. Kalau tak punya waktu mendidik anak, biarkan mereka jadi pembaca yang tekun di rumah. Buku yang baik bisa menjadi pengganti nasihat-nasihat.

Bagaimana caranya? Buatlah perpustakaan kecil di rumah. Ketika anak masih balita, sering-seringlah membaca di hadapan mereka. Anak, seperti Orhan Pamuk itu, akan menirunya. Lama-lama, anak akan ketagihan membaca. Jika anak sudah ketagihan membaca, pola pikirnya akan terjaga, kesabarannya akan terlatih, sikapnya akan tekun, orang tua tinggal mengarahkan. Ada nasihat baik dari Joko Pinorbo: masa kecil kau rayakan dengan membaca; kepalamu berambutkan kata-kata. Mari membantu anak sejak dini merayakan budaya membaca supaya kepala mereka menjadi kebun ide. Pada masa tua, kita tinggal memanen kebun itu.

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: