Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Buku Bekas dan Senjakala Kertas

Oleh: M. Rudy         Diposkan: 17 Nov 2018 Dibaca: 1833 kali


Beberapa waktu lalu di sebuah kafe, ketika diundang mengisi acara diskusi komunitas sastra di Cirebon. Ruangan tengah kafe itu, saya melihat tumpukan buku yang sekujurnya dimakan rayap. Tumpukan buku yang dilahap rayap itu disusun sedemikian rupa, seperti memang sengaja dipajang disitu. Saya berhenti sejenak, tersenyum. Bagi beberapa orang, tumpukan buku itu sepertinya biasa saja, tetapi di mata saya ia malah seperti sebuah seni instalasi, atau entah apa sebutan tepatnya, saya melihat seolah ada sesuatu ingin disampaikan. Setumpuk benda yang ingin mengabarkan pesan. 

Di kafe, orang tak selalu datang minum kopi dan membaca, orang lebih suka minum kopi sambil bercengkerama, berdiskusi, ngobrol dengan teman, kekasih atau berselancar dengan gawainya. Buku menjelma ruang sunyi yang kadang menjadi pilihan akhir ketika semua tampak membosankan. Saya ingat, setiap pergi ke luar kota saya selalu membawa satu atau dua buku dalam ransel. Dalam kereta saya biasa membunuh bosan dengan membuka pagina demi pagina, ini cukup menghibur apalagi jika kebetulan manusia duduk berbagi bangku denganmu adalah tipikal manusia menyebalkan. Dulu, ketika masih tinggal di Depok, saya kerap pergi ke danau Universitas Indonesia hanya untuk membaca dari siang hingga petang. Di sana kadang saya melihat mahasiswa mojok pacaran, ada juga yang berkumpul membentuk lingkaran berdiskusi entah apa.

Bagi para pecintanya, buku bukan lagi semacam jendela, ia dianggap benda yang mampu  mempercantik interior ruangan, buku setara benda seni serupa lukisan. Saya pernah melihat penggila buku yang memajang buku dalam dalam sebuah pigura di dinding rumah, ada yang menaruhnya dalam kotak kaca seperti sebuah piala, terakhir bahkan ada yang membenamkan Bumi Manusia karya Pram di tiang beton teras rumahnya.

baca juga: Kronik Perbukuan; Membaca Mozaik Lintas Zaman

Ada banyak kisah tentang buku dan para pecintanya, kegilaan yang menakjubkan, kelucuan sekaligus kadang menjadi sebuah kisah mengharukan. Seingat saya ada beberapa buku merangkum kisah-kisah itu. Kita mungkin akan tersenyum membaca kisah penyair Chairil Anwar yang salah mencuri buku di sebuah toko, buku yang semula dikiranya buku sastra ternyata adalah sebuah Bibel. Atau mungkin anda pernah membaca sebuah novel tipis padat berjudul Rumah Kertas karya Carlos Maria Dominguez, sastrawan kelahiran Argentina yang kemudian tinggal dan berkarya di Uruguay. Ada banyak kegilaan pada buku digambarkan dalam novel itu. 

Entah mengapa, dibanding pergi ke toko-toko buku baru, saya cenderung lebih suka pergi ke kios buku bekas. Di toko buku bekas, saya kerap menemukan sesuatu yang aneh dan tak terduga. Suatu ketika, saya pernah menemukan sebuah agenda bekas, bagi orang yang tak suka membaca, agenda itu tak akan ada artinya, karena memang hanya berisi coretan-coretan yang tulisannya sulit terbaca, mirip resep dokter, ada juga terselip kertas slip gaji di situ, slip gaji yang kian mengukuhkan siapa pemilik agenda itu dulu. Agenda itu adalah bekas milik seorang sastrawan yang juga banyak menulis biografi tokoh terkenal, termasuk biografi Soeharto. Saya membeli buku agenda itu sepuluh ribu rupiah, buku ini kemudian berpindah tangan menjadi koleksi pejabat tinggi yang terkenal senang mengoleksi buku. Pernah juga suatu ketika sepulang dari Jogja, di sebuah kios buku bekas tak jauh dari stasiun di Jatinegara, saya menemukan buku buluk berlapis kulit dengan ketebalan luar biasa, hampir sepuluh centimeter, buku itu tergeletak begitu saja di lantai kios seolah tak berharga. Saya memungut buku itu dari lantai dan menanyakan harga pada pembelinya. Buku itu oleh pedagangnya dihargai seratus ribu rupiah, saya membelinya. Pedagang itu mungkin akan misuh-misuh jika tahu bahwa kemudian buku tersebut saya jual kembali seharga lima juta rupiah.

Kisah diatas hanya sebagian kecil romantika toko buku bekas. Ada juga beberapa pecinta buku, yang berawal dari kegemarannya berburu buku kemudian terjun bebas sebagai pedagang buku di internet, baginya ini kegiatan menyenangkan karena bisa menyelam sambil minum air, kegemarannya pada buku tetap tersalurkan tanpa membuat jebol kantongnya, lebih dari itu ia  mendapat penghasilan tambahan cukup lumayan.

baca juga: Hari Tanpa Nama: Cinta Tanpa Dosa

Buku selalu menyimpan cerita menarik. Perjalanannya kadang lebih jauh dari penulisnya sendiri atau orang-orang yang pertama kali memilikinya. Dari ribuan buku bekas  yang saya miliki, ada banyak yang terdapat coretan berbagai kota belahan dunia, salah satunya tertulis Edinburgh 1965, itu sebuah kota di Skotladia. Buku ini saya dapat dari Bogor lalu sekarang nangkring di tempat saya di Jakarta. Saya coba membayangkan bagaimana ceritanya dari Edinburgh buku itu bisa ke kota Bogor, mungkin jauh sebelum menghuni rak buku saya ia sudah lebih dulu berkelana ke berbagai kota. Perjalanan sebuah buku adalah sesuatu yang unik. Orang bisa membelinya di mana saja, mungkin di sebuah kota kecil di Eropa atau di belahan dunia lainnya, ia membawa buku itu ke Indonesia, ketika pemiliknya meninggal, buku tersebut kesepian. Ia kehilangan tuan yang mencintainya. Ahli waris membuangnya ke loakan, dari lapak rongsokan buku dipilah kembali oleh pengepul buku bekas, pengepul menjualnya kembali di kios buku bekas. Sejak zaman internet, mata rantai perjalanan buku menjadi lebih panjang, banyak sekali orang berbelanja di kios buku bekas bukan untuk dibaca sendiri,  ia menjualnya kembali di internet.

Saya kerap tersenyum memperhatikan sebuah buku tua, di luar isi buku seringkali tertulis dan terselip banyak hal, mulai sekadar nama dan tanda tangan pemilik, tanda tangan penulis, kota tempat membeli, sepucuk puisi, sampai curhatan dan lain sebagainya. Seringkali orang bahkan menemukan secarik catatan penting sampai uang kuno terselip dalam lembarannya. Tanda tangan tokoh-tokoh penting atau penulis terkenal juga kerap menjadi sebuah kegembiraan tersendiri. Bagi sebagian pecintanya, tanda tangan penulis adalah sesuatu yang seksi, bagi para pedagang buku bekas sendiri bahkan bisa mendongkrak harga jual buku. Seorang teman pernah begitu bahagia ketika mendapat buku bertanda tangan Soe Hok Gie, saya sendiri berkali-kali merasa sumringah mendapat buku-buku lama bertanda tangan Bung Hatta, di lain waktu ada teman seperti tertimpa durian runtuh mendapat sesobek kertas, ya, hanya sesobek kertas yang bahkan koyak dan tak utuh lagi, tetapi disana terdapat tanda tangan Presiden pertama Indonesia, Ir. Sukarno. Saya juga pernah tersenyum mendapat buku bekas koleksi Sastrawan Ramadhan K.H yang saya temukan di loakan. Buku itu berasal dari Kuba diberikan seseorang untuk Ramadhan K.H, dalam halaman awal buku berbahasa Spanyol itu, tertulis sesuatu yang lucu dalam bahasa Sunda, "Kangge Kang Utun, menang maok ti Kuba..",  artinya kira-kira adalah "Buat Kang utun, dapat mencuri di Kuba". Utun adalah panggilan akrab Ramadhan K.H., temannya mungkin hanya bercanda soal buku hasil mencuri itu, tetapi mungkin bisa jadi juga benar.

Aldo Zirzov, seorang penggila buku mantan moderator Goodreads Indonesia yang memiliki koleksi buku luar biasa. Semasa kuliah di Colorado, Amerika Serikat, kerap mengirim buku-buku dari Amerika ke Indonesia. Dari sekian banyak paket yang dikirimnya, ternyata ada paketnya yang bermasalah hingga Aldo kesulitan mendapatkannya kembali. Ratusan buku milik Aldo tak jelas kemana rimbanya, Aldo kemudian masih berjodoh dengan sebagian kecil buku-bukunya yang hilang itu, ia menemukan buku-bukunya bertebaran di banyak titik pedagang di Jakarta dan Bandung, sebagian ditemuinya sudah menjadi koleksi orang.

baca juga: Semaoen: Sang Anak Ayam Berkokok

Tumpukan buku dimakan rayap yang dipajang di tengah kafe itu mungkin semacam pertanda, sebuah senjakala, ia bisa jadi bukan lagi sekadar bentuk kegelisahan. Internet menyuguhkan nyaris apa saja, berita dan infromasi banyak beralih pada layar ponsel kita. Pelaku industri buku beberapa mulai berkemas lalu bergegas. Beberapa kawan mulai memindai buku-buku langkanya, ada yang dijual atau dibagi atas nama cinta. Entah berapa puluh tahun lagi, mungkin anak cucu kita hanya akrab dengan buku digital atau buku elektronik, manusia tentu harus selalu siap beradaptasi dengan perubahan. Buku cetak mungkin akan tetap ada, ia akan tetap menjadi sesuatu yang seksi, tak masalah apa pun medianya, di atas batu, kulit binatang, daluang, lontar atau apa saja, yang penting orang tetap belajar dan membaca. Dan di kafe itu setumpuk buku tampak kesepian, rayap membantu menyelesaikan nasibnya.

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: