Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Cerita-cerita yang Mengurung Kita di Dalam Kuil

Oleh: Adnan Nazuaf         Diposkan: 14 Nov 2019 Dibaca: 1350 kali


Dalam kata pengantar  The  Famished Road yang diterjemahkan oleh Salahuddien GZ (Serambi, 2007),  Eka Kurniawan menyebutkan ada jejak-jejak Gabriel Garcia Marquez pada novel—dan kebanyakan karya—Ben Okri. Dunia memang terlanjur mengenal Ben Okri sebagai seorang penulis Nigeria dengan corak Realisme Magis, terlebih saat dia beroleh penghargaan Booker Prize pada tahun 1991. Meski secara personal Ia sendiri kerap menolak kategori itu, dan sesumbar menawarkan istilah “Dream Logic” untuk seluruh prosa yang ia karang. Baginya, seluruh atribusi Realisme Magis yang melekat padanya hanyalah kemalasan berpikir para kritikus.

Di satu sudut, kita bisa berdebat panjang tentang penolakan Okri. Misalnya, Apakah Ben Okri seorang pengidap The Anxiety of Influence (kecemasan atas pengaruh), seperti yang pernah diuraikan Haroold Bloom (1973), seorang krtikus sastra kenamaan asal Amerika. Lalu, sejauh mana dikotomi antara ‘Realisme Magis’ dan ‘Dream Logic’—yang Ben Okri suguhkan. Tapi di sudut lain, kecakapan Ben Okri dalam menggambarkan kehidupan orang-orang Afrika—peperangan dan tekanan, ketidakberdayaan, absennya Negara, juga persekutuan mereka dengan roh—menjadi  sebuah alegori yang tampak utuh, dan tak dapat diganggu gugat.

Pada delapan cerita pendek yang terhimpun dalam Incident at the Shrine, diterjemahkan menjadi Insiden di Kuil (Basabasi, 2018), kita bisa melihat keterampilan Ben Okri sejak memasuki halaman-halaman awal. Dan, saat berhasil menandaskan cerita pertama berjudul “Tawa di Kolong Jembatan”, kita akan meyakini sepenuhnya, bahwa seluruh pujian yang saya lontarkan pada paragraf sebelum ini bukan sejenis racauan tukang obat di pasar kaget atau igauan para member MLM yang memberi iming-iming kapal pesiar.

baca juga: Capek: Bepergian dan Kematian

Cerita pembuka ini menjadi begitu memikat karena pelbagai hal. Pertama, ia begitu kompleks—tentang Perang Biafra (1967-1970) yang dipicu oleh pemisahan sejumlah Provinsi di bagian tenggara Nigeria, tentang ruh dan kekuatan supranatural dalam tarian-tarian dan topeng Egungun, tentang kecemasan alamiah seorang ibu, dan lain sebagainya—tetapi cerita tetap terfokus pada apa yang dialami narator, seorang bocah laki-laki berusia sepuluh tahun. Kedua, Ben Okri menyuguhkan cukup banyak kelakar yang alih-alih sukses membuatmu tertawa, justru berpotensi mendatangkan kemurungan beberapa saat setelah proses pembacaan usai. Ketiga, kau akan memahami bagaimana kepolosan seorang bocah saat menghadapi cinta di tengah kecamuk perang di kotanya, dan superioritas tentara yang merenggut Monica—Sang pujaan hati—hanya karena keduanya berasal dari suku pemberontak dan tak cukup cakap memahami bahasa Tentara dengan baik.

“’Bicara pakai bahasmu!’ teriak Tentara itu saat paha Monica gemetaran. ‘Bicara pakai bahasmu!’ teriak Tentara itu saat pipis Monica menuruni pahanya dan menetes membentuk genangan. Dia meratap. Kemudian meracau. Dalam bahasa sukunya sendiri” (hlm. 37).

Dalam cerpen bertajuk “Ketimpangan” sang narator yang selalu merasa “Aku tak kuasa menahan perasaan kalau peradaban dibangun berdasarkan jalinan dusta yang gelisah” (hlm.62). Harus minggat dari rumah ‘imajinernya’ setelah perdebatan sengit dengan segerombol Mahasiswa tingkat akhir yang mengidentifikasi diri sebagai Anarko-Komunis, dengan Marijuana yang tertempel di bibir masing-masing. Ia lalu pergi menuju Bar, mabuk, lalu terserap dalam sederet kejadian-kejadian komikal yang turut menggambarkan bagaimana ‘ketimpangan’ bekerja.

baca juga: Bahaya Laten Anti-Intelektualisme

Misalnya, ketimpangan itu hadir saat narator membaca sebuah berita tentang orang Nigeria yang kehilangan seperempat juta pound di jok belakang taksi yang ia tumpangi. Baginya, kejadian itu lazim belaka, lebih jauh lagi itu serupa buntut dari ‘nilai’ yang dikuasai secara individual—alih-alih komunal. Seorang Nigeria yang kaya dan sopir taksi dengan rasa lapar; keduanya berkelindan dalam tatanan yang ‘mapan’ dan takluk pada kehendak ‘modal’. Dalam keadaan mabuk, dan penuh dengan imajinasi liar, ia lalu memberi sebuah pertanyaan—yang terkesan filosofis, “siapa yang bisa menyangkal kalau sistem ini (sosok monster yang tak kasat mata ini) memiliki kapasitas untuk menyerap semua cabangnya yang rusak” (hlm. 66).

Dalam Cerpen “Insiden di Kuil” semuanya tiba-tiba menjadi seolah murung dengan sisi religiustias yang—tampak sengaja diedarkan—begitu ruah. Ibarat pohonan teh yang tumbuh subur di dataran tinggi, Refleksi mendalam begitu mudah dipetik dalam kisah ini, terlebih dalam dialog-dialog yang meluncur dari mulut sang pencipta Arca, Paman dari Anderson sendiri. “Dunia adalah kuil dan kuil adalah dunia. Segalanya pasti ada pusatnya. Saat kau membual, hal-hal buruk terbang ke dalam mulutmu.” (hlm. 94)

Tetapi, Anderson, yang telah selama beberapa tahun meninggalkan Desa, dan tenggelam dalam sejumput ‘kepenatan’ masyarakat urban, telah menjadi yang ‘lian’. Ia tampak terasing atas ritus dan tradisi, juga bunyi lonceng dan doa-doa. Karena ‘kekalahan’ di kota, ia harus kembali ke Desa dan memulai adaptasi baru. Kendati demikian, Okri menghadirkan itu dengan teknik terbaik, menghindarkan cerita dari klise dan banalitas: tokoh-tokoh yang memiliki semangat berkhutbah melebihi para Nabi.

baca juga: Memerkarakan Max Havelaar

Dalam sejumlah cerpen lainnya, seperti “kedok” atau “Sepenggal Sejarah Tersembunyi” atau “Doa Laknat” kita diajak masuk pada semesta Ben Okri. Semesta rekaan yang bukan sekedar imajinatif, tetapi menyodorkan keajegan logika dalam cerita. Sejumlah hal yang cukup jarang kita jumpai dalam semesta rekaan di Indonesia.

Pada momen tertentu, setelah membaca seluruh cerpen Ben Okri, kita mulai memahami keadaan—dan  seperti apa yang diwartakan Marx dan Engels, bahwa keadaanlah yang membawa kesadaran—bahwa dunia yang terlanjur kacau-balau ini tak bisa dikencingi hanya dengan doa-doa dan sekelumit harapan. Dan sialnya, Ia tak hanya terjadi di dua kutub Timur-Barat, tetapi menyebar di seluruh kawasan, tanpa polarisasi yang berarti.

Melalui sekumpulan cerita ini, seperti Anderson, masing-masing dari kita terkurung di dalam kuil. Di tengah lilin yang terkubur dalam kabut dupa biru, bersama kelompok kecil penari, juga akar-akar dan bulu di arca utama, lalu pikiran iseng tiba-tiba melintas: dunia ini pastilah sangat kejam sehingga membutuhkan doa—dan ritual—sehebat itu (hlm. 96)

  •  

Judul : Insiden di Kuil

Penulis : Ben Okri

Penerjemah : Afris Irwan

Penerbit : Basabasi

  •  

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: