Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Cerita Menolak Akhir

Oleh: Irfan Sholeh Fauzi         Diposkan: 04 Oct 2018 Dibaca: 708 kali


Eko triono mengoyak paradigma cerita Indonesia. Dengan misi yang diusung, ia merombak anggapan cerita yang selama ini telah mapan kalau bukan “dimapankan”. Misi besar ini barangkali membuat pembaca maklum dengan kekurangan asyik-masyukan Eko bermain-main dengan bahasa seperti pada kumpulan cerita terdahulunya: Agama Apa yang Pantas Bagi Pohon-Pohon? (2016).

Meski berbentuk antologi, Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini (2017) tak sekadar cerita yang asal himpun. Selain kesatuan misi, cerita-cerita juga dibuat secara khusus oleh Eko. Dari 24 cerita, hanya satu yang pernah dipublikasikan.

Ada pertanyaan yang ingin dijawab Eko dalam buku ini: Apa itu cerita?

Pertanyaan ini menjadi penting sebab relasi koran dan sastra, atau dalam hal ini khususnya cerita pendek, amat pelik. Koran adalah media yang secara konsisten memberi ruang sekaligus mencatat pertumbuhan pengarang, tapi di sisi lain, menimbulkan konsekuensi mendefinisikan apa itu “cerita pendek”.

baca juga: Etgar Keret: Menilik Kemanusiaan dari Tanah yang Dijanjikan

Dampak dari definisi ini sialnya membuat standar bahwa “ini” cerita dan “itu” bukan—dan berbagai kemungkinan variabel lain. Eko bermain dengan “itu”. Dengan hal-hal yang barangkali alih-alih kita anggap cerita, malah keisengan. Di sini kita bisa menduga alasan Eko enggan memublikasikan ceritanya. Ada pertimbangan kalau yang ia usung tak diberi ruang.

Sebelum Eko memulai eksperimennya, ia membuat pijakan dari anggapannya mengenai cerita. Ini barangkali ia nilai penting dilakukan demi pengetahuan pembaca akan dasar pembuatan cerita eksperimentalnya.

Dalam cerita semacam itu, secara bentuk, Eko masih menampilkan cerita yang acap kita baca. Di sini kesabaran Eko diuji. Cerita mesti memuat cerita dan “pesan” secara bersamaan. Menahan suara pengarang agar tak terlalu kentara, apalagi berlebihan, keluar dari mulut tokoh rekaan.

Tapi Eko tak terlalu risih dengan pesan tak sublim. Menurutnya, pembaca memang mencari yang seperti itu. Tulisnya dalam Cerita Sesuai Selera Pasar: “Nanti kucari tokoh, latar, pengembangan konfliknya, serta cara agar tidak terlihat menyampaikan pesan secara gamblang; semacam permainan mutar-mutar dengan peristiwa dan kata-kata, sebab pembaca cerita mencari yang seperti itu, meski yang dikutip nantinya juga pesan-pesan yang kusembunyikan.”

baca juga: Stephen Hawking: Melubangi Waktu

Pembaca selalu mencari kutipan. Dalam paragraf lain Eko menambahkan sebab itu terjadi karena, “pada mulanya manusia satu. Mereka mencari bagian cerita diri mereka sendiri yang dibawa oleh manusia lain, kelompok lain, suku lain, bangsa lain [...] manusia  dari berbagai belahan dunia menulis cerita-cerita dan membaca cerita-cerita untuk saling berbagi cara menemukan kemanusiaan mereka sendiri.”

Bagi Eko, manusia terbentuk dari cerita-cerita. Membaca cerita adalah upaya mencari dan lantas menandai bagian dari dirinya yang hilang. Menyempurnakan kemanusiaan dari diri pembaca.

Tapi penandaan manusia akan cerita tak sebatas teks. Manusia juga menandai diri dari angin pagi, semburat merah di sore hari, dan berbagai hal lain. Pada titik ini Eko mulai menunjukan eksperimennya pada bentuk cerita.

Konon tanda tangan mewakili kepribadian empunya. Tanda tangan merangkum cerita seseorang melalui garis. Dalam cerita yang berjudul amat sangat panjang, cerita Eko berisi tiga kata (“cerita tanda tangan”) dan sebuah tanda tangan. Judul cerita itu ialah Cerita yang Setiap Manusia Diwajibkan Memilikinya Dengan Mula-Mula Mempelajarinya Ketika Masih Kecil Kemudian Menghafalkannya Sampai Dewasa Kemudian Digunakan Dalam Berbagai Kesempatan Dan Diulang-Ulang Dengan Cara Yang Sama Sebagai Sebuah Tanda Dari Masa ke Masa Dari Satu Urusan ke Urusan Yang Lain Mulai Dari Urusan Terkecil Sampai Terbesar Dari Pernyataan Sampai Peperangan Wajib Digunakan Termasuk Dalam Setiap Tanda Pengenal Dan Kartu-Kartu Dan Surat-Surat Dan Formulir-Formulir Dalam Kehidupan Manusia Yang Begitu Banyak Jumlahnya Meminta Manusia Berusaha Memiliki Satu Cerita Istimewa Yang Berbeda Dari Cerita Pribadi Manusia yang Lainnya yang Terus Mengikuti Cerita-Cerita Lain Dalam Liku-Liku Perjalanan Hidupnya Sebagai Pribadi Yang Meninggalkan Cerita Abadi.

Bentuk semacam ini juga Eko ulangi dengan sedikit lain dalam Cerita dalam Satu Kata yang hanya berisi: “cerita”. Kita bisa menduga Eko telah menemukan jawabannya. Sebagaimana manusia yang unik, cerita pun demikian. Cerita adalah cerita itu sendiri, bagaimana pun bentuknya. Meski dalam dua cerita itu pembaca peroleh jengkel.

Kita pernah menjumpai cerita mini dari Triyanto Triwikromo (2016): Sesuatu yang Ditinggalkan oleh Malaikat Jibril di Gua Hira dan Kita Menganggapnya sebagai Rahasia Terindah Sepanjang Masa. Dalam judul panjang itu Triyanto menorehkan halaman kosong. Dengan kesan teknik nyaris sama, kita memperoleh impresi pembacaan yang amat berbeda. Triyanto berhasil mengoptimalkan bentuk dari ceritanya.

baca juga: Buku Bawa Petaka

Eko sebanarnya sangat elaboratif dalam gagasan mengenai cerita. Hanya saja, eksekusinya kelewat buru-buru. Banyak bentuk cerita yang ia usung, mulai dari bingkai, kamus, teka-teki silang, kata terbalik, hingga resep membuat sesuatu, di antaranya terkesan asal. Termasuk Cerita dalam Ulangan Harian Kita. Eko membuat cerita berbentuk piilhan ganda. Sayangnya, tak ada konsekuensi dari satu soal ke soal lainnya. Cerita hanya sekadar sekumpulan soal.

Namun barangkali benar Anton Kurniawan dalam Pengantar. Kumpulan cerita ini adalah upaya Eko membawa kebaruan. Dalam judul yang disebut terakhir, upaya yang diusung Eko disambut Roby Julianda dalam cerpen Pilihan Ganda Dari Tuhan (Koran Tempo, 23 Desember 2017).

Sepatutnya sebuah upaya, tentu saja tak menjanjikan keberhasilan selalu. Andaikan sebuah salto, Eko kadang membikin dirinya terpelanting, terpeleset, hingga mungkin cedera. Wajar, tentu saja. Tapi tak semua orang berani untuk itu.

  •  

Irfan Sholeh Fauzi

Pembaca buku dan Takmir liqo Akar Sungai, Solo

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.


Tags

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: