Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Buku Bawa Petaka

Oleh: Muhammad Mario Hikmat Anshari         Diposkan: 03 Oct 2018 Dibaca: 1678 kali


Siapa bilang buku itu baik belaka? Buku juga mendatangkan celaka. Pembaca bisa ketiban nahas berkepanjangan kalau tak berhati-hati berurusan dengan buku. Perkara tak menyenangkan itu tercatat dalam buku Libri di Luca (2009) garapan Mikkel Birkeegard. Libri di Luca mengisahkan Luca Campelli, seorang pewaris sah sebuah toko buku antik, mati seketika tatkala mencoba mengambil dan membaca buku kuno yang asing di perpustakaanya. Awalnya ia penasaran dengan buku itu. Ia menjumputnya dari rak dan tiba-tiba pingsan, lalu menyenggol tumpukan buku lain yang kemudian menimbunnya. Ia pun mati bernisan buku.

Hal yang mirip juga dialami Blumma Lennon, seorang dosen yang membeli buku puisi lawas karya Emily Dickinson dan kemudian meninggal tertabrak mobil saat menyusuri puisi kedua di tikungan jalan pertama. Nasib Blumma Lennon yang masygul itu, yang mati berbuku, diceritakan oleh Carlos Maria Dominguez di noveletnya bertitel Rumah Kertas (2016). Tak hanya Blumma, Carlos Maria juga menceritakan tokoh lain yang dirundung sial saat bersama buku.

Buku memancing petaka. Dari buku inspirasi jahat didapatkan. Miles Harvey menulis salah satu penemuan menarik dalam bukunya yang berjudul Island of Lost Map: A True Story of Cartographic Crime. Miles menjelaskan tentang bagaimana kekuatan sebuah buku berisi peta di zaman penjajahan. Ia menyadari daya sebuah buku berisi informasi menuju pulau-pulau tertentu, bisa jadi semacam brosur iklan untuk wisata penaklukan. Penjajahan Indonesia oleh bangsa Belanda misalnya, berawal dari sebuah buku berisi peta perjalanan ke Hindia yang dibuat oleh Cornelis dan Frederick de Houtman. Hindia yang digambarkan sebagai tanah subur nan kaya rempah, membuat Belanda tak berfikir panhang untuk mencoba menaklukan Portugis yang sebelumnya telah lebih dulu tiba. Novel The Jacatra Secret karangan Rizki Ridyasmara menjadikan apa yang ditulis Miles sebagai penguat dalam pembuka cerita dibukunya. Narasi itu memang cukup menggoda. Di zaman belum ditemukanya teknologi pembuat peta canggih seperti sekarang, kekuatan buku berisi peta, menurut Muhidin M. Dahlan, hampir mirip dengan kitab suci. Bedanya, jika kitab suci membawa berkah spritual, peta membawa berlimpah keuntungan material yang kapitalisitik.

Buku-buku memang tak pernah bebas nilai. Pengetahuan yang ditawarkan dalam sebuah buku kerap menggiring kesadaran pembaca untuk bertindak sesuai dengan standar moralitas tertentu. Jadilah buku semacam alat propaganda. Buku yang mencerahkan bisa jadi juga merupakan alat untuk membunuh.

baca juga: Proyek Manusia Ilahiah

Di Indonesia, sudah berapa banyak orang-orang terusir karena iman dipicu sebuah buku? Orang islam bermazhab syiah harus menerima perlakuan tak adil akibat diterbitkannya buku panduan, yang diklaim berasal dari MUI berjudul Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia. Sayangnya, materi buku tersebut dianggap sebagai kebenaran absolut. Tak bisa disanggah. Padahal, jika kita membaca dan mencoba menguji secara kritis, klaim-klaim yang dijabarkan oleh tim penulis sangatlah timpang. Referensi hanya berdasarkan satu mazhab saja. Hal ini menandakan bahwa ada motif memecah solidaritas umat islam, alih-alih motif ilmiah mencerahkan. Kita bisa membandingkan misalnya dengan buku Syiah Menurut Syiah yang digarap oleh tim Ahulbait Indonesia. Referensi terbentang dari beberapa mazhab yang dianggap bertentangan. Alhasil, pembaca bisa menilik di bagian mana perbedaan yang selama ini digemborkan itu ada. Atau argumentasi apa yang sebenarnya memicu kesalahpahaman umat islam terhadap syiah. Pembaca pun jadi terdidik. Tidak asal membenci dan merusak persaudaraan beragama lewat benda berwujud buku.

Buku mempunyai kekuatan mencerahkan dan merusak yang hampir sama besarnya. Dengan bertaklid buta pada hanya satu buku selama hidup, seseorang manusia bisa jadi monster buas yang sangat mengerikan. Ia akan menerkam apa saja yang berbeda dihadapanya. Mencabik-cabik akal sehat. Dan tak pernah mau mengaku salah. Berbuku pun akhirnya bikin manusia jadii zombie, tak lagi menyulut kebijaksanaan.

Bahaya itu makin parah, ketika hadirnya buku malah menjauhkan pembaca dari lingkungan sosialnya. Buku bisa bikin pongah dan egois, serupa kekasih yang manja, posesif dan tak ingin kekasihnya bertemu dengan orang lain. Buku-buku mampu mengurung pembaca dalam kamar berhari-hari. Terasing. Laku seperti ini –meminjam istilah Ignas Kleden- menandai sebuah individualisme kebudayaan, yang jika tidak awas, dapat membuat pembaca jatuh jadi pribadi yang konservatif dan berfikiran tertutup. Buku itu seharusnya menumbuhkan kepekaan dan menggugah kesadaran sosial. Bukan sikap apatis yang berujung lupa akar kebudayaan, tambah Agus M. Irkham dalam esainya “Paradoks Keberaksaraan”.

baca juga: Menulusuri Kota Suci Penuh Konflik

Sebab itu kiranya, jangan pikir buku melulu bawa berkah semata. Di seberang riwayat cemerlang pergumulan penuh takjub manusia dengan buku, terselip kisah lain penuh nestapa. Benda kecil itu mampu merayu siapa pun jatuh pada malapetaka. Penggandrung buku tak selamanya mujur. Buku juga pernah mengantar orang-orang disiksa, dipenjara, dan bahkan hampir masuk kubur. Maka berhati-hatilah dengan buku. Sebab ia bisa mengakibatkan cerdas dan berbahaya bagi orang anti intelektualitas.

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: