Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Cinta yang Akan Mendamaikan Segalanya

Oleh: Andri Saptono         Diposkan: 10 Oct 2018 Dibaca: 2092 kali


Oh, kalian mungkin menganggap aku sebagai anak durhaka. Tetapi, sebaliknyalah tidak bisa disebut seorang ibu durhaka kepada anaknya. Ya, Ibuku, memang perempuan biologis yang melahirkanku. Namun, aku lebih memiliki seribu alasan untuk membencinya. Dia tak lebih dari gambar seorang perempuan yang hanya pernah kulihat dari sebuah foto usang hitam putih, yang menggambarkan sedang meneteki aku ketika lahir. Tetapi sebutan macam apa yang pantas baginya, seorang ibu yang tega menelantarkan anaknya dan minggat bersama seorang wartawan dari Jerman, tak peduli nasib anaknya yang masih bayi. Lantas, apakah ibu semacam ini pantas menyandang sebutan mulia sebagai ibu?

Kalian dan aku adalah sama. Manusia yang ingin merayakan cinta dan menjauhi rasa sakit. Namun, kebencian di hatiku kadung menghitam pekat. Jika bukan karena perempuan tua yang merawatku itu yang membuatku mengenal kasih sayang manusia, aku akan menjelma iblis bertubuh manusia. Dengan senang hati akan kutahbiskan diriku sebagai Lucifer, raja iblis dan kegelapan untuk menghancurkan dunia ini ke dalam kerak api neraka.

Kawan, perasaan ini, kau akan memahaminya jika berada dalam posisiku. Kau tahu hasrat manusia menjadi iblis itu menjadi lebih besar ketika tak ada cinta dalam nadi hidupnya.

baca juga: Toko Serba Ada: Puisi-puisi Galeh Pramudianto

Ya, perempuan tua itulah yang membesarkan aku dengan cintanya. Berkat kasih sayangnya, kini aku mampu melakoni kehidupan sebagai manusia yang mengalir darah dan menetes air mata.

Kini perjalanan pulang ke hutan larangan ini semata ingin menemuinya. Sungkem di kakinya dan membasuh peluh yang kerap netes di dahinya. Ini adalah kunjungan pertamaku untuk pulang ke rumah masa lalu. Setelah bertahun-tahun di rantau kini akhirnya aku bisa mengambil cuti dari pekerjaan yang tak pernah habisnya di ibukota. Perjalanan bis malam dari Jakarta ke Solo, lantas bertukar bis ke arah Karanganyar. Menuju sebuah rumah tua di pinggir danau itu. Rumah yang selalu membayang dalam ingatan meski tahun-tahun berlalu. Rumah desa berlantai tanah, berdinding bambu serta sebuah dapur tungku dari tanah liat alias pawon.

Aku mengingat jelas masa remajaku dulu bersamanya. Setiap pagi duduk di amben bambu dengan suguhan segelas kopi dan pisang rebus. Perempuan itu akan bertutur tentang kisah batu-batu di samping rumahnya yang melegam oleh jaman. Sebuah prasasti lama tentang kisah asmara seorang putri cantik dengan seorang pangeran yang kandas binasa karena perbedaan ideologi. Kisah yang menjadi hidup ketika perempuan itu bertutur tentangnya. Namun, entah mengapa kisah itu tak pernah sendiri. Seperti sudah direncanakan sebelumnya oleh sang penutur, dengan cepat kisah itu akan berganti kisah lain tanpa bisa kuprotes. Sebuah kisah hidup seseorang yang entah mengapa aku selalu memasang kuping alih-alih meluap perasaan benci setelah mendengarnya.

Ya, kau pasti tahu kisah siapa yang kumaksud itu...

Tapi, kemudian aku belajar menulikan telinga ketika kisah itu dituturkan. Kau hanya perlu memejamkan mata dan memikirkan sesuatu yang lain yang kaubenci dalam hidupmu. Ketika cerita itu usai, kau sudah tak mengingat apa-apa selain kebencian yang kekal!

***

baca juga: Toko Serba Ada: Puisi-puisi Galeh Pramudianto

Akhirnya, hujan gerimislah yang menyambutku ketika menyusuri jalan di pinggir waduk. Agak mengherankan sempat kulihat seorang pemancing masih setia menunggui kailnya tersangkut ikan. Tak peduli dengan baju yang basah oleh hujan maupun senja yang berangkat menuju kelam. Kupikir orang itu bukan penduduk sini yang tidak akan berani mancing di waduk ini karena mitos keangkeran ikan-ikan di waduk ini. Konon, siapa yang mendapat ikan lele bertubuh belang ia akan mendapat celaka.

Aku pun melangkah dengan bergegas takut hujan bertambah deras. Untunglah ranselku tak memberati punggung. Hanya beberapa potong pakaian salin, buku novel dan catatan kosong tempat biasa aku menulis jurnal perjalanan. Tetapi, ketika sampai di halaman rumah terasa aku disambut kesunyian. Ya, rumah ini kelewat sepi dan terlantar. Pintu terpalang gembok berdebu. Sebagian atapnya telah roboh dan jatuh ke tanah. Firasat buruk menumbuk dada. Apakah ini amsal gerimis sepanjang jalan pulang?

Aku berlari menuju sebuah rumah yang tak jauh dari tempat itu. Kudapati seorang kakek tua sedang membelah kayu di beranda ditemani ketela rebus dan teh hangat mengepul yang ikut menerbitkan rasa laparku. Oh ya, setahuku hanya satu rumah gubug saja di pinggir hutan ini. Tetapi sekarang sudah ada dua-tiga rumah di sini meskipun tidak permanen semua.

baca juga: “Rahim Hangat” Bukan Pencapaian Feminisme!

Kakek tua itu sejenak menatap kedatanganku. Keringat menetes dari wajahnya yang segar meski telah nampak berumur, wajah seorang pekerja keras.

“Maaf Kek, mau nanya, Ibu Surti yang tinggal di rumah depan sekarang pergi kemana? Rumahnya kok kosong?"

Kakek tua itu sejenak memandangi ke rambut dan kakiku.

"Cah Bagus ini siapa ya?"

"Saya dulu ketika kecil pernah tinggal di rumah itu, Kek. Bisa dibilang saya kerabatnya."

Kakek tua itu sejenak mengangguk.

"Apakah nama adik ini Sulaeman?"

"Iya, benar Kek. Darimana Kakek tahu?"

"Sebentar," ujarnya malah tak menjawab pertanyaanku. Ia masuk ke dalam dan tak lama muncul sambil membawa benda yang sangat kukenal selama dulu aku tinggal di sini. Sebuah kotak kayu cendana berwarna gelap. Tampaknya kayu itu masih terlihat bersih dan terawat seperti yang dulu kuingat. Terasa dadaku sesak oleh kesedihan tiba-tiba.

"Sebelum meninggal ibu Surti menitipkan ini. Beliau berkata, nanti pada saatnya akan ada seorang pemuda yang datang mengambilnya. Mohon terimalah ini."

Aku tahu bahwa setiap orang pasti meninggal. Namun ada cairan panas yang meleleh jua dari mata. Sungguh aku merasa bersalah, empat tahun ini sama sekali tak sempat mengunjunginya. Orang macam apakah aku? Tak bisa berbakti kepada orang yang telah membesarkanku. Setidaknya, melakukan sesuatu yang membuat ia bahagia di sisa umur hidupnya.

"Kapan beliau meninggal?" tanyaku.

"Genap satu tahun ini. Tetapi dia pergi dengan damai. Sungguh, tak ada orang sebaik dia."

baca juga: Kisah Wilde dan Sembilan Kisah Lain

***

Kotak itu kurencanakan kubuka di dalam rumah nanti malam. Namun sebelumnya aku harus membersihkan rumah yang sekarang lebih mirip sarang hantu itu. Kubuka jendela yang ada tiga biji dan kusapu lantai dalam rumah yang debunya setinggi satu centimeter. Selama satu jam bergelut dengan debu akhirnya aku bisa merebahkan diri di amben yang menjadi penghuni satu-satunya di gubuk itu.

Kuamati tungku tanah yang pastilah selama ini mati. Dapat kulihat bayangan perempuan itu terlukis di depanku dengan jelas. Bagaimana dia berjongkok di depan tungku sambil meniup-niup api untuk menjerang air.

Aku berinisatif menghidupkan pawon itu. Kerja kerasku membuahkan hasil. Tak beberapa lama api berhasil menyala. Asap tungku kayu juga ampuh mengusir nyamuk-nyamuk yang mulai menyapaku.

Tepat pada adzan Isya lelaki itu mengetuk pintu. Ia membawakan lampu penerangan dan makan malam untukku berupa nasi gudeg dengan lauk ayam bakar.

"Jadi merepotkan, Pak?"

"Bu Surti juga bilang agar saya melayani tamunya. Jadi ini memang sudah tugas saya."

Aku mengucap terima kasih. Dan kesepian kembali menyergap sempurna setelah laki-laki itu berlalu. Kupandangi tungku seakan hidupku bergantung pada nyala api yang berdetus memakan kayu itu.

Tapi kesepian juga mengirimkan ingatan lain tentang pertemuan kami. Apa yang ia katakan di akhir-akhir kebersamaan kami tak pernah sama sekali hilang dari benakku.

"Ibumu menitipkan sebuah kotak kayu cendana. Pesannya agar aku memberikannya padamu kelak kalau tiba waktunya. Ya, ketika hatimu mau berdamai dengannya.””

Memang perempuan tua itu tak putus asa untuk melunakkan hatiku yang keras membatu. Tapi, tetap saja kutolak kotak kayu itu dan kukatakan aku tak berminat ingin tahu.

"Ibumu dulu punya alasan untuk pergi ke Jerman. Dia tidak semata-mata meninggalkanmu. Sebagai anaknya, kau tak boleh membencinya sekeras itu.”  pungkasnya.

