Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Buku dan Belanja Tanda Tangan

Oleh: Setyaningsih         Diposkan: 05 Sep 2018 Dibaca: 1764 kali


Tatkala saya singgah di toko buku Jose Rizal Manua di Taman Ismail Marzuki (TIM) bersama teman sekaligus esais kondang Solo pada Agustus tahun lalu, saya gagal membeli buku puisi Sutardji Calzoum Bachri berjudul O, Amuk Kapak!. Bukan karena tandon buku sudah habis atau buku sudah terpesan, tapi goresan tanda tangan sang penulis melejitkan harga. Buku bertanda tangan penulis itu dihargai Seratus Lima Puluh ribu. Ketika meletakkan buku bertanda tangan di antara tumpukan buku pilihan, saya memang tidak menduga tanda tangan mampu melejitkan harga buku. Jose Rizal mendamaikan perasaan saya yang kaget bahwa buku itu memang titipan dan bertanda tangan dari sono-nya. Meski Jose Rizal telah berbaik hati memberikan tambahan potongan harga untuk setumpuk buku lain yang terpilih, saya masih tidak cukup nekat membeli serta buku bertanda tangan itu. Tanpa buku bertanda tangan itu, saya memang masih berhasil belanja sekresek besar buku. Bukan belanja tanda tangan.

            Tanda tangan telah menempati peran setara bahkan melampaui penerbit dan penulis. Kumpulan cerpen, puisi, atau novel yang paling gembrot sekalipun, terasa belum ada tuahnya tanpa tanda tangan penulis. Kerja berpeluh melahirkan kata demi kata masih mengharuskan adanya penutup berupa tanda tangan. Publik sastra Indonesia barangkali sempat mengingat bahwa Dewi Lestari pernah menghabiskan Lima Belas pena untuk menggoreskan tanda tangannya pada buku seri pamungkas Supernova, Intelegensi Embun Pagi (Jawapos, 1 Maret 2016). Nama pengarang tak cukup untuk meyakinkan kata-kata yang lahir ke dunia. Tanda tangan semakin melegalkan dan menambah kegembiraan para penggemar. Untuk mendapat tanda tangan, orang-orang tidak perlu membaca buku sampai akhir. Mereka harus menjadi pembeli awal yang beruntung.

baca juga: Kumpulan Quote Erich Fromm

            Akhir-akhir ini, buku bertanda tangan memang sengaja diurusi penerbit atau toko buku dalam wadah pre-order atau pesan dulu. Tanda tangan terpaket bersama buku masih mulus belum tersentuh tangan pembaca. Yang juga mafhum terjadi adalah perhelatan acara bedah buku sastra oleh penerbit buku, toko buku, atau komunitas sastra berujung pada foto bareng dengan penulis dan antre tanda tangan. Biasanya, adegan puncak ini tampak paling heboh dan lebih ramai dari acara obrolan buku. Buku telah terabaikan lewat segores tanda tangan yang mengesankan tanpa janji suci mengkhatamkan buku dengan sesungguh-sungguhnya.

            Di toko buku Gramedia Solo pada 29 September 2017 sore, pernah dihelat acara temu dan sapa penyair Sapardi Djoko Damono. Serius! Acara ini penuh sesak oleh para penggemar, pengunjung, pembaca, penggarap skripsi yang bersumberkan buku Sapardi, dan apresiator (yang ini sangat sedikit). Acara tersebut juga merayakan kelahiran buku Manuskrip Sajak Sapardi Djoko Damono (Gramedia Pustaka Utama, 2017) garapan Indah Tjahjawulan, buku mewah-elegan seharga Tiga Ratus Enam Puluh ribu berisi sajak-sajak otentik Sapardi. Seperti biasa, di akhir obrolan Sapardi harus siap mendayakan tangannya yang tua dan literer untuk menandatangani buku. Namun kita bisa memastikan bahwa tidak banyak, pasti tidak banyak hadirin pemuja tanda tangan penulis, yang saat itu juga berani membeli manuskrip perjalanan kepenyairan Sapardi dan meminta tanda tangan sekaligus. Kebanyakan hadirin membawa buku-buku Sapardi yang pernah dipunyai. Tiga Ratus Enam Puluh ribu untuk sebuah tanda tangan?

sumber: Media Indonesia

Kehilangan Misteri

            Ritus meminta tanda tangan memang salah satu keabsahan seseorang memiliki buku. Saat tanda tangan asli goresan tinta hadir, ada semacam kembali ke kepurbaan. Keberadaan tanda tangan mengonservatif ruang dan waktu atas visualitas buku yang modern. Tanda tangan menjadi nilai apresiasi. Sebuah pembayaran atas keberhasilan diri merampungan buku, melewati dalam hening bersama kata-kata. Pengarang pun merasa berbahagia saat membubuhkan tanda tangan. Para pembaca bersudi merumahkan penulis dan buku.

            Namun, dunia bisnis buku membalik konsepsi emosionalitas pembaca dan pengarang. Tanda tangan lebih menandai gaya promosi buku. Tanda tangan secara prestisius sudah siap tersegel dalam buku dan bisa dipesan di awal. Pertemuan pembaca dengan pengarang yang mungkin pada suatu hari nanti terjadi, dihilangkan misterinya. Bahkan, misteri buku dihilangan karena tanda tangan seperti mengesahkan orang-orang untuk menunda diri jadi pembaca. Tanda tangan terlanjur jadi pukau daripada kata-kata.

            Paulo Coelho dalam buku Seperti Sungai yang Mengalir (2013) bercerita bahwa ada hal menyenangkan saat acara penandatanganan buku bukan karena ia meninggalkan tanda pada pembaca. Coelho justru menerima tanda dari pembacanya. Ia mengatakan “…, ada pembaca yang mendatangi saya dengan membawa salah satu buku karya saya yang telah lusuh, karena telah berpindah tangan dari satu teman ke teman lainnya hingga belasan kali.” Bagi Coelho, terutama bukan popularitas penulis terbukti oleh tanda tangan. Coelho gembira menyadari bahwa buku telah berkelana menemui banyak orang. Buku mewakili diri melintas ruang dan waktu. Sampai hari menentukan itu, buku kembali menyapa dirinya lagi. Buku seperti anak yang kembali ke bapak.

baca juga: Kumpulan Quote Jostein Gaarder

            Di buku The Man Who Loved Books Too Much (2010) yang digarap dengan apik oleh Allison Hoover Bartlett, kita mendapati perburuan buku menegangkan oleh para kolektor, pencuri-penggila buku, polisi buku, dan pembaca. Buku terbitan pertama, buku cetak dalam edisi terbatas, dan buku bertanda tangan atau tanda kata adalah kelangkaan. Buku langka bertanda tangan bisa setara dengan nyawa. Selain tanda tangan, ada tanda kata atau ucapan yang mengantarkan orang-orang pada emosi masa lalu. Seolah, mereka menyaksikan situasi pengarang saat itu. Memiliki buku dengan tanda kata seperti ini mengartikan keinginan terlibat dalam perjalanan buku. Diri menjadi pewaris sah sejarah buku di masa lalu.

            Setiap pembaca pasti pernah mengalami menemukan buku lawas lusuh, sempat dimakan rayap, ada sisa kotoran cicak, atau berbau lembab masa lalu. Imajinasi kita digerakkan pada perpindahan buku ke rumah, perpustakaan, tas, meja, rak, bahkan buku mungkin pernah dipeluk pemiliknya sambil tertidur. Tanda jadi menyejarah dan mengantarkan buku mengembara menemui orang lain di tahun-tahun selanjutnya. Tidak banyak buku memiliki momentum bertanda yang bertahan dalam kelana semesta.    

            Dunia buku saat ini tidak mencukupkan membaca sebagai tanda jadi pembaca. Tanda tangan adalah penanda sosialitas sastra, melengkapi kehadiran di acara-acara nyastra. Kejadian ini sering tidak menjamin orang-orang bergerak dengan ketetapan jadi pembaca meski tanpa tanda tangan pengarang. Justru, tanda tangan menjadikan pengarang ataupun penulis jadi sekelas selebritas. Publik (belum) pembaca mencoba menjadi penggemar tanpa pertaruhan menjadi apresiator. Memiliki buku telah usai bahkan sebelum kata sampai di halaman terakhir. Cukup, sudah ada tanda tangan penulis kok!

  •  

Setyaningsih

Penderita novel, esais, dan kontributor penulis buku anak Kacamata Onde (2018). 

Tulisan pernah dimuat di Solopos, Koran Tempo, Jawa Pos, pocer.co, Jurnal Ruang.

 

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: