Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Capek: Bepergian dan Kematian

Oleh: Bandung M.         Diposkan: 07 Nov 2019 Dibaca: 676 kali


Pada masa 1980-an, jumlah novel terjemahan ke bahasa Indonesia semakin berlimpah. Novel-novel berasal dari Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Belanda, Jepang, Rusia, dan lain-lain turut memicu gairah bersastra di Indonesia. Terjemahan novel-novel asal Jerman masih sedikit. Jakob Sumardjo dalam buku berjudul Dari Khazanah Sastra Dunia (1985) menjelaskan: “Terjemahan sastra asing di Indonesia hampir merupakan tradisi dalam kehidupan sastra kita.” Terjemahan itu penting bagi pengaruh dan perkembangan penulisan sastra dalam bahasa Indonesia, dari masa ke masa.

Sastra Jerman telah memikat para pengarang dan pembaca di Indonesia sejak masa kolonial. Usaha untuk menerjemahkan ke bahasa Indonesia masih kalah bersaing dengan sastra dari pelbagai negara. Jerman tak melulu referensi sastra. Kaum intelektual di Indonesia sering mengutip pemikiran-pemikiran dari para filsuf Jerman. Di sastra, kemauan menerjemahkan lambat dan sedikit. Situasi itu berubah pada abad XXI. Sastra Jerman mulai rajin diterjemahkan ke bahasa Indonesia: puisi, cerita pendek, novel, dan drama.

Anton Kurnia dalam Ensiklopedia Sastra Dunia (2019) mengenalkan Thomas Mann ke pembaca. Pengarang asal Jerman itu tenar gara-gara penerbitan novel berjudul Buddenbrooks (1991). Anton Kurnia pun mencantumkan buku terpenting Thomas Mann: Death in Venice. Novel itu telah difilmkan pada 1971. Di Indonesia, Thomas Mann itu nama tak terlalu dikenal atau digemari. Kita mengutip kalimat buatan Anton Kurnia, sebelum meralat: “Sejauh ini belum ada novelnya yang diterjemahkan secara utuh ke bahasa Indonesia.” Pada 2019, kita sudah disuguhi Maut di Venesia, hasil terjemahan Noa Dhegaskan. Kini, kita membaca dan menafsir.

baca juga: Bahaya Laten Anti-Intelektualisme

 

Capek

Pada usia 50 tahun, pengarang tinggal di Muenchen (Jerman) merasa capek dan “jenuh” di ibadah menggubah sastra. Hari-hari telah ditulisi dengan cerita-cerita. Ia ingin jeda. Lelaki mulai menua bernama Gustave Aschenbach itu merasa terlalu lama menekuni sastra. Pada waktu, ia enggan menghabiskan semua demi menulis cerita. Ia pun berjalan, melihat taman, mengamati orang-orang seliweran, mendengar suara pelbagai kendaraan di jalan, merasakan angin, menatap daun, dan penasaran ke benda di kematian. Peristiwa agak menakjubkan, tetap saja menjebak ke pergumulan imajinasi-sastra.

Di depan tempat pembuat dan pedagang nisan, ia sejenak di pengelanaan imajinasi kematian. Ia memandang dan menafsir: “… salib, tugu, dan nisan peringatan membentuk sebuah pekuburan palsu tanpa penghuni yang mampu menyaingi hening serta ngeri pekuburan sebenarnya.” Bergerak dari suntuk mengurusi sastra, tokoh buatan Thomas Mann dalam novel berjudul Maut di Venesia, sampai ke tempat merangsang imajinasi kematian dan Tuhan.

Ia serius menatap dagangan nisan dan kapel makam. Aschenbach lelaki Jerman dengan kepekaan rasa dan imajinasi menuruti jalan tafsir atas bentuk dan kata-kata di kapel makam: “Bagian depannya dihiasi salib-salib Yunani dan simbol keramat warna-warni dan menampakkan sepilihan ayat kitab suci yang diukir sejajar dalam huruf emas berkilau, semua kita itu mengisyaratkan kehidupan dunia sana seperti: ‘Kembali ke rumah Bapa di Surga’ dan ‘Semoga Cahaya Abadu tak hentinya menyinari’” Ia semakin terperosok ke makna mistis. Pengalaman sejenak itu tak lagi pelesiran seperti diniatkan semula saat keluar dari ruangan menulis cerita.

baca juga: Memerkarakan Max Havelaar

Imajinasi kematian itu berada di halaman depan. Pembaca disergap penasaran oleh cara Thomas Mann mengenalkan tokoh dan mencicil cerita mengenai kematian masih palsu. Pembaca harap bersabar, sebelum sampai di halaman akhir. Di situ, kematian sang tokoh. Kematian terlalu berbeda dari pembuka cerita. Novel ditulis Thomas Mann pada 1911 itu berakhir dengan mengharukan: “Setelah beberapa menit berlalu barulah orang-orang bergegas membantu pria tua yang jatuh terguling dari kursinya di tepi pantai. Mereka membawa pria renta itu ke kamar hotelnya. Dan sebelum malam lingsir, dunia seketika terguncang atas kabar kematian terhormat salah seorang sastrawa besar.” Tokoh itu mati di Venesia, kota sedang menanggungkan nestapa akibat wabah sampar. Kematian di halaman akhir tak semenakjubkan imajinasi kematian ditaruh pengarang di halaman awal, sewaktu si tokoh masih berada di Jerman.

Kematian memang pesona dalam teks-teks sastra. Pembaca mungkin tak terlalu kaget mendapat suguhan novel atau cerita pendek dari para pengarang besar dunia dan Indonesia bermula dan berpuncak di kematian. Cerita tak menginginkan pembaca wajib berairmata. Sensasi atau peka mungkin diharapkan dimiliki pembaca agar cerita lama mendekam di kembara imajinasi, sebelum kembaca kembali ke alam realis. Kita sengaja memilih kematian di awal dan akhir, memberi kepastian bahwa pemberian judul memang tepat: Maut di Venesia, terjemahan dari edisi berbahasa Inggris, Death in Venice. Thomas Mann (1875 – 1955), pengarang asal Jerman, telah mewariskan cerita kematian mengharukan ke kita. Cerita dijuduli Maut di Venesia turut menjadi penentu puncak kesastraan Thomas Mann dengan mendapat Nobel Sastra 1929.

Pada masa kecapekan, si tokoh sebelum mati terus berpikiran: “bepergian sebagai kebutuhan pokok.” Ia mengaku mulai mengalami penurunan atau surut dalam bersastra. Bepergian mungkin selingan, jawaban, atau rangsangan. Ia terlalu lama dan betah di Eropa. Thomas Mann memberitahu pembaca tentang kondisi si tokoh: “Pikiran atas keleluasaan dan kebebasan bertualang keliling dunia yang akan menjauhkannya dari meja tulis selama berbulan-bulan, sangat menyenangkan pun meresahkan untuk ditanggapi dengan sungguh-sungguh.”

baca juga: Yang Terurai dari Tabrakan Dini Hari Tadi

Menetap dengan gubahan sastra sulit rampung dan memuaskan bukan pilihan membagiakan. Pamitan dari ruangan menjenuhkan dan meninggalkan meja tulis untuk pergi mungkin memenuhi panggilan “kejutan” atau kegirangan terlambat diperoleh selama berpredikat pengarang tenar. Ia harus pergi meski belum bermaksud sampai ke kematian. Pengalaman memandangi nisan dan kapel makam malah kebablasan ke kematian di tempat jauh, kematian tanpa dilengkapi mendapat nisan mencantumkan tulisan memukau.

Bepergian dan kematian, dua pokok dalam novel berjudul Maut di Venesia. Pembaca mulai berimajinasi maksud orang-orang Eropa pelesiran di awal abad XX. Mereka masih pelesiran di Eropa, belum menuju ke negeri-negeri jauh di Asia dan Afrika. Pelesiran mengartikan tempat-tempat memenuhi sekian pamrih raga dan batin di keinginan mendapat “kesegaran”, “keindahan”, “pesona”, dan “keunikan”, setelah hari-hari menjadi basi akibat repetisi. Bepergian atau pelesiran itu perbuatan terhormat bagi pemilik tata nilai hidup harus membahagiakan, bukan hidup terkhianati oleh suntuk di pekerjaan dan surut dalam pemaknaan keseharian.

 

Sastra

Sejak belia, Aschenbach sudah berlumuran sastra, menempuhi jalan panjang kesusastraan mendapat pujian dan kehormatan. Selama puluhan tahu, ia di rutinitas ibadah sastra: “Aschenbach memulai harinya dengan menyiram air dingin pada dada dan punggungnya, lalu, memasang dua batang lilin tinggi pada tempat lilin perak di depan naskahnya, seolah mempersembahkan dirinya untuk seni semata selama dua hingga tiga jam, begitu khusyuk bak berdoa, saat itulah semua kekuatan yang ia kumpulkan selama tidur tercurah.” Kebiasaan itu menghasilkan buku-buku dikagumi para pembaca. Buku-buku bergelimang capaian-capaian kesusastraan berakibat ke capek.

baca juga: Revolver Kami yang Penuh Cinta dan Cha-Cha-Cha

Ia pun harus pergi, meninggalkan naskah-naskah. Pergi untuk membuat hidup tak terlalu melelahkan. Pergi dengan kehormatan selaku priyayi Eropa. Pelesiran itu menunaikan tugas-tugas mulia dalam hidup dengan album permintaan, kemanjaan, dan kesialan. Ia tak mengira bakal memuncak dengan kematian. Bepergian itu kematian. Aschenbach tak mungkin kembali ke maja tulis, mustahil menunaikan ibadah merampungkan naskah-naskah cerita.

Thomas Mann mengenalkan ke pembaca kehidupan tokoh di keseriusan seni tapi menginsafi ada kutukan-kutukan telak. Pengarang itu menggubah sastra dengan segala ironi dan percikan filsafat tapi sadar menanggungkan takdir “kemeranaan”. Bepergian dan kematian itu takdir, akhir dari persembahan-persembahan sastra telah diselenggarakan dengan pelbagai ketulusan dan “dendam”. Thomas Mann mengemukakan seni dan nasib si tokoh: “Seni memberikan pengalaman lebih dalam akan kebahagiaan, seni melahap segalanya lebih cepat dari apa pun di dunia.”

Aschenbach membuktikan memang seni memang melahap semua: cepat dan sulit diramalkan. Keputusan pergi ke Venesia dan tinggal lama berakhir kematian. Ia sempat kagum dan terangsang di pengembaraan menegangkan saat kota terserang wabah sampar. Situasi itu dimengerti tanpa takut. Ia seperti berserah ke kedatangan maut. Ia pun “mengakhiri” cerita, jauh dari Munchen dan terpisah dari meja tulis memiliki dua lilin di “ibadah” kesusastraan. Begitu.  

  •  

Judul : Maut di Venesia

Penulis : Thomas Mann

Penerjemah : Noa Dhegaskan

Penerbit : Penerbit Circa

Tebal : viii+130 halaman

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: