Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Chevronomics

Wishlist
Stock: Tersedia
Terjual : 1
Jumlah:

#TetapKirimBacaan lihat promo di bawah:

Info Pengiriman: 
Pesanan masuk tgl 21 - 27 Mei 2020 akan dikirim tgl 27 Mei 2020
Pembelian : Diskon 25% Off all item tanpa syarat. Kode kupon: radicalmay
Pembelian : #RadicalMay Book Fair disc up to 50%
Pengiriman: Kirim ke seluruh pulau Jawa Flat Rp.5000


Tanggal 1 Juni 2011, bertepatan dengan hari Pancasila ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono akan menegosiasi ulang kontrak-kontrak  sumberdaya alam. Dalam bahasa Presiden kontrak pertambangan itu “sangat mencederai rasa keadilan”. Sebelumnya mantan Presiden BJ Habibie mengingatkan jangan sampai kita terjebak dalam bahaya globalisasi yang bisa membawa kita ke zaman VOC baru.

Indonesi sebagai negara keempat berpopulasi tinggi di dunia, tidak dapat menghindari untuk tetap menghadapi berbagai kompleksitas yang tinggi  dalam pengelolaan energi yang berdikari. Bung Karno mengatakan, bahwa kedatanngan imperialisme modern telah menghancurkan rumah tangga Indonesia.

Chevron telah lebih dari 91 tahun di Indonesia. Kita tidak ingin negara kalah. Kita tak ingin kehilangan Duri, sebuah negeri yang begitu berharga bagi Indonesia. Sudah saatnya pemerintah membuka mata pada kian banyaknya aset vital dan menguntungkan negara yang jatuh ke tangan orang asing. Tirani korporasi lhir karena kedaulatan negara telah dibajak oeh kedaulatan pasar.

Selamat Membaca dan Merdekalah...


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Info Pengiriman:  Pesanan masuk tgl 21 - 27 Mei 2020 akan dikirim tgl 27 Mei 2020

Berat: gram

Kategori : Sosial dan Politik
ISBN : Alia Kanigoro
Ketebalan : 214 hlm | Bookpaper
Dimensi : 14x21 cm l Softcover
Bahasa : Indonesia
Stock: Tersedia
Penerbit: Quantum
Penulis: Agung Marsudi D Susanto
Berat : 200 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa

Terakhir dilihat

Bayar dan Kirim

Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by