Ya, sekian lama aku bersitegang dengan hal ini, kuputuskan untuk membuang nama perempuan yang melahirkanku itu dari hidupku. Tetapi, hal itu ternyata tidak mudah. Dan hanya ada satu cara untuk menghapus nama itu dari dalam hatiku. Maksudku, aku harus menerima kepahitan apapun itu agar namanya hilang dari hidupku.  Aku harus mau mendengar kisah sebenarnya tentang dirinya untuk yang pungkasan, dan kemudian selamanya melanjutkan hidupku tanpa nama itu. Dan ini adalah tujuan aku kembali ke tempat ini.

Ya, sekarang aku telah memenuhi janjiku pada perempuan itu. Aku pulang ke sini lagi untuk mengetahui rahasia ibuku.

Namun, entah mengapa sekarang aku malah enggan membuka kembali pintu masa lalu itu. Aku merasa tak peduli bahkan. Justru aku malah merindukan tuturan perempuan tua itu tentang batu prasasti di samping rumah ini. Tentang seorang raja yang terbunuh demi merebut kekasihnya, dan bukan sama sekali kisah seorang penari perempuan yang lari dengan wartawan dari Jerman. Konon, namanya berganti Marinka di sana.

Pelan merambat malam. Tengah malam telah tergelincir beberapa lalu. Hanya api pawon sesekali berdetus menemani kesendirianku. Tiba-tiba aku mencium bau kamboja yang pekat. Bulu kudukku berdesir. Kuamati sekeliling. Namun tak ada apapun di tempat itu.

Apakah hantu Bu Surti hendak datang menemuiku?

Oh, aku tak keberatan sekadar hantunya datang pada malam ini. Sungguh perasaan kesendirian ini lebih menyiksa daripada bertemu hantu mengerikan.

Dini hari itu pelupuk mataku terasa berat. Kurasa aku memang benar-benar sudah saat sebuah tangan lembut menepuk pundakku. Di ambang kesadaranku kulihat seorang perempuan cantik bersyal kelabu berdiri di depanku. Ia tersenyum dan menyuruhku membuka kotak kayu yang berada di pangkuanku.

Sungguh, saat itu aku begitu terpesona, entah karena keayuannya atau pancaran matanya itu membuatku tak mampu menolaknya. Akhirnya kubuka kotak cendana itu. Tak ada apapun di kotak itu selain sapu tangan dan sebuah buku harian yang masih terawat warna dan sampul kulitnya. Lagi, perempuan ayu nan sempurna itu mengangguk, menyuruhku untuk membaca buku harian bersampul kulit itu.

 

baca juga: Di Indonesia, Bahaya Laten Abad XXI itu Harus Tetap PKI

***

Suara-suara masa lalu itu telah pergi ketika matahari mengetuk jendela pagi dan memasukkan cahayanya yang kemilau ke dalam gubuk. Kuhirup udara yang bersih dan sejuk seakan sekian lama tak merasai perasaan hidup seperti ini.

Ya, semalaman kubaca semua risalah masa lalu di dalam kotak itu dan kupahami makna sehelai sapu tangan sebagai lambang perpisahan dan kenangan yang harus kusimpan.

Kini aku mau mengerti dan memahami ibuku dan siapa bapakku yang sebenarnya. Bahwa Ibuku telah menderita selama di desa ini saat pembersihan PKI tahun 1965. Ketika satu sama lain berperang mereka tidak hanya membunuh para lelaki yang tertuduh PKI, tapi ada beberapa setan yang juga menyeret para perempuan untuk diperkosa. Tahulah bahwa aku adalah anak haram kerusuhan yang tak jelas nasab ayah kandungnya.

Setelah melahirkanku Ibu akhirnya memilih pergi dengan si wartawan Jerman itu karena penduduk desa mencerca Ibuku sebagai aib. Namun, Ibu Surti yang justru menerima kami. Ia bersikeras memeliharaku walaupun harus ikut terusir dari desa dan tinggal di hutan larangan ini.

Aku pun telah belajar memahami hidupku. Kisah prasasti hitam yang diceritakan oleh Ibu Surti yang selalu menjadi pengantar sebelum kisah ibuku bermula, sebenarnya adalah tamsil kisah kerusuhan di desa ini, yang sengaja tak ingin digamblangkan oleh perempuan tua itu. Alih-alih dengan kisah itu jualah ia mendongengkan dan membuatku tetap teguh percaya bahwa cinta yang akan mendamaikan segalanya. Ya, Bu Surti telah menjadi martir bagi sebuah kebajikan, meskipun ia harus membayar dengan seluruh hidupnya.

Lereng Lawu, September 2018

 

  •  

Andri Saptono, Penulis tinggal di Karanganyar, karyanya dimuat di Republika, majalah Gong, Basis, Femina, Nova, SoloPos, PawonSastra. Novel terbarunya Candik Ayu Segaramadu (Divapress) dan Martir (Oase, 2018)



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: