Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Cinta, Psikoanalisis, Erich Fromm

Oleh: Cep Subhan KM         Diposkan: 03 Mar 2019 Dibaca: 1989 kali


CINTA, bagi Fromm, tampaknya merupakan solusi segala masalah. Perang dan pertikaian tak akan terjadi jika kita mampu melakukan cinta persaudaraan, kemiskinan dan kelaparan akan segera diatasi jika kita mampu melakukan cinta keibuan, tak akan ada banyak orang patah hati, galau, depresi, lantas bunuh diri jika orang tak gagal melakukan cinta erotis, tak akan ada korupsi jika orang tak gagal melakukan cinta diri sendiri, dan yang paling penting: jika orang bisa melakukan cinta Tuhan maka tak akan ada lagi sengketa hanya karena perbedaan agama.

Melakukan: cinta bagi Fromm bukanlah tindakan pasif, melainkan aktif. Bagi dia, masalah cinta itu bukan terletak pada kemampuan untuk dicintai, melainkan kemampuan untuk mencintai. Cinta bukanlah suatu ketidaksengajaan dalam ranah perasaan sebagaimana tergambar dalam “jatuh cinta”, melainkan ia adalah sebuah seni, dan sebagaimana berbagai seni yang lain, seni mencintai pun bisa dipelajari.

Buku Seni Mencintai Fromm adalah buku laris, bukan hanya dalam edisi terjemahannya di Indonesia—yang sudah tak perlu dipertanyakan alasan kelarisannya—melainkan juga dalam edisi aslinya. Fromm memang seorang jago pembuat judul buku (lihat misalnya: Fear of Freedom, Escape from Freedom, The Sane Society, To Have or To Be?, The Forgotten Language) dan kita bisa menduga bahwa ada banyak pembaca yang membeli buku ini karena tertipu oleh judulnya dan menganggap bahwa buku ini adalah semacam tips-tips ringan dan praktis tentang mencintai (hal yang sejak awal sudah dibantah oleh Fromm dalam pengantarnya), tetapi satu kelebihan lainnya juga sesuai dengan ungkapannya dalam pengantar: Fromm “sebisa mungkin menggunakan bahasa non-teknis”.

baca juga: Jerat Negara Terhadap Perempuan

Di dunia tempat sebuah tulisan biasa dipandang semakin bagus ketika tulisan itu semakin sukar dipahami dan penulis biasa dipandang genius ketika dia bisa menggunakan berderet kalimat “teknis”, kemampuan Fromm itu tak akan dipandang sebagai kelebihan melainkan justru kekurangan (dan buku Seni Mencintai akan menjadi sasaran cemooh). Kita tak bisa bersikap pesimis bahwa apa yang disajikan ringan sudah pasti bukan teks bagus dan mari kita meyakini sejak awal bahwa Seni Mencintai bukanlah kumpulan tips praktis tentang cara mencintai meskipun ia disajikan dengan “ringan”.

Dengan menggunakan kata “ringan” maka saya tidak memaksudkan hal itu berkaitan dengan pemilihan diksi yang menghindari istilah-istilah teknis, aspek sintaksis yang tak ruwet (sangat berbeda dengan, misalnya, gaya Herbert Marcuse), melainkan juga struktur buku ini secara utuh: (1) pengantar tentang “mencintai” sebagai sebuah seni, sehingga sebagaimana seni lainnya, seni mencintai pun dibahas: (2) secara teoretis, dan (3) secara praktis.

Struktur yang sangat sederhana. Seperti skripsi atau esai-esai yang dilahirkan dari ajaran kaku akademisi. Lalu pada tataran teoretis kita melihat pandangan Fromm tentang “kehancuran cinta” dalam masyarakat Barat modern (=kontemporer) diselipkan dalam satu bab tersendiri. Ingat bahwa Fromm adalah amfibi yang hidup di alam sosiologi dan psikoanalisis, menyampaikan teori mencintai hanya dari sudut pandang psikoanalisis Frommian tanpa menyangkutkannya dengan eksternal akanlah tanggung.

baca juga: Tentang Politik Jatah Preman

Struktur sederhana semacam itu berpotensi menciptakan kebosanan. Itu benar, dan Fromm tampaknya menyadari hal itu sehingga dia mengatakan bahwa ada faktor ketiga yang juga penting dalam belajar seni selain penguasaan teori dan praktik, yakni: “penguasaan seni itu haruslah menjadi perhatian utama, tak boleh ada yang lebih penting lagi di dunia ini selain seni tersebut”. Maka buku Seni Mencintai ini sejak awal memang diperuntukkan orang-orang yang sungguh-sungguh ingin belajar seni mencintai, dan orang-orang yang sungguh-sungguh sudah pasti tak akan menyerah sampai ke halaman akhir hanya karena kebosanan.

*

Apa yang menyambut kita pertama-tama saat membaca buku ini adalah kutipan dari Paracelsus tentang cinta. Kutipannya menarik sekaligus menggambarkan beberapa poin yang ingin disampaikan Fromm dalam bukunya, meski mungkin diungkapkan dengan cara yang sedikit membingungkan.

Tetapi mungkin jika tidak terasa membingungkan justru akan menjadi aneh, karena sumbernya adalah Paracelsus. Nama itu bukan nama yang sering kita dengar, mungkin, tetapi kalau kita banyak membaca Jung maka kita akan sudah merasa akrab dengannya. Paracelsus adalah dokter kelahiran Swiss yang lahir pada akhir abad ke-15 dan meninggal pada pertengahan abad ke-16, dan Jung pernah menulis dua tulisan panjang yang membahas pemikiran dan peranannya.

Paracelsus bukan hanya seorang dokter, melainkan juga astrolog sekaligus alkemis. Pemikirannya adalah pemikiran saintifik yang bercampur dengan pemikiran mistik sebagaimana sampai tahap tertentu kita bisa melihatnya juga pada pemikiran Jung. Melihat penghormatan yang diperuntukkan Paracelsus sampai menempati bagian paling awal dalam karyanya—dikombinasikan juga dengan kutipan Meister Eickhart (teolog dan mistikus Kristen dari Jerman, sekitar 1260-1328 M) dengan penuh pujian—maka kita boleh curiga bahwa konsep cinta yang disodorkan Fromm dalam Seni Mencintai juga adalah kombinasi yang sama dengan Paracelsus.

baca juga: Marx: Makam dan Esai

Dalam Seni Mencintai Fromm banyak menyinggung konsep-konsep Freud, secara negatif: konsep cinta yang disodorkan Fromm berlawanan dengan konsep “setiap cinta berbasis seksual” yang disodorkan Freud. Fromm mengatakan bahwa “kita salah bila menilai terlalu tinggi pengaruh gagasan Freud pada konsep bahwa cinta adalah hasil dari ketertarikan seksual”, tetapi dengan merasa perlu membantah konsep-konsep Freud untuk meyakinkan pembaca akan “kebenaran” konsep dia (Fromm) maka secara tidak langsung Fromm sendiri mengakui “tingginya pengaruh” itu: tanpa sadar sang anak tak pernah bisa pergi dari bayang sang bapak.

Karena sebaliknya, Fromm tak merasa perlu menyinggung pandangan kawan seperguruannya yang juga jebolan Psikoanalisis: Carl Gustav Jung. Pandangan-pandangan Jung tentang cinta sama “jinak”-nya dengan apa yang disodorkan Fromm dalam Seni Mencintai meski dengan poin-poin yang berbeda. Kesamaan mereka berdua: mereka menolak ajaran Freudian bahwa cinta selalu berhubungan dengan seksualitas. Fromm, tampaknya, tak memandang Jung setinggi dia memandang Freud.

Dan memang demikian. Dalam Psikoanalisis dan Agama, satu tulisan penting Fromm yang bisa dirujuk jika ingin mengetahui lebih mendalam perihal “Cinta Tuhan” yang hanya disinggung sedikit dalam Seni Mencintai sebagai salah satu jenis cinta, Fromm membandingkan pemikiran Freud dan Jung tentang agama, tapi setelah menyerang habis-habisan pondasi pemikiran Jung di sepertiga awal buku, dia selanjutnya tak pernah lagi menyinggung Jung dan hanya mencoba berdialog dengan pemikiran Freud.

baca juga: Membaca Foucault dari Ke(sangat)jauhan

Kedekatan Fromm pada “timur” pun terlihat misalnya dari fakta ini: satu-satunya puisi yang dikutip Fromm adalah puisi mistik, dan itu pun puisi Rumi, tentang polaritas segala sesuatu dalam alam. Sedikit mengherankan jika mengingat bahwa ini adalah buku tentang cinta, seberapa berbeda pun makna kata itu dari makna yang lazim kita pahami. Puisi adalah bagian yang tak terpisahkan dari pembahasan tentang cinta.

Tapi mungkin juga hal itu karena Fromm ingin menekankan bahwa cinta yang dibahasnya ini bukanlah “luapan perasaan mendadak”, melainkan cinta yang dimaknai sebagai tindakan aktif yang lahir dari cinta sebagai sebuah seni. Puisi selalu sangat mudah disangkutkan dengan “kegilaan”, dorongan perasaan yang tak tertanggungkan yang meluap dalam rentetan kata-kata yang untuk memahaminya membutuhkan waktu yang akan lebih berguna jika digunakan untuk mempelajari seni mencintai. Cinta sebagai solusi semua persoalan kita pada masa kini: cinta yang membantu kita memahami orang lain, memahami mereka yang tertindas, memahami pasangan kita, memahami diri sendiri, memahami Tuhan, dan damai di bumi.

Memahami orang lain sama dengan memiliki ilmu pengetahuan,

Memahami diri sendiri sama dengan menjadi diri yang tercerahkan.

Menaklukkan orang-orang lain membutuhkan kekuatan,

Menaklukkan diri sendiri jauh lebih sukar dilakukan.

Baris-baris puisi di atas bukan dari Fromm, melainkan dari Tao Te Ching karya Lao Tzu, tapi kita boleh yakin bahwa Fromm akan menyukainya—sebagaimana dia dalam Seni Mencintai mengutip Meister Eckhart tentang cinta diri dengan berpanjang-panjang, lalu damai di bumi.


Tags

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: